08/01/2021
Selamat pagi, Chingudeul!
Weekend ini mau ke mana? Kita ke Teor skuuy. Sedikit telisik tentang budaya di sana. Salah satu yang masih dilestarikan sampai saat ini adalah Tari Sawat.
Tari Sawat adalah sebuah tarian pergaulan Maluku yang cukup sering ditampilkan dalam berbagai acara. Tari ini cukup populer karena cukup mudah dipelajari dan memiliki makna yang menarik untuk disimak. Tari ini adalah sebuah keramahan dan memiliki pesan perdamaian yang cukup kental di dalamnya. Itulah Tari Sawat. Tari Sawat biasanya ditampilkan dalam satu paket dengan musik sawat yang berupa Gendang, Rebana dan Suling, namun tidak jarang ditampilkan juga di dalam kolaborasi dengan musik Tifa Totobuang.
Sekilas bila kita melihat Tari Sawat, kita akan melihat sebuah tarian yang kental nuansa Arab dan Melayu. Musik yang biasa mengiringinya pun terasa lekat dengan musik Melayu. Tari sawat biasanya ditampilkan oleh sekelompok gadis manis dengan kebaya putih berdiri berderet.
Keunikan Tari Sawat sebenarnya terletak pada pesan dan makna yang dikandungnya. Perdamaian dan keselarasan hidup begitu terlihat dari gerakan-gerakan yang ditampilkan. Lekuk tubuh para penari yang gemulai dan indah mencerminkan keramahan dan jauh dari kesan erotis sama sekali.
Maluku terbagi dalam tiga wilayah besar; utara, tengah dan tenggara. Hal ini juga yang memengaruhi ciri khas tarian sawat yang ditampilkan. Tarian sawat dari daerah Teor sejatinya memiliki ciri khas yang lebih Tenggara.
Tari Sawat adalah tari yang sederhana namun memiliki makna yang luar biasa. Keberadaannya seperti sebuah oase di tengah kekeringan moral yang melanda Maluku. Namun demikian, keberadaan tari ini tidak akan bertahan tanpa adanya kepedulian masyarakat untuk terus melestarikannya. Tarian ini sangat penting untuk sering ditampilkan dalam berbagai acara publik, sehingga masyarakat pun akan tahu dan selalu ingat akan makna perdamaian di dalamnya.
π Vat Sargera, Rumoy, Teor, Seram Bagian Timur