08/05/2026
ππ πππππ ππππππππ ππ πππ'ππ, πππππππππ ππππππππ ππππππππ?
Tahun 1995, muncul seorang anak yang disebut mukjizat Al-Qur'an, semua orang terkesima dan terpukau. Namun, eforia kemunculan mukjizat ini seolah langsung surut dan menyisakan tanya: ada apa sebetulnya dan bagaimana kabarnya sekarang?
Fenomena ini berpusat pada sosok πΊππππ
π΄πππππππ
π―πππππ π»πππππππππ'π, bocah asal Iran yang pada usia 5 tahun telah menghafal seluruh isi Al-Qur'an dengan metode yang sangat unik. Ia tidak hanya sekadar menghafal, tetapi mampu bercakap-cakap menggunakan ayat Al-Qur'an secara kontekstual, menebak ayat hanya dengan isyarat petunjuk, serta menggunakan bahasa isyarat yang sangat sistematis. Menariknya, berbagai model metode bahasa isyarat Al-Qur'an yang berkembang di Indonesia saat ini banyak yang bersumber dan terinspirasi dari metode yang dipopulerkan oleh Sayid Husein kecil.
Di Indonesia, popularitasnya pernah meledak luar biasa. Rekaman video ujian hafalannya dalam format kaset, CD, hingga VCD terjual jutaan keping hingga ke pelosok daerah. Nama "π»π’π πππ πβππππ‘βπππ'π" menjadi simbol keajaiban Islam abad ke-20 yang mempersatukan kekaguman umat tanpa memandang batasan madzhab; bahkan VCD-nya pun banyak dijual oleh mereka yang secara ideologis sebenarnya berseberangan dengan madzhab yang dianut oleh keluarga Sayid Husein.
Namun, di balik kegemilangan tersebut, eforia publik sempat meredup akibat terjangan berbagai rumor miring. Muncul klaim tak berdasar yang menyebutkan bahwa kecerdasannya adalah hasil "cuci otak" yang keras atau penggunaan alat elektronik canggih yang ditanamkan secara rahasia di telinganya. Isu ketidakmunculannya di layar kaca kemudian berkembang menjadi rumor yang lebih ekstrem, mulai dari kabar bahwa ia telah meninggal dunia, dicekal oleh pemerintah, hingga dijadikan tahanan rumah dan dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri.
Segala rumor tersebut akhirnya dijawab langsung oleh π»π’ππππ‘π’π πΌπ πππ π·π. π»π’π πππ πβππππ‘βπππ'π dalam berbagai wawancara untuk mengklarifikasi kondisinya. Ia menjelaskan bahwa pilihannya untuk menarik diri dari sorotan media bukan karena tekanan politik atau kesehatan, melainkan karena fokus menyelesaikan studi formal dan pendalaman ilmu agama di Hawza Qom. Kini, ia sangat sibuk mendidik di lembaga Al-Qur'an internasional, Jameat-al-Quran al-Karim, yang didirikan oleh ayahnya, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba'i. Lulusan dari sekolah ini sudah sangat banyak dan berhasil menghafal Al-Qur'an dengan kemampuan yang luar biasa beragam, mulai dari metode visual hingga pemahaman tematik yang mendalam.
Salah satu momen spiritual yang paling membekas dalam perjalanan hidupnya adalah pertemuannya dengan ulama besar dan guru irfan, Syekh Muhammad Taqi Behjat. Dalam pertemuan tersebut, Syekh Behjat memberikan perhatian khusus serta ijazah doa sebagai perisai dari segala fitnah dan marabahaya yang mungkin menerpanya. Doa tersebut berbunyi:
Ψ§ΩΩΩΩΩ°ΩΩΩ
ΩΩ Ψ§Ψ¬ΩΨΉΩΩΩΩΩΩ
Ω ΩΩΩΩ Ψ―ΩΨ±ΩΨΉΩΩΩ Ψ§ΩΩΨΩΨ΅ΩΩΩΩΩΨ©Ω Ψ§ΩΩΩΨͺΩΩΩ ΨͺΩΨ¬ΩΨΉΩΩΩ ΩΩΩΩΩΩΨ§ Ω
ΩΩΩ ΨͺΩΨ±ΩΩΩΨ―ΩΨ ΩΩΨ§ΩΩΨ΅ΩΨ±ΩΩΩΩ
Ω Ψ¨ΩΩΩΨ΅ΩΨ±ΩΩΩ Ψ§ΩΩΨΉΩΨ²ΩΩΩΨ²Ω
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah mereka berada dalam perisai-Mu yang kokoh, yang Engkau letakkan di dalamnya siapa pun yang Engkau kehendaki, dan tolonglah mereka dengan pertolongan-Mu yang mulia."
Hingga saat ini, doa tersebut terus mengiringi langkahnya dalam berdakwah. Di tengah kesibukannya mengelola institusi pendidikan, Sayid Husein tetap mengingat kehangatan sambutan masyarakat Indonesia dan menyampaikan salam takzim untuk seluruh kaum muslimin di tanah air, dibarengi keinginan tulus untuk suatu saat kembali berkunjung ke negara dengan populasi muslim terbesar ini. Semoga Allah dan Rasulullah senantiasa melindungi keluarga Sayid dalam menjalankan misi mulia menghidupkan cahaya Al-Qur'an.
---
Ikuti Iran Insight untuk mendapatkan kabar Iran yang menakjubkan.