Wisata religi wali 9

Wisata religi wali 9 berbagi informasi tentang p**au jawa

*SEJARAH KETUPAT*Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kal...
02/06/2020

*SEJARAH KETUPAT*

Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

*Arti Kata Ketupat.*

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

*Ngaku Lepat.*

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

*Laku Papat.*

1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

*Lebaran.*
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

*Luberan.*
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

*Leburan.*
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

*Laburan.*
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

*FILOSOFI KUPAT - LEPET*

*KUPAT*
Kenapa mesti dibungkus janur?
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ).
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).

*LEPET*
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Salam

02/06/2020

Kisah Raden said mendapatkan gelar SUNAN KALIJAGA

@ Soko Tatal Masjid Bintoro @Keanehan masjid Bintoro terletak pada sakanya. Mulanya, oleh arsiteknya (Kanjeng Sunan Kali...
30/06/2015

@ Soko Tatal Masjid Bintoro @
Keanehan masjid Bintoro terletak pada sakanya. Mulanya, oleh arsiteknya (Kanjeng Sunan Kalijaga), sakanya ini ada tiga (tiga ini merupakan lambang Iman, Islam dan Ihsan), kemudian setelahditimbang-timbang oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, saka tiga ini kurang pas. Akhirnya, Kanjeng Sunan Kalijaga menambahkan satu saka lagi yang akhirnya jumlahnya menjadi empat. Saka terakhir ini tidak seperti yang tiga. Tapi, saka terakhir ini terbuat dari tatal (serpih-serpih kayu yg ditarah). Dari jumlah empatyang digagas oleh Sunan Kalijaga ini mempunyaisebuah arti bahwa orang Islam yang ingin selamat dunia dan akhirat harus menjalankan empat perkara.Yaitu, Syari’at, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. (disarikan dari ceramah Hadratusy Syaikh MaimoenZubair) by Sarung Amirul Ulum Kluntung

Sejarah Sunan Muria (Raden Umar Said)Raden Umar SaidAsal-usulBeliau adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama ...
10/07/2013

Sejarah Sunan Muria (Raden Umar Said)
Raden Umar Said

Asal-usul

Beliau adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.

Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya di sebelah utara kota Kudus. Menurut Solichin Salam, sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliaulah satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau p**a yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.

Sakti Mandraguna

Bahwa Sunan Muria itu adalah Wali yang sakti, kuat fisiknya dapat dibuktikan dengan letak Padepokannya yang terletak di atas gunung. Menurut pengalaman penulis (Abu Khalid, MA) jarak antara kaki undag-undagan atau tangga dari bawah bukit sampai ke makam Sunan Muria tidak kurang dari 750 m.

Bayangkanlah, jika Sunan Muria dan istrinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik turun, turun naik guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria. Harus jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian tinggi, demikian p**a murid-muridnya.

Bukti bahwa Sunan Muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah Perkawinan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri Sunan Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya, tempat tinggalnya di Juana.

Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus sampai-sampai berguru kepada beliau.

Pada suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono yang genap dua puluh tahun. Murid-muridnya diundang semua. Seperti: Sunan Muria, Sunan Kudus. Adipati Pathak Warak, Kapa dan adiknya Gentiri. Tetangga dekat juga diundang, demikian p**a sanak kadang yang dari jauh.

Setelah tamu berkumpul Dewi Roroyono dan adiknya yaitu Dewi Roro Pujiwati keluar menghidangkan makanan dan miniman. Keduanya adalah dara-dara yang cantik rupawan. Terutama Dewi Roroyono yang berusia dua puluh tahun, bagaikan bunga yang sedang mekar-mekarnya.

Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama dapat menahan pandangan matanya sehingga tidak terseret oleh godaan setan. Tapi seorang murid Sunan Ngerang yang lain yaitu Adipati Pathak Warak memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip melihat kecantikan gadis itu.

Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pathak Warak belum menjadi seorang Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang mempesona, sekarang, gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus.

Karena dibakar api asmara yang menggelora, Pathak Warak tidak tahan lagi. Dia menggoda Roroyono dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Lebih-lebih setelah lelaki itu bertindak kurang ajar.

Tentu saja Roroyono merasa malu sekali, lebih-lebih ketika lelaki itu berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian-bagian tubuhnya yang tak pantas disentuh. Si gadis naik pitam, nampan berisi minuman yang dibawanya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang Adipati.

Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu menertawakan kekonyolannya itu, diapun semakin malu. Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah putri gurunya.

Roroyono masuk kedalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan oleh Pathak Warak.

Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah p**ang ke tempatnya masing-masing. Tamu dari jauh terpaksa menginap di rumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak belum dapat memejamkan matanya.

Pathak Warak kemudian bangkit dari tidurnya. Mengendap-endap ke kamar Roroyono. Gadis itu disirapnya (sirap atau sirep dikenal sebagai ilmu semacam hipnotis), sehingga tak sadarkan diri, kemudian melalui genteng Pathak Warak melorot turun dan membawa lari gadis itu melalui jendela. Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri.

Setelah Sunan Ngerang mengetahui bahwa putrinya diculik oleh Pathak Warak, maka beliau berikrar siapa saja yang berhasil membawa putrinya kembali ke Ngerang akan dijodohkan dengan putrinya itu, dan bila perempuan akan dijadikan saudara Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena semua orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria yang bersedia memenuhi harapan Sunan Ngerang.

“Saya akan berusaha mengambil Diajeng Roroyono dari tangan Pathak Warak”, kata Sunan Muria.

Tetapi, di tengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan yang lebih dahulu p**ang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah Keling.

“Mengapa Kakang tampak tergesa-gesa?”, tanya Kapa. Sunan Muria lalu menceritakan penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak.

Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua. Keduanya lantas menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono.

“Kakang sebaiknya p**ang ke Padepokan Gunung Muria. Murid-murid Kakang sangat membutuhkan bimbingan. Biarlah kami yang berusaha merebut diajeng Roroyono kembali. Kalau berhasil Kakang tetap berhak mengawininya, kami hanya sekedar membantu”, demikian kata Kapa.

“Aku masih sanggup untuk merebutnya sendiri”, ujar Sunan Muria. “Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam juga lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali”, kata Kapa ngotot.

Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi p**a ia harus menengok para santri di Padepokan Gunung Muria.

Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata meminta bantuan seorang Wiku Lodhang Datuk di p**au Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang ada tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.

Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang. Ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Di tengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak.

“Hai Pathak Warak berhenti kau!”, bentak Sunan Muria. Pathak Warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti, karena Sunan Muria menghadang di depannya.

“Minggir! Jangan menghalangi jalanku!”, hardik Pathak Warak. “Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono!” “Goblok ! Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri! Kini aku hendak mengejar mereka!”, umpat Pathak Warak. “Untuk apa kau mengejar mereka?” “Merebutnya kembali!”, jawab Pathak Warak dengan sengit. “Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku!” ujar Sunan Muria sambil pasang kuda-kuda.

Tanpa basa-basi Pathak Warak melompat dari punggung kuda. Dia merangsak ke arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia, bukan tandingan putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian.

Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di tanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh, tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan.

Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana. Kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria. Upacara pernikahan pun segera dilaksanakan.

Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang hidupnya serba berkecukupan.

Sedang Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Padepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan ideal.

Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya penyesalan yang menghujam di dada. Mengapa dulu mereka buru-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang menikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar laki-laki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan (kemaluan) mereka.

Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus menerus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh Iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.

Kini Kapa dan Gentiri benar-benar telah dirasuki Iblis. Mereka bertekad hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikan wanita itu sebagai istri bersama secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka.

Gentiri berangkat lebih dulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria, sehingga terjadilah pertempuran dahsyat. Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri, suasana menjadi semakin panas, hingga akhirnya Gentiri tewas menemui ajalnya di puncak Gunung Muria.

Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke Gunung Muria secara diam-diam di malam hari. Tak seorang pun yang mengetahuinya.

Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyirap (sirep: dikenal sebagai ilmu sirep, semacam hipnotis) murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah… yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono. Kemudian dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke p**au Seprapat.

Pada saat yang sama, sep**angnya dari Demak Bintoro, Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang datuk di Pulau Seprapat. Ini biasa dilakukannya karena baginya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah menolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.

Seperti ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam suatu negeri. Lalu ditunjukkan akhlak Islam yang mulia dan agung. Bukannya berdebat tentang perbedaan agama itu sendiri. Dengan menerapkan ajaran-ajaran akhlak yang mulia itu nyatanya banyak pemeluk agama lain yang pada akhirnya tertarik dan masuk Islam secara s**arela.

Ternyata, kedatangan Kapa ke Pulau Seprapat itu tidak disambut baik oleh Wiku Lodhang datuk.

“Memalukan! Benar-benar nista perbuatanmu itu! Cepat kembalikan istri kakang seperguruanmu sendiri itu!”, hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.

“Bapa Guru ini bagaimana, bukankah aku ini muridmu? Mengapa tidak kau bela?”protes Kapa. “Sampai mati pun aku takkan sudi membela kebejatan budi pekerti walau pelakunya itu muridku sendiri!”.

Perdebatan antara guru dan murid itu berlangsung lama. Tanpa mereka sadari Sunan Muria sudah sampai di tempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat istrinya sedang tergolek di tanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk.

Begitu mengetahui kedatangan Sunan Muria, Kapa langsung melancarkan serangan dengan jurus-jurus maut. Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan dari belenggu yang dilakukan Kapa.

Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa. Ternyata, serangan dengan pengerahan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan lawan.

Karena Kapa mempergunakan aji pamungkas yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu itu akhirnya merenggut nyawanya sendiri.

“Maafkan saya tuan Wiku…”, ujar Sunan Muria agak menyesal. “Tidak mengapa. Menyesal aku telah turut memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan”, gunam sang Wiku.

Bagaimana pun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak. Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke Padepokan dan hidup berbahagia.

Sunan Bonang alias Syekh Maulana Makhdum IbrahimLabel: biografi pahlawan, sejarah islam, wali sangasunan bonangNama Suna...
10/07/2013

Sunan Bonang alias Syekh Maulana Makhdum Ibrahim
Label: biografi pahlawan, sejarah islam, wali sanga

sunan bonang
Nama Sunan Bonang yang sebenarnya adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Ia putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila. Dewi Condrowati merupakan anak Adipati Tuban Ario Tejo.
Raden Makhdum Ibrahim mendalami pendidikan agama Islam sampai di Negeri Pasai bersama Raden Paku. Mereka berguru pada Syekh Awwalul Islam (ayah kandung Sunan Giri), selain juga belajar pada ulama dari Arab, Persi, Bagdad, dan Mesir. Sekembalinya dari Pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku kembali ke Gresik. Di sini Raden Paku mendirikan pesantren di Giri hingga terkenal dengan sebutan Sunan Giri. Sementara Raden Makdum Ibrahim atas perintah Sunan Ampel berkonsentrasi dakwah diTuban.
Kepiawaian Raden Makdum Ibrahim memainkan gamelan terbukti mengundang perhatian penduduk Tuban. Saat mereka berkumpul Raden Makdum Ibrahim pun memperdengarkan tembang-tembang pujian
untuk berdakwah. Konon lagu Tombo Ati merupakan ciptaan Sunan Bonang.
Tamba ati iku lima sak wernane. Maca Qur’an angen-angen sak maknane. Kaping pindho shalat wengi lakonana. Kaping telu wong kang sholeh kump**ana. Kaping papat kudu weteng ingkang luwe. Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe. Salah sawijine sapa bisa ngelakoni, Insya Allah Gusti Allah nyembadani. Makudnya obat hati itu ada lima perkara. (yang pertama) membaca Al-Qur’an dengan (memahami) artinya. Yang kedua mengerjakan shalat malam (tahajjud). Nomor tiga sering berkumpul dengan orang saleh (berilmu). Yang keempat perut harus lapar dengan berpuasa. Yang kelima berlama-lama dzikir (mengingat Allah) di malam hari. Siapa pun yang mampu melakukannya Insya Allah akan dikabulkan Allah.
Santri Sunan Bonang tersebar dari Tuban sampai Pulau Bawean, mulai Jepara hingga Madura. Karena banyak menggunakan gamelan, Sunan Bonang pun banyak mencipta karya sastra yang lazim dinamakan suluk. Karyanya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Berbeda dengan sunan yang lain, Sunan Bonang sudah menuliskan ajarannya menjadi naskah yang cukup lengkap.
Sunan Bonang menggunakan banyak kitab sebagai rujukan pendidikannya antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki serta kitab-kitab dari Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sunan Bonang banyak memengaruhi Kesultanan Demak dan ikut mendirikan Masjid Agung Demak. Selain guru, beliau juga dikenal sebagai pemimpin tentara Demak. Beliau pun dikenal bijaksana serta adil dalam “persidangan” pengadilan. Dalam pengadilan atas Syekh Siti Jenar di Masjid Agung Kasepuhan Cirebon (ada pendapat yang menyebutkan sidang diadakan di Masjid Agung Demak) Sunan Bonang punya peran sentral.
Sunan Bonang pernah menaklukkan gerombolan perampok hanya dengan tembang. Begitu tembang dinyanyikan dan gamelan ditabuh, Kebo Ndanu –si pemimpin gerombolan itu- tak kuat lagi berdiri seperti kehabisan tenaga dan kehilangan keberanian. Ia pun mengaku bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang setelah mengetahui bahwa dosa-dosanya bisa diampuni apabila ia bertobat dan meninggalkan perbuatan jahatnya.
Seorang Brahmana dari India pun ada yang menjadi murid Sunan Bonang. Awalnya Brahmana ini nglurug ke Tuban untuk beradu argumen keagamaan dengan Sunan. Tapi saat mendekati Tuban kapalnya terbalik akibat badai. Brahmana kehilangan banyak barang bawaan walau ia selamat.
Saat bertemu seorang lelaki berjubah dan bertongkat di pesisir Tuban, Brahmana ini menyapa dan mengadukan nasibnya. Lelaki berjubah ini pun menancapkan tongkatnya di pasir kemudian mengeluarkan buku-buku milik Brahmana dari dalam pasir setelah tongkat itu dicabut. Brahmana yang kemudian mengetahui bahwa lelaki berjubah itu adalah Sunan Bonang langsung takluk dan bersedia menjadi murid sang Sunan.
Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean pada 1525. Sementara warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di sana, warga Tuban punya keinginan yang berbeda. Ketika sejumlah murid mencuri jenazah sang Sunan dan memakamkannya di Tuban, jenazah yang di Bawean tetap ada. Sekarang makam Sunan Bonang ada di dua tempat, di Pulau Bawean dan di barat Masjid Agung Tuban.

SUNAN KUDUS1. Asal UsulMenurut salah satu sumber, SunanKudus adalah putera Raden Usmanhaji yang bergelar Sunan Ngudung d...
14/05/2013

SUNAN KUDUS
1. Asal Usul
Menurut salah satu sumber, Sunan
Kudus adalah putera Raden Usman
haji yang bergelar Sunan Ngudung dari
Jipang Panolan. Ada yang mengatakan
letak Jipang Panolan ini disebelah
utara kota Blora. Di dalam babad
tanah jawa, disebutkan bahwa Sunan
Ngudung pernah memimpin pas**an
Majapahit. Sunan ngudung selaku
senopati Demak berhadapan dengan
Raden Husain atau Adipati Terung dari
Majapahit. Dalam pertempuran yang
sengit dan saling mengeluarkan aji
kesaktian itu Sunan Ngudung gugur
sebagai pahlawan sahid.
Kedudukannya sebagai senopati
Demak kemudian digantikan oleh
sunan Kudus yang puteranya sendiri
yang bernama asli Ja’far Sodiq.
Pas**an Demak hampir saja
menderita kekalahan, namun berkat
siasat Sunan Kalijaga, dan bantuan
pusaka Raden Patah yang dibawa dari
Palembang kedudukan Demak dan
Majapahit akhinya berimbang.
Selanjutnya melalui jalan diplomasi
yang dilakukan Patih Wanasalam dan
Sunan Kalijaga, peperangan itu dapat
dihentikan. Adipati Terung yang
memimpin laskar Majapahit diajak
damai dan bergabung dengan Raden
Patah yang ternyata adalah kakaknya
sendiri. Kini keadaan berbalik. Adipati
Terung dan pengikutnya bergabung
dengan tentara Demak dan
menggempur tentara Majapahit hingga
ke belahan timur. Pada akhirnya
perang itu dimenangkan oleh pas**an
Demak.
2. Guru-gurunya
Disamping belajar agama kepada
ayahnya sendiri, Ja’far Sodiq juga
belajar kepada beberapa ulama
terkenal. Diantaranya kepada Kiai
Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan
Sunan Ampel.
Nama asil Kiai Telingsing ini adalah
Ling Sing, beliau adalah seorang
ulama dari negeri cina yang datang ke
p**au jawa bersama laksamana
jenderal Cheng Hoo. Sebagaimana
disebutkan dalam sejarah, jenderal
Cheng Hoo yang beragama Islam itu
datang ke p**au jawa untuk
mengadakan tali persahabatan dan
menyebarkan agama Islam melalui
perdagangan.
Di jawa, the Ling Sing cukup dipanggil
dengan sebutan Telingsing, beliau
tinggal di sebuah daerah subur yang
terletak diantara sungai Tanggulangin
dan sungai Juwana sebelah Timur.
Disana beliau bukan hanya
mengajarkan Islam, melainkan juga
mengajarkan kepada penduduk seni
ukir yang indah.
Banyak yang datang berguru seni
kepada Kiai Telingsing, termasuk Ja’far
Sodiq itu sendiri. Dengan belajar
kepada ulama yang berasal dari cina
itu, Raden Ja’far Sodiq mewarisi bagian
dari sifat positif masyarakat cina yaitu
ketekunan dan kedisiplinan dalam
mengejar atau mencapai cita-cita. Hal
ini berpengaruh besar bagi kehidupan
dakwah Ja’far Sodiq dimasa akan
datang yaitu tatkala menghadapi
masyarakat yang kebanyakan masih
beragama Hindu dan Budha.
Selanjutnya, Raden Ja’far Sodiq juga
berguru kepada Sunan Ampel di
Surabaya selama beberapa tahun.
3. Cara Berdakwah yang Luwes
A. Strategi Pendekatan kepada
Massa
Sunan Kudus termasuk pendukung
gagasan, Sunan Kalijaga dan Sunan
Bonang yang menerapkan strategi
dakwah kepada masyarakat
sebagai berikut :
1. Membiarkan dulu adat
istiadat dan kepercayaan lama
yang s**ar dirubah. Mereka
sepakat untuk tidak
mempergunakan jalan
kekerasan atau radikal
menghadapi masyarakat yang
demikian.
2. Bagian adat yang tidak
sesuai dengan ajaran Islam
tetapi mudah dirubah maka
segera dihilangkan.
3. Tut Wuri Handayani, artinya
mengikuti dari belakang
terhadap kelakuan dan adat
rakyat tetapi diusahakan
untuk dapat mempengaruhi
sedikit demi sedikit dan
menerapkan prinsip Tut Wuri
Hangiseni, artinya mengikuti
dari belakang sambil mengisi
ajaran agama Islam.
4. Menghindarkan konfrontasi
secara langsung atau secara
keras didalam cara
menyiarkan agama Islam.
Dengan prinsip mengambil
ikan tetapi tidak mengeruhkan
airnya.
5. Pada akhirnya boleh saja
merubah adat dan
kepercayaan masyarakat yang
tidak sesuai dengan ajaran
Islam tetapi dengan prinsip
tidak menghalau masyarakat
dari umat Islam. Kalangan
umat Islam yang sudah tebal
imannya harus berusaha
menarik simpati masyarakat
non muslim agar mau
mendekat dan tertarik dengan
ajaran Islam. Hal itu tak bisa
mereka lakukan kecuali
dengan konsekuen. Sebab
dengan melaksanakan ajaran
Islam secara lengkap otomatis
tingkah laku dan gerak-gerik
mereka sudah merupakan
dakwah nyata yang dapat
memikat masyarakat non-
muslim.
Strategi dakwah ini diterapkan
oleh Sunan Kalijaga, Sunan
Bonang, Sunan Muria, Sunan
Kudus dan Sunan Gunung Jati.
Karena siasat mereka dalam
berdakwah tak sama dengan garis
yang ditetapkan oleh Sunan Ampel
maka mereka disebut kaum
Abangan atau Aliran Tuban.
Sedang pendapat Sunan Ampel
yang didukung Sunan Giri dan
Sunan Drajad disebut Kaum
Putihan atau Aliran Giri.
Namun atas inisiatif Sunan
Kalijaga, kedua pendapat yang
berbeda itu pada akhinya dapat
dikompromikan.
B. Merangkul Masyarakat Hindu
Di Kudus pada waktu itu
penduduknya masih banyak yang
beragama Hindu dan Budha.
Untuk mengajak mereka masuk
Islam tentu bukannya pekerjaan
mudah. Terlebih mereka yang
masih memeluk kepercayaan lama
dan memegang teguh adat-istiadat
lama, jumlahnya tidak sedikit. Di
dalam masyarakat seperti itulah
Ja’far Sodiq harus berjuang
menegakkan agama.
Pada suatu hari Sunan Kudus
atau Ja’far Sodiq membeli seekor
sapi (dalam riwayat lain disebut
Kebo Gumarang). Sapi tersebut
berasal dari Hindia, dibawa para
pedagang asing dari kapal besar.
Sapi itu ditambatkan dihalaman
rumah Sunan Kudus.
Rakyat Kudus yang kebanyakan
beragama Hindu itu tergerak
hatinya, ingin tahu apa yang akan
dilakukan Sunan Kudus terhadap
sapi itu. Sapi dalam pandangan
Hindu adalah hewan suci yang
menjadi kendaraan para dewa.
Menyembelih sapi adalah
perbuatan dosa yang dikutuk para
dewa. Lalu apa yang dilakukan
Sunan Kudus?
Apakah Sunan Kudus hendak
menyembelih sapi dihadapan
rakyat yang kebanyakan justru
memujanya dan menganggap
binatang keramat. Itu berarti
Sunan Kudus melukai hati
rakyatnya sendiri.
Dalam tempo singkat halaman
rumah Sunan Kudus dibanjiri
rakyat, baik yang beragama Islam
maupun Budha. Setelah jumlah
penduduk yang datang bertambah
banyak, Sunan Kudus keluar dari
dalam rumahnya.
Sedulur-sedulur yang saya
hormati, segenap sanak kadang
yang saya cintai, Sunan Kudus
membuka suara. Saya melarang
saudara-saudara menyakiti apalagi
menyembelih sapi. Sebab diwaktu
saya masih kecil, saya pernah
mengalami saat yang berbahaya,
hampir mati kehausan lalu seekor
sapi datang menyusui saya.
Mendengar cerita tersebut para
pemeluk agama Hindu terkagum-
kagum. Mereka menyangka Ja’far
Sodiq itu adalah titisan dewa
Wisnu, maka mereka bersedia
mendengarkan ceramahnya. Demi
rasa hormat saya kepada jenis
hewn yang pernah menolong saya,
maka dengan ini saya melarang
penduduk Kudus menyakiti atau
menyembelih sapi.
Kontan para penduduk terpesona
atas kisah itu.
Sunan kudus melanjutkan, salah
satu diantara surat-surat Al-
Qur’an yaitu surat yang kedua
dinamakan Surat Sapi atau dalam
bahasa Arabnya Al-Baqarah, kata
Sunan Kudus.
Masyarakat semakin tertarik. Kok
ada sapi di dalam Al-Qur’an
mereka menjadi ingin tahu lebih
banyak dan untuk itulah mereka
harus sering-sering datang
mendengarkan keterangan Sunan
Kudus.
Demikianlah, sesudah simpati itu
berhasil diraih akan lapanglah
jalan untuk mengajak masyarakat
berduyun-duyun masuk agama
Islam.
Bentuk mesjid yang dibuat Sunan
Kudus pun tak jauh bedanya
dengan candi-candi milik orang
Hindu. Lihatlah menara Kudus
yang antik itu, yang hingga
sekarang dikagumi orang di
seluruh dunia karena
keanehannya. Dengan bentuknya
yang mirip candi itu orang-orang
Hindu merasa akrab dan tidak
takut atau segan masuk ke dalam
mesjid guna mendengarkan
ceramah Sunan Kudus.
C. Merangkul Masyarakat Budha
Sesudah berhasil menarik umat
Hindu kedalam agama Islam hanya
karena sikap toleransi yang tinggi,
yaitu menghormati sapi yang
dikeramatkan umat Hindu dan
membangun menara mesjid mirip
dengan candi Hindu. Kini Sunan
Kudus bermaksud menjaring umat
Budha. Caranya? Memang tidak
mudah, harus kreatif dan tidak
bersifat memaksa.
Sesudah mesjid berdiri, Sunan
Kudus membuat padasan atau
tempat wudhu dengan pancuran
yang berjumlah delapan. Masing-
masing pancuran diberi arca
kepala kebo gumarang diatasnya.
Hal ini disesuaikan dengan ajaran
Budha, “Jalan berlipat delapan”
atau Sanghika Marga” yaitu :
1. Harus memiliki pengetahuan
yang benar
2. Mengambil keputusan yang
benar
3. Berkata yang benar
4. Hidup dengan cara yang
benar
5. Bekerja dengan benar
6. Beribadah dengan benar
7. Dan menghayati agama
dengan benar.
Usahanya pun membuahkan hasil,
banyak umat Budha yang
penasaran, untuk itu Sunan Kudus
memasang lambang wasiat Budha
itu di padasan atau tempat
berwudhu, sehingga mereka
berdatangan ke mesjid untuk
mendengarkan keterangan Sunan
Kudus.
D. Selamatan Mitoni
Didalam cerita tutur disebutkan
bahwa Sunan Kudus itu pada
suatu ketika gagal mengumpulkan
rakyat yang masih berpegang
teguh pada adat istiadat lama.
Seperti diketahui, rakyat jawa
banyak melakukan adat istiadat
yang aneh, yang kadang kala
bertentangan dengan ajaran Islam,
misalnnya berkirim sesaji
dikuburan untuk menunjukkan
bela sungkawa atau berduka cita
atas meninggalnya salah seorang
anggota keluarga, selamatan
neloni. Mitoni dan lain-lain. Sunan
Kudus sangat memperhatikan
upacara-upacara ritual tersebut
dan berusaha sebaik-baiknya
untuk merubah atau
mengarahkannya dalam bentuk
Islami. Hal ini dilakukan juga oleh
Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.
Contohnya, bila seorang isteri
orang jawa hamil tiga bulan maka
akan dilakukan acara selamatan
yang disebut mitoni sembari minta
kepada dewa bahwa bila anak nya
lahir supaya tampan seperti
Arjuna, jika anaknya perempuan
supaya cantik seperti Dewi Ratih.
Adat tersebut tidak ditentang
secara keras oleh Sunan Kudus.
Melainkan diarahkan dalam
bentuk Islami. Acara selataman
boleh terus dilakukan tapi niatnya
bukan sekedar kirim sesaji kepada
para dewa, melainkan bersedekah
kepada penduduk setempat dan
sesaji yang dihidangkan boleh
dibawa p**ang. Sedangkan
permintaannya langsung kepada
Allah dengan harapan anaknya
lahir laki-laki akan berwajah
seperti nabi Yusuf, dan bila
perempuan seperti Siti Maryam
ibunda Nabi Isa. Untuk itu sang
ayah dan ibu harus sering
membaca surat Yusuf dan surat
Maryam dalam Al-Qur’an.
Sebelum acara selamatan
dilaksanakan diadakanlah
pembacaan Layang Ambiya atau
sejarah para Nabi. Biasanya yang
dibaca adalah bab Nabi Yusuf.
Hingga sekarang acara pembacaan
Layang Ambiya yang berbentuk
tembang Asmarandana, Pucung dll
itu masih hidup di kalangan
masyarakat pedesaan.
Berbeda dengan cara lama, pihak
tuan rumah membuat sesaji dari
berbagai jenis makanan, kemudian
diikrarkan (hajatkan dihajatan)
oleh sang dukun atau tetua
masyarakat setelah upacara sakral
itu dilakukan sesajinya tidak boleh
dimakan melainkan diletakkan di
candi, di kuburan atau tempat-
tempat sunyi dilingkungan tuan
rumah.
Ketika pertama kali melaksanakan
gagasannya, Sunan Kudus pernah
gagal, yaitu beliau mengundang
seluruh masyarakat. Baik yang
Islam maupun yang Hindu dan
Budha ke dalam mesjid. Dalam
undangan disebutkan hajat Sunan
Kudus yang hendak Mitoni dan
bersedekah atas hamilnya sang
isteri yang telah tiga bulan.
Sebelum masuk mesjid, rakyat
harus membasuh kaki dan
tangannya dikolam yang sudah
disediakan. Dikarenakan harus
membasuh tangan dan kaki inilah
banyak rakyat yang tidak mau,
terutama dikalangan Hindu dan
Budha. Inilah kesalahan Sunan
Kudus. Beliau terlalu
mementingkan pengenalan syariat
berwudhu kepada masyarakat, tapi
akibatnya masyarakat malah
menjauh. Apa sebabnya? Karena
iman mereka atau tauhid mereka
belum terbina.
Maka pada kesempatan lain,
Sunan Kudus mengundang
masyarakat lagi. Kali ini tidak usah
membasuh tangan dan kakinya
waktu masuk mesjid, hasilnya
sungguh luar biasa. Masyarakat
berbondong-bondong memenuhi
undangannya, disaat inilah Sunan
Kudus menyisipkan bab keimanan
dalam agama Islam secara halus
dan menyenangkan rakyat.
Caranya menyampaikan materi
cukup cerdik, ketika rakyat tengah
memusatkan perhatiannya pada
keterangan sunan Kudus tetapi
karena waktu sudah terlalu lama,
dan dikuatirkan mereka jenuh
Sunan Kudus mengakhiri
ceramahnya.
Cara tersebut kadang
mengecewakan, tapi disitulah letak
segi positipnya, rakyat ingin tahu
kelanjutan ceramahnya. Dan pada
kesempatan lain mereka datang
lagi ke mesjid, baik dengan
undangan maupun tidak, karena
ingin tahu itu demikian besar
mereka tak peduli lagi pada syarat
yang diajukan Sunan Kudus yaitu
membasuh kaki dan tangannya
lebih dahulu, yang lama-lama
menjadi kebiasaan untuk
berwudhu.
Dengan demikian Sunan Kudus
berhasil menebus kesalahannya
dimasa lalu. Rakyat menaruh
simpati dan menghormatinya.
Cara-cara yang ditempuh untuk
mengislamkan masyarakat cukup
banyak. Baik secara langsung
melalui ceramah agama maupun
adau kesaktian dan melalui
kesenian, beliaulah yang pertama
kali menciptakan tembang Mijil
dan Maskumambang. Didalam
tembang-tembang tersebut beliau
sisipkan ajaran-ajaran agama
Islam.
Sunan Kudus di Negeri Mekkah
Didalam legenda dikisahkan bahwa
Raden Ja’far Sodiq itu s**a
mengembara, baik ke tanah
Hindustan maupun ke tanah Suci
Mekkah.
Sewaktu berada di Mekkah beliau
menunaikan ibadah haji. Dan
kebetulan disana ada wabah
penyakit yang s**ar diatasi.
Penguasa negeri arab mengadakan
sayembara, siapa yang berhasil
melenyapkan wabah penyakit itu
akan diberi hadiah harta benda
yang cukup besar jumlahnya.
Sudah banyak orang mencoba tapi
tidak pernah berhasil. Pada suatu
hari Sunan Kudus atau Ja’far Sodiq
menghadap penguasa negeri itu
tapi kedatangannya disambutnya
dengan sinis.
Dengan apa tuan akan
melenyapkan wabah penyakit itu?
Tanya sang Amir.
Dengan doa jawab Ja’far Sodiq
singkat.
Kalau hanya doa kami sudah
puluhan kali melakukannya, di
tanah arab ini banyak ulama dan
syekh-syekh ternama. Tapi mereka
tak pernah berhasil mengusir
wabah penyakit ini.
Saya mengerti memang tanah arab
ini gudangnya para ulama. Tapi
jangan lupa ada saja
kekurangannya sehingga doa
mereka tidak terkabulkan, kata
Ja’far Sodiq.
Hem, sungguh bernai tuan
mengatakan demikian, kata amir
itu dengan nada berang. Apa
kekurangan mereka?
Anda sendiri yang
menyebabkannya, kata Ja’far Sodiq
dengan tenangnya. Anda telah
menjanjikan hadiah yang
menggelapkan mata hati mereka
sehingga doa mereka tidak ikhlas.
Mereka berdoa hanya karena
mengharapkan hadiah.
Sang Amir pun terbungkam seribu
bahasa atas jawaban itu.
Ja’far Sodiq lalu dipersilahkan
melaksanakan niatnya.
Kesempatan itu tak disia-siakan.
Secara khusus Ja’far Sodiq berdoa
dan membaca beberapa amalan.
Dalam tempo singkat wabah
penyakit mengganas dinegeri arab
telah menyingkir. Bahkan
beberapa orang yang menderita
sakit keras secara mendadak
langsung sembuh.
Bukan main senangnya hati sang
Amir. Rasa kagum mulai menjalari
hatinya. Hadiah yang dijanjikannya
bermaksud diberikan kepada Ja’far
Sodiq.
Tapi Ja’far Sodiq menolaknya, dia
hanya ingin minta sebuah batu
yang berasal dari Baitul Maqdis.
Sang Amir mengijinkannya. Batu
itu pun dibawa ke tanah jawa,
dipasang di pengimaman mesjid
Kudus yang didirikannya sekembali
dari tanah suci.
Rakyat kota Kudus pada waktu itu
masih banyak yang beragama
Hindu dan Budha. Para wali
mengadakan sidang untuk
menentukan siapakah yang pantas
berdakwah di kota itu. Pada
akhirnya Ja’far Sodiq yang
bertugas didaerah itu. Karena
mesjid yang dibangunnya
dinamakan Kudus maka Raden
Ja’far Sodiq pada akhirnya disebut
Sunan Kudus.

Address

Pati
59171

Telephone

+6285640844886

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wisata religi wali 9 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Wisata religi wali 9:

Share

Category