14/05/2013
SUNAN KUDUS
1. Asal Usul
Menurut salah satu sumber, Sunan
Kudus adalah putera Raden Usman
haji yang bergelar Sunan Ngudung dari
Jipang Panolan. Ada yang mengatakan
letak Jipang Panolan ini disebelah
utara kota Blora. Di dalam babad
tanah jawa, disebutkan bahwa Sunan
Ngudung pernah memimpin pas**an
Majapahit. Sunan ngudung selaku
senopati Demak berhadapan dengan
Raden Husain atau Adipati Terung dari
Majapahit. Dalam pertempuran yang
sengit dan saling mengeluarkan aji
kesaktian itu Sunan Ngudung gugur
sebagai pahlawan sahid.
Kedudukannya sebagai senopati
Demak kemudian digantikan oleh
sunan Kudus yang puteranya sendiri
yang bernama asli Ja’far Sodiq.
Pas**an Demak hampir saja
menderita kekalahan, namun berkat
siasat Sunan Kalijaga, dan bantuan
pusaka Raden Patah yang dibawa dari
Palembang kedudukan Demak dan
Majapahit akhinya berimbang.
Selanjutnya melalui jalan diplomasi
yang dilakukan Patih Wanasalam dan
Sunan Kalijaga, peperangan itu dapat
dihentikan. Adipati Terung yang
memimpin laskar Majapahit diajak
damai dan bergabung dengan Raden
Patah yang ternyata adalah kakaknya
sendiri. Kini keadaan berbalik. Adipati
Terung dan pengikutnya bergabung
dengan tentara Demak dan
menggempur tentara Majapahit hingga
ke belahan timur. Pada akhirnya
perang itu dimenangkan oleh pas**an
Demak.
2. Guru-gurunya
Disamping belajar agama kepada
ayahnya sendiri, Ja’far Sodiq juga
belajar kepada beberapa ulama
terkenal. Diantaranya kepada Kiai
Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan
Sunan Ampel.
Nama asil Kiai Telingsing ini adalah
Ling Sing, beliau adalah seorang
ulama dari negeri cina yang datang ke
p**au jawa bersama laksamana
jenderal Cheng Hoo. Sebagaimana
disebutkan dalam sejarah, jenderal
Cheng Hoo yang beragama Islam itu
datang ke p**au jawa untuk
mengadakan tali persahabatan dan
menyebarkan agama Islam melalui
perdagangan.
Di jawa, the Ling Sing cukup dipanggil
dengan sebutan Telingsing, beliau
tinggal di sebuah daerah subur yang
terletak diantara sungai Tanggulangin
dan sungai Juwana sebelah Timur.
Disana beliau bukan hanya
mengajarkan Islam, melainkan juga
mengajarkan kepada penduduk seni
ukir yang indah.
Banyak yang datang berguru seni
kepada Kiai Telingsing, termasuk Ja’far
Sodiq itu sendiri. Dengan belajar
kepada ulama yang berasal dari cina
itu, Raden Ja’far Sodiq mewarisi bagian
dari sifat positif masyarakat cina yaitu
ketekunan dan kedisiplinan dalam
mengejar atau mencapai cita-cita. Hal
ini berpengaruh besar bagi kehidupan
dakwah Ja’far Sodiq dimasa akan
datang yaitu tatkala menghadapi
masyarakat yang kebanyakan masih
beragama Hindu dan Budha.
Selanjutnya, Raden Ja’far Sodiq juga
berguru kepada Sunan Ampel di
Surabaya selama beberapa tahun.
3. Cara Berdakwah yang Luwes
A. Strategi Pendekatan kepada
Massa
Sunan Kudus termasuk pendukung
gagasan, Sunan Kalijaga dan Sunan
Bonang yang menerapkan strategi
dakwah kepada masyarakat
sebagai berikut :
1. Membiarkan dulu adat
istiadat dan kepercayaan lama
yang s**ar dirubah. Mereka
sepakat untuk tidak
mempergunakan jalan
kekerasan atau radikal
menghadapi masyarakat yang
demikian.
2. Bagian adat yang tidak
sesuai dengan ajaran Islam
tetapi mudah dirubah maka
segera dihilangkan.
3. Tut Wuri Handayani, artinya
mengikuti dari belakang
terhadap kelakuan dan adat
rakyat tetapi diusahakan
untuk dapat mempengaruhi
sedikit demi sedikit dan
menerapkan prinsip Tut Wuri
Hangiseni, artinya mengikuti
dari belakang sambil mengisi
ajaran agama Islam.
4. Menghindarkan konfrontasi
secara langsung atau secara
keras didalam cara
menyiarkan agama Islam.
Dengan prinsip mengambil
ikan tetapi tidak mengeruhkan
airnya.
5. Pada akhirnya boleh saja
merubah adat dan
kepercayaan masyarakat yang
tidak sesuai dengan ajaran
Islam tetapi dengan prinsip
tidak menghalau masyarakat
dari umat Islam. Kalangan
umat Islam yang sudah tebal
imannya harus berusaha
menarik simpati masyarakat
non muslim agar mau
mendekat dan tertarik dengan
ajaran Islam. Hal itu tak bisa
mereka lakukan kecuali
dengan konsekuen. Sebab
dengan melaksanakan ajaran
Islam secara lengkap otomatis
tingkah laku dan gerak-gerik
mereka sudah merupakan
dakwah nyata yang dapat
memikat masyarakat non-
muslim.
Strategi dakwah ini diterapkan
oleh Sunan Kalijaga, Sunan
Bonang, Sunan Muria, Sunan
Kudus dan Sunan Gunung Jati.
Karena siasat mereka dalam
berdakwah tak sama dengan garis
yang ditetapkan oleh Sunan Ampel
maka mereka disebut kaum
Abangan atau Aliran Tuban.
Sedang pendapat Sunan Ampel
yang didukung Sunan Giri dan
Sunan Drajad disebut Kaum
Putihan atau Aliran Giri.
Namun atas inisiatif Sunan
Kalijaga, kedua pendapat yang
berbeda itu pada akhinya dapat
dikompromikan.
B. Merangkul Masyarakat Hindu
Di Kudus pada waktu itu
penduduknya masih banyak yang
beragama Hindu dan Budha.
Untuk mengajak mereka masuk
Islam tentu bukannya pekerjaan
mudah. Terlebih mereka yang
masih memeluk kepercayaan lama
dan memegang teguh adat-istiadat
lama, jumlahnya tidak sedikit. Di
dalam masyarakat seperti itulah
Ja’far Sodiq harus berjuang
menegakkan agama.
Pada suatu hari Sunan Kudus
atau Ja’far Sodiq membeli seekor
sapi (dalam riwayat lain disebut
Kebo Gumarang). Sapi tersebut
berasal dari Hindia, dibawa para
pedagang asing dari kapal besar.
Sapi itu ditambatkan dihalaman
rumah Sunan Kudus.
Rakyat Kudus yang kebanyakan
beragama Hindu itu tergerak
hatinya, ingin tahu apa yang akan
dilakukan Sunan Kudus terhadap
sapi itu. Sapi dalam pandangan
Hindu adalah hewan suci yang
menjadi kendaraan para dewa.
Menyembelih sapi adalah
perbuatan dosa yang dikutuk para
dewa. Lalu apa yang dilakukan
Sunan Kudus?
Apakah Sunan Kudus hendak
menyembelih sapi dihadapan
rakyat yang kebanyakan justru
memujanya dan menganggap
binatang keramat. Itu berarti
Sunan Kudus melukai hati
rakyatnya sendiri.
Dalam tempo singkat halaman
rumah Sunan Kudus dibanjiri
rakyat, baik yang beragama Islam
maupun Budha. Setelah jumlah
penduduk yang datang bertambah
banyak, Sunan Kudus keluar dari
dalam rumahnya.
Sedulur-sedulur yang saya
hormati, segenap sanak kadang
yang saya cintai, Sunan Kudus
membuka suara. Saya melarang
saudara-saudara menyakiti apalagi
menyembelih sapi. Sebab diwaktu
saya masih kecil, saya pernah
mengalami saat yang berbahaya,
hampir mati kehausan lalu seekor
sapi datang menyusui saya.
Mendengar cerita tersebut para
pemeluk agama Hindu terkagum-
kagum. Mereka menyangka Ja’far
Sodiq itu adalah titisan dewa
Wisnu, maka mereka bersedia
mendengarkan ceramahnya. Demi
rasa hormat saya kepada jenis
hewn yang pernah menolong saya,
maka dengan ini saya melarang
penduduk Kudus menyakiti atau
menyembelih sapi.
Kontan para penduduk terpesona
atas kisah itu.
Sunan kudus melanjutkan, salah
satu diantara surat-surat Al-
Qur’an yaitu surat yang kedua
dinamakan Surat Sapi atau dalam
bahasa Arabnya Al-Baqarah, kata
Sunan Kudus.
Masyarakat semakin tertarik. Kok
ada sapi di dalam Al-Qur’an
mereka menjadi ingin tahu lebih
banyak dan untuk itulah mereka
harus sering-sering datang
mendengarkan keterangan Sunan
Kudus.
Demikianlah, sesudah simpati itu
berhasil diraih akan lapanglah
jalan untuk mengajak masyarakat
berduyun-duyun masuk agama
Islam.
Bentuk mesjid yang dibuat Sunan
Kudus pun tak jauh bedanya
dengan candi-candi milik orang
Hindu. Lihatlah menara Kudus
yang antik itu, yang hingga
sekarang dikagumi orang di
seluruh dunia karena
keanehannya. Dengan bentuknya
yang mirip candi itu orang-orang
Hindu merasa akrab dan tidak
takut atau segan masuk ke dalam
mesjid guna mendengarkan
ceramah Sunan Kudus.
C. Merangkul Masyarakat Budha
Sesudah berhasil menarik umat
Hindu kedalam agama Islam hanya
karena sikap toleransi yang tinggi,
yaitu menghormati sapi yang
dikeramatkan umat Hindu dan
membangun menara mesjid mirip
dengan candi Hindu. Kini Sunan
Kudus bermaksud menjaring umat
Budha. Caranya? Memang tidak
mudah, harus kreatif dan tidak
bersifat memaksa.
Sesudah mesjid berdiri, Sunan
Kudus membuat padasan atau
tempat wudhu dengan pancuran
yang berjumlah delapan. Masing-
masing pancuran diberi arca
kepala kebo gumarang diatasnya.
Hal ini disesuaikan dengan ajaran
Budha, “Jalan berlipat delapan”
atau Sanghika Marga” yaitu :
1. Harus memiliki pengetahuan
yang benar
2. Mengambil keputusan yang
benar
3. Berkata yang benar
4. Hidup dengan cara yang
benar
5. Bekerja dengan benar
6. Beribadah dengan benar
7. Dan menghayati agama
dengan benar.
Usahanya pun membuahkan hasil,
banyak umat Budha yang
penasaran, untuk itu Sunan Kudus
memasang lambang wasiat Budha
itu di padasan atau tempat
berwudhu, sehingga mereka
berdatangan ke mesjid untuk
mendengarkan keterangan Sunan
Kudus.
D. Selamatan Mitoni
Didalam cerita tutur disebutkan
bahwa Sunan Kudus itu pada
suatu ketika gagal mengumpulkan
rakyat yang masih berpegang
teguh pada adat istiadat lama.
Seperti diketahui, rakyat jawa
banyak melakukan adat istiadat
yang aneh, yang kadang kala
bertentangan dengan ajaran Islam,
misalnnya berkirim sesaji
dikuburan untuk menunjukkan
bela sungkawa atau berduka cita
atas meninggalnya salah seorang
anggota keluarga, selamatan
neloni. Mitoni dan lain-lain. Sunan
Kudus sangat memperhatikan
upacara-upacara ritual tersebut
dan berusaha sebaik-baiknya
untuk merubah atau
mengarahkannya dalam bentuk
Islami. Hal ini dilakukan juga oleh
Sunan Kalijaga dan Sunan Muria.
Contohnya, bila seorang isteri
orang jawa hamil tiga bulan maka
akan dilakukan acara selamatan
yang disebut mitoni sembari minta
kepada dewa bahwa bila anak nya
lahir supaya tampan seperti
Arjuna, jika anaknya perempuan
supaya cantik seperti Dewi Ratih.
Adat tersebut tidak ditentang
secara keras oleh Sunan Kudus.
Melainkan diarahkan dalam
bentuk Islami. Acara selataman
boleh terus dilakukan tapi niatnya
bukan sekedar kirim sesaji kepada
para dewa, melainkan bersedekah
kepada penduduk setempat dan
sesaji yang dihidangkan boleh
dibawa p**ang. Sedangkan
permintaannya langsung kepada
Allah dengan harapan anaknya
lahir laki-laki akan berwajah
seperti nabi Yusuf, dan bila
perempuan seperti Siti Maryam
ibunda Nabi Isa. Untuk itu sang
ayah dan ibu harus sering
membaca surat Yusuf dan surat
Maryam dalam Al-Qur’an.
Sebelum acara selamatan
dilaksanakan diadakanlah
pembacaan Layang Ambiya atau
sejarah para Nabi. Biasanya yang
dibaca adalah bab Nabi Yusuf.
Hingga sekarang acara pembacaan
Layang Ambiya yang berbentuk
tembang Asmarandana, Pucung dll
itu masih hidup di kalangan
masyarakat pedesaan.
Berbeda dengan cara lama, pihak
tuan rumah membuat sesaji dari
berbagai jenis makanan, kemudian
diikrarkan (hajatkan dihajatan)
oleh sang dukun atau tetua
masyarakat setelah upacara sakral
itu dilakukan sesajinya tidak boleh
dimakan melainkan diletakkan di
candi, di kuburan atau tempat-
tempat sunyi dilingkungan tuan
rumah.
Ketika pertama kali melaksanakan
gagasannya, Sunan Kudus pernah
gagal, yaitu beliau mengundang
seluruh masyarakat. Baik yang
Islam maupun yang Hindu dan
Budha ke dalam mesjid. Dalam
undangan disebutkan hajat Sunan
Kudus yang hendak Mitoni dan
bersedekah atas hamilnya sang
isteri yang telah tiga bulan.
Sebelum masuk mesjid, rakyat
harus membasuh kaki dan
tangannya dikolam yang sudah
disediakan. Dikarenakan harus
membasuh tangan dan kaki inilah
banyak rakyat yang tidak mau,
terutama dikalangan Hindu dan
Budha. Inilah kesalahan Sunan
Kudus. Beliau terlalu
mementingkan pengenalan syariat
berwudhu kepada masyarakat, tapi
akibatnya masyarakat malah
menjauh. Apa sebabnya? Karena
iman mereka atau tauhid mereka
belum terbina.
Maka pada kesempatan lain,
Sunan Kudus mengundang
masyarakat lagi. Kali ini tidak usah
membasuh tangan dan kakinya
waktu masuk mesjid, hasilnya
sungguh luar biasa. Masyarakat
berbondong-bondong memenuhi
undangannya, disaat inilah Sunan
Kudus menyisipkan bab keimanan
dalam agama Islam secara halus
dan menyenangkan rakyat.
Caranya menyampaikan materi
cukup cerdik, ketika rakyat tengah
memusatkan perhatiannya pada
keterangan sunan Kudus tetapi
karena waktu sudah terlalu lama,
dan dikuatirkan mereka jenuh
Sunan Kudus mengakhiri
ceramahnya.
Cara tersebut kadang
mengecewakan, tapi disitulah letak
segi positipnya, rakyat ingin tahu
kelanjutan ceramahnya. Dan pada
kesempatan lain mereka datang
lagi ke mesjid, baik dengan
undangan maupun tidak, karena
ingin tahu itu demikian besar
mereka tak peduli lagi pada syarat
yang diajukan Sunan Kudus yaitu
membasuh kaki dan tangannya
lebih dahulu, yang lama-lama
menjadi kebiasaan untuk
berwudhu.
Dengan demikian Sunan Kudus
berhasil menebus kesalahannya
dimasa lalu. Rakyat menaruh
simpati dan menghormatinya.
Cara-cara yang ditempuh untuk
mengislamkan masyarakat cukup
banyak. Baik secara langsung
melalui ceramah agama maupun
adau kesaktian dan melalui
kesenian, beliaulah yang pertama
kali menciptakan tembang Mijil
dan Maskumambang. Didalam
tembang-tembang tersebut beliau
sisipkan ajaran-ajaran agama
Islam.
Sunan Kudus di Negeri Mekkah
Didalam legenda dikisahkan bahwa
Raden Ja’far Sodiq itu s**a
mengembara, baik ke tanah
Hindustan maupun ke tanah Suci
Mekkah.
Sewaktu berada di Mekkah beliau
menunaikan ibadah haji. Dan
kebetulan disana ada wabah
penyakit yang s**ar diatasi.
Penguasa negeri arab mengadakan
sayembara, siapa yang berhasil
melenyapkan wabah penyakit itu
akan diberi hadiah harta benda
yang cukup besar jumlahnya.
Sudah banyak orang mencoba tapi
tidak pernah berhasil. Pada suatu
hari Sunan Kudus atau Ja’far Sodiq
menghadap penguasa negeri itu
tapi kedatangannya disambutnya
dengan sinis.
Dengan apa tuan akan
melenyapkan wabah penyakit itu?
Tanya sang Amir.
Dengan doa jawab Ja’far Sodiq
singkat.
Kalau hanya doa kami sudah
puluhan kali melakukannya, di
tanah arab ini banyak ulama dan
syekh-syekh ternama. Tapi mereka
tak pernah berhasil mengusir
wabah penyakit ini.
Saya mengerti memang tanah arab
ini gudangnya para ulama. Tapi
jangan lupa ada saja
kekurangannya sehingga doa
mereka tidak terkabulkan, kata
Ja’far Sodiq.
Hem, sungguh bernai tuan
mengatakan demikian, kata amir
itu dengan nada berang. Apa
kekurangan mereka?
Anda sendiri yang
menyebabkannya, kata Ja’far Sodiq
dengan tenangnya. Anda telah
menjanjikan hadiah yang
menggelapkan mata hati mereka
sehingga doa mereka tidak ikhlas.
Mereka berdoa hanya karena
mengharapkan hadiah.
Sang Amir pun terbungkam seribu
bahasa atas jawaban itu.
Ja’far Sodiq lalu dipersilahkan
melaksanakan niatnya.
Kesempatan itu tak disia-siakan.
Secara khusus Ja’far Sodiq berdoa
dan membaca beberapa amalan.
Dalam tempo singkat wabah
penyakit mengganas dinegeri arab
telah menyingkir. Bahkan
beberapa orang yang menderita
sakit keras secara mendadak
langsung sembuh.
Bukan main senangnya hati sang
Amir. Rasa kagum mulai menjalari
hatinya. Hadiah yang dijanjikannya
bermaksud diberikan kepada Ja’far
Sodiq.
Tapi Ja’far Sodiq menolaknya, dia
hanya ingin minta sebuah batu
yang berasal dari Baitul Maqdis.
Sang Amir mengijinkannya. Batu
itu pun dibawa ke tanah jawa,
dipasang di pengimaman mesjid
Kudus yang didirikannya sekembali
dari tanah suci.
Rakyat kota Kudus pada waktu itu
masih banyak yang beragama
Hindu dan Budha. Para wali
mengadakan sidang untuk
menentukan siapakah yang pantas
berdakwah di kota itu. Pada
akhirnya Ja’far Sodiq yang
bertugas didaerah itu. Karena
mesjid yang dibangunnya
dinamakan Kudus maka Raden
Ja’far Sodiq pada akhirnya disebut
Sunan Kudus.