03/07/2025
Di sebuah pagi yang sunyi dan masih gelap di lereng Gunung Rinjani, seorang wanita tangguh asal Brasil, Juliana Marins, meminta izin untuk berhenti sejenak. Nafasnya mulai berat, langkahnya melemah, dan tubuhnya perlahan menyerah pada tipisnya udara dan beratnya pendakian.
Di depannya, sang pemandu muda terus melangkah, hanya sekitar tiga menit di depan, tak lebih dari seratus meter. Tapi ternyata di gunung, jarak sependek itupun bisa jadi jurang antara hidup dan maut.
Pemandu menunggu yakin kliennya akan segera menyusul. Tapi waktu terus berjalan, lima belas menit, dua puluh, tiga puluh. Saat ia akhirnya memutuskan kembali, Juliana sudah tidak ada di tempatnya. Dan semuanya sudah terlambat.
Juliana terjatuh, sendirian, tanpa pengawasan. tanpa pertolongan. Mungkin ia masih sadar ketika teriakannya memantul lemah di dinding-dinding jurang yang sepi. Tapi di ketinggian, waktu bukan hanya angka, waktu adalah nyawa.
Apakah sang pemandu sudah melaksanakan protokal pendakian yang benar? belum ada informasi yang pasti. Mari kita tunggu hasil investigasi resmi kepolisian. Tapi dari berita viral yang dapat kita temui, besar kemungkinan pemandu hanyalah bagian dari sistem informal yang berjalan atas dasar kepercayaan. Tanpa pelatihan standar, tanpa protokol keselamatan yang layak. Dan satu kelalaian kecil, satu penundaan, kini berubah menjadi tragedi yang mengguncang dunia.
Publik bereaksi. Dunia menoleh. Tapi ini bukan soal menyalahkan, ini tentang kesadaran. Gunung bukan panggung untuk photo2, bercanda, atau sekadar berlibur saja. Ia bukan tempat untuk kostum kasual. Ia adalah ruang sakral yang menuntut penghormatan. Ia harus didekati dengan kesiapan, ilmu, dan kehati-hatian. Dan seorang pemandu tidak cukup hanya bermodal pengalaman. Ia harus terlatih, dan paham betul apa yang harus dilakukan ketika peserta menunjukkan tanda-tanda bahaya. Ia harus paham benar fitness level kliennya dan harus berani menolak ketika melihat sesuatu yang tidak benar seperti kesiapan kostum, dan sebagainya sebelum pendakian.
Semoga tragedi ini tidak sia-sia. Semoga dari viralnya peristiwa ini, kita semua belajar dan mengambil hikmahnya, Aamiin.