14/12/2025
Di pesisir Jembrana, perjalanan Dang Hyang Nirarta memasuki babak baru. Setelah hutan Jimbarwana disucikan, ia tidak serta-merta mengundang manusia datang. Ia berjalan menyusuri pantai dan muara sungai, mengamati arah angin, warna air laut, dan jejak burung yang hinggap di pasir. Di sinilah ia menandai wilayah yang aman untuk dihuni, tempat alam memberi isyarat kehidupan.
Ia mengajarkan manusia membaca tanda alam: ombak yang tenang berarti restu, angin yang berbalik adalah peringatan. Hutan tidak ditebang sembarangan, sungai tidak dibelokkan paksa. Rumah dibangun mengikuti arah matahari, ladang dibuka tanpa memutus aliran air. Di pesisir ini, manusia belajar bahwa tinggal bukan berarti menguasai, melainkan memahami.
Bagi pelancong hari ini, pesisir Jembrana bukan sekadar pantai sunyi. Ia adalah saksi awal sebuah peradaban yang tumbuh dari kearifan ekologis, ketika manusia dan alam sepakat hidup berdampingan.