02/07/2025
Hari Kedua Ruwatan Bumi: Merawat Tanah, Menghidupkan Makna
Ruwatan Bumi di Kampung Adat Banceuy mencapai puncaknya pada hari kedua, bukan sekadar ritual, tetapi representasi mendalam atas filosofi hidup masyarakat adat terhadap alam, spiritualitas, dan sejarah leluhur.
Dimulai dari Numbal, prosesi mengubur sesajen sebagai simbol “ngahurip bumi, munar lemah". Ini adalah bentuk teologis dan ekologis dari penghormatan terhadap tanah, agar hasil bumi membawa berkah, bukan sekadar panen.
Dilanjutkan dengan Ngarak Dewi Sri, arak-arakan menuju tiga situs keramat leluhur, menggambarkan kontinuitas spiritual antara manusia kini dan yang telah mendahului. Dewi Sri bukan sekadar simbol kesuburan, tapi juga figur sakral yang menjembatani manusia dengan alam semesta.
Setelah itu, Nyawer Dewi Sri dengan menghadirkan syair buhun oleh sesepuh adat, sawer berisi mengenai pujian terhadap Sang Pencipta, Leluhur dan Dewi Sri.
Puncak spiritualitas diwujudkan dalam Ijab Rasul doa penutup yang mempertemukan dimensi dunia dan akhirat. Rasa syukur tak berhenti di mulut, tapi menjadi etika kolektif untuk terus menjaga keseimbangan.
Sebagai penutup, Pagelaran Wayang Golek menjadi bentuk sublim dari kesenian rakyat yang tak hanya menghibur, tapi juga menyampaikan pesan moral dan budaya.
Semua rangkaian acara ruwatan bumi dibiayai secara swadaya, ini mencerminkan semangat gotong royong sebagai fondasi kehidupan sosial masyarakat adat Banceuy.
Ruwatan Bumi bukan hanya pelestarian tradisi, melainkan cara hidup yang menjadikan bumi, leluhur, dan masyarakat sebagai satu kesatuan utuh yang terus dirawat dengan kesadaran dan doa.