Rakeyan Sunda

Rakeyan Sunda selalu belajar tentang sejarah...menggali memahami
hingga merealisasikan sejarah dalam kehidupan.. karena sejarah perjalanan kehidupan..

Filosofi budaya nusantara berakar dari nilai-nilai luhur seperti Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu), gotong ...
05/11/2025

Filosofi budaya nusantara berakar dari nilai-nilai luhur seperti Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu), gotong royong (kerja sama), dan keseimbangan antara manusia dengan alam. Konsep-konsep ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari Pancasila sebagai ideologi negara, kesenian seperti gamelan dan batik, hingga tradisi kuliner seperti tumpeng dan kolak.

Nilai-nilai inti
Bhinneka Tunggal Ika: Menekankan keberagaman sebagai sumber kekuatan, yang tercermin dalam harmoni sosial dan budaya.

Gotong Royong: Konsep kerja sama dan tanggung jawab sosial yang menjadi dasar interaksi masyarakat.

Keseimbangan Manusia dan Alam: Memandang manusia sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Ketuhanan Yang Maha Esa: Menggambarkan kepercayaan dan hubungan spiritual dalam berbagai aspek kehidupan.

✅TAUN ANYAR DI BADUY“Di kami mah telok ngayakeun kariaan mapag taun anyar hiji Januari. Anu aya geh jelema ti luar anu d...
11/09/2025

✅TAUN ANYAR DI BADUY

“Di kami mah telok ngayakeun kariaan mapag taun anyar hiji Januari. Anu aya geh jelema ti luar anu datang kadieu ngadon arulin, tampolana mah kami rada kaganggu. Tapi teu nanaon aya untungna. Tamu nu datang sok meuli hasil karajinan, gula, peuteuy, madu nyiruan, jeung kadu”. (Bagi kami, tak ada acara khusus dalam merayakan Tahun Baru 1 Januari. Hanya banyak warga luar yang datang ke wilayah kami di Baduy. Kami agak terganggu dengan banyak tamu yang datang. Tetapi ada untungnya juga, banyak tamu yang membeli hasil kerajinan, hasil kebun yaitu petai, gula, madu lebah dan durian).

Dialog di atas dituturkan oleh seorang warga Baduy Luar ketika ngobrol dengan Bapak Usen Suhendar, S.Pd., M.Si., Kepala SDN II Bojongmenteng, kampung Ciboleger, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak.(31/12/2021).

Tak sekolah

Masyarakat Baduy merupakan salah satu masyarakat adat etnis Sunda. Mereka saat taat pada adat istiadat leluhurnya. Mereka tidak boleh sekolah. Tidak boleh memafaatkan teknologi dan hidup sesuai dengan adat leluhurnya.

SDN II Bojongmenteng merupakan salah satu sekolah yang berbatasan langsung dengan perkampungan Baduy luar. Seperti dituturkan pa Usen, Sang Kepsek, kendati secara geografis sekolah itu tak jauh dan berbatasan langsung dengan pemukiman Baduy luar dan Baduy Dalam, tak seorangpun anak anak Baduy yang boleh bersekolah. “Tabu bagi anak anak Baduy Dalam dan Baduy Luar untuk bersekolah”. Kalau toh anak anak itu datang ke sekolah, mereka hanya nonton, main main di pelataran sekolah. Anak anak Baduy hanya seserentengan, main ke sana kemari di halaman sekolah. Kami pun para guru, tak bisa mengajak anak anak Baduy untuk belajar, karena hal tersebut dilarang para orangtua mereka.

Saat ini, siswa di SDN 2 Bojong menteng berjumlah 192 siswa. Dari jumlah itu hanya 4 orang siswa yang orang tua berasal dari keturunan Baduy. Orangtuanya memilih untuk keluar, pindah agama dan menjadi warga biasa.

Sampai sekarang ini, sekolah kami hanya dimanfaatkan oleh anak anak warga sekitar atau anak dari orangtua asal Baduy Luar yang sudah “keluar” dan berbaur dengan masyarakat umum. Padahal SD kami, sangat terbuka dengan jumlah guru yang cukup, dan fasilitas sekolah yang memadai. Sekolah kami juga dilengkapi dengan digital library yang bisa mengakses berbagai informasi dan sumber belajar secara online (dalam jaringan).

Demikian selintas salah satu tradisi masyarakat adat etnis Baduy di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak. Saat ini populasi Baduy Dalam dan Baduy luar mencapai 26.000 orang, mendiami total tanah Ulayat Baduy seluas 5.100 Ha. Mereka termasuk masyarakat adat yang terus konsisten “menutup” diri dari dunia luar, dan tidak terpengaruh oleh perkembangan zaman.

Bukan Etnis terasing

Masyarakat Baduy sendiri lebih senang disebut urang Kanekes- orang Kanekes atau urang Cibeo- orang Cibeo. Hal ini sesuai dengan nama kampungnya yaitu kampung Kanekes dan Cibeo yang terletak di kaki Pegunungan Kendeng, desa Kanekes Kabupaten Lebak. Masyarakat etnis Baduy sebenarnya bukan etnis terasing, yang menutup diri dari dunia luar.

Garna (1993) meyakini bahwa etnis Baduy bukan masyarakat terasing atau isolated tribe. Sejak Kesultanan Banten beberapa abad lalu, wilayah Kanekes menjadi wilayah kekuasaannya. Masyarakat Baduy secara rutin melaksanakan seba sebagai bentuk pengakuan dan kehormatan kepada penguasa/pemerintahan sampai sekarang. Upacara Seba adalah upacara pengantaran hasil bumi kepada pemerintah kabupaten atau propinsi yang dilakukan setahun sekali.

Secara umum, etnis Baduy terbagi dalam tiga kelompok. Yaitu tangtu, panamping, dan dangka( Permana, 2001).

Pertama, masyarakat Baduy Dalam atau tangtu, yaitu kelompok masyarakat Baduy yang paling ketat mengikuti adat istiadat. Baduy Dalam tak mengenal baca tulis, taat pada adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang yang hanya tuturan lisan saja. Mereka tinggal di tiga kampung : Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Kedua, masyarakat Baduy Luar atau masyarakat panamping. Yaitu orang yang memutuskan untuk keluar dari Baduy Dalam. Ada beberapa alasan mengapa mereka keluar dari Baduy Dalam. Yaitu : mereka telah melanggar adat baduy dalam, secara sukarela berkeinginan untuk keluar dari baduy dalam, menikah dengan Baduy luar. Ciri baduy luar: mereka telah mengenal teknologi, misal untuk memasak, menggunakan peralatan rumah tangga modern, dan bertempat tinggal yang tersebar sekeliling wilayah Baduy Dalam, seperti kampung Cikadu, Kadukolot, Gajeboh dsb.

Ketiga, masyarakat Baduy yang disebut Kanekes dangka. Yaitu masyarakat baduy luar yang tinggal di luar wilayah Kanekes, yaitu kampung Padawaras dan Sirahdayeuh. Kampung dangka ini berfungsi sebagai wilayah penyangga atau buffer zone atas pengaruh dari luar

✅Nyalikeun pare (mendudukkan padi)Budaya Baduy nyalikeun pare atau lebih dikenal dengan ritual Ngaseuk Pare adalah upaca...
10/09/2025

✅Nyalikeun pare (mendudukkan padi)

Budaya Baduy nyalikeun pare atau lebih dikenal dengan ritual Ngaseuk Pare adalah upacara menanam padi secara bersama-sama yang merupakan warisan leluhur Suku Baduy untuk menjaga kerukunan dan memenuhi kebutuhan pangan. Prosesnya diawali dengan arak-arakan membawa bibit padi dari Baduy Luar ke ladang (huma), lalu masyarakat membuat lubang di tanah dengan batang kayu, kemudian kaum perempuan memasukkan bibit padi ke dalamnya, dan diakhiri dengan doa serta makan bersama.
Tujuan dan Makna
Memenuhi kebutuhan pangan:
Untuk memastikan hasil panen yang berlimpah guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Baduy.
Menjaga kerukunan:
Menjadi bentuk interaksi sosial yang mempererat hubungan antara tokoh adat, masyarakat, dan anggota Suku Baduy lainnya.
Menjaga kelestarian alam:
Sejalan dengan kepercayaan dan kearifan lokal Suku Baduy untuk menjaga keseimbangan alam, terutama tanah untuk pertanian.

Menurut spiritual Sunda, gerhana yang terjadi saat bulan purnama dimaknai sebagai kegalauan atau konflik antara Bumi dan...
07/09/2025

Menurut spiritual Sunda, gerhana yang terjadi saat bulan purnama dimaknai sebagai kegalauan atau konflik antara Bumi dan Matahari, sebuah fenomena alam yang disebut Samagaha. Peristiwa ini bukanlah pertanda buruk, melainkan lebih tepat disikapi dengan tafakur atau perenungan mendalam, bukan ritual tertentu.
Makna Spiritual Samagaha
Kegalauan Alam:
Samagaha atau gerhana bulan adalah simbol kegalauan antara Bumi dan Matahari.
Simbol Energi:
Matahari adalah sumber energi, sementara Bulan berfungsi sebagai pemancar energi. Ketika keduanya terhalang dalam garis lurus, ini menunjukkan adanya gangguan atau konflik energi.


Setra Surya/Rakeyan setra/guriyang setra
27/08/2025

Setra Surya/Rakeyan setra/guriyang setra

Simbol maung nyaeta Sima atanapi wibawa sareng komara....dakitu watek ti Karuhuna..ki maung .. nu boga wilayah Pajajaran...
18/08/2025

Simbol maung nyaeta Sima atanapi wibawa sareng komara....dakitu watek ti Karuhuna..ki maung .. nu boga wilayah Pajajaran girang...tabe pun...🙏

Sesajen dalam budaya Sunda merupakan perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur serta alam semesta. Secara f...
11/08/2025

Sesajen dalam budaya Sunda merupakan perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur serta alam semesta. Secara filosofis, sesajen melambangkan upaya penyatuan manusia dengan alam, bukan untuk merusak atau menguasainya, melainkan untuk hidup harmonis. Sesajen juga menjadi sarana doa dan harapan akan keselamatan serta kesejahteraan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.... Rahayu 🙏

Address

Jalan Cipari Bojongsawah Kebonpedes
Sukobumi

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rakeyan Sunda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share