02/06/2025
Melaju Menembus Eropa: Dari Sully-sur-Loire ke Zwolle, Menuju Kediaman Sang Legenda Oude Fiets
๐ธ๐๏ธ Fahmi Saimima
Hari kesepuluh dalam petualangan kami selepas rangkaian acara ICHC dan IVCA 2025 menjadi titik transisi penting. Usai hiruk-pikuk perhelatan sepeda klasik dunia, kamiโSascha Kalswager, Noni Stevani, Agus Pamudji, dan saya, berkemas. Dengan bagasi yang penuh sesak oleh koper, perlengkapan, dan sepeda klasik yang telah menemani kami sepanjang rally, kami menjejakkan pedal gas sebuah mobil Ford, bersiap menempuh perjalanan lintas negara.
Dari kota kecil Sully-sur-Loire yang memesona di jantung Prancis, kami melaju ke arah timur laut, menembus daratan Eropa menuju Zwolle, Belanda. Total jarak yang kami tempuh mencapai sekitar *780 kilometer*, dengan waktu perjalanan lebih dari *12 jam*. Jalur darat yang kami pilih bukan hanya sebuah rute, melainkan lorong waktu yang membawa kami keluar dari lanskap kastil dan sungai Loire, menuju tanah datar dan kanal-kanal yang khas Belanda.
Setibanya di Zwolle, lelah seketika sirna karena kami disambut oleh sosok istimewa,*Theo de Kogel**, salah satu legenda hidup dalam komunitas sepeda tua Belanda, khususnya di lingkaran **De Oude Fiets Club*, sebuah klub bergengsi yang mewadahi para pecinta sepeda antik dan bersejarah di Negeri Kincir Angin.
Theo bukan sekadar penggemar sepeda tua; ia adalah seorang kurator sejarah yang hidup. Dengan semangat teliti dan rasa cinta mendalam terhadap budaya bersepeda, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan warisan sepeda klasik, terutama jenis sepeda Burgers, pabrikan sepeda pertama dan tertua di Belanda. Ia dikenal luas melalui situsnya *Burgers.net*, sebuah arsip daring yang menjadi rujukan penting bagi para kolektor, sejarawan, dan penggiat sepeda klasik di seluruh dunia. Di sana, ia menulis dengan penuh dedikasi, membuka lembar demi lembar sejarah yang nyaris terlupakan, dari katalog lama, teknik produksi, hingga kisah pribadi pemilik sepeda tempo dulu.
Bermalam di kediaman Theo de Kogel bukan hanya tentang istirahat, tapi juga sebuah kehormatan: menyerap atmosfer sejarah dari koleksi sepeda yang ia rawat seperti pusaka, berdiskusi hangat seputar filosofi bersepeda, dan menyelami jejak panjang peradaban roda dua di Belanda dari perspektif seorang pelaku sejarah.
Perjalanan lintas batas ini bukan hanya soal jarak tempuh, tetapi tentang menyatukan semangat lintas generasi dan negara, bahwa sepeda bukan sekadar alat transportasi, ia adalah warisan, budaya, dan jembatan persahabatan dunia.
---