23/02/2026
HAJI SAH
Membaca buku yang lucu adalah salah satu cara menghabiskan waktu menunggu waktu berbuka puasa. Dan buku lucu yang saya baca beberapa hari ini adalah Orang Madura Naik Haji.
Mendengar kata Madura saja mungkin sebagian dari kita pasti langsung tersenyum tipis. Iki mesti lucu iki. Dan memang begitulah adanya. Ini bukan buku berat. Ini buku ringan. Tapi pelajarannya yang kelas berat. Kelucuan kadang menyelamatkan.
Alkisah, seorang jamaah dari Madura ikut manasik. Salah satu yang diacamkan benar dari petuah pembimbingnya adalah "paspor itu harus melekat diri kita. Itulah separuh nyawa kita. Jadi, kalau ada orang yang meminta paspor kita, jangan pernah dikasihkan. Itu akan membuat bapak ibu repot. Kalau hilang akan membuat rumit. Bahkan bapak ibu tidak bisa balik ke Indonesia. Panjang urusannya. "
Tibalah saatnya jamaah mendarat di bandara Jeddah. Tentu saja setiap orang harus melewati imigrasi. Kalau pas berangkat di bandara Soetta paspor diatur semua oleh travel, maka saat masuk Saudi Arabia masing-masing orang harus berhadapan langsung dengan petugas imigrasi sendiri-sendiri.
Tibalah Matholeh dapat giliran menghadap petugas. Paspor, kata petugas. "Nggak bisa, " kata Matholeh. Matholeh selalu ingat pesan saat manasik, jangan biarkan siapapun meminta paspormu. Petugas sampai kebingungan karena berkali-kali diminta paspornya Matholeh tak mau menyerahkan. Di kepala Matholeh petugas imigrasi ini adalah orang jahat yang akan mempersulit hidupnya. Bahkan mau mempermainkan nyawanya.
Melihat keributan di depan, pembimbing mendekat dan bertanya ada masalah apa ke petugas imigrasi. Sejenak mereka berdua berbicara. Dan kemudian pembimbing menggangguk-angguk dan berjanji akan membereskan masalah ini dalam satu menit.
Haji Daris sang pembimbing langsung balik badan menuju Matholeh. Lalu berkata, " Begini Paklik. Sampeyan pengen hajinya nanti Sah apa tidak. Karena petugas yang didepan ini adalah petugas yang membuatkan cap hajinya seseorang itu sah apa tidak. Kalau sudah dicap berarti sah. Kalau belum ada capnya berarti belum sah. Kalau sampeyan ingin hajinya Sah, itu Paspornya serahkan. Sebentar saja. Setelah dicap nanti dibalikin lagi. Nanti sampeyan liat sudah ada tulisan Arab di situ. Tandanya sampeyan Sah sebagai jamaah Haji."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Kiai pembimbingnya mata Matholeh langsung berbinar-binar. "Kenapa Pak Kiai tidak bilang dari kemaren kemaren. Kalau tau begitu kan nggak perlu panjang panjang urusannya. Biar haji saya langsung Sah, Pak Kiai."
Mujarab! Matholeh langsung menyerahkan Paspor ke petugas. Petugas imigrasinya daripada pusing lagi langsung ngecap itu Paspor dan membiarkan Matholeh pergi melenggang. Tentu saja sambil geleng-geleng kepala: kok ono model jamaah ngene iki. Sementara Matholeh juga langsung membuka paspornya dan ngecek cap di dalamnya. Dan betapa senangnya Matholeh ketika melihat ada tulisan Arab sudah tercap di halaman dalam paspornya. Dia bahagia karena hajinya berarti sudah dipastikan Sah oleh petugas.
Sampai di Mekkah keyakinan Matholeh semakin menguat. Mengapa? Ketika ia masuk Masjidil Haram dan melakukan thawaf, hampir semua askar yang dilewatinya selalu berkata "haji, haji, haji, thoriq, thoriq, thoriq," sambil menunjukkan arah jalan. Dipanggil haji berkali-kali oleh petugas tentu saja membuat hati Matholeh semakin berbunga-bunga. Dalam batinnya dia bergumam, ternyata benar kata Kiai Daris, kalau paspornya sudah di-thok maka hajinya sudah Sah. Pantas saja semua Askar memanggilnya Haji, Haji.
Berkali-kali dia mengucapkan alhamdulillah. Bersyukur bisa berangkat haji tahun ini dan langsung Sah. Dia membayangkan kalau nanti p**ang ke kampungnya semua orang akan memanggilnya Pak Haji Matholeh.
"Tidak sia-sia aku jual dua ekor sapi untuk biaya haji ini. Langsung Sah. Di sini saja semua orang Arab sudah memanggilku haji, haji, haji. Apalagi nanti kalau sudah balik ke Madura. Kalau ada yang tidak memanggilku haji maka akan kutunjukkan paspor ku dan video video selama di Mekah yang semua petugasnya memanggilku haji, haji..." gumamnya.
Begitulah salah satu kisah di buku ini.
Keluguan sekaligus kecerdasan Orang Madura mengumpul dalam satu jiwa.
Masih ada dua puluh cerita lucu lainnya tentang orang Madura berangkat haji atau umroh di buku ini. Kita boleh membacanya dari halaman mana saja. Karena tiap cerita beda-beda tokohnya. Sebagai hiburan di saat Ramadhan inilah buku yang paling pas menemani kita menunggu saatnya berbuka.
Kapan-kapan saya akan ceritakan semua kisah dalam buku ini kepada sahabat-sahabat saya Juragan Fathur IPunks Eko Dwi Handono Dwisa Putro Asep Hermansah Faqin Haikal Aris Tiono Rangga Ichwana Munggaran Andri Doni Deni Tambayong Herman P Bakara Davied Vier Edi Mulyono Hazinin Nadzif dllll yang sempat ngopi bareng