23/06/2026
Pernahkah kita membayangkan, jika malam ini adalah malam terakhir dalam hidup kita?
Jika esok nama kita bukan lagi dipanggil untuk bekerja, berbisnis, atau berkumpul bersama keluarga, tetapi dipanggil untuk menghadap Allah SWT.
Lalu saat berada di alam yang tak lagi ada kesempatan kembali, hati kita bertanya dengan penuh sesal:
"Ya Allah... mengapa dulu aku terus menunda? Mengapa ketika Engkau masih memberiku kesehatan, waktu, dan rezeki, aku tidak segera memenuhi panggilan-Mu?"
Raudhah...
Tempat yang selama ini hanya kulihat dalam foto dan video. Tempat yang selalu membuat air mata jatuh ketika mendengar kisah orang-orang yang pernah bersujud di sana. Tempat yang begitu ingin kukunjungi, namun selalu kutunda dengan alasan dunia yang tak pernah selesai.
Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Aku sibuk mengejar banyak hal yang suatu saat pasti kutinggalkan. Aku mengumpulkan harta yang akhirnya bukan kubawa ke dalam kubur. Aku merencanakan banyak perjalanan, tetapi justru menunda perjalanan menuju tempat yang paling dirindukan orang-orang beriman.
Sampai akhirnya ajal datang...
Dan saat itu tidak ada lagi kesempatan membeli tiket. Tidak ada lagi kesempatan menabung. Tidak ada lagi kesempatan berkata, "Tahun depan saja."
Yang tersisa hanyalah penyesalan yang membakar hati.
Betapa pedihnya jika kelak kita berkata:
"Ya Rasulullah, aku mencintaimu, tetapi aku tak pernah sempat datang mengucapkan salam di hadapanmu."
"Ya Allah, aku rindu Raudhah, tetapi aku terus menunda hingga Engkau memanggilku pulang."
Kita tidak pernah tahu mana yang lebih dahulu datang: kesempatan ke Tanah Suci atau kematian.
Karena itu, jangan menunggu waktu luang. Jangan menunggu kaya. Jangan menunggu semua urusan selesai. Sebab urusan dunia tidak akan pernah selesai, tetapi umur bisa selesai kapan saja.
Mungkin hari ini Allah masih memberi kesempatan.
Mungkin hari ini masih ada waktu.
Namun tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa tahun depan kita masih bernapas.
Jangan sampai suatu hari keluarga hanya bisa berkata:
"Dia sangat ingin ke Raudhah... tetapi belum sempat."
Dan kalimat itu menjadi penyesalan terbesar yang kita bawa hingga akhir hayat.