28/09/2014
Tradisi Ngaturang Pengeleb di Desa Selulung
Berkunjung ke Desa Selulung tidaklah jauh berbeda dengan berkunjung ke desa desa lainnya di Kintamani Barat, saat musim kemarau , di kejauhan pohon pohon terlihat hijau kecoklatan berselimutkan debu sedangkan saat musim hujan akan terlihat sangat hijau. Subur kata itulah yang tepat untuk desa ini.
Secara geografis desa ini terletak di ketinggian lebih dari 1200 meter diatas permukaan laut dengan suhu berkisar antara 20-25 C yang sangat ideal untuk beberapa komoditas perkebunan seperti Jeruk dan Kopi dan juga sangat mendukung usaha peternakan. Desa Selulung berbatasan dengan beberapa desa yang secara administrasi merupakan wilayah Kabupaten Buleleng seperti Desa Tajun dan Kubu Tambahan di sebelah utara, Desa lain yang secara administrasi merupakan wilayah Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli seperti Desa Daup, Desa Satra dan Desa Pengejaran disebelah Timur, Selatan dan Barat.
Saat tiba di Desa Selulung, kita akan segera sadar kalau sedang mengunjungi salah satu desa kuno di Bali, hal ini bisa kita lihat dari bangunan bangunan yang yang terdapat didalam komplek pura yang lokasinya di ujung desa. Nyaris tidak ada meru didalam kompleks tersebut, melainkan punden berundak dan lingga yoni lebih mendominasi yang merupakan salah satu cirri peninggalan budaya megalitik yang masih dipakai sampai saat ini oleh masyarakat Selulung.
Seperti desa desa lainnya di Kintamani, tidaklah banyak rumah yang kita bisa jumpai didalam perkampungan desa Selulung mengingat penduduk tersebar hampir diseluruh pelosok desa, mereka lebih memilih membangun rumah atau pondok kecil sederhana dekat dengan kebun kebun dan ternak mereka, dan akan kembali ke Desa saat hari hari tertentu seperti pada perayaaan upacara keagaaman atau tradisi unik lainnya.
Hari ini, Selasa 23 September 2014, bertepatan dengan Tileming Katiga (Bulan mati ketiga dalam satu tahun Kalendar Bali), Anggarkasih Dukut, Pagi hari di Desa Selulung terlihat sedikit berbeda, desa terlihat ramai, terlihat penduduk desa sibuk berlalu lalang mempersiapkan bahan dan sesaji, bahkan ada beberapa anak ekor sapi terikat di halaman Pura Dalem Mecantel. Menurut perhitungan Kalender Bali, hari ini adalah hari baik untuk upacara ngaturang pengeleb, akan tetapi ada beberapa upacara lainya yang mendahului upacara tersebut terutama yang berkaitan dengan tradisi sistem desa ulu ampad, yang mana ada beberapa warga desa ada yang mulai memasuki masa Grahasta (menikah) sehingga mulai memasuki masa sebagai pengayah atau medesa, ada juga yang melalui tingkatan lebih tinggi sebagai Juru Ebat dan sebagainya…
Upacara Ngaturang Pengeleb sendiri baru di mulai setelah semua rentetan upacara lainnya usai, diawali dengan menghaturkan sesaji di Pura Dalem Mecantel yang dipimpin langsung oleh Bendesa Adat Desa Selulung, Jro Mangku Nengah Widiana. Dari bahasa Bali “pengeleb”, leb yang berarti lepas; yang bisa diartikan bahwa upacara ini adalah melepaskan anak sapi yang sudah disucikan ke alam.
Menurut Jro Mangku Wid, begitulah beliau akrab disapa, Upacara ini biasanya dilatar belakangi oleh beberapa hal antara lain;
1. Pengeleb dilaksanakan oleh Keturunan Ki Pasek Selulung.
Upacara Ngaturang Pengeleb merupakan rentetan terakhir dari upacara Pitra Yadnya, yang mana biasanya dilakukan oleh keturunannya, idealnya oleh cucu dari yang meninggal dunia.
Upacara ini diawali dengan mengurbankan satu ekor sapi betina yang disembelih pada saat pujawali di Pura Dalem Purwa, yang berlokasi di Desa Belantih yang mana secara secara adat masih merupakan bagian dari Desa Adat Selulung. Upacara ini di sebut sebagai Ngaturang Bakaran, yang diyakini sebagai sebuah yadnya Agni Hotra.
Sesegera mungkin setelah apacara Bakaran tersebut, pada saat Anggarkasih Julungwangi, Anggarkasih Prangbakat atau Anggarkasih Dukut, maka dilakukanlah Upacara Ngaturang Pengeleb ini. Menggelar upacara ini juga sangat dipengaruhi oleh tersedianya biaya, pasalnya, untuk mempersembahakan satu ekor pengeleb saja dibutuhkan biaya sekitar 35 juta rupiah….
2. Pengeleb yang dilakukan karena alasan kaul atau sesangi.
Upacara ngaturang pengeleb karena alasan mesesangi biasanya dilakukan oleh mereka yang kaulnya sudah terpenuhi, apakah karena usahanya mengalami kemajuan atau hal lain yang sudah terkabulkan.
3. Upacara Ngaturang Pengeleb dilakukan karena alasan sisip.
Bagi mereka yang paham mengenai keberadaan (wadak) sapi milik desa Selulung ini diyakini sebagai binatang suci yang membawa berkah, sebagai binatang yang dilepas-liarkan tentunya mereka akan memilih makanan yang terbaik dan terkadang masuk ke kebun warga desa lainnya sehingga merusak tanaman dikebun tersebut. Dari beberapa sumber disebutkan apabila pemilik kebun tersebut memaki atau mengusir wadak ini, maka kebun akan semakin dirusak dan sebaliknya apabila diikhlaskan dimakan oleh wadak ini biasanya panen-panen berikutnya akan diberkati dengan panen dengan hasil berlimpah. Cerita seperti ini muncul di banyak desa desa di Bali, salah satunya sebuah daerah di Kabupaten Tabanan, yang pada satu saat sawah penduduk didatangi oleh beberapa ekor wadak dan panen panen berikutnya mereka berkelimpahan, sehingga banyak penduduk yang paham, berharap kebun atau sawahnya dikunjungi oleh mahluk yang sudah disucikan ini.
Namun tidak begitu ceritanya dengan mereka yang berani menyakiti, membunuh menjual (dengan sengaja atau tidak) biasanya lambat laun kehidupan meraka akan menurun, kesakitan dan apabila dibawa ke “orang pintar” maka akan terlihat kalau mereka pernah menyakiti wadak milik Desa Selulung. Apabila hal ini terjadi maka yang bersangkutan wajib menghaturkan 2 ekor anak sapi sebagi pengganti satu ekor yang telah tersakiti.
Anakan sapi (Bulu Geles; Bulu yang berarti Rambut, Geles berarti kecil atau tipis) yang akan dihaturkan dalam upacara Ngaturang Pengeleb ini haruslah jantan dalam kondisi bagus, tidak boleh cacat fisik dengan harapan saat besar nanti akan menjadi sapi unggulan, tidak jarang sapi sapi (wadak ) ini saat dewasa menjadi pejantan bagi sapi sapi betina di daerah yang mereka lewati sehingga akan melahirkan keturunan sapi sapi Bali unggul.
Setelah ngaturang piuning dan memulai upacara di Pura Dalem Mecantel, maka dimulailah prosesi mensucikan Bulu Geles, anakan sapi ini dibawa ke halaman Pura, di mandikan, diupakara, sehingga diyakini menjadi binatang suci kendaraan Dewa Shiwa yang selanjutnya akan disebut Wadak Duwe Desa Selulung. Yang menarik pada upacara ini adalah peran pemuda Desa Selulung setelah Bulu Geles ini disucikan maka para pemuda akan beramai ramai mempermaikan sang Bulu Geles, mereka bergantian menarik kuping, ekor dan mengarak sang Bulu Geles bergantian sehingga kelelahan, ini merupakan perlambang penderitaan sang Bulu Geles sebelum menjadi Wadak. Setelah kelelahan maka Bulu Geles akan dilepaskan dan semenjak itu mereka di sebut Wadak Duwe. Tidak jarang Bulu Geles kehilangan ekornya saat ditarik oleh teruna teruna tersebut.
Dalam kelelahannya sang wadak akan berjalan, dan arah jalannya pun memiliki makna bagi masyarakat Desa Selulung, apabila ke arah (Utara) laut maka diyakini sang wadak adalah duwen Ida Bhatara Hyang Bharuna, Penguasa Lautan, apabila kearah Timur (gunung), maka diyakini sebagai duwen Ida Bhatara Penulisan, ke arah Barat sebagai duwen ida Bhatara Ratu Gede Kemulan, dan ke arah Selatan sebagai duwen Ida Bhatara Ratu Gede Meduwe Karang.
Dalam beberapa tahun kedepan wadak wadak ini akan berubah menjadi Sapi Jantan yang gagah, tinggi besar dengan bobot diatas satu ton, berkeliaran di hutan Kintamani sampai ke Singaraja, Bedugul dan Tabanan, tidak jarang p**a terlihat di tepi jalan jalur Singaraja – Kintamani atau ditepi jalan desa desa sekitar Selulung, mereka cukup mudah dikenali dari posturnya, tanpa telusuk hidung, tanpa kalung dan beberapa diantaranya berekor buntung.
Lebih jauh mengenai keberadaan Wadak Duwe ini, menurut Jro Mangku Wid, dimanfaatkan oleh warga Desa Selulung, salah satunya adalah untuk hewan kurban dalam Upacara Mebiaya, yang mana upacara ini membutuhkan biaya yang sangat besar dalam satu putaran waktu di semua pura yang ada di 13 pelebahan wilayah Desa Adat Selulung. Namun dalam berapa tahun terakhir ini Desa Adat Selulung belum melakukan upacara tersebut akan tetapi Wadak Duwe ini “ditunas” dan dijual sebagai sumber dana untuk membangun beberapa fasilitas desa. Uniknya saat wadak wadak ini ditunas dengan cara menghaturkan piuning ke semua pura, maka wadak wadak yang diperlukan akan datang dengan sendirinya….
Saat ini menurut catatan, kurang lebih ada sekitar 150 ekor wadak duwe yang masih berkeliaran di hutan dan pedesaan Kintamani yang dingin, berkelahi dengan sesama wadak memperebutkan betina, mewariskan gen-gen sapi Bali unggul..
Sebuah kearifan lokal yang diturunkan dan dijaga oleh tetua Desa Adat Selulung hingga kini…
Sumber ; Jr Mk.Nengah Widiana – Bendesa Desa Adat Selulung