17/03/2026
Amazing Journey
Ketika Tuhan Memilihkan Jalan yang Tidak Pernah Direncanakan
Ada pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang melihat perjalanan hidup ini dari luar:
"Bagaimana seseorang yang dididik untuk menjadi seorang Chef bisa menulis buku tentang diplomasi?"
Jawaban yang paling jujur adalah: saya tidak tahu. Saya tidak merencanakan itu. Saya tidak dididik untuk itu. Dan mungkin — justru itulah yang membuatnya menjadi sebuah perjalanan yang luar biasa.
Saya memilih jurusan Kitchen di National Hotel Institute (NHI) Bandung — sekolah hospitality yang mendidik saya untuk menjadi seorang profesional di dunia perhotelan. Pilihan itu bukan sebuah kebetulan yang kecil. Ia adalah fondasi dari segalanya. Karena di dapur itulah, jauh sebelum saya mengenal kata diplomasi, saya pertama kali belajar tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:
Bahwa melayani orang lain dengan standar terbaik adalah bentuk tanggung jawab yang paling nyata. Bahwa kualitas bukan tentang pengawasan dari luar — tetapi tentang integritas dari dalam.
Pelajaran itu tidak saya temukan di buku teks. Saya menemukannya di antara asap dapur dan tekanan pelayanan yang sesungguhnya. Dan pelajaran itu — tanpa saya sadari saat itu — akan menemani saya ke setiap ruang yang dimasuki kehidupan selanjutnya.
— ✦ —
Jalan yang Tidak Ada di Peta
Tidak ada di dalam rencana hidup saya sebuah bab yang bertuliskan: "dunia diplomasi."
Namun Tuhan, dengan kebijaksanaan-Nya yang tidak selalu bisa dipahami oleh logika manusia, membawa saya ke Swiss — dan dari sana, ke sebuah dunia yang seharusnya penuh dengan protokol, formalitas, dan jarak yang terstruktur antara satu pihak dengan pihak lainnya.
Seharusnya. Karena saya membawa sesuatu yang tidak ada dalam kurikulum sekolah diplomatik manapun: .
Sikap yang pertama kali saya pelajari bukan dari seminar kepemimpinan atau buku teori organisasi — tetapi dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak awal pendidikan tinggi saya. Bahwa setiap manusia yang datang kepada kita membawa cerita, kebutuhan, dan martabatnya sendiri. Bahwa pelayanan yang sesungguhnya bukan tentang memenuhi prosedur — tetapi tentang benar-benar hadir untuk orang yang ada di hadapan kita.
Nilai-nilai itu ternyata tidak hanya berlaku di lobi hotel atau di meja makan restoran berbintang. Ia berlaku di setiap ruang di mana manusia bertemu manusia — termasuk di ruang-ruang diplomasi yang paling formal sekalipun.
Diplomasi yang sesungguhnya bukan tentang protokol. Ia tentang kemanusiaan. Dan kemanusiaan tidak membutuhkan gelar untuk dipraktikkan.
— ✦ —
Buku yang Tidak Pernah Direncanakan
Dan kemudian lahirlah Bridging Nations, Connecting Hearts — sebuah buku yang merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss. Sebuah buku yang tidak akan pernah bisa ditulis oleh seseorang yang hanya memiliki latar belakang akademis diplomasi semata.
Karena buku ini bukan tentang traktat dan perjanjian. Ia tentang manusia. Tentang jiwa-jiwa yang membangun jembatan antara dua negara yang tampak sangat berbeda — tetapi yang ternyata menyimpan lebih banyak kesamaan dari yang terlihat di permukaan. Tentang kepercayaan yang dibangun bukan melalui konferensi resmi, tetapi melalui pertemuan-pertemuan kecil yang tulus. Tentang pelayanan yang melampaui batas peran.
Untuk menulis buku seperti itu, dibutuhkan seseorang yang sudah menghabiskan puluhan tahun benar-benar hadir di antara dua dunia — bukan sebagai pengamat dari balik kaca, tetapi sebagai jiwa yang hidup di dalamnya, merasakannya, dan melayaninya dengan sepenuh hati.
Dan untuk menjadi jiwa seperti itu, ternyata tidak dibutuhkan gelar diplomatik. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih dalam sekaligus: kemauan untuk terus belajar, keberanian untuk hadir sepenuhnya, dan fondasi nilai yang kuat — nilai yang sudah ditanamkan jauh sebelum ada jabatan atau gelar apapun.
— ✦ —
Ilmu yang Tidak Ada di Kampus
Inilah yang ingin saya sampaikan kepada setiap jiwa yang mungkin sedang meragukan jalan yang sedang ditempuhnya:
Ada ilmu pengetahuan di alam semesta ini yang tidak bisa diukur dengan gelar. Tidak bisa dinilai dengan IPK. Tidak bisa disertifikasi dalam ijazah S1, S2, bahkan S3 sekalipun.
Ilmu itu bernama pengalaman yang dihidupi dengan sadar. Kebijaksanaan yang lahir dari perjalanan yang tidak selalu mudah. Kemampuan untuk membaca ruang, merasakan kebutuhan orang lain, dan merespons dari tempat yang tulus — bukan dari prosedur yang dihafal.
Saya tidak meremehkan pendidikan formal. Justru sebaliknya — saya sangat bersyukur atas fondasi yang diberikan oleh NHI. Tetapi fondasi itu bukan tentang gelarnya. Ia tentang nilai-nilai yang ditanamkannya. Tentang cara berpikir yang dibentuknya. Tentang standar integritas yang sudah menjadi bagian dari cara bergerak sebelum ada satu pun jabatan resmi yang disandang.
Dan nilai-nilai itu ternyata bisa membawa seseorang jauh lebih jauh dari yang pernah direncanakan — ke dunia yang tidak pernah ada dalam rencana, untuk menghasilkan karya yang tidak pernah terbayangkan, dan untuk memberikan kontribusi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Tuhan tidak selalu membimbing kita ke jalan yang kita rencanakan. Tetapi Ia selalu membimbing kita ke jalan yang kita butuhkan — dan yang dunia butuhkan dari kita.
— ✦ —
Terima Kasih, NHI
Kepada D3 National Hotel Institute Bandung — terima kasih. Bukan hanya untuk ilmu memasak yang diajarkan. Tetapi untuk sesuatu yang jauh lebih berharga: yang menjadi kompas perjalanan ini.
Kompas itu tidak pernah saya taruh. Ia menemani saya dari dapur ke dunia yang lebih luas. Dari Bandung ke Bern. Dari pelayanan tamu hotel ke pelayanan antar bangsa. Dari seorang siswa jurusan Kitchen yang tidak pernah membayangkan akan menulis buku tentang diplomasi — menjadi seorang penulis yang justru bisa menulis buku itu karena tidak pernah berhenti melayani.
Ini bukan kisah tentang keberuntungan. Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika nilai yang benar ditanamkan sejak awal — dan ketika jiwa bersedia untuk mengikuti arah yang tidak selalu terlihat jelas, tetapi yang selalu membawa ke tempat yang tepat.
Amazing Journey. Bukan karena perjalanannya selalu mudah.
Tetapi karena setiap langkahnya — bahkan yang paling tidak terduga —
ternyata membawa ke tempat yang memang harus dituju.
— ✦ —
Budiman Wiriakusumah · Penulis, Bridging Nations Connecting Hearts ·