KELIMUTU FANS club

KELIMUTU FANS club Penndiri( Anis tani )

MISTERI DANAU KELIMUTU
28/10/2016

MISTERI DANAU KELIMUTU

On The Spot - Misteri Danau Kelimutu part1

03/01/2015

Danau Kelimutu, Penuh Misteri

untuk di renungkan apakah akan kita rawat dan menjaganya atau akan kita lupakan keunikan yang tida duanya ini.
Pengalaman Pribadi seorang pendatang yang mengagumi...
Panorama Danau Tiga Warna Kelimutu di Desa Pemo Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memang penuh misteri yang tak terselami hingga saat ini.Perubahan warna danau yang sering terjadi di tiga kawah terpisah bekas letusan Gunung Kelimutu itu menjadi keunikan yang tak ada duanya di dunia. Sebagai warga yang cukup lama tinggal di daratan Flores, saya akan memaparkan apa yang saya ketahui tentang Danau Kelimutu berdasarkan pengamatan dan pengetahuan pribadi.

Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ini dikenal sebagai danau tiga warna. Dinding danau yang indah ini rawan longsor. Sayangnya, keindahan Danau Kelimutu tak seindah sistem pengelolaannya. Sejumlah fasilitas, terutama sarana untuk wisatawan, kini banyak dalam kondisi rusak dan tak terawat. Misalnya saja kamar kecil, bangunan pendopo di areal parkir yang kondisinya memprihatinkan, serta kapasitas lahan parkir yang amat terbatas, yang hanya mampu menampung sekitar 20 kendaraan roda empat dan beberapa sepedamotor.

Danau Kelimutu sesungguhnya merupakan salah satu obyek wisata andalan Flores. Untuk mencapai danau yang terletak sekitar 51 kilometer arah timur dari Kota Ende itu, wisatawan bisa menggunakan kendaraan bermotor dari Ende, juga bisa menggunakan bus antarkota.Pemandangan di kawasan itu sangat memesona. Kabut putih tebal yang bergerak perlahan menutupi puncak Gunung Kelimutu ( kurang lebih 1.640 meter di atas permukaan laut) merupakan salah satu pemandangan yang sangat khas di sekitar tiga danau berwarna di atas puncak gunung.

Potensial

Di kawasan Danau Kelimutu banyak hal yang dapat dijumpai, yang jika dikelola secara optimal pasti akan mampu menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Manakala situasi sepi pengunjung, suasana akan terasa senyap dan menjemukan. Kita hanya akan melihat hamparan tanah dengan sejumlah tanaman hijau, selain tentunya menyaksikan perubahan warna yang menakjubkan ketiga danau. Namun, jangan berharap ada penjelasan atau keterangan yang memadai seputar keajaiban danau itu maupun alam sekitarnya.Di kawasan danau hanya ada satu papan yang “berjudul” Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi. Akan tetapi, papan itu pun kondisinya sudah tak terawat, penuh goresan tangan jahil yang menghilangkan sejumlah huruf. Keterangan yang diberikan pun hanya seputar legenda secara garis besar, tidak ada penjelasan secara ilmiah.

Tiga danau yang letaknya berdekatan satu sama lain itu juga “tidak bernama”. Di sisi timur, terdapat dua danau, yang airnya masing-masing berwarna hijau dan cokelat tua. Untuk danau yang berwarna hijau, masyarakat biasanya menyebutnya dengan danau arwah muda-mudi (tiwu nua muri ko’o fai). Yang berwarna cokelat tua disebut danau arwah tukang tenung atau orang jahat (tiwu ata polo). Di sisi barat ada satu danau yang berwarna hijau lumut atau gelap, yang biasa disebut danau arwah orangtua (tiwu ata mbupu).

Perubahan warna

Sejumlah kalangan menduga, perubahan warna air di danau itu disebabkan aktivitas Gunung Berapi Kelimutu, pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimia terlarut, serta akibat pantulan warna dinding dan dasar danau. Penjelasan singkat bahwa perubahan warna air ke biru putih (sekarang hijau) dimungkinkan oleh perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas-gas gunung api, atau dapat juga akibat meningkatnya suhu.

Sementara itu, meningkatnya konsentrasi besi (Fe) dalam fluida menyebabkan warna merah hingga kehitaman (sekarang cokelat tua). Adapun warna hijau lumut dimungkinkan dari biota jenis lumut tertentu.Lalu soal dinding pemisah antara tiwu nua muri ko’o fai dengan tiwu ata polo diberikan penjelasan singkat bahwa dari sudut geologi, bagian dinding danau merupakan bagian yang paling labil. Dengan posisi berdekatan, apalagi jika terjadi gempa dengan skala besar, tidak menutup kemungkinan kedua danau ini akan menyatu.Selain itu, mengingat Pulau Flores termasuk daerah rawan gempa, diperlukan kajian untuk dapat menginformasikan kepada wisatawan pada lokasi mana harus berlindung ketika berada di sekitar Danau Kelimutu.

Sejarah Kelimutu

Kelimutu merupakan gabungan dari kata keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti mendidih itu merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di Pulau Flores, selain Komodo, kampung tradisional Bena dan Taman Laut Riung yang indah.Bagi Anda yang sempat berkunjung ke Flores, kunjungan Anda ke Flores di NTT belum lengkap bila belum sempat mampir ke Danau Kelimutu yang terletak di Gunung Kelimutu. Danau ini menyuguhkan pemandangan danau 3 warna yang pada waktu waktu tertentu warnanya dapat berubah.

Danau Kelimutu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Danau ini mulai dikenal setelah Romo Bouman menerbitkan artikel mengenai Danau Kelimutu.Danau vulkanik itu dianggap ajaib atau misterius, karena warna ketiga danau tersebut berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.Awalnya Danau Kelimutu dikenal memiliki tiga warna, yakni merah, putih dan biru, dibeberapa dokumen yang ada, danau yang sekarang berwarna hitam, dulu sebelum tahun 1970 berwarna merah, seperti terlihat pada lembaran uang kertas RI harga Rp 5.000 yang lama.

Penduduk setempat meyakini bahwa perubahan warna ketiga danau tersebut menunjukkan gejala alam yang akan timbul seperti gunung berapi meletus, adanya longsor, musibah alam lainnya atau musibah lainnya. Untuk menapaki puncak Kalimutu, ada beberapa pilihan untuk mencapai puncak Kelimutu, yakni dengan berjalan kaki, naik kuda, menyewa motor dan menyewa mobil.

1. Air Panas

Tidak jauh dari Moni Anda dapat menjumpai beberapa sumber air panas di sekitar Moni dan sangat menyegarkan untuk mandi di sumber panas ini terutama setelah Anda turun bekeringat dari Gunung Kelimutu.

2. Rumah adat

Di sekitar Moni seperti di Desa Ngala, Jopu atau Wolowaru pada saat itu Anda dapat melihat beberapa rumah adat setempat yang dibangun menjulang tinggi, beratap kerucut, bentuk di bagian bawah mirip rumah panggung yang tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah dan untuk masuk ke dalam rumah seseorang harus menggunakan tangga. Di bagian dalam atap kerucut ini ada suatu platform di mana benda benda sakral termasuk juga tulang belulang nenek moyang mereka disimpan. Sayang sekali ruangan ini tidak diperkenankan untuk difoto.

3. Misionaris

Larantuka dan Maumere merupakan titik awal penyebaran agama Katolik oleh para misionaris Portugis. 400 tahun yang lalu para misionaris Portugal masuk pertama kali ke Maumere, salah satu peninggalan Portugis adalah Gereja Tua Sikka bernuansa Portugis yang sampai sekarang masih berdiri megah di Desa Sikka. Gereja ini berarsitektur kolonial, unsur-unsur tradisional Flores tetap diakomodasikan dalam interiornya dengan berbagai motif tenun Sikka terlukis pada dinding dan altarnya.

Seminari Ledalero dengan museumnya, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh agama Katolik dalam kehidupan masyarakat Maumere.

Perjalanan panjang sejarah Flores dapat ditelusuri dari berbagai koleksi yang dimilikinya. Berbagai koleksi tenun ikat dengan motif yang kini tak lagi diproduksi pun dapat ditemui di museum ini. Seminari Ledalero dikelola oleh para misionaris SVD yang berasal dari Austria.

4. Rumah Pengasingan B**g Karno di Ende

Rumah pembuangan B**g Karno terletak di Jalan Perwira, Kota Ende yang secara kasat mata kelihatan seperti layaknya permukiman penduduk, yang membedakan dari rumah penduduk lainnya adalah sebuah papan nama bertuliskan Situs, Bekas Rumah Pengasingan B**g Karno di Ende terpampang di halaman depan. Di rumah berukuran 12 x 9 meter ini, mantan Presiden Republik Indonesia yang pertama Soekarno (B**g Karno) menjalani masa pengasingan oleh Kolonial Belanda selama empat tahun (1934-1938)

PERE KONDE - Pintu masuk ArwahPere Konde. Nama ini mungkin asing bagi Anda. Tetapi bagi yang pernah ke Danau Kelimutu, p...
03/01/2015

PERE KONDE - Pintu masuk Arwah
Pere Konde. Nama ini mungkin asing bagi Anda. Tetapi bagi yang pernah ke Danau Kelimutu, pasti akan melewati tempat ini. Pere Konde, letaknya hanya dua kilo meter sebelum puncak Kelimutu.

Mitos yang berkembang pada warga Suku Lio, Pere Konde adalah pintu masuk arwah ke Kelimutu. Di Pere Konde ini, Konde bertindak sebagai Hakim. Para arwah dicatat, atau didata dan ‘diadili’ oleh Konde Ratu selaku penguasa Kelimutu.

Setelah ‘diadili,’ para arwah diarahkan ke tiga danau, sesuai dengan sikap dan perbuatan mereka selama masih hidup serta sesuai dengan usia mereka.

Bagi yang masih muda serta perbuatan baik dan buruknya seimbang, ditempatkan di danau “Koofai Nuwa muri” atau danau muda-muda. Bagi yang selalu berbuat jahat, s**a menenung, dan perbuatan jahat lainnya, sekalipun masih mudah, atau sudah tua, akan menempati danau Merah “suanggi” atau Tiwu Ata Polo. Bagi yang sudah sepuh dan selalu berbuat baik selama hidup, bijaksana, arwahnya menempati danau Hitam ,Ata Bupu atau danau orang tua.

Danau Koofai Nuwa Muri dan danau Ata Polo, hanya dipisahkan oleh tebing. Dulu tebing pemisah kedua danau ini masih cukup lebar dan bisa dilalui manusia. Tebing pemisah ini, oleh warga di sekitar kawasan Kelimutu, menamakan “jala Ndai”. Karena menurut Legenda’ ada seorang Suku Lio bernama Ndai, yang hampir setiap hari melewati tempat itu untuk berburu babi hutan, musang, tupai dan lainnya.

Konde Ratu juga akan memulangkan arwah orang yang sudah meninggal itu, jika saat ‘mengadili’ arawah itu bisa memberi alasan yang masuk akal. Karena itu, dulu, orang Suku Lio, kalau meninggal tidak langsung dikubur, tetapi disemayamkan selama beberapa hari. Menurut cerita orang tua-tua, dulu pernah ada orang yang sudah dua hari meninggal, namun hidup kembali. Mereka percaya, bahwa Konde Ratu belum mengijinkan orang itu untuk tinggal di Kelimutu.

Karena mitos itu p**a, pemangku adat atau Mosalaki dari tanah persekutuan Mau Gadho (Woloara) sering memberi sesajian atau Pa’a Loka atau memberi makan kepada Konde Ratu selaku penguasa Kelimutu. Pa’a Loka ini dilakukan di Pere Konde.

Mosalaki Woloara tidak pernah memberi makan kepada arwah orang meninggal di Kelimutu. Sekali pun mereka percaya bahwa arwah orang meninggal itu mendiami Kelimutu. Pa’a Loka atau pati ka du’a bapu atamata, bagi Mosalaki Woloara, sudah dilakukan di Wisu Lulu, Tubu Kanga dan Bhaku Rate yang ada di kampung masig-masing.

Dan apa yang diminta Mosalaki Woloara saat pa’a loka di Wisu Lulu, Tubu Musu, dan Bhaku Rate, serta di Pere Konde selalu terkabul.

Salah contoh yang menjadi bukti terkabulnya pa’a loka di Wisululu, tubu musu, dan bhaku rate du’ bapu atamata di Woloara, serta pa’a loka di Pere konde adalah seorang calon kepala daerah terpilih menjadi kepala daerah di daerahnya.

Sisi Lain Dari Wisata Danau Tiga WarnaBy: MahfuzhOn: 19/08/2014Related PostsSisi Lain Dari Wisata Danau Tiga WarnaSebuah...
22/10/2014

Sisi Lain Dari Wisata Danau Tiga Warna

By: MahfuzhOn: 19/08/2014
Related Posts

Sisi Lain Dari Wisata Danau Tiga Warna
Sebuah objek wisata yang begitu eksotik di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur yakni Danau Triwana Kelimutu. Sebenarnya danau ini tak sebatas obyek wisata alam yang sudah menjadi sorotan dan menyedot perhatian pelancong dari seluruh dunia. Object wisata berbentuk tiga kawah dengan air senantiasa tidak sama warna itu semestinya sekalian jadi object wisata budaya serta religius.

Sekian usaha yang dilakukan diantaranya pembahasan sari pemikiran yang bergulir dalam diskusi terbatas bertopik ” Kehadiran Kelimutu dalam Persepsi serta Interpretasi Kebiasaan Suku Lio Ende “, di Kupang, Jumat (28/2). Diskusi yang dipandu Pastor Edu Dosi SVD itu menghadirkan budayawan dari Kampus Universitas Widya Mandira Kupang, Blasius Radja serta Yohanes Vianey Watu.

Wisata Danau Tiga Warna Kelimutu
Wisata Danau Tiga Warna Kelimutu
Blasius Radja menegaskan bahwa, Kelimutu tak sebatas gunung api yang menyusul ledakan dahsyatnya th. 1830 dan meninggalkan tiga kawah berair tiga warna, merah, putih serta biru. Mulai sejak dahulu, warga etnis Lio Ende berkeyakinan bahwasanya ketiga kawah itu yaitu tempat bersemayam semua arwah leluhur mereka yang sudah wafat.

Bila sepanjang hidup berlumuran perbuatan jahat, dipercaya sesudah wafat arwah bakal menghuni kawah danau seram berwarna merah pekat yang dimaksud tiwu ata polo. Sebaliknya, kawah danau berwarna putih atau mungkin tiwu ata mbupu adalah tempat bersemayam arwah beberapa tetua yang berhati lurus sepanjang hidupnya. Sesaat satu kawah danau yang lain dengan air berwarna biru atau mungkin tiwu nua muri koo fai dipercaya menjadi istana arwah muda serta mudi yang saat hidup senantiasa jadi sumber keceriaan untuk sesama.

“Sisi dari mitologi itu menjadi nasehat sekalian peringatan berperilaku untuk anak cucu etnis Lio Ende dari waktu ke waktu. Petuah itu mesti ditaati supaya nantinya sesudah wafat, rohnya bersemayam ditempat nyaman di tiwu ata mbupu atau mungkin tiwu nua muri koo fai, ” tutur Blasius.

Ia memberikan, sampai beberapa puluh th. lantas beberapa mosalaki (tuan tanah) dari seputar lokasi Kelimutu masih mengadakan ritual kebiasaan pemberian sesajen untuk beberapa leluhur di puncak gunung. Ritual itu mesti dihidupkan kembali.

Yohanes Vianey Watu menggambarkan Kelimutu menjadi gunung ajaib lantaran mempunyai tiga kawah diisi air tidak sama warna dengan semua mitosnya. Ini dapat dikemas jadi destinasi wisata budaya serta religius berbasis religi lokal yang digabungkan dengan tata langkah Katolik. ” Semoga tumbuh industri wisata budaya serta religius di lingkungan etnis Ende Lio, ” lanjut Vianey.

22/10/2014

Sewu Api, Upacara Adat Tahunan Suku Lio
Sewu Api dalam bahasa Lio, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, berarti memadamkan api. Sewu Api merupakan sebuah upacara adat, yang diselenggarakan setiap akhir tahun oleh Suku Lio, yang sebagian besar warganya mendiami daerah sepanjang pesisir utara Kabupaten Ende. Upacara Adat Sewu Api bertujuan untuk mengakhiri musim kemarau dan mengawali musim tanam. Selain itu, acara ini untuk syukuran atas keberhasilan sekaligus mendoakan kesuburan pada musim tanam yang akan datang.

Mosalaki, pemegang hak ulayat

Suku Lio, yang sebagian besar warganya mendiami daerah sepanjang pesisir utara Kabupaten Ende, pada akhir Desember 2007 lalu, melaksanakan upacara adat yang dikenal dengan nama Sewu Api. Penyelenggara utama kegiatan ini adalah pemimpin adat. Struktur pemimpin adat terdiri dari para Kepala Adat atau Mosalaki Puu, Petinggi Adat atau Mosalaki Ria Bewa (semacam perdana menteri), serta melibatkan masyarakat umum, yakni para penggarap lahan pertanian yang disebut Ana Kalo Fai Walu.

Di dalam struktur adat, Mosalaki Puu dan Mosalaki Ria Bewa adalah pemegang hak ulayat atas tanah-tanah adat. Mereka memiliki kekuasaan tertinggi untuk mengatur pembagian penggarapan lahan oleh masyarakat. Para pemimpin adat ini, baik Mosalaki Puu maupun Mosalaki Ria Bewa mengelola tanah-tanah ulayat dari kelompok-kelompok adat yang disebut dengan Embu. Di dalam Suku Lio sendiri ada beberapa kelompok adat yang disebut dengan istilah Embu, antara lain Embu Siga, Embu Mosa, Embu Lesu, Embu Wumbu Raja, Embu Ndaru Roi, dan lain sebagainya. Setiap Embu melaksanakan kegiatan Sewu Api pada hari yang berbeda-beda. Tetapi, biasanya dilaksanakan sepanjang akhir bulan Desember. Biasanya sesudah hari raya Natal hingga 1 Januari.

Secara umum tidak ada perbedaan prinsip dari prosesi adat yang dilakukan masing-masing Embu. Ketika mengikuti Sewu Api dari Embu Wumbu Raja, dengan pimpinan adat tertingginya, Yang Mulia Bapak Yoseph Naga Budhi, saya dapat mencermati tahapan-tahapan inti dari prosesi tersebut. Sehari sebelum acara puncak, para pemimpin adat mengundang seluruh masyarakat untuk menyerahkan sebagian kecil hasil buminya. Kegiatan pada hari itu dalam bahasa adat disebut dengan Kero Are. Biasanya yang diserahkan adalah beras sebanyak 5-10 kg, satu ekor babi, moke atau arak beberapa botol, yang semuanya tergantung pada luasnya lahan garapan.

Kero Are dilakukan sebagai upeti untuk diserahkan kepada Mosalaki. Kegiatan Kero Are atau pembayaran upeti dilakukan oleh seluruh penggarap dengan mendatangi rumah induk atau Kuwu. Pada saat yang sama p**a para petinggi adat melakukan pertemuan awal guna membahas draft sejumlah persoalan yang berhubungan dengan pertanahan. Bahkan menghimpun poi atau denda dari anggota masyarakat yang sebelumnya menggarap lahan pertanian tanpa sepengetahuan Mosalaki. Draft tersebut akan diajukan keesokan harinya pada upacara puncak Sewu Api.

Selama dua hari kegiatan inti Sewu Api, anggota masyarakat maupun pimpinan adat tidak boleh melakukan kesalahan-kesalahan prinsipil seperti membuat kericuhan, melecehkan kebijakan pemimpin adat atau bekerja di ladang. Jika ada kesalahan, maka denda atau poi akan dikenakan dalam bentuk satu ekor babi, yang diserahkan setelah upacara adat, untuk kebutuhan Sewu Api tahun berikutnya.

Kegiatan utama pada acara puncak adalah Sidang Tingkat Tinggi Dewan Adat. Mereka menempati Kuwu atau Rumah Adat Utama untuk membicarakan semua persoalan yang berkaitan dengan adat. Biasanya berfokus pada masalah pertanahan, terkait tapal batas, pembagian, dan kewajiban-kewajiban para penggarap. Kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat antara Mosalaki Puu dengan Mosalaki Ria Dewa, yang sedapat mungkin dapat diselesaikan pada saat itu juga. Jika mereka saling melecehkan dan tidak menghargai, maka tindakan denda atau poi di kalangan mereka sendiri bisa saja dilakukan (asas persamaan di depan hukum).

21/10/2014

MARILONGGA PAHLAWAN ENDE-LIO
Sastra Lisan adalah ungkapan jiwa dalam wujud bahasa secara langsung melalui percakapan. Dalam khazanah kesusastraan suku Lio di Flores, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui relasi lajur sejarah yang panjang. Di dalam tradisi masyarakat Lio, secara simultan meniscayakan terjadinya dialektika budaya yang saling mengisi dan melengkapi. Ekpresi estetik tradisi sastra lisan adat Lio dalam bentuk mantra, tembang, cerita rakyat, hikayat-hikayat, dongeng atau pun syair pantun dan lain-lain yang berkembang menjadi serangkaian manifestasi dialektika dari berbagai unsur budaya seperti peradaban melayu kuno, peradaban bangsa Hindia, peradaban bangsa Portugis dan kolonial Belanda yang tentunya turut mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya kesusastraan dalam masyarakat Lio. Saat ini juga arus modernisasi dan globalisasi semakin deras mengalir mengubah pola pikir dan kehidupan masyarakat Lio, maka saat ini, hal yang sangat dirasakan adalah “mengecilnya” peranan sastra lisan di tengah kehidupan ata Lio (orang Lio). Lalu dibalik itu tentunya bahasa dan sastra Lio perlahan terancam punah . Tak berlebihan kemudian akan menghilangnya seperangkat sistem kebudayaan lokal yang dipunyai oleh sebuah “keluarga” (etnik) Lio yang ada di Flores. Sebagai suku terbesar di p**au Flores, tentunya Ata Lio (orang Lio) memiliki sejumlah sastra lisan yang disebut Sua, Bhea, Sodha, Nungunange, Nangi, Senaneke dan lain sebagainya.

1. "Sua" adalah suatu ungkapan yang menggunakan bahasa lazim sehari-hari, baik diucapkan secara langsung maupun melalui sesajen yang dipersembahkan kepada para leluhur. Hingga saat ini 'Sua' masih kerap dilakukan pada ritual adat orang Lio. Kendati orang Lio pada umumnya sudah banyak yang mengenal agama yang dibawahkan oleh bangsa Portugis dan Belanda, namun ata Lio (orang Lio) masih berpegang teguh pada kepercayaan lokal yang diturunkan oleh adat sehingga penyembahan yang bersifat animisme dan dinamisme masih juga dapat ditemui hampir di seluruh komunitas ata Lio. Oleh karena itu, dalam setiap penyembahan yang dilakukan tentu selalu diselingi ungkapan adat yang disebut 'Sua'. Dari beberapa sumber 'Sua', terdiri dari beberapa macam yaitu;

- Suasasa: Dalam perspektif masyarakat Lio, Suasasa adalah Ungkapan bahasa khiasan sebagai bentuk permohonan untuk mencapai maksud tertentu. Misalnya pemohonan untuk melindungi diri dari godaan atau gangguan orang-orang sekitar atau dari roh-roh jahat.

Contoh-contoh Suasasa adalah sebagai berikut;

Sere pe watu ae sabu,
Ture Jegha Mage Nggebha,
Nggoro rusa Detu kua,
Wewa Loghe Nusa Toe,
Sere Kuma,
Mage oto watu mopo,
Mai ka bou pesa mondo gha ina,
Nira tolo sai ana mamo miu,
We'e ana mamo muri bheri,
Mbana leka jala eo mapa,
Leta leka wolo eo lera,
Suru sai gepa gena,
Leka tana keta watu ngga.

Ungkapan ini dimaksudkan untuk memanggil roh-roh yang bersemayam di batu, air, bukit, pohon, tugu batu dilaut dan lain-lain supaya berkumpul serta menyantap sesajen yang dipersembahkan. Hal ini dilakukan tentu dengan pengharapan untuk melindungi diri agar terhindar dari bahaya dan godaan serta dianugerahi rejeki yang melimpah di tanah (tempat tinggal) yang sejuk dan nyaman.

- Suasomba dalam bahasa Lio kerap disebut juga dengan kata 'Oasomba' atau juga disebut Oapenda. Suasomba/Oasomba/oapenda adalah Suatu ungkapan yang mengandung kutukan dan sumpah serapa kepada orang - orang yang dianggap bersalah, supaya kehilangan kekuasaan dan cepat atau lambat segera lenyap dari muka bumi. Suasomba atau Oasomba biasanya diucapkan secara spontan dan langsung oleh pemohonnya. Kendati demikian Suasomba atau Oasomba juga kerap dilakukan melaui ritual sesajen kepada Leluhur di batu pemujaan dll.

Contoh-contoh Suasomba/Oasomba/oapenda adalah:
- Ungkapan: 'Mbana-mbana mata, Lora-lora bopa'. Sepenggal ungkapan ini mempunyai makna kutukan sangat dasyat yang dimaksudkan agar orang yang dikutuk tersebut cepat lenyap dari muka bumi.
- Ungkapan: "Tebo ko gole do keli, gela moke ko di gole do keli. Lo ko lepo do wolo, kapa ngebo ko di lepo do wolo. Ina menga tana neku eo tema, ina menga watu neku eo moda". Kalimat ini mengandung makna peralihan kekuasaan dari si A kepada si B karena berbagai alasan mendasar sehingga si A dianggap sudah tidak mampu mempertahankan eksistensinya. Kalimat ini biasanya diungkapkan oleh orang Lio setelah memenangkan peperangan.

2. "Bhea" Adalah Ungkapan untuk membangkitkan spirit yang menujukan kebesaran dan keperkasaan seseorang. Bhea biasanya diucapkan oleh ketua adat pada saat ritual adat atau siapapun pada saat sebelum dan sesudah melakukan peperangan. Contoh:
- Bhea babo Woda Boko dari Lise: "Aku Woda Boko, Kamba dui nia longgo". Ungkapan ini sebagai syair kebanggaan untuk menunjukan kesaktian supaya siapapun yang mendengarnya akan gentar.
- Bhea babo Marilonga dari Watunggere: "Aku Marilonga eo topo doga, Tu'a ngere Su'a, Maku ngere watu, Te iwa Le, Weru iwa Nggenggu, Ae bere iwa sele". Ungkapan ini berati Menggambarkan bahwa Marilonga adalah Sosok yang sangat Kuat dan perkasa serta tidak mudah menyerah seperti halnya besi dan Batu yang tidak goyah walaupun ancaman datang bertubi - tubi bahkan badai menghadang sekalipun.
- Bhea babo Tani Du'a dari Lise: "Ndeto Peto Au Ila, Ndeto Pate Ndeto, Au Ila Poka Au". Kalimat ini adalah Ungkapan yang menunjukan kebesaran dan keperkasaan.
- Bhea babo Toda Wiwi Ria Dari Mbengu: "Aku Toda Wiwi Ria, Wolo pe ghale Aku tengu keku ka, Wolo pe gha Aku tengu tego ka". Ungkapan ini mengandung makna kecerdikan dari babo Toda Wiwi Ria yang mengalah untuk sebuah kemenangan (Keselamatan).

3. Sodha
Sodha merupakan nyanyian yang memberi semangat atau spirit tarian adat Gawi dan dipimpin oleh seorang Pesodha (penyair). Sodha diiringi syair-syair yang mengangkat fakta kehidupan lingkungan sekitar dan nyanyian sejarah suku Lio serta ajaran moral (morality doctrine) yang dapat juga disebut kitab suci lisan adat Lio. Selain itu Sodha juga dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk ungkapan untuk mengkritisi pola kehidupan masyarakat dan mengingatkan agar tetap menghormati, melaksanakan norma-norma masyarakat sebagaimana diatur oleh adat. Berikut ini contoh sepenggal Sodha yang sering didengarkan hingga kini.

Oooo...lau ee, lau leka te'u meko mesu, lau hego mora medhu.
Oooo... lau ee, lau leka hale mbo'a mbole, lau kube raga dhoga.
Oooo... lau ee, lau leka ngana raga deke, lau ndere' joru mere'.
Kau rubhu tedho ra, kami joka kau beu bewa,
ghawa leka pu'u su'a, ghawa leka puse tana, ghawa leka mila mera'.
Nu kau no'o rubu, lela sai no'o angi, bere kau no'o ae, mbawa sai no'o fata,
kau rubhu tedho ra, mera ghawa puse tana.

Jaji pore mena gomo ae hiwa ghale tau uli dole, re'e, weta gena meke seke nara roke kobe lima kepe kele.
Jaji nika menga kira kobe, to uli dole no'o ko'o fai mode, re'e nara gena TBC, weta gha napa ae lura bere.

Pada syair yang pertama diatas dimaksudkan sebagai penolak bala untuk menjauhkan penyakit serta roh-roh jahat yang sedang menghantui seseorang. Sedangkan syair kedua mengisahkan sepasang pria dan wanita yang sudah mengikrar janji akhirnya batal menikah pada hari yang telah ditentukan karena terjangkit TBC (tuberculosis)

4. Nungunange
Nungunange adalah dongeng yang menceritakan seputar cerita-cerita rakyat (Legend) dan tentang binatang (Fabel) ataupun cerita yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat (Mithe).
A. Contoh-contoh cerita rakyat (legend) masyarakat Lio misalnya;
- Tiwu nake deru (asal mula danau)
- Bobi No'o Nombi (asal mula padi) dan lain-lain.
B. Contoh-contoh dongeng tentang binatang (fabel) dalam masyarakat Lio misalnya;
- Watu no'o Wawi (Batu dengan Babi),
- Ro'a no'o Beku ( Monyet dengan Musang) dan lain - lain.
C. Contoh-contoh cerita yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat adalah;
- Koja kesu (Pohon kenari yang angker)
- Ata polo (Suanggi atau hantu jadi-jadian) dan lain sebagainya.

Adapun cerita tentang kenyataan kehidupan leluhur bersifat fiksi dengan memberikan petuah yang menyentuh nilai-nilai kehidupan paling dalam. Nungunange biasanya diceritakan oleh para orang tua kepada anak balita berupa cerita rekaan namun mengandung petuah sebagai nasihat agar sang anak taat kepada orang tua.

5. Ke/Nangi
Ke/Nangi dalam tradisi di Lio adalah suatu situasi ungkapan kesedihan melalui tangisan atas musibah yang menimpa seseorang, anggota keluarga, kerabat yang dicintai.
Ke/Nangi terdiri atas dua macam yaitu; Nanginore dan Nangi pa'a suri.

- Nanginore adalah Sebuah tangisan untuk mengungkapkan perasaan sedih namun tidak disertai syair kehidupan. Nanginore dapat terjadi pada saat ketika sedang kesakitan, kematian ataupun rasa haru dan lain-lain.

- Nangi pa'asuri adalah Sebuah tangisan yang menggugah hati dan dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain jika dilakukan dalam keadaan sunyi seperti tengah malam atau subuh. Dilantunkan dengan nada yang memiliki alur serta bahasa-bahasa adat yang dalam. Nangi Pa'asuri biasanya hanya dapat dilakukan pada saat kehilangan (kematian) seseorang anggota keluarga. Sehingga untuk mengenang amal baik orang yang meninggal tersebut, dilantunkan untaian syair nyanyian oleh 'Ata Nangi' (yang menangisi) untuk mengiringi kepergian arwah orang meninggal tersebut. Nangi Pa'asuri hanya dapat dilakukan para wanita tua dan hanya orang-orang tertentu saja seperti hal-nya 'Ata Sodha" yang hanya dilakukan oleh kaum Pria.

Berikut ini contoh Nangi Pa'asuri;

Aeeeeeeee......Mu, Tia, Nandu, nara Leo, Ma aji lo'o Fera peke dowa miu no'o longgo.
Miu Holo lima esa mawe roa bowa beta, Fera bowa beta nia bopa leda.
Aeeeeeee.... Tiwa, Jose Fera nara miu walo mena Gana susa Fera gha gena bore baja. Jene kai ale tana Fera kau gena apa, Fera talu bala aku ndate raka.

Syair ini menjelaskan (hikayat) kisah hidup manusia setelah meninggal sehingga alur yang diceritakan bersifat nyata sesuai dengan perjalanan hidup manusia.

6. Sena neke
Sena neke merupakan salah satu sastra dalam bentuk Pantun yang bersifat fiksi dan non fiksi. Sena neke hingga kini masih dapat ditemui di setiap komunitas-komunitas suku Lio di Flores. Pengungkapan sena neke biasanya terjadi antara dua individu atau secara bersama-sama yang berbeda presepsi sehingga bahasa yang dilontarkan berupa sindiran dengan maksud sebagai penghinaan ataupun bersifat candaan seperti halnya pantun berbalas pantun.

Contoh Sena neke (sindiran) sebagai bentuk penghinaan:
-Bou mondo ngere ro'a loka. (berkumpul seperti kera/monyet besar)
-Nia ngere fara banga. (muka seperti arang)
-Wiwi so'o dea lea (Mulut besar)
-Gare tei ngere au moda loda (penipu ulung)

Contoh Sena neke (sindiran) yang bersifat guyonan dalam menyanjung seseorang:
-Weta eo jemu momo, rupa kau mbombe ngere boka rose. (seorang wanita cantik)
-Bego ga'i ngere weka kea (Bers**aria)

Selain penjelasan-penjelasan diatas, Sena neke juga dapat dilantukan melalui syair nyanyian seperti 'Sodha' namun harus berbalas pantun antara Ata sodha (penyair) dengan Ata gawi (penari gawi).

Dengan menyimak keragaman budaya yang dimiliki oleh orang Lio, penulis tentu bertanya-tanya dalam diri; Adakah Manusia-manusia yang mendiami berbagai wilayah komunitas, persekutuan atau (Clan) klen di Flores tengah (Suku Lio) merasa peduli dengan peradabannya sendiri ? Berbagai jenis sastra lisan yang mungkin saja belum dikenal luas oleh masyarakat Lio ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah atau mengatasi persoalan dalam masyarakat Lio sendiri. Apabila makna ungkapan-ungkapan di atas sungguh-sungguh dijiwai oleh penuturnya atau pendengarnya, maka ini dapat menjadi harapan agar mentalitas modernisasi dan globalisasi yang dianut oleh masyarakat dapat diubah. Nilai-nilai luhur yang masih relevan untuk zaman ini bertaburan di mana-mana laksana mutiara. Hanya insan yang tidak memahami nilai mutiara saja yang akan membiarkan barang berharga ini berceceran dan jatuh ke tangan orang lain.

Sastra lisan suku Lio sebagai bagian dari sastra daerah tetap relevan untuk masa kini dan masa depan karena mengandung nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu. Oleh karena itu, para pemilik sastra lisan dan pemerintah daerah maupun pusat diharapkan selalu bergandengan tangan dalam upaya pelestarian sastra lisan suku Lio, yang turut memberikan sumbangsih bagi perkembangan sastra daerah dan Indonesia. Sastra yang bersifat lisan pun akan melahirkan intan dan permata tak ternilai. Sesuatu harapan untuk melestarikan kekayaan istiadat akan menjadi hampa dan tentu tak akan pasti tanpa kepedulian masyarakat itu sendiri.
Oleh Emannuel Sena
Diposkan: Anis Tani

Address

Bima
84116

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KELIMUTU FANS club posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category