22/01/2021
Mengenang Desember 3 Tahun Lalu π
Part I
Hari Pertama, 7 Desember 2017
----------------------------------------------------
Saya sedang tertidur pulas di Bus Damri saat tiba-tiba HP saya berbunyi dengan dering khas Whatsapp Call. Rupanya Margie yang menelepon. Dia menanyakan posisi saya dimana. Sambil melihat keluar jendela untuk mencari tau, saya menjawab bahwa saya sudah memasuki area bandara Soetta. Perkiraan saya tidak sampai 15 menit lagi, saya akan tiba di Terminal 1A, tempat pesawat kami akan diberangkatkan. Dan sesuai dengan waktu yang telah di perkirakan, saya tiba di Terminal 1A pukul 18.30. Jadwal take off kami masih 50 menit lagi. Setelah saya bertemu Margie, dari situ saya tau jika Tika dan Andy masih belum tiba.
Dari kami berenam, memang hanya saya, Andy, Margie dan Tika yang berangkat dari Jakarta. Sedangkan mbak Hanny dari Medan dengan pesawat sore. Bang Tutet sendiri sudah landing di Pontianak sejak pagi, beliau naik flight pertama dari Makassar. Jam terasa lebih cepat berputar karena saya dan Margie mulai merasa waswas dua rekan kami masih belum muncul. Akhirnya kami putuskan untuk boarding dan check in saja dulu. Kami berdua membawa 4 keril, dua keril kami sendiri, 1 keril Andy dan 1 keril khusus berisi logistik. Saat kami sedang antri check in, datanglah Tika dengan setengah basah kuyup hasil hujan-hujanan mengejar Damri tadi sore. Andy masih belum muncul sementara 15 menit lagi pesawat akan take off, akhirnya kami titipkan tiket Andy di counter 16, supaya dia bisa langsung ambil ketika tiba di bandara --- semoga tidak tertinggal pesawat ya bro...hehe...--- kami bertiga sudah mulai bisa nyengir karena dapat informasi bahwa pesawat kami bahkan belum landing di Soetta. Tapi sengaja kami tidak inform Andy supaya dia semakin panik...haha, sorry bro, anggap saja fit and proper test kesiapan mendaki.
Andy muncul ketika kami bertiga sedang bersantai di waiting hall gate 11. Dengan terengah-engah dia duduk di lantai. Maklum saja badannya kan 11-15 dengan saya, dia gendut banget dan saya gendut...(*' # so what the different??...lol).
Dan, untuk kali pertama saya dan rekan sangat bersyukur Singa Terbang mengalami delay parah, karena dengan itu rekan kami (Andy) jadi tetap bisa ikut sesuai rencana. Tidak terbayang jika tadi akhirnya pesawat terbang tepat waktu, pasti Andy sudah nangis bombay meratapi nasibnya tertinggal pesawat.
Pukul 21.20 WIB, pesawat kami take off meninggalkan Jakarta. Selama di perjalanan kami semua terdiam dengan lamunan masing-masing, hingga landing di Pontianak pukul 23.15 WITA. Di hall kedatangan airport Supadio, kami melihat mbak Hanny duduk sendirian, segera saja kami mendekati dan menemui. Saya pribadi baru mengenal mbak Hanny via grup yang sengaja dibentuk untuk tim yang akan berangkat ke Bukit Raya. Mbak Hanny, wanita yang supel berusia awal 40an, sengaja terbang jauh dari Medan demi mengejar puncak Bukit Raya. Setelannya pendaki banget coy. Setelah memperkenalkan diri, kami pun cuek bebek berfoto-foto di back ground drop airport Supadio. Yah, kapan lagi.com toh bisa kesini lagi, jadi abadikanlah momen sekecil apapun itu. Puas berfoto, kami pun beranjak menuju pengambilan bagasi. Dari bagasi, kami keluar untuk mencari mobil carteran yang telah kami pesan dengan biaya 3 juta pergi pulang. Kami sempat kebingungan bagaimana cara loading keril-keril besar kami. Mau di ikat di atas tapi talinya tidak cukup. Akhirnya kami paksakan untuk sementara hingga mendapatkan tali, keril-keril di tumpuk di jok bagikan belakang bersama Margie. Saya, Andy dan Dede (kenek mobil) di jok tengah. Tika dan mbak Hanny didepan. Sebenarnya ada alternatif lebih murah untuk menuju Nanga Pinoh yaitu dengan bus Damri dengan biaya 175 ribu untuk sekali jalan. Tapi kami memilih mencarter mobil saja supaya lebih gampang jika ingin berhenti dan lain-lain sepanjang perjalanan.
Dari airport kami akan menjemput bang Tutet terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Nanga Pinoh yang katanya memakan waktu 9-10 jam. Singkatnya, bang Tutet kami jemput di daerah Wonodadi tepat pukul 24.00.
Di rumah kenalan beliau kami menyempatkan diri untuk mengikat keril di atas mobil agar kami bisa lebih leluasa duduk dalam perjalanan selanjutnya.
Para wanita mengisi jok belakang, para lelaki termasuk saya di jok tengah, di depan di isi sopir dan keneknya. Dan mobil pun melaju membelah jalanan kota Pontianak yang sudah lengang. Kami beberapa kali berhenti, termasuk saat singgah untuk melaksanakan shalat subuh di sebuah masjid di daerah Sekadau. Oh iya, dalam perjalanan kami menuju Nanga Pinoh, tak banyak mesjid yang kami jumpai, disana mayoritas warga beragama Kristen sehingga gereja-lah tempat beribadah yang mendominasi. 30 menit lepas shalat subuh, kami tiba di pertigaan Entikong (wilayah yang menjadi perbatasan Indonesia - Malaysia, menurut supir, Entikong lebih dekat dibanding ke Nanga Pinoh. Dan benar saja, pada akhirnya kami baru bisa tiba di Nanga Pinoh resort TNBBR pukul 11.45. Letak resort TNBBR ini melewati Dermaga Pelabuhan Air, berada di sebelah kanan jalan di kilometer 10 lepas Kota Pinoh.
Selesai mengurus perijinan pendakian, mobil kami kembali ke arah Kota Pinoh untuk menuju dermaga Pelabuhan Air Nanga Pinoh. Begitu kami keluar dari mobil untuk memindahkan barang-barang ke speedboat carteran, barulah terasa panasnya udara Kalimantan Barat, benar-benar membakar kulit. Berkali-kali saya menyeka peluh yang terus bercucuran.
Sempat terjadi hal yang diluar rencana yaitu, speedboat carteran kami yang di nakhodai bang Udin ternyata tidak mampu mengangkut semua barang bawaan kami. Kami berenam dan 8 keril besar-besar. Kapasitas angkut speedboat hanya 500kg. Akhirnya, Margie dan bang Tutet serta 1 keril dipindahkan ke speedboat lain dengan membayar ekstra charge 400 ribu rupiah. Perjalanan menuju Serawai menghabiskan waktu 5 jam. Sempat speed kami transit di SPBU terapung ditengah perjalanan.
Bersambung....