03/03/2026
Posisi Imam di Masjidil Haram berada di belakang.
Imam di Masjidil Haram terkadang berdiri di belakang Ka’bah (antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad), terkadang di mihrab masjid, dan tidak selalu berada tepat di depan Ka’bah seperti yang umum dibayangkan. Hal ini disebabkan oleh konfigurasi Masjidil Haram yang melingkar, dengan Ka’bah berada di tengah, sehingga jamaah datang dan membentuk shaf dari berbagai arah.
Dalam kondisi seperti ini, posisi imam harus menyesuaikan dua hal sekaligus:
Menghadap kiblat (Ka’bah).
Memfasilitasi makmum dari segala penjuru agar shaf tetap tertata dan tidak melanggar ketentuan berjamaah.
Alasan Posisi Imam Bisa Berubah
1. Kondisi Khusus Masjidil Haram
Karena Ka’bah berada di tengah, jamaah mengelilinginya dari berbagai arah. Aturan “makmum tidak boleh mendahului imam” berlaku pada garis lurus yang sama dengan imam. Sementara makmum yang berada di arah berbeda (tidak satu garis lurus di belakang imam) boleh saja lebih dekat ke Ka’bah tanpa membatalkan shalatnya.
2. Mengikuti Tuntunan
Imam sering berdiri di belakang Maqam Ibrahim, sebagaimana tuntunan yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi waa sallam dalam pelaksanaan shalat di sekitar Ka’bah.
3. Menghindari Makmum Mendahului Imam
Jalur lurus tepat di depan imam biasanya dikosongkan agar tidak ada makmum yang berada persis di depannya. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi posisi mendahului imam pada satu garis yang sama.
4. Fleksibilitas Shaf
Makmum yang berada di sisi lain Ka’bah atau di arah berbeda dari imam boleh lebih dekat ke Ka’bah. Mengingat sulitnya mengatur jarak ribuan jamaah dari segala arah, fleksibilitas posisi imam membantu menjaga ketertiban dan keabsahan shalat berjamaah.