29/12/2012
Ngabuburit di Atas Jembatan Saka Lima belas Bumiayu
Kemegahannya Menjadi Bagian Masyarakat
Saat Ramadan datang, ngabuburit seolah menjadi tradisi yang sayang ditinggalkan. Alih-alih menunggu waktu berbuka, saking asyiknya, kembali ke rumah pun enggan.
Dari atas jembatan KA saka lima belas, sejauh mata memandang ke arah timur, kita dapat menikmati pemandangan Gunung Slamet, juga hamparan hijau tanaman padi dari kampung di seberang sungai Keruh.
Di atas sungai berdiri dengan kokohnya jembatan saka limabelas yakni jembatan layang rel kereta api jalur selatan yang melewati Kota Bumiayu. Menghubungkan Desa Adisana dengan Desa Dukuhturi, dengan melintasi sungai Keruh.
Meskipun saat ini telah berdiri dengan kokohnya jembatan baru di samping jembatan lama, seiring dengan pembangunan rel jalur ganda. Namun masyarakat tetap menjadikan saka lima belas sebagai icon yang tidak tergantikan.
Selama bulan puasa ini, keindahan jembatan sakalima belas yang oleh warga kecamatan Bumiayu sering disingkat dengan sebutan sakalibel, dimanfaatkan untuk sekedar menghabiskan waktu di sore hari sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa.
Banyak warga menghabiskan waktu dengan sekedar duduk-duduk dia tas jembatan atau di tanah lapang tidak jauh dari jalan lingkar Bumiayu yang juga berada tepat di bawah sakalibel, jika waktu sudah menunjukan pukul 15.00 wib, beberapa warga nampak menjajakan takjilan berbuka puasa.
"Setiap sore, tertuma di sini selalu ramai oleh warga yang datang ngabuburit, terlebih sekarang cuacanya selalu cerah," kata Nurjanah (35), pedagang kolak di sekitar sakalibel.
Dikatakan jembatan sakalibel sudah ada semenjak dirinya belum lahir, kondisinya semakin ramai setelah diselesaikanya pembangunan jalan lingkar pada sekitar 2004 lalu.
"Dulu di sini sepi, paling hanya dilalui warga Bumiayu yang akan menuju Desa Benda, Kecamatan Sirampog, namun setelah ada jalan lingkar jadi ramai," jelasnya.
Mandekati musim mudik Lebaran, biasanya lokasi tersebut semakin ramai sebagai tempat singgah para pemudik yang melalui jalan lingkar Bumiayu.
"Jika waktunya semakin mendekati Lebaran, maka selain warga yang datang ngabuburit, juga banyak pemudik yang singgah di sini untuk istirahat," kata Wawan (40), warga lain yang biasa berjualan jajanan di lokasi tersebut.
Meskipun jembatan asli Sakalibels sudah tidak lagi di fungsikan, namun keindahan jembatan yang fenomenal tetap akan melekat dihati warga masyarakat.
"Namanya tidak akan berubah, meski jumlah tiang saka tidak lagi berjumlah lima belas. Namun warga sudah kadung merasa jembatan sakalibel adalah salah bangunan fenomenal di Bumiayu," kata H Tohari, salah seorang tokoh masyarakat Desa Adisana. (teguh supriyanto)
sumber : http://www.radartegal.com/index.php/Ngabuburit-di-Atas-Jembatan-Saka-Lima-belas-Bumiayu.html