16/02/2012
Haji Backpacker (sebuah testimoni perjalanan Haji&Umrah)
Berita orang berangkat haji memang berita
yang paling menarik di antara berita ibadah
lain. Karenanya, tak mengherankan jika ada sanakkeluarga,
kerabat, tetangga, dan para sahabat mau
jauh-jauh datang ke salah seorang anggota keluarga
atau sahabatnya itu hanya untuk melepas kepergian
menyempurnakan rukun Islam kelima. Belum lagi
antusiasme masyarakat saat mengunjunginya lagi
sekembalinya si jamaah haji itu ke Tanah Air. Ditambah
lagi cerita yang mengharu-biru tentang pengalamannya
ketika berhaji.
Begitu p**a dengan diriku. Meski aku dilahirkan
dalam keluarga yang sederhana, bahkan bisa dibilang
sangat pas-pasan dan serba kekurangan, bayangan
tentang pergi haji itu sudah sering mencuat di kepalaku
sejak masih remaja. Apalagi saat masih kecil, ketika
teman sebayaku mendapatkan mainan potret-potretan
dari kakek-neneknya sep**ang dari pergi haji. Di dalam
mainan potret-potretan itu, banyak berisi rekaman
gambar-gambar sekitar Masjidil Haram, seperti Ka‘bah,
Hajar Aswad, Hijir Ismail, bukit Shafa Marwa, dan
lainnya. Aku masih ingat, betapa aku sangat iri pada
saat itu karena aku tidak punya hadiah seperti itu,
bahkan yang membuatku menangis adalah temanku
itu hanya memperlihatkan isi dalam potret itu sebentar
saja kepadaku.
Kerinduanku pada Masjidil Haram sudah tertanam
sejak aku masih belia. Dan ketika menginjak remaja
(sebagai santri di salah satu pesantren salaf), rasa rindu
untuk pergi haji tak dapat terlukiskan. Apalagi saat
salah seorang Ustad membacakan kitab yang berisikan
fadhilah-fadhilah haji atau saat melihat stasiun TV
swasta milik tetangga di pesantren sedang menyiarkan
siaran langsung shalat tarawih di Masjidil Haram. Saat
itu p**a aku sering berdoa: “Berikan aku kesempatan
dan kemudahan untuk merasakan semua kenikmatan
beribadah di rumah-Mu, Ya Allah. Di tempat semua
saudara muslimku selalu ingin berkumpul, Masjidil
Haram.” Sungguh, bahkan ketika bermunajah kepada
Allah, aku pun sudah merasakan nikmatnya. Nikmatnya
suatu kerinduan untuk bisa bersimpuh di Baitullah,
Ka‘bah.
Belum lagi saat membaca kitab tentang indahnya
tawassul kepada kanjeng Nabi, bershalawat, berziarah
dan duduk lama-lama di Ar-Raudhah sambil membaca
kitab Dalail. Sungguh, sebuah kerinduan yang benarbenar
sudah membatu dan membara.
Tentu ini lebih sulit lagi menceritakan saat aku
diberikan kesempatan untuk datang ke tempat
yang kurindukan itu. Diberi nikmat oleh Allah, dan
dikabulkan hajat dan rinduku yang sudah bertahuntahun
itu. Aku bisa berangkat umrah masih dalam usia
yang sangat muda, yaitu 17 tahun dan menunaikan
ibadah haji sekitar umur 18 tahun. Ini sebuah
kenikmatan terbesar dalam hidupku. Lebih aneh lagi,
aku bisa berangkat menunaikan rukun Islam kelima
tanpa mengeluarkan uang sepeser pun (Memoar
Mahasiswa Kere Naik Haji).
Selepas umrah dan haji, kerinduanku untuk
kembali semakin menjadi. Kenangan wukuf di Arafah
dan mabit di Mina menjadi tempat yang luar biasa
di hatiku. Bermalam-malam tidur di tenda berdesakdesakan
dengan alas matras tipis yang lebih pendek
dari tinggi badanku, ternyata lebih nikmat daripada
tidur di tempat mana pun yang aku rasakan selama
ini. Tempat merenung mana yang lebih indah dari
suasana ba’da asar di Arafah dengan awan yang
bergerak perlahan sangat rendah? Bagaimana p**a
orang tak rindu untuk kembali pergi haji?
Oleh karena itu, dengan berbekal pas-pasan, dan
tentu dengan cara yang nekat p**a, pengalaman haji
itu kembali kuulang. Kali ini aku tidak berangkat
dari Mesir, sebagaimana pengalaman hajiku yang
pertama, melainkan dari tanah air sendiri. Tentu saja,
keberangkatanku ini semata-mata atas ridha dan izin-
Nya. Dan pengalaman inilah yang aku tuangkan di
dalam buku ini.
Kiranya buku ini bisa memberi manfaat dan
inspirasi bagi pembaca untuk berangkat haji dengan
cara backpacker atau haji Koboi.
“Mari berpetualang menuju Rumah-Nya dan berziarah mengunjungi kekasih-Nya, semoga Allah Senantiasa Mnyertai perjalanan kita dan memberikan syafaat dari setiap langkahnya menuju maqbul yang mambrur insyallah.” Amien
Salam Hangat
Sahabat Safina Wisata (Safina Tour)