02/11/2014
SUNAN GUNUNG JATI CIREBON
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.
Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain.
Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek Astana Gunung Sembung (Cirebon)
Memasuki usia dewasa sekitar di antara tahun 1470-1480, ia menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
---------------------------------------------------------------------------------------------
KOMPLEK MAKAM SUNAN GUNUNG JATI
Semasa pemerintahannya selain mendirikan kerajaan Islam Cirebon dan Banten, Sunan Gunung Jati juga berhasil menaklukkan kerajaan jajahan Pajajaran, seperti kerajaan Galuh, Talaga, Maja termasuk kerajaan kakeknya sendiri yaitu Pakuan Pajajaran di tanah Pasundan yang sirna tanpa bekas dengan tujuan meng-Islamkan penduduknya dengan sukarela mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad beserta sahabatnya.
Ketika wafat, oleh keturunannya dan para pengikutnya, Sunan Gunung Jati dimakamkan di atas bukit Gunung Sembung yang berjarak 7 Km, arah Utara Kotamadya Cirebon yang sampai saat ini makamnya banyak dikunjungi orang yang berziarah terutama pada malam Selasa Kliwon dan Jum'at Kliwon. Para peziarah itu sendiri bukan saja datang dari sekitar wilayah Cirebon, tetapi juga ada yang berasal dari Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta atau kota lain di Sumatera, Bali, Madura dan Kalimantan.
Kompleks makam Sunan Gunung Jati sendiri dikenal dengan nama Astana yang disekelilingnya dipenuhi oleh kuburan para kerabat keraton dari tiga kasunanan, yaitu Kesultanan Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan, ditambah dengan keluarga besar Pengguron yang ada di Cirebon.
Pusara Sunan Gunung Jati berada di puncak Bukit Sembung di dalam sebuah ruang beratap limas dengan memolo kecil yang dikelilingi oleh batu mutu manikam bernilai tinggi, seperti zamrud, batu giok, intan, blue safir dan batu mulia lainnya juga diperkirakan salah satunya adalah batu merah delima yang sangat langka.
Adapun di dalam ruang pasarean (makam) terdapat beberapa makam lain yang terdiri dari Pangeran Cakrabuana, Nyai Pakungwati, Ki Gede Mayung dan Putri Ong Tien yang merupakan salah satu istri Sunan Gunung Jati yang berasal dari negeri Cina. Cuma kuburan Putri Ong Tien dibagi menjadi dua, setengah di dalam ruang, setengah lagi di luar ruang atau tembok penyekat. Hal itu terjadi karena Putri Ong Tien ketika disuruh masuk Islam dan terus mengikuti agama para leluhurnya di negeri Cina. Sehingga oleh Sunan Gunung Jati kuburannya juga dibagi dua.
Itu semua merupakan suatu contoh kepada para pengikut dan keturunannya bahwa jika mengambil suatu keputusan janganlah ragu atau bercabang, apalagi meragukan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad yang didapatkan langsung dari Allah.
Para pengunjung atau peziarah masih bisa merasakan kesejukan yang berbau mistis dan wanginya asap pedupaan yang tidak pernah padam. Di ruang ayunan juga terdapat beberapa guci antik, wadasan dan piring gambar berasal dari Cina yang telah berusia ratusan tahun. Di kompleks ini p**a terdapat bale atau tempat sidang para raja dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran.
Benda-benda tersebut dapat dilihat, diraba secara langsung oleh pengunjung dan membuat kagum bagi siapapun yang melihatnya.
RESERVASI CITY TOUR CIREBON
Tlp / Fax : 0231 - 8344732
HP : 082320888022
Email : [email protected]