03/01/2014
... ''Pentas lima ratus penarik kecak pada Jumat malam (23/8) menandai lahirnya kembali GWK di Pulau Bali setelah 16 tahun sempat mangkrak. Pembangunan kembali patung GWK dengan investasi tahap pertama sebesar Rp450 miliar dilakukan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Berada di atas hamparan lahan seluas 60 hektare dari 240 hektare direncanakan memiliki tinggi 75 meter dengan rentang sayap garuda sepanjang 64 meter dan tinggi pedestal 60 meter. "Dengan demikian tinggi patung dan pedestal secara kesuluruhan akan menjulang setinggi 126 meter, melebihi patung Liberty di New York Amerika Serikat yang memiliki ketinggian 93 meter," ujar penggagas sekaligus pelaksana pembangunan GWK I Nyoman Nuarta, di Bali, Sabtu (24/8). Patung GWK dibuat dari bahan tembaga dan kuningan dengan memiliki total berat 3.000 ton diharapkan rampung dalam tiga tahun mendatang. Sementara struktur patung dibangun dari "stainless steel", sehingga GWK akan memiliki daya tahan terhadap kekuatan gempa berskala 7,5 SR. Secara keseluruhan jika dihitung termasuk ketinggian lokasi patung di Bukit Balangan, Jimbaran, Bali, kira-kira sepuluh kilometer di selatan Bandara Internasional Ngurah Rai, patung GWK akan menjulang setinggi 276 di atas permukaan laut. "Seandainya saya berhalangan pun pengerjaan patung ini akan tetap bisa diteruskan," kata Nyoman Nuarta. Sejak tercapainya kesepakatan dengan pihak investor PT Garuda Adhimatra Indonesia (PT GAIN), pengerjaan model dan disusul dengan irisan-irisan patung sudah mulai dilakukan NuArt Studio Maret lalu. Saat ini para pekerja sibuk menggarap bagian demi bagian patung agar tiga tahun mendatang seluruh konstruksi patung dari pedestal dan tubuh patung selesai dibangun. Dalam tubuh patung GWK sampai setinggi dada, para pengunjung bisa naik dengan menggunakan lift khusus (tangga bergerak). Dari ketinggian di dalam rongga GWK wisatawan dan pengunjung dapat menikmati keindahan panorama alam Pulau Dewata. Dari ketinggian itu juga bisa menyaksikan keelokan Gunung Agung di kejauhan timur laut Pulau Bali. Pembangunan patung Dewa Wisnu dan Garuda yang belum selesai selama ini sudah menjadi ikon Bali sehingga mampu mendukung sektor pariwisata, menyedot kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus mengangkat nama Bali di dunia internasional. Jika pembangunan GWK yang seutuhnya berhasil dirampungkan akan mampu memberikan dampak positif semakin besar terhadap pariwisata Bali maupun secara nasional. Oleh sebab itu pengelolaan GKW ke depan harus tetap memperhatikan nilai adat dan budaya Bali sesuai kepercayaan masyarakat setempat. GWK mewakili kepluralan Indonesia karena merepresentasikan beragam budaya. Simbol yang terkandung di dalam bangunan monumental itu memiliki unsur yang penuh makna, baik dari segi lokal, nasional, maupun internasional. Pria asing yang secara aktif ikut terlibat dalam berbagai aktivitas ritual maupun adat di tengah- tengah warga masyarakat Bali itu menilai Garuda lambang negara Indonesia, sedangkan Dewa Wisnu melambangkan dewa pelestari dari agama Hindu yang melambangkan Pulau Dewata. "Dari segi internasional terwakili oleh apa yang menjadi tujuan GWK, yakni menampung kegiatan budaya baik lokal, nasional, dan internasional," ujar Jean Couteau selama di Bali menyelami dan mendalami seni budaya Bali sekaligus berhasil menulis puluhan buku dalam bahasa Inggris, Prancis dan bahasa Indonesia. Oleh sebab itu mahakarya pematung dari Nyoman Nuarta (62), pria kelahiran Tabanan 14 Nopember 1961 itu berbeda dengan monumen lainnya di dunia, seperti patung Liberty di Amerika Serikat yang memiliki makna politik terkait dengan nilai perjuangan bangsa Amerika Serikat ke arah demokrasi pada abad ke-19. GWK yang digagas suami dari Nyonya Cynthia Laksemi Nuarta itu melambangkan kemajemukan bangsa Indonesia. Meski demikian, perjalanan pembangunan GWK memiliki kesamaan dengan pembangunan Menara Eiffel di Paris, Prancis, pada tahun 1887 yang pada awalnya sempat menuai kritik dan protes. Namun, kini kedua bangunan monumental tersebut menjadi ikon bagi sebuah bangsa dan dunia. "Ketika Ir. Eiffel ingin membangun menara yang kini dikenal sebagai Menara Eiffel, semua orang mengkritiknya, termasuk kalangan sastrawan dan seniman. Posisi Nyoman Nuarta serupa dengan Eiffel, yang melihat ke depan," ujar Jean Cauteau