Bali Merumas Tour and Education (Pak Oles Group)

Bali Merumas Tour and Education (Pak Oles Group) Tour, travel and Education

Mulai bisa cari maisah...
24/08/2022

Mulai bisa cari maisah...

29/08/2020

Kalau mau jalan-jalan di alam Bali lihat air terjun dan keindahan alam lainnya silahkan hubungi kami d telpon/WA 081 239 27655 atau email. [email protected].

22/07/2020

Pariwisata masih mati suri dampak dari covid 19.... Tetap putar otak dan keluar rumah demi dapur rumahku dan teman-teman yang lebih terdampak ngebul. Huu...Yaa Allah...berikanlah padaku rezeki yang Engkau tebar dipermukaan bumi ini untukku. Aamiin...

23/02/2015

PURA BOTOH DI DESA PANJER, DENPASAR.
Jika menyimak nama pura yang satu ini, asosiasi orang agaknya langsung mengarah para BEBOTOH atau PENJUDI.
Tapi pura BOTOH yang terletak di Banjar Antap desa Panjer, Denpasar, walau ada benang merah sejarah dengan seora bebotoh /penjudi tapi ternyata bukan pura khusus bagi kaum penjudi. Memang tak banyak catatan sejarah tentang keberadaan pura ini. Tapi yang jelas sejumlah sumber meyakinkan . pur Botoh bukan puranya Bebotoh.
Keberadaan pura yang penuh misteri ini akhirnya sedikit demi sedikit dapat terkuak, dengan ditemukannya sejarah awal pura yang terdapat dalam sebuah LONTAR milik Ida Pedande Nyoman Gunung Griya Muncan. Selat Karangasem.
Dikisahkan, Ida Sang Hyang Bang Manik Angkeran mempunyai kebiasaan menghambur hamburkan uang untuk membantu para bebotoh. Pada suatu hari Sang Hyang Manik Angkeran melakukan perjalanan ke gunung Toh Langkir untuk bertemu Hyang Naga Basuki. Disuatu tempat, tepatnya dilokasi pura Botoh sekarang ini, beliau kebingungan dan pada saat itu muncul dua Jin bernama LEKAP SAKTI dan JABA SAKTI yang tak lain merupakan jelmaan dari Hyang Naga Basuki. Kedua Jin inipun akhirnya bersedia membantu, setelah terlebih dahulu Hyang Manik Angkeran memancerkan tonkatnya disertai dengan keluarnya sinar merah kekuningan atau warna botoh, Tempat dimana Tongkat tersebut dipancerkan dipercayai sebagi tempat tumbuhnya pohon Beringin yang sekaligus menjadi lokasi Pura Botoh.
Pura Botoh mempunyai beberapa pelinggih yang berdiri menghiasi areal pura diantaranya, Gedong Linggih Ida Bhatara Manik Angkeran, Pesimpangan Ida Bhatara Ayu, Pesimpangan Ida Bhatara Ratu alit, tonkat sakti pesimpangan Dalem Ped, Pelinggih Rambut Sedana, Paibo, Pelinggih Jin Lekap Sakti, dan Jaba Sakti, serta pelinggih lainnya dan bangunan pendukung.

20/02/2015

Hari ini, Sekitar jam 10 pagi hingga 12 siang, Hujan dengan derasnya turun dicampur Angin kencang, mengakibatkan Denpasar Banjir. Semoga tidak ada pohon tumbang yang membahayakan orang.

Ya... Allah... berhentikan hujan sebentar, saya mau berangkat shollat Jum'at.

05/02/2015

RENUNGAN HARI "SIWARATRI"

Hari suci Sirawararatri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan kehadapan Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa.
Pada hari itu Sang Hyang Siwa beryoga.

Umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah kepada penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran dir. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa/ tidak makan dan tidak minum, monabrata/berdiam diri dan tidak berbicara, dan jagra/ berjaga, tidak tidur. Siwaratri juga disebut hari suci "Pajagran".

Perayaan ini adalah salah satu ritual Hindu yang mengajarkan pemeluknya untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak manusia sring lupa karena memiliki keterbatasan.

Pada Bhagavadgita II.42. dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih apabila atman/jiwa suci selalu menyinari budhi atau alam kesadaran itu menguasai pikiran/manah. Manah menguasai Indra. Kondisi alam pikiran yang struktual dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkankepercayaan kepada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Jadi Mansia harus selalu mengingat dan memuja Tuhan yang jika dihubungkan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa.

22/01/2015

Cerita Rakyat - Asal Mula Singaraja. Dahulu kala di Pulau Bali, tepatnya di daerah Klungkung hiduplah seorang Raja yang bergelar Sri Sagening. Ia mempunyai istri yang cukup banyak. Istri yang terakhir bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji dan merupakan keturunan Kyai Pasek Gobleg. Namun malang nasib Ni Luh Pasek, sewaktu ia mengandung, ia dibuang secara halus dari istana, ia dikawinkan dengan Kyai Jelantik Bogol oleh suaminya.

Kesedihannya agak berkurang berkat kasih sayang Kyai Jelantik Bogol yang tulus. Setelah tiba waktunya ia melahirkan anak laki-laki yang dinamai I Gusti Gede Pasekan.

Bayi bernama I Gusti Gede Pasekan makin hari makin besar, setelah dewasa ia mempunyai wibawa besar di Kota Gelgel. Ia sangat dicintai oleh pemuka masyarakat dan masyarakat biasa.

Ia juga disayang oleh Kyai Jelantik Bogol seperti anak kandungnya sendiri. Pada suatu hari, ketika ia berusia dua puluh tahun, Kyai Jelantik Bogol memanggilnya.

“Anakku,” kata Kyai Jelantik Bogol, ”Sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji.”

“Mengapa saya harus pergi kesana, Ayah?”

“Anakku, itulah tempat kelahiran ibumu.”

“Baiklah, Ayah. Saya akan pergi kesana.”

Sebelum berangkat, Kyai Jelantik Bogol berkata kepada anaknya, ”I Gusti, bawalah dua senjata bertuah ini, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Semang dan sebatang tombak bernama Ki Tunjung Tutur. Mudah-mudahan engkau akan selamat.”

“Baik, Ayah!”

Dalam perjalanan ke Den Bukit ini, I Gusti Gede Pasekan diiringi oleh empat puluh orang di bawah pimpinan Ki Dumpiung dan Ki Kadosot.

Setelah empat hari berjalan, tibalah mereka di suatu tempat yang disebut Batu Menyan. Disana mereka bermalam. Malam itu I Gusti Gede Pasekan dan ibunya dijaga ketat oleh para pengiringnya secara bergiliran.

Tengah malam, tiba-tiba datang makhluk gaib penghuni hutan. Dengan mudah sekali I Gusti Gede Pasekan diangkat ke atas pundak makhluk gaib itu sehingga ia dapat melihat pemandangan lepas dari lautan dan daratan yang terbentang di depannya. Ketika ia memandang ke timur dan barat laut, ia melihat p**au yang amat jauh. Sedangkan ketika ia memandang kearah selatan, pemandangannya dihalangi oleh gunung. Setelah makhluk gaib itu lenyap, didengarnya suatu bisikan.

“I Gusti, sesungguhnya daerah yang baru engkau lihat itu akan menjadi daerah kekuasaanmu.”

I Gusti Gede Pasekan sangat terkejut mendengar suara gaib itu. Namun ia juga merasa senang, bukankah suara itu adalah pertanda bahwa pada suatu ketika ia akan mendapat kedudukan yang mulia, menjadi penguasa suatu daerah yang cukup luas.

Memang untuk mencapai kemuliaan orang harus menempuh berbagai kesukaran terlebih dahulu.

Ia menceritakan apa yang didengarnya secara gaib itu kepada ibunya.

Ibunya memberi semangat untuk terus melakukan perjalanan. Keesokan harinya rombongan I Gusti Gede Pasekan melanjutkan perjalanan yang penuh dengan rintangan. Walaupun perjalanan ini sukar dan jauh, akhirnya mereka berhasil juga mencapai tujuan dengan selamat.

Pada suatu hari ketika ia berada di desa ibunya, terjadilah peristiwa yang menggeparkan. Ada sebuah perahu Bugis terdampar di pantai Panimbangan. Pada mulanya orang Bugis meminta pertolongan nelayan di sana, tetapi mereka tidak berhasil membebaskan perahu yang kandas.

Nahkoda perahu Bugis sudah putus asa, tapi tetua kampung nelayan datang mendekatinya.

“Hanya seorang yang dapat menolong Tuan.”

“Tuan, katakan saja, siapa yang dapat menyeret perahu kelautan?”

“Seorang anak muda, namun sakti dan perahu wibawa.” jawab tetua kampung.

“Siapa namanya?”

“I Gusti Gede Pasekan!”

Keesokan harinya orang Bugis itu datang kepada I Gusti Gede Pasekan. Ia berkata, ”Kami mengharapkan bantuan Tuan. Jika Tuan berhasil mengangkat perahu kamu, sebagian isi muatan perahu akan kami serahkan kepada Tuan sebagai upahnya.”

“Kalau itu memang janji Tuan, saya akan mencoba mengangkat perahu kandas itu,” jawab I Gusti Gede Pasekan. Untuk melepaskan perahu besar yang kandas itu, I Gusti Gede Pasekan mengeluarkan dua buah senjata pusaka warisan Kyai Jelantik Bogol.

Ia memusatkan pikirannya. Tak lama kemudia muncullah dua makhluk halus dari dua buah senjata pusaka itu.

“Tuan apa yang harus hamba kerjakan?”

“Bantu aku menyeret perahu yang kandas itu ke laut lepas!”

“Baik Tuan!”

Dengan bantuan dua makhluk halus itu ia pun berhasil menyeret perahu dengan mudah.

Orang lain jelas tak mampu melihat kehadiran si makhluk halus, mereka hanya melihat I Gusti Gede Pasekan menggerak-gerakkan tangannya menunjuk ke arah perahu.

Karena senangnya, orang Bugis itu pun menepati janjinya. Diantara hadiah yang diberikan itu terdapat dua buah gong besar. Karena I Gusti sekarang sudah menjadi orang kaya, ia digelari dengan sebutan I Gusti Panji Sakti.

Sejak kejadian itu, kekuasaan I Gusti Panji Sakti, mulai meluas dan menyebar kemana-mana. Ia pun mulai mendirikan suatu Kerajaan baru di daerah Den Bukit.

Kira-kira pada pertengahan abad ke-17 ibukota Kerajaan itu disebut orang dengan nama Sukasada.

Semakin hari Kerajaan itu makin luas dan berkembang lalu didirikanlah Kerajaan baru. Letaknya agak ke utara dari kota Sukasada. Sebelum dijadikan kota, daerah itu banyak sekali ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu, pusat kerajaan baru disebut Buleleng. Buleleng adalah nama pohon yang buahnya sangan digemari oleh burung perkutut. Di pusat kerajaan baru itu didirikan istana megah, yang diberi nama Singaraja.

Nama itu menunjukkan bahwa penghuninya adalah seorang Raja yang seperti singa gagah perkasa. Hal ini dikarenakan I Gusti Panji Sakti memang dikenal sebagai sosok yang sakti dan gagah berani. Jika ada gerombolan bajak laut atau perampok yang mengacau, sang Raja turut maju ke medan perang bersama prajuritnya, karena itu tepatlah jika istananya disebut Singaraja.

Ada p**a yang mengatakan bahwa Singaraja berarti "tempat persinggahan raja"’. Konon, ketika istananya masih ada di Sukasada, raja sering singgah disana. Dengan demikian, kata Singaraja berasal dari kata Singgah Raja.

Cerita Rakyat - Asal Mula Singaraja
Legenda asal-usul kota Buleleng dan kota Singaraja ini dipercaya penduduk Bali benar-benar pernah terjadi.

Ibu Panji Sakti berasal dari kasta Sudra, yakni kalangan rendah pada masyarakat Hindu-Bali. Hal ini sangat menarik, sebab seseorang yang berasal dari kalangan rendah dapat menjadi orang yang berkedudukan tinggi dan mulia karena perjuangan dan usahanya yang keras meraih cita-cita.

06/10/2014

HARI SARASWATI, Pengingat Pentingnya Ilmu dalam Kehidupan.

Sabtu 04/10/2014, Umat Hindu di Pulau Dewata merayakan sebagai hari SARASWATI. Makna umum bagi masyarakat Hindu Bali atas hari suci ini adalah Merayakan atau mensyukuri turunnya ILMU PENGETAHUAN untuk mensejahterakan kehidupan manusia. Dewi Sraswatiadalah istri dari Dewa Brahma, dewa pencipta alam semesta menjadi simbol utama atas pemaknaan ilmu pengetahuan yang menjadi tema dari hari yang datang setiap enam bulan ini.

03/10/2014

WISATA DI BALI MURAH.

2 KAMAR HOTEL UNTUK 4 ORANG + MOBIL UNTUK TOUR 9 JAM SEHARI = BIAYA CUKUP Rp. 1.000.000,-
HUBUNGI : +62 81239 27655.

26/09/2014

Music video by Lionel Richie performing All Night Long (All Night). (C) 1983 Motown Records, a Division of UMG Recordings, Inc.

26/09/2014

ASAL USUL NAMA ORANG BALI,
Wayan; Made; Nyoman, Ketut.

Jika Anda sedang berada di Bali, Anda tentu sering mendengar nama-nama khas Bali mulai Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus, dan sebagainya. Semua nama itu ternyata ada artinya.

Kita mulai dulu dengan sebutan I dan Ni pada nama-nama orang Bali. Huruf I di depan nama Wayan misalnya, adalah kata sandang yang bermakna laki-laki. Sementara kata sandang penanda kelamin perempuan adalah Ni. I dan Ni juga bermakna seorang lelaki dan wanita dari keluarga masyarakat kebanyakan, tidak berkasta atau biasa disebut orang jaba. Jika ia terlahir di keluarga penempa besi, maka orang Bali ini bernama Pande. Bila di depan Wayan gelarnya Ida Bagus, ia tentu terlahir di keluarga Brahmana. Ida Bagus berarti yang Tampan atau Terhormat. Jika saja ia digelari Anak Agung, maka ia lahir di keluarga bangsawan.

Nama Wayan berasal dari kata “wayahan" yang artinya yang paling matang. Titel anak kedua adalah Made yang berakar dari kata "Madia" yang artinya tengah. Anak ketiga dipanggil Nyoman yang secara etimologis berasal dari kata "uman" yang bermakna “sisa” atau “akhir”. Jadi menurut pandangan hidup orang Bali, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja. Setelah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak.

Anak keempat gelarnya Ketut. Ia berasal dari kata kuno "Kitut" yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak "bonus" yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bernama Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini.

Menurut situs balirustique.com, orang Bali memiliki sebuah tabu atau pantangan bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, yang di Bali disebut bikul, jika sedang ada di sawah. Menyebut tikus di sawah, dipercaya bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu jika sedang di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial ” Jero Ketut”. Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam.

Bila keluarga berencana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak, maka mulai dari anak kelima, orang Bali mengulang siklus titel di atas. Anak kelima bergelar Wayan, keenam Made, dan seterusnya.

Namun jika bicara lebih rinci, ketiga titel hirarki kelahiran orang Bali memiliki sinonim; untuk Wayan: Putu, Kompiang, atau Gede; untuk Made: Kadek atau Nengah; untuk Nyoman: Komang. Sementara nama Ketut yang istimewa tak bersinonim.

Seperti orang Jawa, orang Bali tidak memiliki nama marga atau nama keluarga (family name). Jadi kalau dilihat dari kaca mata orang barat, orang Bali hanya memiliki first name tanpa family name.

08/07/2013

EVEVERYDAY HOTEL BALI.
Jalan Patih Jelantik, Kuta Central Park.

SMART HOLIDAY Rp.500.000,-

2 NIGHT STAY AT SUPERIOR ROOM
TERM AND CONDITION :
- Valid for two people per room.
- Advance booking is required.
- Limited room availability.
- bed and breakfast.
- Validity : Juli 08'2013 until August 08' 2013.

For reservation : email [email protected]
HP. +62 81239 27655

Address

Denpasar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bali Merumas Tour and Education (Pak Oles Group) posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Bali Merumas Tour and Education (Pak Oles Group):

Share