15/02/2026
Fenomena anak yang sedang bermain game lalu melontarkan kata-kata kasar, jorok, bahkan menyebut nama binatang sebagai umpatan, kini makin sering kita dengar. Awalnya mungkin terdengar sepele—sekadar emosi sesaat karena kalah atau kesal dengan lawan main. Namun jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa menjadi pola komunikasi yang terbawa ke kehidupan nyata.
Game pada dasarnya memang dirancang penuh tantangan dan kompetisi. Ketika anak belum memiliki kontrol emosi yang matang, tekanan dalam permainan mudah memancing reaksi spontan. Ditambah lagi, mereka sering meniru bahasa yang didengar dari teman bermain, streamer, atau pemain lain di dunia online. Tanpa disadari, kata-kata yang awalnya hanya “ikut-ikutan” lama-lama terasa biasa diucapkan.
Di sinilah peran orang tua dan lingkungan menjadi sangat penting. Bukan sekadar melarang bermain game, melainkan mendampingi, mengawasi, dan memberi pemahaman bahwa menang atau kalah adalah hal biasa. Anak perlu diajarkan bahwa ekspresi emosi boleh saja, tapi tetap harus dengan bahasa yang santun. Karena sesungguhnya, karakter seseorang sering terlihat dari cara dia berbicara saat sedang emosi.
Fenomena ini bukan tentang game semata, melainkan tentang pembentukan akhlak dan kebiasaan berbahasa. Jika sejak kecil anak dibiasakan menjaga lisannya—even saat kalah dalam permainan—maka besar kemungkinan ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri dalam situasi nyata kehidupan.
Pada akhirnya, game bisa menjadi hiburan, sarana belajar strategi, bahkan melatih fokus. Tapi nilai terbesar tetap ada pada bagaimana kita membimbing anak agar tetap beradab dalam setiap kondisi—termasuk saat sedang menekan tombol “retry.”