08/11/2020
Perjalanan Umroh di Masa Pandemi COVID 19
BISA UMROH, TAPI TIDAK BISA SHOLAT BERJAMAAH (4)
Perasaan haru, bahagia membuca saat langkah kaki pertama memasuki Masjidil Haram. Suasananya sama saat dulu masuk ke Masjidil Haram.
Tetap ada petugas yang berjaga di pintu masuk. Khusus memeriksa tas tenteng para jamaah. Tas tenteng perempuan akan diperiksa oleh petugas perempuan yang bercadar dan memakai pakaian serba hitam.
Pemandangan di dalam tak ada yang begitu berubah. Petugas kebersihan dengan baju hijau tetap beraktivitas seperti biasa.
Yang berbeda hanya tidak lagi banyak jamaah yang biasa berseliweran di Masjidil Haram. Tak terihat jamaah yang biasanya duduk-duduk mengaji atau itikaf di Masjid.
Tidak ada lagi galon air zam-zam yang biasa terlihat di sisi jalan. Semua air zam-zam hanya diperoleh dari air zam-zam yang diberikan dengan botol oleh petugas khusus. Ataupun dengan gelas tapi langsung dibagikan oleh petugas yang membawa galon air zam-zam di punggungnya.
Dari lantai tempat masuk, kami turun dengan eskalator menuju Kabah. Kabah berada di lantai dasar Masjidil Haram. Ini saat-saat yang mendebarkan melihat kembali Baitullah.
Namun tak bisa berlama-lama dalam rasa haru memandang Kabah. Karena kami harus terus bergerak. Tidak boleh berhenti ataupun bergerombol.
Biasanya umroh saat normal, sebelum masuk area tawaf kita akan berhenti dan berdoa memandang Kabah bersama-sama dipimpin Mutawif. Tapi kali ini tidak. Kita harus terus bergerak memasuki area tawaf.
Lalu mengikuti garis-garis yang sudah ditentukan untuk menuju titik tawaf dimulai yakni sejajar Hajar Aswad.
Tidak ada aba-aba dari pembimbing. Umroh kali ini harus benar-benar mandiri. Harus kuat ilmu untuk tahu kapan tawaf di mulai.
Kami sepakat bertawaf di putaran yang paling jauh. Meskipun ada putaran yang lebih dekat, kami memilih untuk tetap di jalur yang sudah kami pilih. Itu kami lakukan agar bisa puas berdoa dalam tawaf. Karena saat ini seusai tawaf, maka setiap jamaah harus segera meninggalkan area Tawaf.
Di area tawaf semua orang menjaga jarak sesuai garis-garis yang ditetapkan. Tidak ada lagi yang namanya berdesak-desakan yang menjadi khas saat melaksanakan tawaf apalagi yang didekat area Multazam (antara Hazar Aswad dan Pintu Ka'bah).
Sekitar dua meter dari area Kabah sudah dipagar dengan pembatas batu putih. Tidak ada juga yang berada di Hijir Ismail.
Setelah tujuh putaran tawaf, kami pun bergerak ke arah belakang Maqam Ibrahim (Jejak kaki Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah), untuk melaksanakan sholat sunat tawaf. Dan karena belum sholat Isya kami lalu melaksanakan sholat Isya secara sendiri-sendiri.
Tak lama kami sholat dan duduk berdoa, petugas sudah menyuruh kami pergi meninggalkan area sholat untuk segera bersa'i.
Ada seorang pemuda Arab yang merupakan perwakilan muasasah yang mengawal kami dan mengingatkan kami untuk segera ke area sa'i.
Sebelum bergerak meninggalkan area itu, kami menyempatkan diri untuk bisa berfoto tetap dengan tega menjaga jarak dengan latar belakang Ka'bah.
Setelah itu menuju tempat Sa'i terlihat lebih bebas. Khusus malam itu cukup ramai. Tidak ada garis-garis pembatas. Di area sa'i bebas bergerak dan melaksanakan sa'i. Tetapi tetap dilarang bergerombol.
Polisi akan standby menegur bila melihat ada yang bergerombol. Akhirnya tetap masing-masing harus melaksanakan sa'i secara mandiri.
Usai sudah melaksanakan sa'i ditutup dengan Tahalul (memotong beberapa helai rambut), tanda berakhirnya umroh dan tidak lagi berlaku larangan Ikhram.
Usai itu kami diarahkan untuk segera pulang lagi ke hotel. Petugas dari muasasah menunggu kami selesai untuk berfoto mulai dari daerah sa'i sampai saat dalam perjalanan.
Beberapa di antara kami ada yang ingin langsung belanja. Ada yang ingin makan Albaik (sejenis ayam KFC tapi versi Arab). Tapi ternyata tidak diizinkan. Kami harus dipastikan kembali ke hotel dan harus masuk kamar lagi.
Ternyata proses isolasi kami belum berakhir. Kami kembali masuk ke dalam kamar tidak boleh keluar. Bahkan ketika ada teman yang berkirim makanan untuk kami pun tidak bisa masuk.
Kami harus menjalani lagi isolasi. Selama dua hari untuk melihat apakah ada perkembangan virus Corona usai umroh.
Alhasil kami sudah di Mekkah sejak 1 November hingga hari ini 6 November. Tapi tak sekalipun kami bisa sholat berjamaah di Masjidil Haram.
Kami hanya sekali itu saja, yakni saat umroh bisa masuk Masjidil Haram. Selanjutnya kami kembali hanya bisa memandang Masjidil Haram dari balik jendela kamar.
Teman-teman yang bertitip doa dan minta didoakan di depan Ka'bah, belum bisa dibacakan. Karena sama sekali belum ada kesempatan untuk masuk Masjidil Haram. Apalagi berlama-lama di Masjidil Haram.
Dikabarkan kami baru bisa masuk Masjidil Haram pada Sholat Subuh Hari Sabtu, 7 November 2020.
Saat ini kami masih terkurung di kamar. Tidak boleh berkumpul dengan yang lain selain teman sekamar.
Satu pelajaran yang penting jika umroh di masa pandemi ini, harus membawa banyak makanan. Walaupun pihak hotel menyediakan makanan setiap jam makan, tapi perut masih memakai jam makan Indonesia. Sementara makan yang datang berada di jam waktu Makkah. Yang berbeda 4 jam lebih lambat dari waktu Indonesia.
Untung saya membawa bekal mie instan, sereal, sambal bungkus, snack dan roti. Jika tidak mungkin akan sangat kelaparan. Karena kerap kali makanan datang baru datang jam 8 pagi atau jam setengah dua siang.
Saat ini kami masih bersabar untuk bisa keluar kamar dan bisa beribadah di Masjidil Haram (bersambung)
Tulisan Ibu Andin
Umroh yuk
Daftar Rp 3.500.000
Info lebih lanjut:
Deka Riyana
Wa 081294741363