19/10/2025
TADABBUR AYAT QUANTUM REZEKI. Gaji Pas-Pasan, Mana Mungkin Bisa Umrah?
“Kadang bukan rezekimu yang kecil, tapi keyakinanmu yang belum tumbuh besar.”
Langit berwarna tembaga ketika toa Masjid Asy Syahid mengalunkan dzikir bakda subuh. Embun pagi masih melekat di dedaunan, udara terasa sejuk dan segar. Di Masjid Asy Syahid, pagi itu bakda Subuh, angin berbisik pelan menyusup ke balik celah-celah jendela. Barisan jamaah bapak-bapak berjajar agak longgar.
Sebagian ada yang menyandarkan badannya ke dinding dan tiang masjid. Jamaah ibu-ibu di bagian belakang dengan pembatas kain hijau separuh badan. Lampu-lampu menerangi ruang utama. Sebagian jamaah ada yang berbincang pelan. Mereka semua sedang meninggu dimulainya Kajian Ba’da Subuh (KBS).
Di dekat mimbar, duduk sosok paruh baya: Kyai DR. Endang Madali. Wajahnya teduh dan tenang, dengan peci dan sorban putihnya tersampir di pundak. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Ia memegang sebuah buku dengan jari-jarinya yang lembut.
Kyai Endang mengangkat tangan kecilnya memberi isyarat agar jamaah duduk lebih tenang. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Abang Kakak,” ucapnya dengan suara lembut.
“Alhamdulillah, kita masih diberikan kesempatan untuk bersama-sama mengisi pagi yang penuh berkah ini. Selamat datang di kajian ba’da Subuh kita, Quantum Umrah. Ini adalah bab pertama yang akan menbahas secara mendalam dan penuh ketulusan.”
Tiba-tiba, Bang Djon — pria paruh baya dengan baju koko dan peci hitamnya— nyeletuk sambil menyeruput teh yang sudah disajikan marbot: “Kyai, saya mau nanya terus terang nih. Gaji saya cuma pas-pasan. Bayar listrik aja ngos-ngosan. Bagaimana caranya bisa umrah? Biar realistis dikit, Kyai. Jangan bawa mimpi.”
Beberapa jamaah tertawa kecil. Kyai Endang hanya tersenyum, menatapnya lembut ke arah jamaah satu per satu. “Baiklah Bang Djon. Hari ini, kita akan mulai dengan pertanyaan yang sering sekali muncul di masyarakat ya: “Gaji pas-pasan, mana mungkin bisa Umrah?”
“Bang Djon, justru yang gajinya pas-pasan itu paling pantas berangkat. Karena mereka yang tahu rasanya pas-pasan, paling bisa merasakan nikmatnya dicukupkan Allah.” Lanjut Kyai Endang.
Dialog Reflektif – Dari Logika ke Keyakinan.
Bang Djon menggeleng pelan. “Kyai, saya ini bukan gak mau. Tapi ya logika aja, biaya umrah itu kan hampir Rp30 juta. Saya tabung sepuluh tahun pun, belum tentu cukup.”
Kyai Endang tertawa kecil. “Bang Djon, kalau logika yang kamu pakai, jangankan umrah, makan di rumah makan Padang aja bisa mikir dua kali. Tapi kalau iman yang bicara, bahkan Rp30 juta itu cuma angka, sementara Allah punya langit dan bumi beserta isinya.”
Ia menatap jamaah dan melanjutkan dengan suara yang lembut: “Rezeki itu bukan hasil kerja keras kita semata, tapi hasil kasih sayang Allah yang kau yakini atau tidak.”
“DalamAl Qur’an Surat Ali Imran (3): 37 Allah berfirman bahwa: Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas.” Jelasnya sambil menengok kearah Bang Djon.
Kyai Endang melanjutkan,” Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan keluasan rahmat dan kekuasaan Allah. Dia memberi rezeki bukan karena sebab duniawi semata, tapi karena hikmah dan kehendak-Nya. Orang yang bertawakal, yakin, dan ikhlas, akan dibukakan jalan rezeki yang tak terduga.”
“Sedang menurut Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, menegaskan bahwa “tanpa batas” bukan hanya dalam jumlah, tapi juga dalam cara. Allah bisa memberi melalui jalan yang manusia tidak sangka — seperti kemudahan, ilham usaha, bantuan orang lain, atau kesempatan yang datang tiba-tiba.”
Kyai Endang menatap Bang Djon dan seluruh jamaah sambil tersenyum. “Abang Kakak, Allah itu Maha Kaya. Yang kita anggap mustahil, bagi Allah semudah ‘Kun fayakun’. Tapi Allah menunggu: sejauh mana kamu percaya, sejauh mana kamu niat.”
Bang Djon terdiam. Ia menatap langit pagi yang mulai terang. Di hatinya, ada getar kecil — mungkin itulah awal dari doa yang berani bermimpi. (Bersambung…)
– Quantum Rezeki Academy