13/08/2026
TERNYATA, YANG DIBAWA PULANG DARI BAITULLAH BUKAN CUMA FOTO. 🕋🤍
Aku kira setelah pulang dari Baitullah, yang paling sering aku lihat nanti adalah foto-foto.
Foto depan Ka’bah.
Foto anak-anak pakai baju ihram.
Foto jalan bareng keluarga.
Foto-foto yang nantinya masuk galeri dan mungkin sesekali kita buka lagi.
Tapi ternyata aku salah.
Yang paling banyak kami bawa pulang justru hal-hal yang nggak bisa difoto.
Kami bawa pulang rasa haru.
Rasa capek yang ternyata jadi kenangan.
Tangisan anak yang waktu itu bikin pusing, tapi sekarang malah bikin kangen.
Dan satu hal yang paling bikin aku terdiam…
melihat anak-anak mengenal Baitullah sejak kecil.
Mereka mungkin belum mengerti kenapa kita thawaf.
Belum paham kenapa Uminya tiba-tiba menangis.
Belum tahu kenapa tempat itu begitu dirindukan oleh jutaan manusia.
Tapi mereka pernah berdiri di sana.
Pernah melihat Ka’bah dengan mata kecil mereka.
Pernah mendengar talbiyah.
Pernah berjalan bersama orang tuanya menuju rumah Allah.
Dan aku jadi berpikir…
Mungkin hari ini mereka belum paham.
Tapi suatu hari nanti, ketika mereka sudah besar, ketika hidup mulai ramai dan dunia mulai menawarkan banyak hal…
semoga ada satu memori yang tiba-tiba mengetuk hati mereka:
“Aku pernah ke sana.”
“Aku pernah berdiri di depan Ka’bah.”
“Aku pernah diajak Umi dan Abi mendekat kepada Allah.”
Karena ternyata…
kita bukan cuma sedang membawa anak pergi umroh.
Kita sedang menitipkan satu kenangan kepada mereka.
Kenangan yang semoga suatu hari berubah menjadi rasa rindu kepada Baitullah. 🤍
Dan kalau nanti mereka bertanya,
“Kenapa dulu Umi bawa aku umroh padahal aku masih kecil?”
Mungkin jawabanku sederhana:
“Karena Umi nggak tahu umur Umi dan Abi sampai kapan. Jadi sebelum kalian cukup besar untuk memahami semuanya, Umi cuma ingin kalian punya satu kenangan: pernah bersama-sama datang memenuhi panggilan Allah.” 🥹🤍
Ternyata yang dibawa pulang dari Baitullah bukan cuma foto.
Tapi rasa.
Doa.
Kenangan.
Dan semoga… cinta kepada Allah yang tumbuh diam-diam di hati anak-anak kita.