05/02/2026
Bagi warga Jakarta Selatan, perempatan Jalan Tebet Raya punya satu ikon yang tak pernah tidur: Warteg Warmo. Selama puluhan tahun, lampu kuningnya menjadi suar bagi para pekerja malam, mahasiswa, hingga sopir yang kelaparan di jam-jam ganjil. Namun, siapa sangka, "rumah" bagi ribuan pelanggan ini hampir saja tinggal kenangan empat tahun lalu.
Kabar mengejutkan beredar: pemilik lama berencana menutup dan menjual Warmo karena tak sanggup lagi mengelolanya.
Beruntung, kabar itu sampai ke telinga Syukur Iman. Berbekal latar belakang akuntansi dan keberanian untuk resign dari zona nyaman kantoran, Iman memutuskan mengambil alih.
Bukan sekadar bisnis, bagi Iman ini adalah misi penyelamatan sebuah warisan budaya kuliner.
Merawat, Bukan Mengganti Iman paham betul bahwa pelanggan setia datang bukan mencari kemewahan, melainkan memori. Alih-alih merombak total, ia memilih jalan sunyi: merawat. Bangunan hanya dicat ulang agar tetap segar tanpa kehilangan "wajah" lamanya.
Menu legendaris seperti Sop Iga tetap menjadi bintang utama, meski ia juga menyelipkan menu baru agar tetap relevan bagi anak muda.
Sentuhan Modern di Meja Kayu
Tantangan terbesar muncul di balik meja kasir. Enam bulan pertama, Iman pusing tujuh keliling dengan pencatatan manual. Di jam sibuk, uang masuk dan catatan sering tak sinkron.
"Wah, awal-awal cukup rumit. Rekap penjualan sering selisih," kenangnya.
Tak ingin sejarah panjang Warmo runtuh karena manajemen yang berantakan, sang akuntan ini pun mengambil langkah berani: Go Digital.
Kini, pelanggan bisa membayar lewat QRIS, dan setiap porsi yang terjual langsung tercatat otomatis. Sistem ini membuat operasional jadi rapi tanpa menghilangkan suasana akrab khas Warteg.
Kini, dengan pondasi yang lebih kuat, Iman bermimpi membawa nama Warmo Tebet lebih jauh lewat sistem franchise. Bukti bahwa usaha tradisional bisa bertahan melintasi zaman jika dikelola dengan hati yang menghargai masa lalu dan pikiran yang merangkul masa depan.
orang SOROTAN FB PRO
Sumber berita hits