Goresan cerita

Goresan cerita cerita seru dari berbagai novel

Hari itu Zalina sengaja pulang lebih awal. Ia datang ke Kafe Salman dengan satu niat mengajak pria itu makan malam bersa...
18/05/2026

Hari itu Zalina sengaja pulang lebih awal. Ia datang ke Kafe Salman dengan satu niat mengajak pria itu makan malam bersama ini salah satu usaha Zalina mencoba memangkas jarak diantara mereka. Sore itu area parkir kafe padat Zalina memarkir kendaraannya, lalu melangkah masuk. Kerudung cokelat susu dan gamis hitam membalut tubuh gadis itu. Ia menuju lantai dua, di mana letak ruang kerja Salman.

“Kok ke sini, Za?” tanya Salman wajahnya datar. Nada suaranya terdengar terkejut. Saat Zalina berdiri diambang pintu ruang kerja pria itu.

Zalina tersenyum kecil. “Nggak boleh Mas?”

Salman tertawa pelan. “Boleh, boleh.” Ia mendekat, mengecup singkat kening Zalina seakan terpaksa melakukan itu. “Saya lagi banyak kerjaan.”

“Makanya aku ngajak makan bareng,” jawab Zalina. “Biar kita nggak cuma ketemu pas Mas capek.”

Salman terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Iya. Kita makan nanti.”

Malam itu mereka duduk berhadapan di lantai dasar kafe. Suasana ramai, hangat. Zalina menceritakan sedikit tentang toko kuenya, tentang pesanan yang mulai banyak. Salman mendengarkan sambil sesekali tersenyum.

“Kamu kelihatan capek,” ucap Zalina, menatap wajah suaminya.

Salman menghela napas. “Sedikit. Tapi nggak apa-apa.”

Zalina mengangguk, lalu meraih tangan Salman di atas meja. Genggaman itu singkat, namun membuat dadanya terasa hangat—mereka berbincang-bincang ringan. Hingga ponsel Salman bergetar. Salman menarik tangannya perlahan. Getaran itu muncul lagi. Salman melirik sekilas layar ponselnya, lalu membaliknya.

“Kok nggak dijawab, Mas?” tanya Zalina, berusaha terdengar santai.

Salman tersenyum, tangannya mengusap lembut kepala Zalina. “Nggak penting. Makan lagi.”

Zalina ikut tersenyum, meski dadanya mengencang. Matanya tak lepas dari ponsel di meja. Saat getaran itu kembali muncul, jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa sempat berpikir, tangannya bergerak meraih ponsel itu. Salman tersentak. Nama yang tertera di layar membuat dahi Zalina berkerut.

“Arumi?” ucap Zalina pelan.

Rasa curiga menyusup di hatinya. Bukankah Arumi juga yang menelpon suaminya semalam? Batin Zalina terus bertanya. Salman terdiam. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal sebelum akhirnya ia menarik napas panjang.

“Siapa Arumi, Mas?” bisik Zalina lagi. Suaranya bergetar.

Salman masih bergeming. Genggamannya pada tangan Zalina di atas meja semakin kuat. Terlalu kuat seolah sedang berusaha menyakinkan lewat sentuhan.

“Mas … Arumi ini yang juga nelfon kamu semalam ‘kan?” tanya Zalina

Bersambung ...

Baca selanjutnya di Kbm App.

Judul: Sengketa Takdir
Penulis: Nazzurry

“Dia sudah baca pesanku… tapi kenapa tidak membalas?”Bab 2Pesan itu masih ada di layar.Assalamu’alaikum.Saya Miftahly Ra...
17/05/2026

“Dia sudah baca pesanku… tapi kenapa tidak membalas?”

Bab 2

Pesan itu masih ada di layar.

Assalamu’alaikum.
Saya Miftahly Ramadhan.
Terima kasih sudah bersedia menjalani proses ini.

Naziya sudah membacanya semalam.
Jam 22.00

Ia tidak langsung membuka. Ia menunggu hampir lima menit sebelum akhirnya menyentuh notifikasi itu. Seolah-olah kalau ia terlalu cepat membaca, itu berarti ia terlalu peduli.

Sekarang sudah pukul 06.40 pagi. Hari ketiga Ramadan.

Pesan itu belum ia b alas.

Centang dua.
Abu-abu.

Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya meletakkan ponsel di meja rias.

“Aku cuma belum siap me mbalasnya,” gumamnya pada bayangan sendiri di cermin.

Padahal ia tahu, bukan itu alasannya.

Ia takut satu b alasan kecil akan membuka pintu yang tak bisa ia tutup kembali.

Di sisi lain kota, di sebuah ruang kerja yang rapi dengan rak buku memenuhi dinding, Miftahly Ramadhan duduk tegak di kursinya.

Laptop terbuka. Artikel jurnal sudah separuh dikoreksi. Tapi fokusnya tidak di sana.

Ponsel t ergel etak di sebelah kanan.

Ia tidak m enye ntuhnya.

Ia hanya… sadar ponsel itu ada.

Cool.

Tenang.

Terkendali.

Itu kesan yang hampir selalu berhasil ia bangun.

Ia tidak pernah menjadi laki-laki yang m engejar. Tidak pernah menjadi tipe yang mengirim pesan dua kali jika yang pertama belum d ibalas.

Harga diri, baginya, bukan tentang gengsi. Tapi tentang menjaga posisi.

Dan ia sudah mengirim satu pesan.

Satu sudah cukup.

Kalau memang Naziya Khairatunhisan tidak ingin melanjutkan proses ini, ia tidak akan m emaks akan.

Ia m ena rik napas pelan.

Tetap saja…

Kenapa belum d ibalas?

Naziya berada di kantor lebih pagi dari biasanya.

Ia m enen ggelamkan diri dalam pekerjaan.

Meeting.
Revisi proposal.
Telepon klien.

Semuanya berjalan seperti biasa. Bahkan lebih produktif dari biasanya.

Karena setiap kali pikirannya mulai kembali pada satu nama, ia langsung mengalihkan fokus.

Miftahly Ramadhan.

Nama yang terdengar seperti judul ceramah Ramadan.

Ia membuka WhatsApp lagi saat jam istirahat.

Masih sama.

Pesan itu tetap di sana. Tidak bertambah. Tidak berubah.

Ia membuka profilnya.

Foto profil sederhana. Kemeja putih. Background rak buku. Wajahnya tenang. Tidak tersenyum lebar, hanya senyum tip*s yang nyaris formal.

Tipe laki-laki yang tidak mudah ditebak.

Ia menutup profil itu cepat-cepat.

Lalu tanpa sadar, jarinya menekan kolom balasan.

Wa’alaikumussalam.

Ia berhenti.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Wa’alaikumussalam, Pak.

Menghapus lagi.

Kenapa harus kaku?

Kenapa juga harus sopan berlebihan?

Ia meletakkan ponsel.

“Tidak perlu buru-buru,” bisiknya pada diri sendiri.

Padahal yang sebenarnya ia takutkan adalah:
Begitu ia m embalas, proses ini benar-benar dimulai.

Dan ia tidak s**a kehilangan k endali atas dirinya.

Pukul 13.00

Miftah menatap ponselnya untuk pertama kali hari itu.

Ia tidak langsung membuka WhatsApp.

Ia membuka email. Membalas dua pesan mahasiswa. Mengecek jadwal mengajar.

Lalu, seperti tidak sengaja, jarinya membuka aplikasi hijau itu.

Tidak ada notifikasi baru.

Ia membuka chat dengan nama itu.

Naziya Khairatunhisan.

Pesannya masih menjadi pesan terakhir.

Centang dua abu-abu.

Belum biru.

Ia mengangguk kecil.

Baik.

Artinya pesan itu belum dibaca.

Atau mungkin sudah dibaca tanpa laporan terbaca aktif.

Ia tidak tahu.

Ia juga tidak ingin berasumsi.

Tapi ada satu s ensasi aneh yang menggelitik di dada.

Bukan marah.

Bukan tersinggung.

Lebih ke… tidak nyaman.

Ia bukan laki-laki yang biasa menunggu respons seperti ini.

Biasanya, komunikasi berjalan dua arah. Seimbang. Terukur.

Sekarang?

Hening dalam waktu yang lama.

Ia meletakkan ponsel kembali dengan wajah tetap datar.

Cool.

Tetap cool.

Sore itu, sebelum pulang kerja, Naziya kembali membuka pesan itu.

Ia tahu ini konyol.

Kenapa satu pesan sederhana bisa mengganggu pikirannya seharian?

Ia membaca ulang kalimatnya.

Terima kasih sudah bersedia menjalani proses ini.

Tidak ada emoji.

Tidak ada basa-basi layaknya pria pada umumnya.

Tidak ada pertanyaan lain.

Formal. Singkat. Jelas.

Seolah-olah ia sedang mengirim email resmi, bukan memulai proses ta’aruf.

“Apa dia memang sekaku itu?” gumamnya.

Atau justru ia sedang menjaga jarak? Atau sebenarnya dia juga t erpaksa menjalani ini?

Ia membayangkan bagaimana jika ia tidak m embalas sampai sepuluh hari berakhir.

Apakah laki-laki itu akan protes?

Atau diam saja dan menganggap proses ini selesai?

Entah kenapa, pikiran bahwa Miftah mungkin akan menyerah tanpa berusaha sedikit pun membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Kenapa?

Bukankah itu yang ia mau?

Di rumahnya, setelah asar, Miftah duduk sendirian di ruang tamu.

Ayahnya sedang membaca Al-Qur’an. Ibunya di dapur menyiapkan menu buka.

“Kamu sudah komunikasi dengan Naziya?” tanya ibunya tanpa menoleh.

“Sudah,” jawabnya singkat.

“Bagaimana responnya?”

“Responnya cukup baik.”

Ia tidak berbohong.

Tidak ada konflik.
Tidak ada masalah apapun.

Hanya belum ada b alasan.

Ibunya menoleh sebentar. “Dia m embalas apa?”

Miftah terdiam beberapa detik, sebelum dia akhirnya berani menjawab.

“Belum b alas bu.”

“hmmm kamu ini.” ibunya tak berani memberi pertanyaan lebih. Sementara Ayahnya hanya tersenyum, lalu menghilang.

Satu kata itu terdengar ringan, tapi entah kenapa membuat suasana jadi sedikit berbeda.

“Tidak apa-apa,” tambah ibunya cepat. “Mungkin dia sibuk.”

"Sepertinya begitu bu,” jawabnya.

Nada suaranya stabil.

Tapi setelah itu ia memilih masuk ke kamar.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Mengambil ponsel.

Membuka chat itu lagi.

Masih sama.

Centang dua abu-abu.

Ia mengusap wajahnya pelan.

Ia bukan remaja yang menunggu b alasan gebetan.

Ia laki-laki tiga puluh satu tahun.

Dosen.

Terbiasa mengambil keputusan rasional.

Tapi sekarang ia menunggu satu b alasan sederhana seperti sedang menunggu pengumuman kelulusan.

Ia hampir mengetik pesan kedua.

Hampir.

Jarinya sudah m enyentuh layar.

Lalu berhenti.

Tidak.

Kalau ia kirim lagi, itu berarti ia terlihat sangat tidak berwibawa.

Dan ia tidak ingin memulai sesuatu dengan posisi m engejar.

Ia m enarik tangannya kembali.

“Kalau dia mau, dia akan membalas,” gumamnya pelan.

Apakah ia d ipaksa?

Apakah Naziya sebenarnya tidak setuju dengan proses ini?

Apakah ia hanya menurut pada ibunya?

Kalau begitu, ia tidak ingin menjadi b eban tambahan.

Ia menarik napas panjang.

Mungkin memberi waktu yang lama untuk wanita itu adalah keputusan yang paling benar.

Tidak mengirim pesan apa pun.

Tidak menanyakan apa pun.

Kalau sampai tiga hari tidak ada respons, ia akan meminta ibunya yang merekomendasikan untuk memastikan kembali.

Bukan untuk memaksa.

Hanya untuk memastikan ia tidak berjalan tanpa arah.

Ia mematikan lampu kamar.

Tapi butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk memejamkan mata.

Di kamar lain jauh di sana, Naziya masih terjaga.

Ia membuka chat itu lagi.

Menatap nama itu.

Miftahly Ramadhan.

Ia menarik napas dalam.

Lalu, tanpa banyak berpikir lagi, ia membuka pengaturan dan mengaktifkan laporan dibaca.

Beberapa detik kemudian, centang dua di pesan itu berubah menjadi biru.

Di kamar yang gelap, Miftah mendengar getaran pelan dari ponselnya di meja.

Ia membuka mata.

Mengambil ponsel.

Wa alaikum salam.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Dan dia merasa tak sabar.

"Bagaimana tanggapan kamu?" Tanya Miftah langsung ke inti.

Centang dua biru.

Ia menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Layar tetap kosong.

Tidak ada balasan masuk.

Hanya tanda bahwa pesannya telah benar-benar sampai dan dibaca.

Judul : menikah tanpa nadzor
Penulis : Senja Berada
Hanya di aplikasi kbm app

Ballroom salah satu hotel di Jakarta Selatan malam itu cukup hectic. Lampu-lampu gantung memantul di lantai mengilap, se...
17/05/2026

Ballroom salah satu hotel di Jakarta Selatan malam itu cukup hectic. Lampu-lampu gantung memantul di lantai mengilap, sementara percakapan berseliweran tanpa jeda. Para pengusaha dari kelas atas hingga pelaku UMKM berbaur memenuhi ruangan. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa produk, kartu nama, dan kepentingan masing-masing. Acara itu berlangsung berkelas, rapi, dan padat.

Zalina hadir dengan jilbab hitam senada gamis hitam yang dikenakannya. Tangannya melingkar di lengan suaminya. Salman mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja hitam, serasi dengan Zalina malam ini. Setelah mengisi buku tamu, mereka melangkah masuk ke ballroom.

Pandangan Zalina langsung menyusuri ruangan. Stand-stand makanan dari berbagai UMKM berjajar rapi di sisi ballroom. Beberapa tamu tampak berhenti, mencicipi, lalu bertukar kartu nama. Awalnya Zalina ragu untuk hadir, terlebih mengikut sertakan usaha toko kuenya. Namun dukungan keluarga, Salman, dan Neisha akhirnya membuatnya berani datang.

“Mas, ramai banget. Aku gugup,” bisik Zalina tanpa melepas pegangan.

Salman menoleh, lalu mengusap lembut tangan Zalina. “Santai aja, Za. Ada saya.”

Zalina mengangguk pelan. Mereka berjalan bersama. Salman setia menemani Zalina, Ia juga mengenalkan Zalina pada beberapa rekan bisnisnya yang bergerak di bidang kuliner. Setelah itu Salman izin pada Zalina untuk menemui kolega bisnisnya Saat Zalina tengah berbincang dengan seorang wanita.

Malam itu, Zalina bertemu banyak pebisnis dan businesswoman. Percakapan-percakapan singkat membuka wawasannya. Zalina yang bukan lulusan sekolah bisnis perlahan menyerap ilmu dari pengalaman orang-orang di sekitarnya. Hingga sebuah tangan menepuk pelan lengannya.

“Aku kira kamu nggak hadir, Za.” Neisha berdiri di sampingnya, mengenakan gaun navy bergaya elegan.

“Eh, Sha. Aku cariin dari tadi,” ucap Zalina spontan.

Neisha ikut menyapa wanita yang sedang berbincang dengan Zalina. Percakapan berlanjut. Neisha yang lebih dulu berkecimpung di dunia bisnis tampak luwes, sesekali menarik Zalina masuk ke dalam obrolan mereka.

Dari sudut lain ballroom, seorang pria bersetelan formal navy berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pembawaannya tenang, rapi, seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan keadaan. Senyum samar terukir di wajahnya saat netranya tertuju pada satu sosok gadis berjilbab hitam yang sedang tertawa kecil. Sorot matanya berbinar.

“Kamu masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah,” gumam pria itu lirih.

Pandangan pria itu tak lepas hingga Zalina berpamitan dari lawan bicaranya untuk menjawab telepon. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di belakang Zalina, menunggu.

“Baik, Pah. Zalina tutup telepon, ya,” ujar Zalina mengakhiri sambungan telepon.

Zalina kembali mengecek beberapa pesan masuk, membalas singkat, lalu menyimpan ponselnya ke dalam handbag. Zalina hendak kembali ke arah Neisha.

“Zalina Syafa.”

Langkah Zalina terhenti saat satu suara menginterupsinya. Itu bukan suara Salman. Zalina membeku. Pandangannya jatuh ke lantai ballroom. Napasnya tercekat.

“Zalina.”

Kini suara itu terdengar kembali, namun kali ini lebih dekat, tepat di hadapannya. Sepasang sepatu pantofel berdiri di depan Zalina. Ia tak segera mengangkat wajahnya. Kini Zalina tahu siapa pemilik suara itu. Kesadaran itu membuat alveolusnya terasa sesak.

“Bukan dia Zalina. Bukan dia, tenang Zalina.” Begitulah Zalina menenangkan batinnya yang terus berkecamuk antara nalar dan logika.

“Za, apa kabar?” suara itu kembali terdengar.

Dengan sekuat tenaga Zalina berusaha menahan gemuruh di dada. Dengan susah payah Zalina mengangkat wajahnya. Seketika netra mereka saling bertaut. Di hadapan gadis itu berdiri seorang pria bersetelan formal navy. Rahang tegas, wajah matang, lebih dewasa dari yang terakhir Zalina ingat.

“M-mas … Kala,” ucap Zalina terbata.

Arshakala tersenyum. Sorot matanya berbinar, seolah rindu yang lama tersimpan meluruh begitu saja. “Saya kembali, Za,” ujarnya mantap. “Untuk menepati janji kita.”

Zalina terdiam. Lidahnya kelu. Dadanya terasa semakin sesak. Kala melangkah mendekat. Zalina refleks mundur. Saat jemari pria itu hendak menyentuh lengannya, Zalina menep*s cepat.

“Tolong, Mas. Jangan sentuh saya sembarangan. Kita bukan mahram,” tegasnya.

Saat Zalina melangkah pergi. Kala mencoba menghalangi. “Za—”

“Maaf, Mas. Saya harus pergi.” Zalina meninggalkannya tanpa menoleh.

Kala tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung perempuan yang begitu lama ingin ditemuinya. Pertemuan yang ia nantikan justru terasa asing. Satu pertanyaan berputar di kepalanya, tak menemukan jawaban. Apa benar kabar yang ia dengar Zalina sudah menikah?

Bersambung ...

Baca selengkapnya di kbm App.

Judul: Sengketa takdir.
Penulis: Nazzurry

Bab 5"Bismillahirrahmanirahim. Saudara Ahmad Hafiz Rayyan, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Zahira  A...
17/05/2026

Bab 5

"Bismillahirrahmanirahim. Saudara Ahmad Hafiz Rayyan, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Zahira Aisyah Nabila dengan mahar seperangkat alat salat dan satu mushaf Al-Qur’an, juga 100 gram emas secara tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya, Denish_" Ucapan Ustaz Hafiz terhenti kala disentuh tangannya oleh Umi Intan yang duduk tak jauh darinya di belakang. Mata semua orang saling memandang satu sama lain.

"Hafiz, fokus! Apa yang kamu katakan?"

"Maaf, Umi. Hafiz... gugup."

"Tidak apa-apa. Kita ulang lagi, ya. Saya paham kalau nak Hafiz gugup." Abi Syarifuddin melempar senyuman dan mengulang ijabnya kembali. Pria paruh baya itu memahami, mungkin calon menantunya itu memang gugup. "Saudara Ahmad Hafiz Rayyan, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Zahira Aisyah Nabila dengan mahar seperangkat alat salat dan satu mushaf Al-Qur'an, juga 100 gram emas secara tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya, De_"

"Hafiz!" Kali ini teguran dari Umi Intan cukup keras sampai para hadirin yang di belakang ikut berbisik.

Zahira yang merasa gelisah di samping, akhirnya ikut bersuara.

"Abi, bisakah Abi kasih waktu untuk Akhi Hafiz sebentar? Mungkin beliau terlalu gugup. Kita tunda sebentar acara akad nikah ini." Permintaan Zahira membuat Abi Syarifuddin saling pandang dengan istrinya. Umi Syarifah memberi isyarat dengan menganggukkan kepala.

"Baiklah, Abi akan tunggu. Mungkin memang nak Hafiz perlu lebih leluasa dan menenangkan diri dulu."

Ustaz Hafiz merasa canggung dan tak enak hati.

"Akhi, kita bicara di luar sebentar."

Ustaz Hafiz mengangguk pelan. Zahira bangkit lebih dulu, kemudian Ustaz Hafiz ikut menyusul.

"Akhi, apa sebaiknya kita batalkan saja pernikahan ini?"

Pertanyaan Zahira membuat Ustad Hafiz terkejut.

"Ada apa, Za? Kenapa bicara seperti ini?"

"Hati tidak bisa dipaksa, Akhi. Hubungan perasaan itu adalah dua hal saling memberi, bukan mengemis untuk dicintai. Za tidak mau begitu, bukankah di hati Akhi masih ada orang lain?"

Ustaz Hafiz dibuat bungkam. Dia menundukkan kepalanya ke bawah.

"Za sudah pernah membahas ini dari awal. Kita tidak menjalani ini satu dua hari saja. Kalau memang Akhi tidak bisa, ayo kita akhiri. Za tidak mau memulai hubungan dengan orang yang belum selesai dengan masa lalu." Mata gadis itu berkaca-kaca. Suaranya bergetar, berusaha tegar dan tak sampai terlihat terluka di depan laki-laki itu.

"Za.... maaf, Akhi salah. Maaf karena sudah mengecewakanmu. Tapi, Akhi tidak ingin ini berakhir sampai di sini. Mungkin ini terlalu lancang, tapi bolehkah Akhi minta satu hal?"

Zahira menoleh dengan mata yang mulai memerah.

"Beri Akhi kesempatan. Akhi tidak mau mengecewakan kedua orang tua kita. Meski belum ada cinta, tapi bisakah kita memulai hubungan ini dengan saling memahami?"

Zahira tidak tahu harus memberi jawaban apa, tetapi kalau ditanya soal kecewa, sungguh hati gadis mana yang tidak sakit jika di hari bahagianya sang pengantin pria malah menyebut nama perempuan lain dalam akad?

Zahira memejamkan matanya. Bayangan kedua orang tuanya menari-nari di pelupuk mata. Apakah dia tega melukai dua hati malaikat itu?

"Baiklah," jawabnya akhirnya memberi keputusan. Zahira menggigit bibir untuk menguatkan diri. Meyakinkan hati bahwa ini mungkin takdir yang dipilih Tuhan untuknya.

"Kita lanjut, ya. Ayo kita masuk!" Zahira mengangguk, mengikuti langkah Ustaz Hafiz menuju ruang keluarga di mana acara akad nikah mereka digelar.

"Saya terima nikah dan kawinnya putri Abi, Zahira Aisyah Nabila dengan mas kawin tersebut secara tunai!"

_

Denisa menatap kamarnya yang kini sudah berubah menjadi kamar pengantin. Tak ada getaran bahagia di dada, hanya ada hati yang tertimbun oleh luka yang baru. Pernikahan ini memang tak pernah ia minta. Pernikahan yang datang saat Arga masih ingin memeluk masa lalu. Ia tahu, dirinya hanya pilihan yang dipaksa keadaan. Namun tak ada jalan untuk mundur. Semua sudah jadi pilhan dan harus ia terima dengan lapang dada.

Suara ketukan pintu membuat gadis itu tersadar. Ia menghapus air mata yang entah kapan sudah menepi di p**i.

Pintu terbuka, menampilkan seorang perempuan paruh baya yang tersenyum ke arahnya.

"Akadnya sudah selesai. Ayo, temui suamimu dan yang lainnya." Umi Farida menuntun putrinya ke luar setelah sebelumnya Denisha memakai cadarnya kembali.

Langkah Denisha sempat tertahan saat melihat Arga yang sudah menunggunya di pelaminan. Tak ada senyum di wajah pria itu, yang ada hanya kegelisahan dan ketidakpuasan.

"Ada apa?" Umi Farida menatap mata putrinya yang memerah. "Ada yang menjanggal di hatimu?"

Tangis gadis itu langsung pecah saat itu juga. Denisha langsung menghambur dalam pelukan Umi Farida.

"Kami tidak saling mencintai, Walidah. Bagaimana kami akan mengarungi rumah tangga kami nanti?"

Tubuh Denisha bergetar hebat sambil membenamkan wajahnya dalam pelukan ibunya.

Umi Farida mengusap punggung Denisha pelan, berusaha menenangkan putrinya. Setelah merasa gadis itu cukup tenang, Umi Farida melepaskan pelukannya.

"Nak... Dengarkan Walidah. Hari ini kamu akan menempuh hidup baru, kehidupan yang tidak ada tempat bagi Walidi, Walidah dan adikmu. Kamu akan menjadi teman setia suamimu yang mungkin tidak menginginkan seorang pun campur tangan dalam rumah tangganya, sekali pun orang yang mempunyai hubungan darah denganmu sendiri," Umi Farida menghentikan ucapannya sejenak, mengusap air mata putrinya yang makin jatuh berderai.

"Sekarang kamu sudah menjadi Istri sahnya. Meski pun belum ada cinta di hati kalian, Walidah cuma berpesan, kamu harus jadi istri sekaligus Ibu untuk suamimu. Ambillah teladan dari kesabaran Siti Asiah, Kesetiaan Siti Khadijah, kejujuran Siti Aisyah, dan keteguhan hati Siti Fatimah. Cobalah belajar membuat suamimu jatuh cinta, karena setiap laki-laki itu bagaikan anak kecil yang juga memerlukan beberapa kata manis untuk membuat hatinya bahagia."

"Tapi, Walidah. Apa Nisha bisa melakukannya?"

Umi Farida melempar senyuman, mencoba memberi semangat.

"Ada dua macam sifat wanita setelah menikah. Yang pertama dia mampu menjadi istri yang baik meski tak ada cinta di hatinya suaminya. Dia mampu mengubah rumah tangga yang bagaikan neraka yang panas menjadi surga yang indah. Yang kedua justru sebaliknya, perempuan itu tidak mau jadi istri yang baik dan lebih memilih merubah rumah tangga yang bagai surga menjadi neraka yang tak tertahan. Dan wanita cerdas itu adalah yang bisa mengubah sahara yang tandus menjadi taman yang indah. Kamu pasti paham dengan maksud Walidah, kan?"

Denisha mengangguk paham. Gadis itu mengusap air matanya lagi, kemudian melanjutkan langkah menuju pelaminan.

_

Rumah tampak sunyi setelah pesta selesai. Denisha masuk ke kamar pengantinnya, tetapi tidak menemukan Arga di sana.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi tidak ada tanda-tanda Arga akan memasuki kamar.

Denisha mondar-mandir di dalam kamar, antara khawatir atau tidak peduli, tetapi jawaban apa yang harus dia berikan jika orang tuanya bertanya ke mana suaminya di malam pertama pernikahan mereka?

Denisha akhirnya memutuskan untuk mencari ke luar sampai kakinya berhenti di teras rumah. Matanya tak sengaja melihat ke luar gerbang. Di sana, di bawah cahaya remang-remang, dia melihat Arga sedang dipeluk erat oleh seseorang.

"Kamu bohong sama aku, Arga!"

Bersambung

Selengkapnya hanya di kbm
Judul : Pesona Istri Bercadar
Penulis : Rizka_Mauliani

https://read.kbm.id/book/detail/fbb77dfd-04fe-46d3-858b-e165afd2295a

Bab 1Aku tidak mau m enikah, Bu.”Suara itu terdengar lebih tenang daripada isi hati seorang Naziya Khairatunhisan.Tangan...
17/05/2026

Bab 1

Aku tidak mau m enikah, Bu.”

Suara itu terdengar lebih tenang daripada isi hati seorang Naziya Khairatunhisan.

Tangannya masih memegang tas kerja ketika ia berdiri di ruang tamu. Jas blazer belum ia l epaskan. Rambutnya masih rapi seperti saat presentasi tadi siang. Presentasi yang membuat namanya resmi masuk daftar promosi jabatan.

Hari ini seharusnya menjadi hari terbaik dalam hidupnya.

Tapi satu nama yang baru saja disebut ibunya mer usak segalanya.

Ia bahkan belum duduk.

Ibunya menatapnya lama dari sofa. Tubuh wanita itu terlihat lebih kecil dari biasanya, dibungkus mukena putih karena baru selesai mengaji menjelang magrib. Ramadan baru hari pertama, tapi wajahnya tampak cepat l elah.

“Ibu cuma minta kamu mencoba, Naz,” katanya pelan.

“Mencoba apa?” Naziya akhirnya duduk, tapi jaraknya tetap jauh. “Ta’aruf itu bukan main-main. Kalau sudah mulai, arahnya jelas menuju akad. Aku belum mau melangkah sejauh itu bu.”

Belum mau k ehilangan kendali.

Belum mau k ehila ngan mimpi.

Seumur hidupnya, Naziya hidup dengan peta.

Target. Timeline. Strategi. Semuanya sudah terencana dan harus terealisasikan.

M eni kah tidak pernah masuk dalam rencana sebelum usianya tiga puluh lima tahun.

“Apa semua pencapaian kamu harus dijalani sendirian?” tanya ibunya lirih.

Pertanyaan itu membuat Naziya menegang.

“Aku tidak sendirian.”

“Faktanya kamu melangkah sendirian dalam k ese pian.”

“Aku tidak sendirian, ada ibu yang selalu mendukung apapun keinginanku.”

"Aku hanya mendukung tapi tak pernah benar-benar membersamai atau membantumu."

Ibunya terdiam. Napasnya terdengar b erat. Di meja kecil dekat sofa ada o bat-o batan yang belakangan semakin sering terlihat.

Naziya me mbe nci pemandangan itu.

“Ibu tidak selamanya bisa menunggu kamu siap,” suara itu hampir b erbisik. “Ibu cuma ingin memastikan ada yang menjaga kamu kalau suatu hari Ibu sudah tidak ada.”

Kalimat itu membuat dada Naziya seperti d ihantam ker as.

“Jangan bicara seperti itu bu,” katanya cepat.

Tapi kenyataannya Naziya juga sudah tahu bagaimana kondisi ibunya saat itu.

Dokter sudah menyebut beberapa kemungkinan. Jika pemeriksaan lanjutan selalu ditunda-tunda, mereka harus siap dengan kemungkinan yang paling b uruk.

Ibunya sudah lelah b erobat, dia sudah tak ingin lagi men ciu m aroma rumah sakit diusianya sekarang.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucap Naziya lebih pelan.

“Ibu tahu. Justru itu yang membuat Ibu takut.”

Hening.

Dari luar terdengar suara a nak-a nak bermain p eta san kecil menjelang buka puasa. Bau gorengan dari rumah tetangga masuk melalui celah jendela.

Ramadan selalu terasa hangat.

Tapi sore itu terasa m ene kan.

“Namanya siapa?” akhirnya Naziya bertanya, seolah hanya ingin mengakhiri p erde batan.

Senyum tip*s muncul di wajah ibunya. “Miftahly Ramadhan.”

Nama yang asing.

Terlalu Islami.

Terlalu… serius.

“Dia siapa?”

“Dosen. Tiga puluh satu tahun. Direkomendasikan ustaz masjid. Katanya a naknya baik.”

Baik.

Kata yang terlalu umum untuk dijadikan alasan m enikah.

“Dia tahu tentang aku?”

“Sudah.”

Tentang a mb isi.

Tentang sifat k eras kepalanya.

Tentang masa lalu yang membuatnya sulit percaya.

Naziya memejamkan mata sejenak.

Ia teringat satu malam lima tahun lalu, ketika seorang laki-laki yang hampir ia pilih justru berkata, “Kamu terlalu kuat. Aku butuh perempuan yang lebih lembut dan memiliki jiwa bergantung.”

Sejak saat itu, ia berhenti berharap.

“Ibu cuma minta sampai sepuluh hari terakhir ramadhan saja, ” ibunya kembali berkata. “Sampai sepuluh hari terakhir Ramadan. Kalau kamu tidak cocok, kita hentikan. Ibu tidak akan memaksa lagi.”

Sampai sepuluh hari terakhir.

Sepuluh malam yang katanya lebih baik dari seribu bulan.

Ironis.

Orang-orang sibuk mencari Lailatulqadar, sementara ia justru disodori calon suami.

Naziya berdiri dan berjalan ke jendela. Langit mulai berubah jingga. Azan magrib sebentar lagi berkumandang.

Ia memandangi bayangannya sendiri di kaca.

Perempuan dengan karier cemerlang.

Mandiri.

Tidak bergantung pada siapa pun.

Tapi kenapa kalimat ibunya terus terngiang?

Kalau suatu hari Ibu tidak ada…

“Baik,” katanya akhirnya, tanpa menoleh. “ Sampai sepuluh hari. Hanya sampai sepuluh hari terakhir Ramadan.”

Ia mendengar ibunya menghela napas lega.

“Tapi setelah itu, keputusan sepenuhnya di tanganku.”

“Iya, Naz.”

Tanpa sadar, jemarinya b ergetar.

Ia tidak takut m enikah.

Ia takut berubah.

Takut menjadi versi dirinya yang tidak ia kenal.

Di kamar malam itu, setelah tarawih, Naziya duduk di depan cermin. Ponselnya bergetar satu kali.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Assalamu’alaikum.

Saya Miftahly Ramadhan.

Terima kasih sudah bersedia menjalani proses ini.

Naziya menatap layar cukup lama.

Jantungnya b erdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

Belum ada pertemuan.

Belum ada percakapan panjang.

Tapi sepuluh malam itu sudah terasa seperti hitung mundur menuju sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

Di luar, suara takbir kecil dari a nak-a nak masih terdengar. Padahal jelas ini baru hari pertama.

Ramadan baru dimulai.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naziya Khairatunhisan tidak punya rencana pasti untuk masa depannya sendiri.

Judul : menikah tanpa nadzor
Penulis : Senja Berada
Hanya di aplikasi KBM app

Bab 2.Kesadaranku kembali perlahan. Aroma obat-obatan yang ta jam langsung memenuhi hidungku. Kepalaku terasa berat, sem...
17/05/2026

Bab 2.

Kesadaranku kembali perlahan. Aroma obat-obatan yang ta jam langsung memenuhi hidungku. Kepalaku terasa berat, sementara tubuhku seperti kehilangan tenaga.

Aku mencoba membuka mata. Langit-langit putih menyambut pandangan.

Rumah sakit.

Bibirku terasa kering. Saat aku mencoba bergerak sedikit, rasa nye ri menjalar dari pe rut ku. Bukan hanya sa kit… tapi juga terasa kosong. Seolah ada sesuatu yang hilang dari sana.

Ingatan tentang kejadian tadi perlahan kembali.

Tam pa ran Mas Davin.

Te pi san nya.

Tubuhku yang jatuh.

Lalu… suara ibu mertuaku yang menyuruhnya meninggalkanku begitu saja. Dadaku terasa se sak mengingat semua itu.

Saat aku mencoba memiringkan kepala, suara per de ba tan terdengar dari luar ruangan. Meski pintu tertutup, suara mereka cukup jelas.

“Ibu sudah bilang dari awal, Vin! Perempuan itu cuma pura-pura!” suara ibu mertuaku terdengar kesal.

Aku langsung terdiam.

“Itu bukan pura-pura, Bu,” sahut Mas Davin dengan nada tertahan. “Aruna ping san. Ibu enggak lihat ada da r4h di lantai.”

“Ah, kamu ini terlalu mudah percaya!”

Suara langkah terdengar di luar, seolah ibu mertuaku sedang mondar-mandir.

“Perempuan seperti Aruna itu banyak akalnya. Sedikit-sedikit mengeluh sa kit, sedikit-sedikit drama.”

Tanganku yang terbaring di atas selimut perlahan me nge pal.

“Bu, dokter bilang Aruna ke gu gu ran.”

Aku membeku.

Ke gu gu ran?

Dadaku bergetar.

Aku… ha m*l?

Pikiranku terasa kosong beberapa detik. Aku bahkan tidak tahu kalau ada kehidupan kecil di dalam tu buh ku. Namun, kalimat Mas Davin berikutnya membuat semuanya memang benar adanya. Ada kehidupan kecil di pe rut ku yang bahkan tak kusadari.

“Ja n*n nya baru beberapa minggu, tapi nggak bisa diselamatkan.”

Beberapa minggu…

Air mata perlahan menggenang di pelupuk mataku. Aku bahkan belum sempat tahu kalau aku me ngan dung. Belum sempat merasakan kebahagiaan itu.

“Ya ampun, Vin,” kata ibu mertuaku dengan nada tidak peduli. “Baru juga beberapa minggu. Masih bisa ha m*l lagi.”

Kalimat itu terdengar ke j4m.

Aku terdiam.

Anehnya… tidak ada rasa han cur seperti yang seharusnya. Yang ada justru perasaan aneh yang perlahan merayap di dalam dadaku.

Mungkin… memang lebih baik anak itu tidak la hir. Bayangan kejadian semalam kembali muncul di kepalaku.

Tam pa ran Mas Davin. Tatapan dinginnya. Dan bagaimana dia me ne p*s tanganku sampai aku jatuh.

Jika anak itu la hir… apakah dia juga akan tumbuh di rumah yang penuh ke ben cian seperti ini?

Tanganku perlahan mengendur. Air mata yang tadi menggenang akhirnya jatuh pelan. Bukan hanya karena kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kuketahui, tapi karena untuk pertama kalinya aku menyadari suatu hal.

Sejak kejadian semalam… hatiku terhadap Mas Davin mulai terasa dingin.

“Ya ampun, Bu. Yang Aruna kan dung itu anakku… cucu Ibu.” Suara Mas Davin terdengar penuh tekanan. “Kok Ibu bisa-bisanya ngomong begitu?”

Aku terdiam di balik pintu kamar yang tertutup. Untuk sesaat… ada sesuatu yang bergetar di dadaku mendengar ucapan Mas Davin.

Namun, suara ibu mertuaku segera menghancurkan perasaan itu.

“Dari awal Ibu memang tidak s**a padanya, Vin.”

Nada suaranya datar, seolah mengatakan sesuatu yang sangat wajar.

“Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan, Vin? Sekarang kamu punya jabatan. Kamu punya uang.”

Dadaku terasa menegang.

“Ngapain kamu harus punya an ak dari perempuan yang sudah di bu ang keluarganya itu?”

Hatiku berdenyut. Perempuan yang sudah di bu ang keluarganya, itulah aku. Tanganku yang berada di atas selimut perlahan mengepal lagi.

Beberapa detik tidak ada suara dari Mas Davin. Entah dia terdiam… atau memang tidak punya jawaban.

Aku menunggu. Namun yang terdengar justru helaan napas berat darinya.

“Bu… jangan bicara seperti itu,” ucapnya akhirnya, tapi suaranya terdengar jauh lebih lemah dibanding sebelumnya.

Aku tersenyum pa hit di dalam hati. Bahkan bantahannya pun terdengar ragu.

Di luar sana, ibu mertuaku kembali berbicara.

“Sudahlah, Vin. Ibu cuma bicara yang sebenarnya.”

Nada suaranya terdengar santai.

“Perempuan seperti Aruna itu tidak membawa keuntungan apa pun untukmu.”

Kalimat itu terasa begitu merendahkan.

Namun anehnya… dadaku tidak lagi terasa se sa kit tadi. Justru semakin dingin. Seolah ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan retak, lalu mati.

Mungkin mereka benar.

Aku memang tidak membawa keuntungan apa pun bagi Mas Davin. Aku hanya perempuan yang bahkan sudah tidak dianggap oleh keluargaku sendiri.

Air mata mengalir lagi dari sudut mataku. Tapi kali ini aku tidak berusaha menahannya. Karena untuk pertama kalinya… aku mulai berpikir bahwa hidupku bersama Mas Davin memang sebuah kesalahan.

Ah... Andai waktu itu aku mendengarkan Papa. Mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini.

“Apa salahnya kamu mulai memikirkan masa depanmu dengan benar?”

Aku memejamkan mata, tapi telingaku tetap menangkap setiap kata mereka.

“Maksud Ibu apa?” tanya Mas Davin pelan.

“Apa lagi?” balas ibunya ringan. “Kalau menurut Ibu, kamu itu sebenarnya jauh lebih cocok dengan Vina.”

Jantungku langsung berdetak keras.

Vina.

Nama itu kembali disebut.

“Vina?” ulang Mas Davin, terdengar terkejut.

“Iya. Dari dulu memang begitu.” Nada ibu mertuaku terdengar penuh keyakinan. “Dia cantik, keluarganya jelas, pendidikannya juga bagus.”

Tanganku perlahan mencengkeram selimut.

“Tidak seperti Aruna.”

Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa ragu.

“Lagipula kalian dulu juga—”

Ibu mertuaku berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.

“—punya hubungan, kan?.”

Dadaku seperti di pu kul keras.

Hubungan? Aku membeku di tempat.

Dari dulu… Mas Davin selalu mengatakan sesuatu yang berbeda.

_Vina hanya sepupunya._

Begitu yang dia katakan padaku.

Aku bahkan masih ingat jelas. Waktu pertama kali Mas Davin membawanya ke rumah, Mas Davin berkata, “Vina se ba tang ka ra. Keluarganya tinggal aku dan Ibu saja.”

Aku percaya. Aku benar-benar percaya.

“Bu, jangan bicarakan itu lagi,” kata Davin cepat.

Namun, ibunya malah men de ngus pelan.

“Kenapa tidak boleh?” katanya. “Kalau saja dulu kamu tidak ke ras kepala menikahi Aruna, mungkin sekarang kamu sudah hidup jauh lebih baik dengan Vina.”

Setiap ucapannya terasa seperti palu yang memukul kepalaku.

Jadi… Vina bukan sekadar sepupu?

Dia adalah masa lalu Mas Davin. Dan mungkin… masa depan yang diinginkan ibunya.

Air mata kembali mengalir tanpa bisa kutahan. Anehnya, rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti tadi.

Hatiku justru semakin dingin. Karena untuk pertama kalinya aku mulai bertanya pada diriku sendiri… selama ini, sebenarnya aku ini siapa dalam hidup Mas Davin?

Istri… atau hanya kesalahan yang terlanjur terjadi?

Bersambung...

Judul : Setelah Aku Dikhianati
Napen : Rizka_Mauliani
Hanya di : KBMapp

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/07dbbf20-52d5-4cd9-b92b-b809aa915c0b

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Goresan cerita posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Goresan cerita:

Share

Category