17/05/2026
Bab 5
"Bismillahirrahmanirahim. Saudara Ahmad Hafiz Rayyan, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Zahira Aisyah Nabila dengan mahar seperangkat alat salat dan satu mushaf Al-Qur’an, juga 100 gram emas secara tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya, Denish_" Ucapan Ustaz Hafiz terhenti kala disentuh tangannya oleh Umi Intan yang duduk tak jauh darinya di belakang. Mata semua orang saling memandang satu sama lain.
"Hafiz, fokus! Apa yang kamu katakan?"
"Maaf, Umi. Hafiz... gugup."
"Tidak apa-apa. Kita ulang lagi, ya. Saya paham kalau nak Hafiz gugup." Abi Syarifuddin melempar senyuman dan mengulang ijabnya kembali. Pria paruh baya itu memahami, mungkin calon menantunya itu memang gugup. "Saudara Ahmad Hafiz Rayyan, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Zahira Aisyah Nabila dengan mahar seperangkat alat salat dan satu mushaf Al-Qur'an, juga 100 gram emas secara tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya, De_"
"Hafiz!" Kali ini teguran dari Umi Intan cukup keras sampai para hadirin yang di belakang ikut berbisik.
Zahira yang merasa gelisah di samping, akhirnya ikut bersuara.
"Abi, bisakah Abi kasih waktu untuk Akhi Hafiz sebentar? Mungkin beliau terlalu gugup. Kita tunda sebentar acara akad nikah ini." Permintaan Zahira membuat Abi Syarifuddin saling pandang dengan istrinya. Umi Syarifah memberi isyarat dengan menganggukkan kepala.
"Baiklah, Abi akan tunggu. Mungkin memang nak Hafiz perlu lebih leluasa dan menenangkan diri dulu."
Ustaz Hafiz merasa canggung dan tak enak hati.
"Akhi, kita bicara di luar sebentar."
Ustaz Hafiz mengangguk pelan. Zahira bangkit lebih dulu, kemudian Ustaz Hafiz ikut menyusul.
"Akhi, apa sebaiknya kita batalkan saja pernikahan ini?"
Pertanyaan Zahira membuat Ustad Hafiz terkejut.
"Ada apa, Za? Kenapa bicara seperti ini?"
"Hati tidak bisa dipaksa, Akhi. Hubungan perasaan itu adalah dua hal saling memberi, bukan mengemis untuk dicintai. Za tidak mau begitu, bukankah di hati Akhi masih ada orang lain?"
Ustaz Hafiz dibuat bungkam. Dia menundukkan kepalanya ke bawah.
"Za sudah pernah membahas ini dari awal. Kita tidak menjalani ini satu dua hari saja. Kalau memang Akhi tidak bisa, ayo kita akhiri. Za tidak mau memulai hubungan dengan orang yang belum selesai dengan masa lalu." Mata gadis itu berkaca-kaca. Suaranya bergetar, berusaha tegar dan tak sampai terlihat terluka di depan laki-laki itu.
"Za.... maaf, Akhi salah. Maaf karena sudah mengecewakanmu. Tapi, Akhi tidak ingin ini berakhir sampai di sini. Mungkin ini terlalu lancang, tapi bolehkah Akhi minta satu hal?"
Zahira menoleh dengan mata yang mulai memerah.
"Beri Akhi kesempatan. Akhi tidak mau mengecewakan kedua orang tua kita. Meski belum ada cinta, tapi bisakah kita memulai hubungan ini dengan saling memahami?"
Zahira tidak tahu harus memberi jawaban apa, tetapi kalau ditanya soal kecewa, sungguh hati gadis mana yang tidak sakit jika di hari bahagianya sang pengantin pria malah menyebut nama perempuan lain dalam akad?
Zahira memejamkan matanya. Bayangan kedua orang tuanya menari-nari di pelupuk mata. Apakah dia tega melukai dua hati malaikat itu?
"Baiklah," jawabnya akhirnya memberi keputusan. Zahira menggigit bibir untuk menguatkan diri. Meyakinkan hati bahwa ini mungkin takdir yang dipilih Tuhan untuknya.
"Kita lanjut, ya. Ayo kita masuk!" Zahira mengangguk, mengikuti langkah Ustaz Hafiz menuju ruang keluarga di mana acara akad nikah mereka digelar.
"Saya terima nikah dan kawinnya putri Abi, Zahira Aisyah Nabila dengan mas kawin tersebut secara tunai!"
_
Denisa menatap kamarnya yang kini sudah berubah menjadi kamar pengantin. Tak ada getaran bahagia di dada, hanya ada hati yang tertimbun oleh luka yang baru. Pernikahan ini memang tak pernah ia minta. Pernikahan yang datang saat Arga masih ingin memeluk masa lalu. Ia tahu, dirinya hanya pilihan yang dipaksa keadaan. Namun tak ada jalan untuk mundur. Semua sudah jadi pilhan dan harus ia terima dengan lapang dada.
Suara ketukan pintu membuat gadis itu tersadar. Ia menghapus air mata yang entah kapan sudah menepi di p**i.
Pintu terbuka, menampilkan seorang perempuan paruh baya yang tersenyum ke arahnya.
"Akadnya sudah selesai. Ayo, temui suamimu dan yang lainnya." Umi Farida menuntun putrinya ke luar setelah sebelumnya Denisha memakai cadarnya kembali.
Langkah Denisha sempat tertahan saat melihat Arga yang sudah menunggunya di pelaminan. Tak ada senyum di wajah pria itu, yang ada hanya kegelisahan dan ketidakpuasan.
"Ada apa?" Umi Farida menatap mata putrinya yang memerah. "Ada yang menjanggal di hatimu?"
Tangis gadis itu langsung pecah saat itu juga. Denisha langsung menghambur dalam pelukan Umi Farida.
"Kami tidak saling mencintai, Walidah. Bagaimana kami akan mengarungi rumah tangga kami nanti?"
Tubuh Denisha bergetar hebat sambil membenamkan wajahnya dalam pelukan ibunya.
Umi Farida mengusap punggung Denisha pelan, berusaha menenangkan putrinya. Setelah merasa gadis itu cukup tenang, Umi Farida melepaskan pelukannya.
"Nak... Dengarkan Walidah. Hari ini kamu akan menempuh hidup baru, kehidupan yang tidak ada tempat bagi Walidi, Walidah dan adikmu. Kamu akan menjadi teman setia suamimu yang mungkin tidak menginginkan seorang pun campur tangan dalam rumah tangganya, sekali pun orang yang mempunyai hubungan darah denganmu sendiri," Umi Farida menghentikan ucapannya sejenak, mengusap air mata putrinya yang makin jatuh berderai.
"Sekarang kamu sudah menjadi Istri sahnya. Meski pun belum ada cinta di hati kalian, Walidah cuma berpesan, kamu harus jadi istri sekaligus Ibu untuk suamimu. Ambillah teladan dari kesabaran Siti Asiah, Kesetiaan Siti Khadijah, kejujuran Siti Aisyah, dan keteguhan hati Siti Fatimah. Cobalah belajar membuat suamimu jatuh cinta, karena setiap laki-laki itu bagaikan anak kecil yang juga memerlukan beberapa kata manis untuk membuat hatinya bahagia."
"Tapi, Walidah. Apa Nisha bisa melakukannya?"
Umi Farida melempar senyuman, mencoba memberi semangat.
"Ada dua macam sifat wanita setelah menikah. Yang pertama dia mampu menjadi istri yang baik meski tak ada cinta di hatinya suaminya. Dia mampu mengubah rumah tangga yang bagaikan neraka yang panas menjadi surga yang indah. Yang kedua justru sebaliknya, perempuan itu tidak mau jadi istri yang baik dan lebih memilih merubah rumah tangga yang bagai surga menjadi neraka yang tak tertahan. Dan wanita cerdas itu adalah yang bisa mengubah sahara yang tandus menjadi taman yang indah. Kamu pasti paham dengan maksud Walidah, kan?"
Denisha mengangguk paham. Gadis itu mengusap air matanya lagi, kemudian melanjutkan langkah menuju pelaminan.
_
Rumah tampak sunyi setelah pesta selesai. Denisha masuk ke kamar pengantinnya, tetapi tidak menemukan Arga di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi tidak ada tanda-tanda Arga akan memasuki kamar.
Denisha mondar-mandir di dalam kamar, antara khawatir atau tidak peduli, tetapi jawaban apa yang harus dia berikan jika orang tuanya bertanya ke mana suaminya di malam pertama pernikahan mereka?
Denisha akhirnya memutuskan untuk mencari ke luar sampai kakinya berhenti di teras rumah. Matanya tak sengaja melihat ke luar gerbang. Di sana, di bawah cahaya remang-remang, dia melihat Arga sedang dipeluk erat oleh seseorang.
"Kamu bohong sama aku, Arga!"
Bersambung
Selengkapnya hanya di kbm
Judul : Pesona Istri Bercadar
Penulis : Rizka_Mauliani
https://read.kbm.id/book/detail/fbb77dfd-04fe-46d3-858b-e165afd2295a