17/01/2018
TAMPILAN DAN PENCITRAAN
Oleh: Ustadz Aunur Rofiq Saleh Tamhid Lc *)
Dinding sebuah toko daging dicat dengan warna kuning hingga menyebabkan warna daging terlihat pucat seolah-olah daging itu busuk. Hal ini membuat para pelanggan tidak mau datang membeli daging di toko tersebut.
Pemilik toko heran dan bingung karena tidak mengetahui sebab para pelanggannya tidak mau mendatangi tokonya lagi. Sebagian orang bahkan menyarankan agar ia menutup atau menjual tokonya, atau mengganti dengan dagangan lain, karena kegagalannya tersebut, atau mengecek jenis pakan ternak yang digunakan sehingga menyebabkan daging cepat berubah warnanya.
Setelah merenung lama akhirnya pemilik toko menemukan ide untuk mengubah warna cat dinding dengan warna biru kehijau-hijauan agar daging tampak lebih merah dan tulang terlihat lebih putih sehingga mengesankan daging itu segar. Ide ini berhasil hingga meningkatkan penjualannya dan para pembeli berdatangan dan memuji keindahan tokonya.
Pesan: Tampilan (mazhhar) yang menarik, rapih, dan bersih sangat dianjurkan Islam bahkan diwajibkan. Bila keluar bertemu para sahabatnya, Nabi saw memakai pakaian yang rapih, menarik, bersih dan beraroma wangi. Suatu hari, Nabi saw berada di masjid lalu seorang lelaki yang rambut dan jenggotnya kusut masuk masjid kemudian Nabi saw mengisyaratkan kepada orang tersebut agar keluar merapikan rambut dan jenggotnya. Setelah merapikan rambut dan jenggotnya orang itu kembali lagi lalu Nabi saw bersabda: “Ini lebih baik dari salah seorang diantara kalian datang dengan rambut kusut seperti setan”. (Muwatha’ Malik 2732)
Ini karena Allah Maha Indah mencintai keindahan (Muslim 91). Juga karena tampilan yang baik dan menarik, bagi sebagian orang, menjadi cermin kepribadian. Atau ibarat buku, menjadi “judul” yang menggambarkan isi buku. Atau menjadi penanda bagi seseorang. Karena hal yang pertama kali dilihat orang ketika bertemu adalah tampilan, sedangkan pertemuan pertama memberi kesan yang mendalam.
Sekalipun demikian, Islam tidak hanya mementingkan tampilan tetapi juga harus dibarengi dengan isi dan batin, sehingga seorang muslim harus baik, bersih, dan menarik lahir dan batin. Tidak seperti orang munafik yang memperlihatkan kebaikan lahiriah tetapi busuk hatinya.
Karena pentingnya tampilan dan sisi luar ini, sebagian orang mengeksploitasinya untuk menipu dan mengelabui orang lain. Ini disebut mazhhariyah (hanya mementingkan tampilan atau bungkus dari isi), atau bahasa Now-nya pencitraan. Pencitraan ini bisa terjadi di dunia politik, ekonomi, budaya, pendidikan bahkan agama dan lainnya.
Al-Quran mengisyaratkan bahwa “guru besar” pencitraan adalah Karun. Firman Allah:
”Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (al-Qashash: 79-80).
Ayat-ayat ini (baca juga ayat 81-83) menyebutkan bagaimana Karun melakukan pencitraan, siapa yang berhasil dipengaruhi dengan pencitraan tersebut, dan siapa yang tidak bisa dipengaruhinya.
Karun melakukan pencitraan dengan tampilan yang megah sehingga berhasil memengaruhi dan “menyihir” sebagian orang. Orang yang bisa dipengaruhi dan tersihir oleh pencitraannya adalah “orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia”. Karena orang yang menghendaki kehidupan dunia selalu mementingkan tampilan dan hanya berfikir tentang dunia dan apa yang didapat dari dunia tanpa memedulukan nilai-nilai agama dan akhirat.
Sedangkan orang yang tidak bisa dikelabui dengan pencitraan adalah “orang-orang yang dianugerahi ilmu, lebih mementingkan pahala Allah, beriman, beramal saleh dan sabar”. Yakni orang-orang yang telah mendapatkan tarbiyah dan pemahaman dengan nilai-nilai agama Islam dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehingga memiliki komitment yang kuat.
Ayat-ayat ini juga mengisyaratkan bahwa pencitraan hanya bisa dilawan dengan tarbiyah dan pengajaran nilai-nilai agama kepada masyarakat yang selalu berfikir duniawi atau materialistik. Bila masyarakat masih berfikir duniawi dan materialistik maka mereka selalu rawan menjadi korban pencitraan orang-orang yang akan mengelabui dan menipu mereka. Disinilah pentingnya para dai selalu dekat dengan masyarakat dan membimbing mereka agar memiliki komitment yang kuat dengan nilai-nilai agama sehingga mereka tidak mudah tersihir oleh pencitraan. Celakanya, bila para dai juga berfikir duniawi dan materialistik sehingga mereka sendiri menjadi korban pencitraan. Semoga Allah melindungi kita semua dari tipu daya pencitraan.
*) Ustadz Aunur Rofiq Saleh Tamhid Lc adakah pemilik sekaligus Pembimbing ibadah haji plus dan Umroh Travel Gema Shafa Marwa (GSM) di Jakarta
Daftar Haji Plus GSM Kuota Resmi Pemerintah, Info HP/WA 085210858676