26/03/2016
Hay Dolaner! Semoga weekend kalian tambah seru, kali ini RajaDolan akan sharing perjalanan ke kampung adat Wae Rebo.
Kampung adat waerebo terletak di Desa Denge Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores.Terkenal dengan 7 rumah adatnya atau biasa d sebut Mbaru Niang. Dan telah di tetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO Asia-Pasifik pada tahun 2012, serta menjadi salah satu kandidat peraih Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur tahun 2013.
Untuk mencapai lokasi, Memerlukan sekitar 5 jam dari kota Labuan Bajo menggunakan kendaraan pribadi. Dan kami memilih rute Labuan Bajo - Lembor - Pela - Dentor - Denge. Sengaja tidak mengambil jalur Ruteng karena menurt informasi dari warga Flores jalur Ruteng lebih jauh dari jalur yg kita pilih.
Di perjalanaan sangat menyenangkan karena kita melintasi perkampungan-perkampungan Flores yang masyarakat lokalnya sangat ramah-ramah, mereka tidak sungkan menyapa hay pada kita. Dan pemandangan juga sangat luar biasa karena jalan Tran Flores ini sudah lumayan apik dan mulus tapi tetep hati-hati ketika hujan turun. Banyak bebatuan bsar dan kecil yang jatuh dari bukit ke jalan-jalan. Sebelum sampai di Desa Denge Kita melewati pegunungan, jembatan-jembatan, pesisr pantai, hutan, persawahan, dan beberapa sungai kecil.
Setelah pejalanan yang lumayan panjang akhirnya sampai juga di Desa Denge. Pintu utama akses untuk menuju kampung adat Wae Rebo. perlu diketahui kampung adat Wae Rebo ini letaknya berada di atas Gunung sehingga kita kudhu trekking untuk mencapai lokasi.
Di Desa Denge saya d sambut oleh Bpk Blasius M***a, beliau adalah putra daerah yang memperjuangkan, menjaga dan mmeperkenalkan Wae Rebo ke publik hingga sampai seterkenal ini, pastinya jga di bantu oleh pihak lain juga yaaaa!
Bpk Blasius m***a bercerita banyak tentang budaya warga Wae rebo dan filosofi Mbaru Niang.
Selanjutnya kami memilih pagi-pagi sekali untuk trekking mngingat kondisi d Flores lumayan panas. sehingga kami harus mnginap semalam d rumah tempat tinggal beliau. Ada salah satu yg unik ketika makan malam, kami d suguhi makanan khas warga Wae Rebo, yaitu Beras Merah plus lauk ikan asin dan sayur daun pepayaaaa (paitttttt mannnnn). Entah nama masakan tsb, soalnya saya sdah kelupaan karena rasa pait tsb. Tapi meskipun pait saya nambahhhhh.
Dan keesokan harinya pagi-pagi buta kita segera melangkahkn kaki untk menuju Wae Rebo, terlihat malam masih gelap. Matahari masih enaknya menikmati dinginnya tanah Flores. Dengan peralatan trekking yang sdah disiapkan sebelumnya, kita segera bergegas. Trekking sekitar 3-4 jam, tergantung kecepatan langkah kita masing2. Untuk trekking ke Waerebo adalah trekking yang middle, gak berat tapi juga gak ringan. Di tengah perjalanan kita akan bertemu dengan warga kampung adat yang akan turun gunung untk menjual hasil panen ke pasar. Kdang sambil menggendong buah hatinya naik turun bukit. Kok kuat yaaaa? . Mau donk perkasa!
Dan akhirnya sampai juga d tempat yang telah di idam-idamkan. dan sungguh luar biasa indahnya Tanah Wae Rebo ini.