22/03/2019
Dunia penerbangan di Indonesia sekarang dikuasai oleh dua pemain besar yaitu Garuda group dan Lion Group.
Jika sebelumnya ad Sriwijaya Group dengan Nam Air, sejak dinyatakan gagal dalam membayar kewajiban utang kepada Garuda maka akhirnya Sriwijaya melebur ke Garuda Group melalui KSO.
Sejak itu, harga tiket peswat terus melonjak siginifikan sejak awal tahun 2019.
Keadaan semakin panas, tatkala tiket peswat yang makin tinggi, Lion Group melakukan pengumuman Heboh dengan menghentikan pemberian Bagasi Cuma2 untuk Lion Air(domestik dan internasional), Wings, Thai Lion (penerbgan internasional)dan terakhir Malindo Air(utk Super Saver) menjadi Bagasi Berbayar.
Dengan fenomena kenaikan harga tiket peswat yg tidak wajar menimbulkan polemik dan dampak signifikan dalam dunia pariwisata Indonesia.
Sejumlah pengusaha oleh2, Rm, hotel dan tempat wisata lainnya menjadi sepi pengunjung karena konsumen mulai beralih destinasi liburan ke luar negeri yang hargaya jauh lebih murah.
Sebagai contoh, tiket Jakarta Kuala Lumpur PP melalui AirAsia harga bisa start from Rp 600rbn, sedangkan Jakarta ke Pontianak one way harga tiket termurah rata2 start from Rp 1jutaan.
Meskipun harga tiket yang tinggi, namun karena diperlukan maka konsumen mau tidak mau terpaksa membeli juga.
Faktor kenaikan bahan bakar Avtur yg mencapai 45% Operational Cost, Biaya Leasing peswat, biaya karywan menjadi sejumlah alasan mengapa Maskapai melakukan kenaikan harga.
Jika melihat dari harga tiket luar negeri dengan jarak yang sama namun harganya bisa jauh lebih murah dari tiket domestik di Indonesia, apakah menurut Guys alasan itu relevan?
Adanya dugaan "praktik Kartel" antar maskapai yang baru2 ini mencuat di publik tentunya menimbulkan kehebohan di masyarakat.
Bagaimanakah kelanjutan dari cerita ini?
Mari kita nantikan bersama.