Dosroha Tour & Travel

Dosroha Tour & Travel We Serve The Best

26/03/2021
19/04/2020

Di usia yang sudah cukup tua ini, saya masih seringkali teringat pada kenangan masa kecil dan kehidupan bersama orang tua saya di Simargala, Toba Samosir. Saya menjalani kehidupan masa kecil bersama orang tua dan adik-adik dalam keadaan yang sangat sulit, karena Ayah saya adalah satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga dengan menjadi sopir bus AKAP di Sibualbuali. Gaji beliau hanya cukup untuk kami makan sehari-hari kami. Jadi kalau mau dibilang, saya adalah anak sopir bus AKAP dan dilahirkan dari seorang Ibu yang tangguh meskipun tidak tamat Sekolah Rakyat. Masa kecil saya juga dihabiskan dengan merantau, karena Ayah dan Ibu saya ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Kesulitan dan perjuangan hidup yang saya alami bersama orang tua inilah, yang kemudian selalu saya jadikan pegangan dalam merumuskan berbagai kebijakan yang terkait dengan hajat hidup masyarakat Indonesia seluruhnya. Apalagi di tengah badai pandemi Covid-19 yang sedang melanda negara kita saat ini, yang memang membawa dampak yang cukup signifikan terutama dalam penghidupan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Seringkali, di sela-sela waktu senggang seperti hari Minggu ini, saya menyempatkan untuk melihat kanal media sosial saya, dan membaca kolom komentar di setiap postingan maupun pesan di kotak masuk. Banyak aspirasi dari mulai kritik hingga dukungan disampaikan oleh masyarakat Indonesia, yang terkait dengan kebijakan pemerintah. Semuanya selalu saya jadikan pertimbangan untuk merumuskan kebijakan yang akan saya ambil.

Saya mendapatkan laporan dari banyak pihak bahwa penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek mayoritasnya adalah pekerja, dan banyak p**a pekerja di sektor usaha yang masih diizinkan beroperasi selama PSBB. Seperti yang kita semua tahu bahwa masih ada 8 sektor usaha yang diizinkan beroperasi selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti yang bergerak di bidang kesehatan hingga pangan, sehingga masih membutuhkan moda transportasi massal seperti KRL untuk berangkat ke tempat kerja mereka. Saya pun juga mendapatkan informasi dan aspirasi dari beberapa masyarakat di kanal media sosial saya lewat pesan masuk, beberapa dari mereka adalah tenaga medis yang setiap hari nya harus berangkat dari Jakarta menuju Rumah Sakit tempat dirinya bertugas di wilayah Bekasi. Jika KRL Commuter Line Jabodetabek tidak beroperasi, maka dirinya akan semakin sulit menjangkau tempat kerjanya. Kemudian ada p**a pekerja pabrik yang juga sehari-hari bahkan di saat PSBB seperti ini pun, masih harus berangkat ke tempat kerja dan menggunakan KRL Commuterline sebagai satu-satunya alat transportasi ke tempat kerja. Banyak dari mereka menyampaikan kepada saya agar KRL Commuter Line Jabodetabek tetap beroperasi saat PSBB ini diberlakukan.

Ada satu pesan yang masuk dan membuat saya begitu haru, ketika seorang Ibu pekerja yang tinggal di Bekasi dan setiap harinya harus naik KRL Commuterline Jabodetabek menuju Jakarta untuk sampai di tempat kerjanya. Saat menuliskan pesan kepada saya, Ibu tersebut berkata dirinya sedang berada di stasiun KRL dan sedang kebingungan bagaimana caranya sampai ke tempat kerja jika pemerintah kemudian menghentikan operasional KRL Commuter Line Jabodetabek di saat PSBB, sementara suaminya sudah dirumahkan tanpa digaji akibat imbas pandemi Covid-19 ini. Ibu tersebut kemudian bertanya juga, bagaimana ia harus menghidupi keluarga dan anak-anaknya jika dirinya tidak punya akses untuk pergi ke tempat kerja? Membaca pesan dari ibu ini, batin saya disergap rasa haru dan seketika teringat perjuangan kedua orang tua saya dalam menghidupi ke-empat anak-anaknya agar tetap bisa makan setiap hari dan mendapat pendidikan yang layak meskipun hidup mereka serba sulit. Terlebih di saat ini, jumlah Ibu bekerja semakin banyak dan kaum Ibu juga menjadi tulang punggung membantu perekonomian keluarga dengan ikut andil dalam mencari nafkah.

Saya pun teringat pesan Presiden Joko Widodo kepada kami para menterinya, agar dalam pengambilan keputusan di saat-saat seperti ini selalu mempertimbangkan sisi kehidupan rakyat yang paling sulit dan paling terkena dampak dari pandemi Covid-19. Memang pandemi ini membawa dampak yang signifikan bagi seluruh rakyat Indonesia, namun ada di antara kita yang paling rentan terkena dampaknya. Mereka-mereka inilah yang patut kita perhatikan dan kita bantu dengan berbagai bantuan langsung melalui Jaring Pengaman Sosial yang kita susun bersama untuk masyarakat yang rentan terdampak jika PSBB diberlakukan, karena mereka masih harus bekerja dan keluar rumah. Jika tidak, mereka terancam tidak bisa menghidupi keluarganya. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar pertimbangan saya untuk tidak terburu-buru mengambil tindakan. Karena sebuah kebijakan harus dipikirkan secara matang dengan mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya, untuk dicari jalan tengah yang paling baik.

Atas dasar segala pertimbangan itulah kemudian operasional KRL Commuter Line Jabodetabek tetap berjalan seperti sedia kala dengan pembatasan waktu dan pengendalian penumpang, setidaknya sampai Bantuan Sosial (Bansos) dari pemerintah sudah diterima masyarakat. Kami akan selalu mengevaluasi langkah-langkah dari setiap kebijakan yang diambil karena hari ini setiap kebijakan harus ditentukan dan dilakukan secara cepat tanpa perlu ada satu bagian masyarakat yang disulitkan oleh kebijakan yang kami buat bersama. Saya pun berharap masyarakat dan petugas KRL Commuter Line Jabodetabek untuk selalu memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan yang berlaku seperti penggunaan masker dan menjaga jarak.

Di akhir, saya ingin menyampaikan harapan saya kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap saling menjaga di tengah situasi pandemi seperti saat ini dengan memperhatikan dan membantu keluarga, sanak saudara, bahkan tetangga yang mungkin saja di tengah situasi sulit ini, kehidupan mereka lebih sulit lagi. Saya sebagai bagian dari pemerintah Indonesia akan terus berupaya mencari jalan tengah yang paling sedikit mudarat serta paling besar manfaatnya untuk masyarakat Indonesia. Jadi saya titip pesan, tidak ada yang perlu dibenturkan antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya. Kita semua bekerja semaksimal mungkin agar pandemi Covid-19 bisa kita atasi bersama-sama.

13/03/2020

Dalam beberapa kali kunjungan saya ke Tanah Toba, entah mengapa saya selalu dipertemukan dengan momen yang spesial. Seperti momen spesial yang saya alami bersama Raja dan Ratu Belanda yang secara khusus memang saya bawa ke Tanah Toba untuk melihat keajaiban alam tertua di Indonesia, Danau Toba. Yang lebih membahagiakan lagi menurut saya adalah Raja Willem menyampaikan komitmennya untuk ikut mengembangkan destinasi wisata di Indonesia khususnya Danau Toba yang jadi salah satu destinasi wisata super prioritas ini.

Saya meminta secara khusus p**a kepada Raja Willem untuk membantu kami dengan mengirimkan beberapa praktisi pariwisatanya untuk melatih anak-anak muda kita dalam mengembangkan spot-spot pariwisata. Bantuan yang saya minta bukan berbentuk finansial, tetapi saya ingin ada ahli-ahli di bidang pariwisata dari Belanda untuk datang melatih para kaum muda disini mengembangkan destinasi wisata super prioritas ini dalam hal kebersihan dan pelayanan wisata agar para wisatawan tertarik dan betah berlama-lama disini. Pembicaraan kami juga membahas rencana pembukaan rute penerbangan langsung Amsterdam-Medan agar para wisatawan dari Belanda bisa melanjutkan perjalanan mereka ke destinasi wisata lainnya. Saya yakin langkah ini akan mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan dari negara-negara Eropa ke Indonesia, khususnya ke Sumatera Utara.

Yang spesial dari Kunjungan Raja Willem Alexander bersama istrinya, Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti ke Tanah Toba adalah saya juga meminta istri saya secara khusus untuk mendampingi saya bertemu Keluarga Kerajaan Belanda ini, karena saya pikir saya butuh pendamping untuk menjelaskan tentang kekayaan budaya dan warisan leluhur Tanah Toba, dan saya membawa orang yang tepat pastinya. Kami berempat bersama Menparekraf RI bapak Wishnutama Kusubandio dan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, juga mengunjungi Desa Adat Dusun Siambat Dalan/Desa Lintong Nihuta, Eco Village Tourism di Silima Lombu, Samosir, dan Parapat.

Kebahagiaan saya tidak hanya berhenti sampai disitu saja, pasangan keluarga Kerajaan Belanda ini juga menyampaikan pujian dan kesan amat baik mereka kepada visi dan misi Institut Teknologi Del, lembaga pendidikan yang saya dirikan bersama istri saya. Mereka sampaikan kepada saya kekaguman dan komitmen IT Del untuk mencerdaskan semua anak-anak di Sumatera Utara, apalagi dengan adanya program subsidi kepada anak berprestasi tetapi kurang mampu. Mereka juga sampaikan kepada saya bahwa pendidikan budi pekerti berbasiskan "boarding school" ini menjadi nilai tambah yang nantinya akan bermanfaat bagi lulusan-lulusan IT Del di masa depan.

Namun yang pasti, kebahagiaan saya ini tidak bisa lepas dari apresiasi dan hormat pasangan keluarga Kerajaan ini secara khusus kepada Presiden Joko Widodo karena mampu mengajak pemerintah daerah setempat untuk berperan serta dalam pembangunan destinasi wisata super prioritas seperti Danau Toba. Dan dengan kunjungan keluarga Kerajaan Belanda ke Indonesia kali ini sekaligus membawa komitmen investasi bisnis sebesar 1 miliar dollar AS yang utamanya lebih banyak untuk kerjasama pertanian disamping juga pariwisata.

Saya berharap pembangunan destinasi wisata super prioritas di Danau Toba ini akan dilakukan lewat kerjasama lembaga pendidikan dan penelitian, komunitas lokal, pengusaha, pemerintah dan masyarakat Tanah Toba tentunya. Karena saya yakin kerjasama dari semua pihak ini akan menghasilkan tata kelola destinasi wisata yang "alami" karena disarikan dari pengalaman asli masyarakat Toba yang dalam jiwa raganya punya cinta yang besar bagi tanah air, bangsa dan negaranya.

Lunch Time...
06/03/2020

Lunch Time...

I'm ready for Lunch...
05/03/2020

I'm ready for Lunch...

04/03/2020

Find the original recipes here...

We're welcome you...
04/03/2020

We're welcome you...

Dear God,

Make our day USEFUL,
Our nights RESTFUL,
Our home PEACEFUL and
Our efforts FRUITFUL,

Amen

Good morning from Tomok Samosir 💜

coming soon...
04/03/2020

coming soon...

04/03/2020

Tanah Toba bagi saya bukan hanya sekedar tanah kelahiran, tetapi lebih dari itu Tanah Toba adalah tanah kebanggan bagi seluruh masyarakat Sumatera Utara. Karena disinilah Tuhan YME memberkahi tanah kami dengan keajaiban alam berupa Danau Kawah yang terbesar sekaligus tertua di dunia. Karena itulah ketika saya mendapatkan mandat untuk membangun Tanah Toba, saya merasa sangat bangga dan bahagia karena saya bisa berkontribusi untuk membangun tanah kelahiran saya sekaligus tanah kebanggan warga Sumatera Utara. Hal ini juga yang saya sampaikan kepada masyarakat di Desa Sigapiton, Kabupaten Toba Samosir saat kunjungan saya bersama Menparekraf RI Wishnutama Kusubandio hari Selasa lalu, bahwa saya ingin masyarakat juga bisa ikut berkontribusi dan terlibat dalam pembangunan Desa Wisata Sigapiton.

Ada satu hal yang membahagiakan saya yaitu tanggapan masyarakat dan Kepala Desa Sigapiton sangat positif dan mendukung upaya pemerintah dalam memajukan desa. Ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa Sigapiton kepada saya bahwa mereka mendukung penuh desanya untuk maju, beliau juga sampaikan kepada saya harapan beliau untuk bisa dibawa studi banding ke daerah pariwisata yang maju yang banyak ada di Pulau Jawa sebagai pembelajaran bagaimana cara memajukan desa lewat sektor pariwisata dan Kepala Desa juga punya permintaan khusus kepada para menteri terkait agar sejumlah infrastruktur pariwisata seperti akses darat hingga drainase dibangun secara maksimal.

Perlu semuanya ketahui bahwa Desa Sigapiton ke depannya akan diproyeksi menjadi desa wisata, karena saya pikir destinasi ini sangat tepat dengan letak geografis yang diapit diantara bukit tinggi. Sigapiton juga bisa diakses dengan jalur darat via Toba Samosir dan via danau dari Pelabuhan Ajibata. Dalam benak saya, saya ingin desa Sigapiton bisa dikenal luas oleh dunia karena wisata budaya dengan rumah-rumah tradisionalnya sehingga para turis yang datang ke sini bisa merasakan langsung kehidupan asli masyarakat Sigapiton dan melihat juga keindahan alam yang lain, yaitu Air Terjun Binangalom yang muaranya langsung ke Danau Toba. Dan menurut rencana, Desa Wisata Sigapiton akan menjadi salah satu tempat yang akan dikunjungi oleh Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima dari Belanda yang akan berlibur di Kawasan Pariwisata Danau Toba, di tanggal 13 Maret nanti.

Saya sampaikan kepada masyarakat dan para pengurus desa disana bahwa kami sebagai pemangku kebijakan akan terus bersinergi dengan masyarakat lokal, kami akan ajarkan masyarakat disini bagaimana cara bertani yang benar sehingga hasilnya maksimal dan dapat dijual ke hotel-hotel, dan secara khusus saya juga berencana untuk memberangkatkan para tokoh-tokoh desa dan putera asli Sigapiton untuk belajar "hospitality" di destinasi wisata lainnya yang ada di Pulau Jawa. Hal ini akan semakin mudah diwujudkan ketika cara pandang masyarakat bisa diubah, saya ingin masyarakat Desa Wisata Sigapiton menjadi masyarakat yang bersahabat dengan wisatawan yang datang ke desa mereka, agar para wisatawan merasakan keramahan dan persahabatan di Desa Wisata Sigapiton sehingga membuat mereka ingin sering berkunjung kesana. Tak lupa p**a saya sampaikan kepada masyarakat Desa Wisata Sigapiton agar juga turut menjaga kelestarian lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya.

Saya juga sampaikan kepada Pemda setempat untuk memberikan perhatian lebih kepada desa-desa yang menjadi proyek destinasi wisata seperti Desa Sigapiton dan 10 desa yang akan dijadikan desa wisata di kawasan Toba lainnya seperti Sipinsur, Tipang, Marbuntoruan, Sigapiton, Meat, Tarabunga, Huta Nilintong, Huta Ginjang, Hutanagodang, dan Dolok Martumbur. Saya berharap ke depannya saya dan jajaran Kementerian terkait bisa terus konsisten mengawal pembangunan Desa Wisata Sigapiton sehingga masyarakat Toba melihat keseriusan pemerintah untuk menggeber pengembangan destinasi pariwisata di Tanah Toba sehingga para wisatawan bisa terus ketagihan datang ke Tanah Toba mengajak semua keluarga dan kolega mereka untuk juga ikut datang ke Tanah Toba untuk melihat keramahan dan semangat kebanggan masyarakat Tanah Toba yang begitu mencintai tanah airnya.

Address

Cipinang Muara I Gang Damai II No. 15 Rt. 06 Rw. 03 Pondok Bambu
Jakarta
13430

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dosroha Tour & Travel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Dosroha Tour & Travel:

Share

Category