05/11/2022
⛰️ GUA TSUR & STRATEGI NABI KETIKA HIJRAH
Rasulullah meninggalkan rumah beliau pada malam tanggal 27 shafar tahun 14 kenabian, bertepatan dengan tanggal 12/13 september tahun 622 M.2 Lalu beliau menuju kediaman Abu Bakar & rekan setianya, dan dia adalah orang yang paling beliau percaya untuk menemaninya di perjalanan dan untuk menjaga hartanya Kemudian keduanya meninggalkan rumah Abu Bakar tersebut dengan melewati pintu belakang lantas bersama-sama meninggal kan Makkah secepatnya sebelum fajar menyingsing.
Nabi telah mengetahui bahwa orang-orang Quraisy akan berupaya keras untuk mengejarnya dan jalan yang pertama kali akan disisir oleh mereka adalah jalan utama kota Madinah yang menuju ke arah utara. Oleh karena itu, beliau memilih jalan yang berlawanan arah, yaitu jalan yang terletak di selatan Makkah, yang menuju ke arah Yaman. Beliau menempuh jalan ini sepanjang 5 mil, hingga akhirnya sampai ke sebuah bukit yang dikenal dengan bukit Tsur sebuah bukit yang tinggi, terjal, sulit didaki dan banyak bebatuan. Kondisi ini membuat kaki Rasulullah lecet (karena tanpa alas). Ada riwayat yang menyebutkan, bahkan ketika berjalan di jalur tersebut, beliau bertumpu pada ujung-ujung kakinya agar jejak langkahnya tidak tampak, karenanya kedua kaki beliau menjadi lecet. Apa pun yang sebenarnya terjadi, yang jelas, beliau kemudian harus digendong oleh Abu Bakar ketika mencapai bukit Dan Abu Bakar mulai memeganginya dengan kencang hingga akhirnya sampai ke sebuah gua di puncak bukit yang di kemudian hari dikenal oleh sejarah dengan nama Gua Tsur."
Begitu tiba di gua, Abu Bakar berkata, "Demi Allah, engkau jangan masuk dulu sebelum aku masuk; jika ada sesuatu di dalam nya, maka biarlah hanya aku yang mengalaminya.
Kemudian dia masuk untuk menyapunya. Dan didapatinya di sisi gua tersebut ada beberapa lubang, maka dia pun menyobek kainnya dan menyumbat nya tetapi masih tinggal dua lubang lagi, lantas ditutupnya dengan kedua kakinya.
Kemudian dia berkata kepada Rasulullah "Ma suklah." Rasulullah pun masuk dan merebahkan kepalanya di pang kuannya lalu tertidur. Sementara kaki Abu Bakar yang dipergunakan untuk menyumbat lubang disengat (binatang berbisa) namun dia tidak bergeming sedikit pun karena khawatir membangunkan Rasulullah.
Kondisi ini membuat air matanya menetes hingga membasahi wajah Rasulullah Lalu beliau berkata kepadanya, "Ada apa denganmu, wahai Abu Bakar?"
"Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah! Aku telah disengat," jawabnya.
Lantas Rasulullah meludah kecil ke arah bekas sengatan ter sebut sehingga apa yang dirasakannya hilang sama sekali.'
Keduanya tinggal di dalam gua tersebut selama tiga malam; malam Jum'at, malam sabtu dan malam Ahad.