01/12/2025
📝 | B**g Salim : Peran Orang Susah atau Teraniaya Sudah Melekat Kepada Dirinya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia perfilman Indonesia yang kini dipenuhi nama besar dan deretan bintang baru, ada satu nama yang perlahan memudar dari ingatan publik: B**g Salim.
Namun di balik cahaya gemerlap industri yang kian komersial, dialah salah satu penjaga api idealisme seni peran yang tak pernah padam.
Lahir di Jakarta pada 3 Juli 1935 dengan nama asli Abdul Salim, perjalanan hidupnya jauh dari kata instan. Usai SMA, ia bekerja di dunia percetakan NVG & Kolff pada 1954–1958. Rutinitas itu mungkin membosankan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Salim.
Jiwa seninya mengalir deras. Ia kemudian melangkah ke panggung akademik dengan masuk Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada 1961. Bahkan sempat kuliah Biologi di UNAS, meski hanya sampai tingkat dua.
Tak banyak aktor yang memulai karier dari pencahayaan. Tapi B**g Salim berbeda. Tahun 1962–1971, ia menjadi penata cahaya di Bali Room, Hotel Indonesia.
Dari balik lampu-lampu panggung itulah ia belajar tentang ritme, estetika, dan nyawa sebuah pertunjukan. Kesabaran itu berbuah: perlahan ia masuk layar lebar.
Sejak awal 1960-an, nama B**g Salim hadir dalam berbagai film seperti Ballada Kota Besar (1962), Apa Jang Kau Tangisi (1965), Si Pitung (1972), hingga Petualang-petualang (1978).
Di balik panggung, B**g Salim dikenal sebagai sosok idealis yang tegas dan jujur. Ia tak ragu mengkritik arah industri film yang menurutnya makin menjauh dari fungsi budaya.
Ia bersahabat dekat dengan tokoh besar seperti Arifin C. Noer dan WS Rendra, berdiskusi panjang tentang seni, moralitas, dan tanggung jawab budaya.
Menurutnya, film yang hanya mengejar sensasi adalah bentuk pengkhianatan terhadap makna sejati seni.
Meski berkecimpung di dunia film, kehidupan B**g Salim jauh dari glamor. Ia tinggal di kamar kecil di Matraman Dalam, Jakarta Timur tempat ia menulis, membaca, dan merenung.
Ia tidak butuh sorotan kamera untuk merasa berarti. Buku adalah temannya. Seni adalah keyakinannya.
Tahun 1996, ia menerima Penghargaan Kesetiaan Profesi dari BP2N. Bukan karena popularitas, Bukan karena rating. Tapi karena keteguhannya menjaga integritas, bahkan ketika industri bergerak ke arah yang tidak ia sukai.
Hari ini, nama B**g Salim mungkin jarang disebut. Namun jejaknya jelas: ia adalah simbol kesetiaan pada seni.
Sosok yang mengingatkan kita bahwa perfilman Indonesia dibangun bukan hanya oleh bintang-bintang besar, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam sunyi, menjaga idealisme dari balik layar.