30/04/2025
Kosala Kosali, ilmu tata ruang tradisional Bali yang diwariskan turun-temurun, kini dihadapkan pada tantangan zaman modern. Dikenal sebagai panduan dalam membangun rumah berdasarkan arah suci dan keseimbangan ruang, prinsip Kosala Kosali tak selalu mudah diterapkan di lingkungan perkotaan seperti Denpasar.
Dalam naskah lontar Kosala Kosali, setiap bangunan diatur dengan detail, mulai dari arah hadap, ukuran berdasarkan tubuh pemilik, hingga susunan pekarangan sesuai konsep Tri Mandala—utama, madya, dan nista. Filosofinya sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, yaitu menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Namun realitanya, banyak masyarakat kini menghadapi keterbatasan: lahan sempit, biaya tinggi, tinggal di kawasan campuran, atau memilih desain modern. Hal ini membuat penerapan Kosala Kosali secara utuh jadi sulit dilakukan.
Realitanya, nggak semua orang bisa menerapkan Kosala Kosali secara utuh karena beberapa alasan, misalnya:
1. Lahan terbatas – di daerah perkotaan seperti Denpasar, tanahnya sempit dan bentuknya nggak selalu sesuai pakem.
2. Kondisi ekonomi – membangun rumah dengan aturan Kosala Kosali kadang butuh biaya lebih, apalagi kalau pakai arsitek tradisional.
3. Lingkungan campuran – kadang tinggal di komplek perumahan modern atau kos-kosan yang tidak bisa disesuaikan dengan pakem tradisi.
4. Gaya hidup modern – beberapa orang memilih desain yang lebih minimalis, simpel, atau fungsional.
Tapi… meskipun gak bisa menerapkan semua, masih bisa menghormati prinsip dasarnya, misalnya:
• Menjaga arah tempat suci (paling tidak menghadap ke arah yang dianggap suci, seperti kaja-kangin)
• Menjaga kesucian pekarangan, tetap ada tempat sembahyang walau kecil
• Memperhatikan keseimbangan ruang (tri mandala: utama, madya, nista)
Jadi nggak harus kaku, yang penting niat dan esensinya tetap dijaga. Tradisi itu hidup dan bisa beradaptasi, asal tetap menghormati akar budayanya.
Sumber : Dokumen Bappeda Bali dan Perda
📷 Savrenti
Dirangkum oleh