02/07/2026
Setiap perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani yang penuh dengan ujian dari Allah SWT. Sebab, Allah menguji setiap hamba yang dipanggil-Nya, agar hati menjadi lebih ikhlas, lebih sabar, dan semakin bertawakal kepada-Nya.
Ujian itu hadir dalam berbagai bentuk. Ada ujian berupa kesulitan, ada p**a ujian berupa kemudahan dan kesenangan. Sebagaimana firman Allah SWT, "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan." (QS. Al-Anbiya: 35).
Ada yang diuji dengan keterbatasan rezeki, sehingga biaya keberangkatan terasa begitu berat. Ada yang diuji dengan cibiran, keraguan, bahkan penolakan dari orang-orang terdekat. Tidak sedikit p**a yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, namun menjelang keberangkatan justru diuji dengan musibah, seperti wafatnya orang tua, pasangan, anak, atau anggota keluarga lainnya. Semua itu bukanlah tanda bahwa Allah menjauh, melainkan cara Allah menguji keikhlasan dan kesabaran hamba-Nya.
Di sisi lain, ada p**a ujian yang sering tidak disadari, yaitu ketika Allah melimpahkan kemudahan. Rezeki yang cukup, kesehatan yang baik, dan kesempatan berangkat ke Tanah Suci bisa menjadi ujian yang lebih berat jika melahirkan rasa ujub, riya, atau kesombongan. Seolah-olah semua itu diraih semata karena kemampuan diri, padahal setiap langkah menuju Baitullah hanyalah karena izin dan rahmat Allah SWT.
Bahkan ketika telah menginjakkan kaki di Tanah Suci, ujian belumlah berakhir. Setan terus berusaha melalaikan hati dari tujuan utama ibadah. Pikiran sering kali masih dipenuhi urusan dunia: memikirkan pekerjaan di tanah air, usaha yang ditinggalkan, kondisi keluarga, istri, anak, dan berbagai persoalan lainnya. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memperbanyak tawaf, dzikir, doa, tilawah Al-Qur'an, dan munajat kepada Allah justru habis untuk terus-menerus menghubungi tanah air dan memikirkan urusan yang telah ditinggalkan.
Karena itu, ketika Allah telah memberikan kesempatan menjadi tamu-Nya, titipkanlah segala urusan dunia kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baik Penjaga bagi keluarga, rezeki, dan segala amanah yang kita tinggalkan. Fokuskan hati, pikiran, dan seluruh jiwa hanya untuk beribadah kepada-Nya. Jadikan setiap langkah di Tanah Suci sebagai kesempatan memperbanyak istighfar, memohon ampunan, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang ikhlas, kesabaran dalam menghadapi setiap ujian, keistiqamahan dalam beribadah, serta menjadikan ibadah haji dan umrah kita sebagai ibadah yang mabrur dan diterima di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.