19/04/2026
Hayam Wuruk dan Kunjungan Agung ke Lamajang
Tahun 1359 Masehi. Hayam Wuruk — raja agung Majapahit yang memerintah di puncak kejayaan kerajaan itu — memulai sebuah tur keliling Jawa Timur yang kemudian diabadikan oleh Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama. Perjalanan ini bukan semata wisata; ia adalah inspeksi kekuasaan, ritual legitimasi, sekaligus diplomatik dalam gerakan.
Nagarakertagama, khususnya pada bagian yang memuat deskripsi perjalanan Hayam Wuruk (sarga 17 hingga 19), menyebutkan wilayah-wilayah yang masuk dalam rute perjalanan agung itu. Lamajang hadir dalam daftar tersebut — sebuah konfirmasi tertulis bahwa kawasan ini bukan peripheral, melainkan bagian dari inti administratif Majapahit yang dianggap cukup penting untuk dikunjungi langsung oleh sang maharaja.
Kunjungan seorang raja ke daerah bawahan di era Majapahit bukan hal sepele. Ia melibatkan penyambutan besar-besaran, penyerahan upeti simbolis, prosesi ritual, dan kemungkinan besar juga pertunjukan seni budaya lokal. Bayangkan Lamajang dalam gemerlap itu — rakyatnya berjejer di jalan, gamelan berbunyi, wewangian d**a mengepul, dan Hayam Wuruk melintas dengan kemegahan penuh.
Ada detail menarik yang sering terlewat: perjalanan Hayam Wuruk bukan hanya tentang kekuasaan militer. Mpu Prapanca mencatat nuansa estetis, spiritual, dan kultural dari setiap tempat yang dikunjungi. Artinya, Lamajang di mata penulis resmi Majapahit adalah tempat yang memiliki identitas kultural yang layak diabadikan — bukan sekadar wilayah pajak.
Ini adalah momentum untuk kita bertanya: apa yang dilihat Hayam Wuruk di Lamajang? Candi apa yang ia singgahi? Pemimpin mana yang ia sambut? Pertanyaan-pertanyaan ini masih terbuka, dan itulah yang membuat penelitian arkeologi di Lumajang menjadi urgen dan menarik.
🌟 Kalau kamu bisa mengajukan satu pertanyaan kepada Hayam Wuruk tentang Lamajang, apa yang ingin kamu tanyakan? Tulis di komentar! 👇 Share postingan ini untuk edukasi sejarah.