06/11/2022
Landscape Banggai Darat catatan Clercq tahun 1890.
Daerah Banggai darat yang berada di bawah Raja Banggai terdiri dari sebelas Distrik atau Kampung dengan Tanjung Api "Ampana" menjadi batas utara (Baca perjanjian Raja Banggai dengan Raja Tojo La Riau tanggal 11 Desember 1887) dan batas selatan Teong didarat. Distrik mereka memiliki nama-nama berikut: Sonoran (Sinorang), Batumi (Batui), Tangkiang (Tangkian), Kenton (Kintom), Mandingo (Mondono), Lontiok, Nambo, Luu (Luwuk), Besame (Masama), Lamala, dan Pokomondolong yang dikenal dengan nama umum Balantak, sedangkan desa-desa di pantai utara semenanjung ini Pati-Pati dan Saloean berada di bawah Mangino dan Boalemo di bawah Mandono, Kentong, dan Tangkiang.
Di Mandono ada utusan atas nama Sultan Ternate. Kepala kampung adalah Sangaji dengan kepala desa yang lebih rendah yang menyandang gelar Kapita dan Diakanyo. Mayoritas penduduk pesisir adalah Muslim kecuali di Kentong (Kintom) ada tempat tinggal sejumlah Alfurus (Alfurus sebutan untuk orang yang belum memeluk agama samawi Islam maupun Kristen). Ada lebih dari tiga ribu penduduk tetapi jumlah penduduk gunung tidak dapat ditentukan.
Tempat perdagangan yang paling penting adalah Pokomondolong atau Balantak disini banyak terdapat padi dengan harga rata-rata 4.- per picul dijual ke Gorontalo. Balantak dikenal dengan tembakau berkualitas baik, yang dengan berat setengah kati dipelintir menjadi tali dan biasanya dijual dengan harga f 0,50 per depa. Daerah ini juga merupakan satu-satunya dimana pohon sagu berlimpah dan oleh karena itu dapat dengan tepat disebut gudang seluruh Banggai.
Banggai Pulau-pulau juga dikenal karena kekayaannya dalam jenis kayu yang tahan lama di antaranya eboni menjadi komuditas penting, sementara di tempat bernama Mambulusan yang milik Liang di Pulau Peleng, antimon atau mika yang menghiasi bagian luar kotak anyaman dan topi digali dari kedalaman empat sampai lima depa. Komoditas lainnya adalah damar dijual dengan harga f 10 sampai F 15 per picul. Sedangkan komoditas rotan tipis dan lilin terutama dari Batumi (Batui) dan Kentong (kintom) dijual hingga F 80 per picul. Beberapa komoditas lainnya ialah kopi yang ditanam di beberapa bukit di Pulau Peleng. Sejumlah kecil sarang burung dari pulau Salui dan musk atau timpaus dibawa ke pasar dengan potongan kecil seharga sepuluh farthings.
Uang umumnya tidak dicari, mereka lebih memilih farthings kuningan tua yang ada adalah seratus dua puluh dalam Gulden, dan di pedalaman gunung yang cockfarthings tua yang ada tiga ratus enam puluh dalam Gulden, selain empat sukus sebanding dengan masing-masing empat puluh sen real Makassar (Mata Uang Makassar) memiliki nilai figuratif f 2 dan sebagian besar digunakan untuk barter linen seperti kain blacu.
Kuda dan sapi utan (Kerbau Kerdil atau Anoa) di Sulawesi, serta tinggalu (luwak sawit), ular air dan sejumlah besar spesies ikan banyak dis**ai bagi umat Islam dan Alfurus. Orang Bajor (Bajo) s**a berburu ikan gergaji, hanya daging ikannya yang mereka makan sedangkan gergaji dibuang tanpa dimanfaatkan, mereka juga mencari tripang dan kura-kura bahkan pada kedalaman sepuluh depa. Orag Bajor (Bajo) menyebut tombak besar mereka dengan sebutan Kalai.
Perdagangan budak di Banggai berhenti sepenuhnya setelah penghapusannya pada tahun 1879. Namun kadang-kadang perdagangan budak masi dilakukan, jika diketahui maka pelaku perdagangan budak akan dibawa ke hadapan dewan negara di Ternate dan dihukum berat.
Sumber: Bijdrage tot de kennis der Residentie Ternate / door F.S.A. de Clercq tahun 1890.
Foto Peta: Banggai tahun 1883