Dusun Banaran Desa Babadan Ngajum

Dusun Banaran Desa Babadan Ngajum Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Dusun Banaran Desa Babadan Ngajum, Tour Agency, Malang.

Berita lama..nemu di blog orang
03/01/2013

Berita lama..nemu di blog orang

Hari : Minggu, 28 Oktober 2007 Lokasi : Dusun Banaran, Desa Babadan, Kec. Ngajum, Kab. Malang Nama Pura : Pura Dharma Rantih Ini diambil saat perjalanan dari Malang menuju rumah Vivi (vivikecil),

Akhir Desember, bertepatan pada tanggal 22 adalah hari yang berbeda bagi para mahasiswa baru di seluruh universitas Mala...
03/01/2013

Akhir Desember, bertepatan pada tanggal 22 adalah hari yang berbeda bagi para mahasiswa baru di seluruh universitas Malang.
Selama 3 hari (22-24 Des 2012) mereka mengikuti berbagai kegiatan. Acara yang diikuti oleh kurang lebih 72 peserta ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat sekitar.
Acara ini bertempat di dukuh ngemplak dusun Banaran desa Babadan kec. Ngajum - Malang.
Adapun kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa ini antara lain kegiatan sosial meliputi donor darah, diskusi bersama warga, malam keakraban dan juga kegiatan temu alumni. Acara berjalan sangat menarik, mahasiswa baru diarahkan untuk menggali secara dalam permasalahan yang dihadapi oleh para warga desa dan juga mencari pemecahan masalah tersebut lewat jalan diskusi. Banyak hal yang ditemui mahasiswa, dari masalah sosial, agama maupun ekonomi.
Acara dharma bhakti yang pertama kali menurut cerita ibu Kadek (pemateri Dharma Bhakti) diadakan pada tahun 1986. Acara pada waktu itu diisi dengan pembangunan penyengker Pura disebuah desa di Malang. Acara dharma Bhakti sempat tidak mendapat sambutan dari warga. Namun dengan lobi - lobi dan manfaat yang dirasakan warga, acara dharma bhakti dapat berlangsung hingga tahun 2012 ini.
Harapannya, acara dharma bhakti dapat tetap berjalan terus menerus, dari generasi ke genarasi. Karena disinilah kebersamaan dan kepedulian mahasiswa baru dapat dibentuk untuk kemajuan umat seDharma.
Satyam Eva Jayate!

03/01/2013

Senin, 16/07/2012 ... 80 pembaca
Bupati Candra Punia Seperangkat Gong Baleganjur Untuk Umat Hindu Di Malang

Semarapura , Bupati Candra memberikan Punia seperangkat Gong Baleganjur kepada umat Hindu di Kabupaten Malang. Punia Gong Baleganjur ini diserahkan Bupati Candra langsung Kepada Singgih Pandita Tanaya Nirmala di Rumah Jabatan Bupati Klungkung Minggu (15/7) sore kemarin. Dari Pandita Tanaya Nirmala Gong Baleganjur tersebut diserahkan langsung kepada Kundari selaku Sekretaris PHDI Kabupaten Malang, yang mendampingi Pandita menerima Punia tersebut. Pandita Tanaya Nirmala juga didampingi oleh Singgih Pandita istri Widininggsih Nirmala, serta diantar oleh Nengah Suparsa dan Made Agus Wijaya. Punia yang diserahkan Bupati Candra merupakan bantuan secara pribadi sebagai bentuk kepedulian terhadap umat hindu di Kabupaten Malang.

Dari cerita Pandita Tanaya ini bahwa pada tahun 2010 kemarin sempat berkunjung ke Pemda. Kabupaten Klungkung bersama rombongan PHDI Malang, beberapa Pemangku Kabupaten Malang serta para serati Banten, waktu itu diterima oleh Bupati langsung di ruang rapat Praja Mandala. Pada waktu itu kami meminta bantuan berupa Genta, Busana Pemangku (Baju) serta perlengkapan untuk para serati banten. Terkait hal itu, beberapa bulannya, Bupati Candra datang ke Pura Dharma Santi di Dusun Banaran, Desa Babadan Kec. Ngajum, Kab. Malang menyerahkan bantuan tersebut secara langsung. Disanalah kami dengan Bupati Klungkung terjalin komunikasi sehingga Bupati Candra memberikan kami seperangkat Gong Baleganjur ini. “Gong Baleganjur ini bukan untuk saya atau untuk keperluan Pura Dharma Santi semata tetapi Gong ini untuk keperluan umat Hindu yang ada di Kabupaten Malang, saya hanya menjembataninya saja” terang Pandita Tanaya.

Dalam sela-sela pertemuan di Rumah Jabatan Bupati Klungkung, Bupati Tenaya ini mengundang Bupati Klungkung untuk hadir dalam Upacara Ngenteg Linggih di Pura Dharma Santi ini pada Purnama Kapat (30 September) mendatang. Tetapi Bupati Candra menyayangkan hal tersebut karena tidak bisa hadir dalam upacara tersebut. Karena pada tanggal tersebut Bupati Candra harus mengikuti Pelatihan Diklat Kepemerintahan di Harvard School di Amerika Serikat, yang berangkat dari tanggal 17 September dan berakhir tanggal 5 Oktober 2012. Tetapi Bupati Candra akan menyempatkan berkunjung ke Pura Dharma Santi pada bulan Oktober untuk sekedar sembahyang bersama dengan umat di sana.

Dalam wawancara, Bupati Candra menyampaikan bahwa dalam pertemuannya kemarin di Pura Dharma Santi, Pandita Tanaya minta dengan sangat agar dibantu untuk keperluan Gong, walaupun secara pribadi. Karena rasa tanggung jawab dan keyakinan terhadap umat, mendorong juga umat yang ada di Malang untuk bisa belajar tetabuhan termasuk pemahaman sarana upakara. Hal ini termasuk penting, karena seperti di Bali dimana ada upacara, pujawali dan karya pasti gong itu menjadi satu kesatuan. Bupati Candra berharap dengan adanya Gong ini, digunakan tidak hanya terbatas upacara keagamaan tetapi untuk latihan bagi umat dan generasi muda sehingga seni dan budaya di Malang bisa berkembang. Jika nanti sudah berkembang dan ada kemajuan dalam hal memahami seni tabuh, tidak menutup kemungkinan saya akan kirim pelatih tabuh ke malang untuk mengajarkan sekaa gong disana. (humas klungkung)

03/01/2013

Melihat Kampung Hindu Rayakan Kuningan
2 SEPTEMBER 2008 NO COMMENT


Setelah sepuluh hari berperang melawan A Dharma (keburukan), umat Hindu akhirnya merayakan Kuningan, kemarin. Hari raya ini merupakan simbol kemenangan perang antara Dharma VS A Dharma yang dimulai sejak Hari Raya Galungan, 10 hari lalu.

Begitup**a dengan masyarakat Hindu yang merayakan di kampung Hindu, Dusun Banaran, Desa Babadan Kecamatan Ngajum, kemarin. Sebelum masuk dusun ini sudah terasa sekali jika penduduk di sana mayoritas beragama Hindu. Sepanjang dua kilometer sebelum masuk dusun yang terletak di lereng Gunung Kawi itu, sudah terlihat penjor berderet dari kejauhan. Dari dekat, pelinggih (papan sesaji) di tiap halaman rumah warga makin meyakinkan bahwa kampung ini merupakan kampung Hindu.

“Dari 225 KK pendudukan dusun sini, sekitar 175 KK adalah umat Hindu,” ujar Singgih Pandita Tanaya Nirmala di kediamannya.

Singgih Pandita atau Pedande Tanaya Nirmala merupakan satu dari dua petinggi Hindu di Malang Raya. Sri Begawan umat Hindu tersebut masih satu letting dengan Singgih Pandita Putra Nirmala yang bermukim di Kecamatan Singosari. Bahkan, karena telah lahir dua kali, dua Singgih Pandita itu merupakan tokoh besar umat Hindu di Jawa Timur.

“Singgih Pandita bertugas melaksanakan Surya Sevana yakni berdoa untuk keselamatan jagad beserta isinya. Kami harus melalui tapa brata cukup berat, setelah lulus baru memakai simbol Dwi Jati (ciri disucikan),” paparnya.

Dwi Jati tersebut diletakkan di bawah gelungan rambut model Majapahit milik Singgih Pandita Tanaya Nirmala. Dwi Jati berupa bunga sepatu beserta daunnya, ujung daun dipasang dengan ujung menghadap depan persis di bawah gelungan rambut. Dengan simbol itu, berarti Singgih Pandita Tanaya Nirmala telah lahir dua kali, yakni lewat ibu dan lewat Nabi (Guru).

“Perayaan Kuningan telah berakhir pada pukul 12 siang tadi, karena sesuai kitab, para dewa dan leluhur telah kembali ke alam Moksa. Namun Hindu juga fleksibel, bagi mereka yang bekerja diperkenankan merayakan pada malam hari nanti,” terangnya disinggung soal Kuningan.

Pada dasarnya, dalam satu tahun Umat Hindu Dharma merayakan enam kali besar. Yaitu Nyepi dan Siwaratri satu tahun sekali, serta perayaan enam bulanan (pitungan wukon) terdiri dari Saraswati, Pagerwesi, Galungan dan Kuningan. Singgih Pandita Tanaya menjelaskan bahwa perayaan Galungan dan Kuningan merupakan satu kesatuan.

“Sebelum Galungan kita adakan hari Penampa (membunuh hewan keperluan upacara), baru memasuki peperangan antara A Dharma dan Dharma di jagad meliputi Jagad Agung (raya) dan Jagad Alit (dunia manusia) selama 10 hari,” paparnya.

Peperangan itu kemudian dimenangkan Dharma yang ditandai dengan perayaan Galungan. Disimbolkan umat Hindu dengan mendirikan penjor-penjor, serta memberi daksina (cok bakal/bibit) di pelinggih. Cok bakal merupakan simbol dimulainya kehidupan baru, karena diisi oleh bibit kelapa, telor mentah, jagung, pari dan biji-bijian.

“Ditambah p**a sesaji hasil bumi dan lauk pauk, lantas umat diwajibkan melakukan panjat terima kasih kepada dewa, dengan Tri Sandhya (tiga sembahyang) dan panca sembah di pelinggih atau pura masing-masing,” pungkasnya.(ary/eno) (Ary Bagus Wicaksono/malangpost)

Address

Malang
65164

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dusun Banaran Desa Babadan Ngajum posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Dusun Banaran Desa Babadan Ngajum:

Share

Category