03/01/2013
Melihat Kampung Hindu Rayakan Kuningan
2 SEPTEMBER 2008 NO COMMENT
Setelah sepuluh hari berperang melawan A Dharma (keburukan), umat Hindu akhirnya merayakan Kuningan, kemarin. Hari raya ini merupakan simbol kemenangan perang antara Dharma VS A Dharma yang dimulai sejak Hari Raya Galungan, 10 hari lalu.
Begitup**a dengan masyarakat Hindu yang merayakan di kampung Hindu, Dusun Banaran, Desa Babadan Kecamatan Ngajum, kemarin. Sebelum masuk dusun ini sudah terasa sekali jika penduduk di sana mayoritas beragama Hindu. Sepanjang dua kilometer sebelum masuk dusun yang terletak di lereng Gunung Kawi itu, sudah terlihat penjor berderet dari kejauhan. Dari dekat, pelinggih (papan sesaji) di tiap halaman rumah warga makin meyakinkan bahwa kampung ini merupakan kampung Hindu.
“Dari 225 KK pendudukan dusun sini, sekitar 175 KK adalah umat Hindu,” ujar Singgih Pandita Tanaya Nirmala di kediamannya.
Singgih Pandita atau Pedande Tanaya Nirmala merupakan satu dari dua petinggi Hindu di Malang Raya. Sri Begawan umat Hindu tersebut masih satu letting dengan Singgih Pandita Putra Nirmala yang bermukim di Kecamatan Singosari. Bahkan, karena telah lahir dua kali, dua Singgih Pandita itu merupakan tokoh besar umat Hindu di Jawa Timur.
“Singgih Pandita bertugas melaksanakan Surya Sevana yakni berdoa untuk keselamatan jagad beserta isinya. Kami harus melalui tapa brata cukup berat, setelah lulus baru memakai simbol Dwi Jati (ciri disucikan),” paparnya.
Dwi Jati tersebut diletakkan di bawah gelungan rambut model Majapahit milik Singgih Pandita Tanaya Nirmala. Dwi Jati berupa bunga sepatu beserta daunnya, ujung daun dipasang dengan ujung menghadap depan persis di bawah gelungan rambut. Dengan simbol itu, berarti Singgih Pandita Tanaya Nirmala telah lahir dua kali, yakni lewat ibu dan lewat Nabi (Guru).
“Perayaan Kuningan telah berakhir pada pukul 12 siang tadi, karena sesuai kitab, para dewa dan leluhur telah kembali ke alam Moksa. Namun Hindu juga fleksibel, bagi mereka yang bekerja diperkenankan merayakan pada malam hari nanti,” terangnya disinggung soal Kuningan.
Pada dasarnya, dalam satu tahun Umat Hindu Dharma merayakan enam kali besar. Yaitu Nyepi dan Siwaratri satu tahun sekali, serta perayaan enam bulanan (pitungan wukon) terdiri dari Saraswati, Pagerwesi, Galungan dan Kuningan. Singgih Pandita Tanaya menjelaskan bahwa perayaan Galungan dan Kuningan merupakan satu kesatuan.
“Sebelum Galungan kita adakan hari Penampa (membunuh hewan keperluan upacara), baru memasuki peperangan antara A Dharma dan Dharma di jagad meliputi Jagad Agung (raya) dan Jagad Alit (dunia manusia) selama 10 hari,” paparnya.
Peperangan itu kemudian dimenangkan Dharma yang ditandai dengan perayaan Galungan. Disimbolkan umat Hindu dengan mendirikan penjor-penjor, serta memberi daksina (cok bakal/bibit) di pelinggih. Cok bakal merupakan simbol dimulainya kehidupan baru, karena diisi oleh bibit kelapa, telor mentah, jagung, pari dan biji-bijian.
“Ditambah p**a sesaji hasil bumi dan lauk pauk, lantas umat diwajibkan melakukan panjat terima kasih kepada dewa, dengan Tri Sandhya (tiga sembahyang) dan panca sembah di pelinggih atau pura masing-masing,” pungkasnya.(ary/eno) (Ary Bagus Wicaksono/malangpost)