03/04/2026
Pernah tersandung sanksi. Pernah dinonjobkan. Namun hari ini, sosok yang sama justru kembali dilantik, duduk manis di kursi kekuasaan—seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Inilah potret buram birokrasi kita: hukuman tak lagi menjadi pelajaran, melainkan sekadar jeda sebelum kembali berkuasa. Publik pun dibuat bertanya—apa sebenarnya makna sanksi, jika pada akhirnya bisa dihapus oleh keputusan politik?
Lebih ironis lagi, pelantikan itu dilakukan oleh pemimpin baru yang seharusnya membawa semangat perubahan. Alih-alih menghadirkan wajah-wajah bersih dan berintegritas, yang muncul justru nama lama dengan catatan kelam.
Apakah ini bentuk kompromi? Balas jasa? Atau sekadar bukti bahwa sistem kita masih lemah terhadap praktik kedekatan dan kepentingan?
Yang jelas, kepercayaan publik kembali dipertaruhkan. Ketika pejabat bermasalah diberi panggung kedua, pesan yang sampai ke masyarakat sangat berbahaya: bahwa kesalahan bukan akhir, selama masih punya koneksi dan kekuasaan.
Jika ini terus dibiarkan, jangan salahkan rakyat ketika mereka mulai kehilangan harapan. Karena yang mereka lihat bukan lagi keadilan—melainkan lingkaran kekuasaan yang terus berputar di orang-orang yang sama.