26/07/2026
SUARA YANG TIDAK PERLU DIKEMAS
Sebuah Ulasan atas Tragedi Tabanan, Bali 24 Juli 2026
Jumat dini hari. Pukul 01.30 WITA.
Di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali seorang pria berinisial KD tertangkap tangan diduga mencuri seekor ayam aduan milik I Wayan Adi Suteja.
Satu ayam.
Warga emosi karena maraknya kasus kehilangan ayam di wilayah tersebut, kemudian melakukan pengeroyokan terhadap terduga pelaku hingga meninggal dunia di lokasi kejadian.
Saat petugas Polsek Baturiti tiba di lokasi sekitar pukul 02.00 WITA β terduga pelaku sudah meninggal dunia.
Tiga puluh menit. Dari tertangkap hingga meninggal.
KD meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Anak sulungnya telah berkeluarga. Anak keduanya duduk di bangku kelas 1 SMA. Anak bungsunya masih kelas 1 SD.
Di tengah kerumunan para pelayat, bocah perempuan itu menangis histeris melihat jenazah ayahnya ditandu. Ia terus memanggil. "Bapak, bapak, bapak."
Sampai di sini, kita berhenti sebentar.
Bukan untuk menganalisis. Hanya untuk membiarkan kalimat itu duduk di tempatnya β dan merasakan beratnya.
"Bapak, bapak, bapak."
I. TENTANG APA YANG KITA TIDAK TAHU β DAN MENGAPA ITU PENTING
Sebelum melanjutkan, ada satu hal yang harus diletakkan di awal dan tidak boleh digeser dari sana: KD adalah terduga pencuri. Bukan pencuri yang terbukti.
Ini bukan permainan kata. Ini fondasi dari seluruh peradaban hukum yang pernah dibangun manusia selama ribuan tahun. Dari Hammurabi sampai Magna Carta sampai UUD 1945 semuanya berdiri di atas satu prinsip yang sama: seseorang tidak bersalah sampai dibuktikan oleh proses yang adil.
Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pukul 01.30 itu. Kita tidak tahu apakah KD memang berniat mencuri, atau tersesat, atau ada alasan lain yang tidak pernah bisa dia jelaskan karena dia tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara.
Yang kita tahu hanya hasilnya: dia meninggal. Dan seorang anak kelas 1 SD kehilangan ayahnya.
Kebenaran yang tidak bisa kita ketahui itu adalah bagian dari tragedi yang paling sering diabaikan.
II. TENTANG MASSA β DAN BAGAIMANA MANUSIA NORMAL BISA MELAKUKAN INI
Ini yang paling sulit untuk ditulis dengan jujur, karena jawabannya tidak nyaman.
Orang-orang yang mengeroyok KD hampir pasti bukan monster. Mereka adalah tetangga, bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda desa biasa. Orang-orang yang pada hari sebelumnya mungkin membantu tetangga mereka mengangkat barang. Orang-orang yang malam itu tidur dan terbangun karena kabar ada pencuri.
Psikologi menyebut ini deindividuasi fenomena di mana seseorang yang bergabung dengan massa secara bertahap kehilangan kesadaran akan identitas pribadinya. Tanggung jawab individual menjadi kabur ketika melebur dalam kelompok. Yang tersisa adalah energi kolektif yang tidak lagi d**endalikan oleh pertimbangan moral individual.
Tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari psikologi massa yang perlu dipahami.
Warga sudah cukup lama mengeluhkan kasus kehilangan ternak ayam di wilayah tersebut.
Di sini terletak akar yang sering dilewatkan: amarah yang meledak dini hari itu bukan spontan. Ia adalah akumulasi. Akumulasi dari laporan yang mungkin tidak ditindaklanjuti. Akumulasi dari rasa tidak aman yang tidak dijawab oleh sistem. Akumulasi dari pertanyaan "ke mana polisi ketika kami butuhkan?" yang sudah ditanyakan berulang kali tanpa jawaban yang memuaskan.
Ini tidak membenarkan apa yang terjadi. Tidak ada pembenaran untuk itu. Tapi ini menjelaskan mengapa dan penjelasan itu penting, karena tanpanya kita tidak akan bisa mencegah kejadian serupa.
Massa tidak muncul dari kevakuman. Massa muncul dari sistem yang gagal mengisinya.
III. TENTANG KEGAGALAN SISTEM β YANG SELALU HADIR TERLAMBAT
Personel Polsek Baturiti menerima laporan masyarakat sekitar pukul 02.00 WITA dan langsung mendatangi lokasi. Saat tiba di tempat kejadian, petugas mendapati terduga pelaku telah meninggal dunia.
Tiga puluh menit. Negara tiba tiga puluh menit terlambat. Tapi "terlambat" di sini bukan soal waktu respons. Terlambat yang sesungguhnya sudah terjadi jauh sebelum malam itu. Terlambat hadir ketika warga pertama kali melaporkan kehilangan ayam. Terlambat hadir ketika rasa tidak aman itu mulai menumpuk di desa itu. Terlambat hadir ketika kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum perlahan erosi.
Kades Sidetapa I Made Sutama berkata dengan sangat sederhana dan sangat tepat: "Kesalahan orang pasti ada, tetapi janganlah gara-gara hanya mencuri ayam sampai menghilangkan nyawa orang. Kalau memang bersalah, laporkan ke pihak berwajib."
Benar. Tapi pertanyaan yang mengikuti ucapan itu adalah: apakah warga percaya bahwa melaporkan ke pihak berwajib akan menghasilkan sesuatu?
Setiap kasus main hakim sendiri di Indonesia dari yang paling kecil sampai yang paling brutal bisa ditelusuri ke satu akar yang sama: erosi kepercayaan terhadap sistem yang seharusnya menjadi satu-satunya yang boleh menggunakan kekerasan atas nama keadilan Ketika negara tidak dipercaya mampu menyelenggarakan keadilan rakyat menyelenggarakannya sendiri. Dan keadilan yang diselenggarakan oleh amarah kolektif tanpa prosedur, tanpa bukti, tanpa hak membela diri selalu berakhir dengan sesuatu yang tidak bisa disebut keadilan.
IV. TENTANG ANAK ITU β DAN APA YANG AKAN DIA BAWA SEUMUR HIDUP
Dengan suara bergetar, ia terus memanggil ayahnya sambil menangis di hadapan jasad sang ayah.
Ada sebuah konsep dalam psikologi trauma yang disebut imprinted memory kenangan yang terpatri begitu dalam karena intensitas emosinya, sehingga tidak bisa dihapus oleh waktu. Anak kelas 1 SD itu tidak akan mengingat wajah ayahnya saat tertawa. Tidak akan mengingat suara ayahnya saat bercerita. Yang akan terpatri untuk selamanya, dalam cara yang tidak bisa diubah oleh siapapun adalah gambar dini hari itu. Kerumunan. Orang-orang dewasa. Dan tubuh yang tidak bergerak.
"Bapak, bapak, bapak."
Kalimat itu akan terus diucapkannya dalam mimpi-mimpi yang tidak bisa dia pilih untuk tidak datangi.
Ini adalah warisan yang tidak diminta oleh siapapun. Bukan oleh anak itu. Bukan oleh ayahnya apapun yang dilakukan ayahnya. Bukan oleh ibu dan dua saudaranya yang kini harus melanjutkan hidup tanpa sosok yang tidak pernah mendapat kesempatan membela diri.
Kementerian Hak Asasi Manusia mendorong perlindungan dan pendampingan bagi anak serta keluarga korban yang terdampak kasus penganiayaan.
Pendampingan itu penting. Tapi pendampingan tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang. Dan tidak ada institusi yang bisa hadir ke dalam mimpi seorang anak untuk menenangkannya.
V. TENTANG KEADILAN β DAN MENGAPA AMARAH TIDAK BISA MENJADI PENGGANTINYA
Filsuf Yunani kuno membedakan dua konsep yang dalam bahasa Indonesia kita terjemahkan sama-sama sebagai "keadilan": d**e keadilan sebagai proses yang adil dan nemesis pembalasan yang proporsional atas kesalahan.
Yang terjadi dini hari di Tabanan itu bukan d**e. Itu tidak bisa disebut keadilan dalam pengertian apapun yang bermartabat. Tapi itu juga bukan semata-mata nemesis karena pembalasan pun mensyaratkan bukti bahwa kesalahan benar-benar terjadi. Yang terjadi adalah sesuatu yang lebih primitif: reaksi. Akumulasi frustrasi yang menemukan objek, dan meledak tanpa filter apapun.
Dan di sinilah pertanyaan filsafat yang paling mendasar dari seluruh tragedi ini: Jika keadilan hanya bisa ditegakkan oleh sistem dan sistem tidak lagi dipercaya apa yang mengisi ruang kosong di antaranya?
Jawabannya, seperti yang kita saksikan, adalah amarah. Dan amarah yang menjadi pengganti keadilan tidak pernah menghasilkan kedamaian. Ia hanya menghasilkan lebih banyak duka termasuk duka yang kini ditanggung oleh orang-orang di desa itu sendiri, yang malam itu mungkin ikut terlibat dan kini harus hidup bersama apa yang mereka lakukan.
VI. TENTANG KITA β YANG MENONTON DAN BEREAKSI
Ada satu hal lagi yang perlu dikatakan, meskipun tidak nyaman. Kita yang menonton video itu, yang membagikannya, yang berkomentar di kolom komentar juga bagian dari cerita ini.
Ada bahaya dalam cara kita mengonsumsi tragedi. Ketika video seorang anak menangis di depan jenazah ayahnya menjadi konten yang viral kita perlu bertanya kepada diri sendiri: untuk apa kita menonton? Untuk memahami? Untuk berempati? Atau karena algoritma membawa kita ke sana dan kita tidak bisa berpaling?
Kesedihan anak itu bukan konten. Itu kehidupan nyata yang paling menyakitkan.
Menonton dan memahami itu bermartabat. Menonton dan membagikan tanpa refleksi itu mempertontonkan duka seseorang sebagai tontonan. Dan ada perbedaan yang sangat nyata di antara keduanya.
YANG TERSISA SETELAH SEMUA KATA
Kepala Desa Sidetapa I Made Sutama mengaku terpukul saat menjemput jenazah korban. Ia tak kuasa melihat anak-anak KD menangis kehilangan ayah mereka. "Saya sedih melihat anak-anaknya menangis kehilangan ayahnya."
Kades itu tidak memerlukan teori psikologi untuk merasakan apa yang benar dan apa yang salah. Dia hanya melihat anak-anak yang menangis. Dan itu cukup.
Mungkin di situ letak kebenaran yang paling sederhana dari seluruh tragedi ini:
Sebelum kita menjadi bagian dari massa sebelum energi kolektif mengambil alih pertimbangan individual ada satu pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri sendiri: Jika saya adalah satu-satunya orang di sini, apakah saya masih akan melakukan ini?
Jika jawabannya tidak maka kita sedang kehilangan diri kita sendiri di dalam kerumunan.
Dan di suatu tempat di Buleleng, seorang anak kelas 1 SD sekarang tidur dalam dunia yang berbeda dari dunia yang dia kenal kemarin.
Dunia tanpa bapaknya.
Untuk kejadian yang tidak seharusnya terjadi.
Karena seekor ayam.
Ditulis dengan hormat kepada semua yang terlibat dalam tragedi ini termasuk mereka yang tidak bisa lagi berbicara untuk dirinya sendiri, dan mereka yang harus melanjutkan hidup dengan beban yang tidak mereka pilih.
(Radar Kognisia)
Prabowo Subianto Divisi Humas Polri DPR RI