eNCe INDONESIA

eNCe INDONESIA Komunitas,Pemberi Informasi Pariwisata,Seni dan Budaya Kami selalu berusaha tetap baik

Agar bonsai terlihat indah dan menarikJangan sampai salah arah, wajib memakai rumus dan polaDalam seni bonsai, pengaraha...
18/03/2026

Agar bonsai terlihat indah dan menarik
Jangan sampai salah arah, wajib memakai rumus dan pola

Dalam seni bonsai, pengarahan cabang (membentuk arah dan posisi cabang) biasanya memakai kawat bonsai (wiring). Tidak ada “rumus matematika”, tetapi ada prinsip atau pola dasar agar bentuk bonsai terlihat alami dan seimbang.
Berikut prinsip yang sering dipakai:

1. Pola Segitiga (Triangular Form)
Bentuk dasar bonsai umumnya mengikuti segitiga imajiner.
Puncak pohon = titik atas segitiga
Cabang kiri dan kanan = dasar segitiga
Tujuan:
Memberi kesan stabil dan alami.

2. Rumus Penempatan Cabang (1–2–3 Rule)
Urutan cabang biasanya:
Cabang pertama → ke arah kiri atau kanan
Cabang kedua → ke arah berlawanan
Cabang ketiga → ke arah belakang (memberi kedalaman)
Setelah itu cabang berikutnya bergantian kiri–kanan sambil naik ke atas.

3. Sudut Cabang Ideal
Cabang pertama: 45°–60° dari batang
Cabang berikutnya sedikit lebih naik
Cabang dekat pucuk lebih tegak
Ini memberi kesan pohon tua yang alami.

4. Jarak Antar Cabang
Biasanya mengikuti prinsip mengecil ke atas:
Cabang bawah lebih panjang
Cabang atas lebih pendek
Kadang dipakai perkiraan:
Cabang pertama ≈ 1/3 tinggi pohon
Cabang kedua sedikit lebih pendek

5. Teknik Wiring (Kawat)
Aturan dasar kawat:
Sudut lilitan kawat sekitar 45°
Ketebalan kawat ≈ 1/3 ketebalan cabang
Tekuk cabang perlahan, jangan sekali tekan.

6. Cabang yang Biasanya Dihilangkan
Dalam bonsai biasanya dipotong:
Cabang yang tumbuh lurus ke atas
Cabang menyilang
Cabang mengarah ke depan batang
Cabang yang tumbuh dari titik yang sama

✅ Ringkasnya rumus sederhana pengarahan cabang bonsai:
Kiri → kanan → belakang → kiri → kanan (bergantian) + bentuk segitiga


Banjir melanda sebuah jalan di Tanjung Pura, kemungkinan di lokasi yang sekarang bernama Jl. Raya Banda Aceh - Medan, de...
04/12/2025

Banjir melanda sebuah jalan di Tanjung Pura, kemungkinan di lokasi yang sekarang bernama Jl. Raya Banda Aceh - Medan, dekat salah satu jalan kecil menuju Jl. Tanjung.
Aksara Tionghoa terlihat di sudut jalan, dengan tanda Standard Oil Company of New York di bawahnya. Ini berarti foto ini pasti diambil setelah tahun 1915, karena Standard Oil Company baru mulai beroperasi di Sumatera Utara setelah tahun tersebut. (Lekkerkerker, Land en Volk van Sumatra, 1915).
Source : wereldmuseum.nl

Sering merasa terganggu dengan capung yang terbang di sekitar taman? Pikir-pikir lagi sebelum mengusirnya! Capung sebena...
01/12/2025

Sering merasa terganggu dengan capung yang terbang di sekitar taman? Pikir-pikir lagi sebelum mengusirnya! Capung sebenarnya adalah predator paling efisien dan sahabat terbaik manusia dalam mengendalikan pop**asi nyamuk.

Fakta menakjubkan: Satu ekor capung dewasa mampu memangsa mulai dari 30 hingga lebih dari 100 nyamuk dalam satu hari! Mereka adalah pemburu udara yang sangat tangkas dengan tingkat keberhasilan tangkapan hingga 95%.

Tidak hanya itu, saat masih dalam fase larva (nimfa) di dalam air, capung juga merupakan predator rakus yang memakan jentik-jentik nyamuk.

Jadi, mereka membasmi nyamuk dari siklus hidup awalnya hingga dewasa. Membiarkan capung hidup di sekitar rumah adalah cara alami, gratis, dan efektif untuk mengurangi risiko penyakit demam berdarah dan gangguan nyamuk lainnya

12/11/2025
AL-YABAN Negeri yang Akan Membawa Kejayaan Islam di Akhir Zaman?   Sebuah kitab yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi...
09/10/2025

AL-YABAN
Negeri yang Akan Membawa Kejayaan Islam di Akhir Zaman?




Sebuah kitab yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra dengan judul “Al-Jifr A’zham” yang memuat pernyataan-pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib ra tentang akhir zaman yang diperolehnya dari Baginda Rasulullah saw, menyebutkan adanya sebuah negeri yang akan membawa Kejayaan Islam di akhir zaman bernama NEGERI AL-YABAN, yang disebutkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mayoritas penduduk negeri itu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Penduduk negeri itu berasal dari golongan ‘Ajam yakni orang-orang non Arab.
3. Penduduk negeri itu baik-baik dan banyak yang dapat membaca Al-Quran.
4. Negeri itu memiliki tanah yang sangat luas dan banyak orang yang hijrah (berpindah) ke negeri itu.
5. Negeri itu memiliki p**au yang jumlahnya lebih dari ratusan dan di negeri itu tinggal keturunan-keturunan Rasulullah (para habib dan sayyid).
6. Negeri itu banyak dinaungi oleh gunung-gunung yang besar dan di negeri itu sering terjadi gempa.
7. Negeri itu menjalin hubungan luar negeri dengan negeri-negeri yang ada di sekitarnya, yakni Negeri CHINA yang berada di Timur Jauh dan Negeri yang berada di belakang Laut Kuning yang namanya sesuai dengan nama rajanya yang dahulu, yang bernama KOREO (maksudnya Negeri KOREA).
8. Di akhir zaman, negeri ini akan menjadi Jaya (mencapai puncak kejayaannya), dimana semua p**au-p**au yang dimilikinya akan dibuka dan terbuka pada masa Imam Mahdi dan Nabi Isa as.
Dan Negeri yang memiliki delapan ciri-ciri di atas disebut dalam Kitab Al-Jifr A’zham dengan nama AL-YABAN, yang diterjemahkan dengan keliru ke dalam Bahasa Indonesia sebagai NEGERI JEPANG. Padahal jika kita mencermati kedelapan ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka ciri-ciri tersebut jelas-jelas merujuk kepada ciri-ciri yang dimiliki oleh INDONESIA dan bukan JEPANG.
Nah pertanyaannya adalah mengapa kata AL-YABAN dalam Kitab Al-Jifr A’zham tersebut bisa diterjemahkan sebagai NEGERI JEPANG?
Jawabnya karena kata AL-YABAN merupakan pelafalan dari kata AL-YAVAN dalam lisan orang Arab, sebagaimana nama SWARNADVIPA (nama Pulau Sumatera dalam Bahasa Sansekerta) diucapkan dalam lisan orang arab sebagai SUWARANDIB. Dan bukan sebuah kebetulan p**a jika dalam Peta Kuno PULAU JAWA versi Belanda terdapat daerah yang bernama DJAPAN yang mirip dengan JEPANG.
DR. Menachem Ali dalam bukunya yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” menyebutkan bahwa kata YAVAN merupakan istilah serapan dari Bahasa Vedic Sanskrit (Sansekerta), yang berasal dari kosakata “YAVA-DVIPAM” yang kemudian mengalami proses transliterasi menjadi “JAWA DWIPA” yang berarti PULAU JAWA.
Sehingga sampai disini, kita menjadi paham bahwa ternyata NEGERI AL-YABAN yang merupakan pelafalan dari kata AL-YAVAN dalam lisan orang Arab, yang disebutkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib ra dalam Kitabnya yang berjudul Al-Jifr A’zham sebagai Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya di akhir zaman, merujuk kepada NEGERI NUSANTARA dimana PULAU JAWA menjadi bagian darinya.
Dalam buku yang berjudul “Java: Past & Present A Description of The Most Beautiful Country In The World, Its Ancient History, People, Antiquities, And Products”, yang ditulis oleh Donald Maclaine Campbell pada tahun 1915 Masehi, disebutkan sbb, \
“Javana or Yavana, or abridged Java, was also the name given only to Sumatra, but also to portions of Borneo and of the Malay Peninsula (probably Pahang) besides the whole of Indo-China.”
Terjemahan:
“JAVANA atau YAVANA, atau seringkali hanya disebut sebagai JAVA, adalah nama yang diberikan tidak hanya untuk Pulau Sumatera, tetapi juga untuk sebagian Pulau Borneo (Kalimantan) dan Semenanjung Malaysia (mungkin Pahang), disamping itu juga mencakup seluruh kep**auan Indo-China.”
Jadi jelas adanya bahwa yang dimaksud dengan YAVANA atau YAVAN atau AL-YAVAN sesungguhnya merujuk kepada wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China.
Teritori wilayah Nusantara inilah yang pada masa penyebaran Islam oleh Syekh Jumadil Kubro (kakek Sunan Ampel), Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri), dan Sunan Ampel (ayahanda Sunan Bonang) sebagai generasi pertama Wali Songo disebut sebagai “JAWI” yang merujuk kepada wilayah Nusantara yang mencakup Malaka (Malaysia), Pasai (Aceh) dan Ampeldenta (Surabaya).
Baru kemudian pada masa Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri lah teritori “JAWI” ini meluas hingga wilayah Nusantara yang mencakup Aceh, Minangkabau, Palembang, Banjar (Kalimantan), Lombok (NTB), Timor (NTT), Makassar (Sulawesi) hingga Ambon (Maluku). Jangkauan teritori ini merupakan wilayah penyebaran Islam oleh Sunan Giri dan murid-muridnya, dimana keseluruhan teritori itu semua kemudian disebut sebagai “JAWI”.
Penyebutan YAVANA atau YAVAN atau AL-YAVAN sebagai wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China dengan sebutan JAWI oleh Wali Songo ini tentunya bukan tanpa dasar.
Perhatikan ini …
Dalam buku “Historis of The Cultivated of Vegetables: Comprising Their Botanical, Medical, Edible and Chemical” yang ditulis oleh Hendry Philips pada tahun 1822 Masehi menyebutkan sbb,
“In old literature reference of the west, before 595 BC, mentioned ‘Calamus’ who traded in western market, that was from East Indies (Indonesia now) and/or also was mentioned term ‘JAVAN’ (‘JAVAN’ is grandson Noah namely) or western people call: ‘JAVA’ or now We know is Jawa Island and/or Java Island (in Sanscret: ‘YAVANA’ or ‘YAWANA’), which explained by Prophet Ezekiel 595 BC and also Alexander the Great era.”
Terjemahan:
“Dalam Literatur Kuno yang berasal dari tahun 595 Sebelum Masehi, disebutkan bahwa ‘CALAMUS’ (sejenis bambu) yang diperjualbelikan di Pasar Barat, berasal dari India Timur (Indonesia sekarang) dan atau juga disebut sebagai ‘JAVAN’ (JAVAN adalah cucu dari Nabi Nuh) atau orang-orang barat menyebutnya ‘JAVA’ atau sekarang kita menyebutnya sebagai ‘PULAU JAWA’ atau ‘PULAU JAVA’ (dalam Bahasa Sansekerta disebut ‘YAVANA’ atau ‘YAWANA’) sebagaimana disebutkan oleh Nabi Ezekiel pada tahun 595 Sebelum Masehi dan juga pada era Alexander Agung.”
Dan dalam buku “Java: Past & Present A Description Of The Most Beautiful Country In The World, Its Ancient History, People, Antiquities, And Products” yang ditulis olej Donald Maclaine Campbell pada tahun 1915, disebutkan bahwa:
“Pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan seni, berbicara secara luas tentang Japhetic, dan hanya tentang Japhetic saja. Hal ini menjadi alasan yang menjelaskan bahwa penduduk awal Pulau JAWA atau Pulau JAVA, saya ulangi, adalah ras asli yang muncul dari keempat putra JAPHET, dan suku atau masyarakat p**au itu disebut dengan memakai nama putranya. Ras JAWA atau Ras JAVAN ini, selain menyebar ke Hindia Timur, Kamboja, Siam, juga ditemukan di Suriah dan Yunani.”
Jadi dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa YAVAN atau YAVANA itu berasal dari nama cucu Nabi Nuh as yang bernama JAVAN bin JAPHET, yang kemudian menjadi Penduduk awal atau Ras Asli Pulau JAWA yang dalam bahasa sansekerta disebut sebagai YAVA-DVIPAM atau YAWA DWIPA.
Lantas bagaimana ceritanya, YAVAN atau YAVANA yang berasal dari nama cucu Nabi Nuh as yang bernama JAVAN bisa dikaitkan oleh para Wali Songo menjadi JAWI, sementara dalam penjelasan di atas hanya disebutkan bahwa JAVAN adalah penduduk awal atau Ras Asli Pulau JAWA, tanpa embel-embel kata JAWI.
Jawabnya ada dalam Teks Masoret Perjanjian Lama Berbahasa Ibrani berikut ini,
"Inilah keturunan Shem, Ham dan JAPETH, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu, lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka."
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:1 )
"(Sedangkan) Keturunan JAPETH adalah Gomer, Magog, Madai, JAVAN, Tubal, Mesekh dan Tiras.”
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:2 )
"Inilah kep**auan GOWI dari keturunan JAPETH, yang masing-masing terbagi menurut tanah mereka, menurut bahasa mereka, dan menurut kaum mereka."
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:5 )
Teks Masoret Perjanjian Lama di atas, menyebutkan bahwa keturunan JAPETH bin NUH, termasuk JAVAN adalah penduduk awal Kep**auan GOWI. Nah kata GOWI disini ternyata dalam Bahasa Ibrani diutulis dengan huruf: GIMEL, VAV dan YOD yang jika ditulis dalam huruf Arab akan menjadi JIM, WAW dan YA yang akan dibaca sebagai JAWIYYI atau JAWI.
Jadi para wali songo itu sebenarnya sudah sangat tepat jika mereka menyebut YAVAN atau YAVANA yang berasal dari kata JAVAN (yakni dari nama JAVAN bin JAPETH bin NUH) sebagai JAWI yang mencakup wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China sebagai tempat tinggal keturunan JAPETH bin NUH.
Mudah-mudahan sampai disini bisa dipahami ya.
Sekarang kita kembali ke bahasan tentang Ramalan Negeri Timur…
Ramalan tentang Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya di akhir zaman, ternyata tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jifr A’zham, namun juga disebutkan dalam Kitab yg ditulis oleh Sunan Sendang Duwur (nama aslinya adalah Raden Noer Rahmad, putra dari Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad, Irak, lahir pada tahun 1520 Masehi dan wafat pada tahun 1585 Masehi).
Menurut penuturan Kyai Haji Abdul Ghafur, pengasuh pondok pesantren Sunan Drajad yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur, disebutkan bahwa sekitar tahun 900-an Masehi, para wali allah yang disebut dengan Wali Abdal yang berjumlah 40 orang, berkumpul di Baghdad (Irak) melakukan rapat pleno untuk mengkaji salah satu hadits Rasulullah saw yang menubuwatkan kejayaan Islam akan bangkit dari Timur. Daerah timur sebelah mana, ternyata dalam hadits juga tidak dijelaskan oleh Rasulullah saw.
Setelah bermusyawarah, akhirnya para Wali Abdal ini memutuskan untuk mencari Negeri yang berada di timur. Tapi para Wali Abdal ini masih bingung tentang lokasi negeri yang dimaksud. Namun salah satu wali abdal berucap, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda bahwa ciri penduduk negeri itu ada dua, yakni pertama memiliki ciri-ciri fisik yang berada “di tengah-tengah", dan yang kedua, penduduknya memiliki tingkah laku yang baik.
Akhirnya para wali melakukan kajian secara geografis, sosiologis dan antropologis. Dicarilah suatu daerah yang secara geografis strategis dan subur, secara sosiologis memiliki peradaban, akhlak dan kebudayaan yang baik, serta secara antropologis berperawakan sedang, tidak pendek dan juga tidak terlalu tinggi, kulitnya tidak hitam dan juga tidak terlalu putih, rambutnya tidak keriting dan juga tidak terlalu kaku, matanya tidak sipit dan juga tidak terlalu lebar.
Atas parameter tersebut, maka dipilihlah NEGERI NUSANTARA sebagai negeri yang berada di timur yang perlu digarap para Wali Abdal guna menyongsong kebangkitan Islam dari Timur.
Apa yang dituturkan oleh Kyai Haji Abdul Ghafur, yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur ini, memiliki kemiripan konteks dengan apa yang pernah disampaikan Kyai Haji As’ad Syamsul Arifin dalam salah satu ceramahnya pada tahun 1980-an sebagai berikut,
“Dalam rapat para ulama di Kawatan, Surabaya, sekitar tahun 1925 Masehi, ada seorang ulama yang menyampaikan pendapatnya. Ulama tersebut mengatakan bahwa ia menemukan satu teks sejarah yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Ampel yang menyatakan demikian: ‘Waktu saya (Sunan Ampel) mengaji pada paman saya di Madinah, saya pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw seraya berkata pada saya (Sunan Ampel): Islam ahlussunnah wal jamaah ini bawalah hijrah ke INDONESIA karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam ahlussunnah wal jamaah. Bawalah ia ke INDONESIA’.”
Dan hal menariknya adalah bahwa ternyata Ramalan tentang Negeri di Timur ini, ternyata juga tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jifr A’zham dan Kitab yg ditulis oleh Sunan Sendang Duwur, melainkan juga disebut dalam Kitab Veda Bhavisya Purana, khususnya Bagian Pratisara Parwa yang berisikan berbagai ramalan tentang masa depan hingga akhir zaman. Dalam Kitab Veda Bhavisya Purana tersebut disebutkan bahwa orang-orang YAVANA akan menguasai peradaban dunia pada akhir Zaman Kaliyuga. Lagi-lagi kita dihadapkan pada kata kunci ”YAVANA”.
Saya ulangi sekali lagi ya…
Kata kuncinya disini adalah YAVANA …
Dalam penjelasan saya sebelumnya, sudah saya jelaskan bahwa kata YAVAN atau YAVANA merupakan istilah serapan dari Bahasa Vedic Sanskrit (Sansekerta), yang berasal dari kosakata “YAVA-DVIPAM” atau “YAVA DVIPA” yang kemudian mengalami proses transliterasi menjadi “JAVA DWIPA” atau “JAWA DWIPA” yang berarti PULAU JAWA.
Dalam Kitab Veda Ramayana, bagian Kiskinda-Khanda Bab 40, disebutkan:
“yatnavanto YAVA-DVIPAM sapta rajyopa-sobhitam”
Terjemahan:
“(Sugriva berkata): Selanjutnya kalian akan memasuki wilayah YAVA-DVIPAM (PULAU JAWA) yang termahsyur yang terdiri atas tujuh kerajaan.”
( Kitab Veda Ramayana, Kiskinda-Khanda, 40:30 )
Sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan sebelumnya bahwa Kitab Veda Ramayana, bagian Kiskinda-Khanda, mencatat bahwa pada Zaman Tetrayuga (900 ribu tahun yang lalu) telah berdiri Tujuh Kerajaan megah di Pulau JAWA, yang kemudian dimaknai sebagai teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas Tujuh Pulau Utama, yakni:
1. Yava Dvipa (Pulau Jawa).
2. Kara Dvipa.
3. Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera).
4. Malaya Dvipa (Semenanjung Melayu).
5. Varuna Dvipa (Pulau Kalimantan).
6. Varah Dvipa.
7. Sula Dvipa (Pulau Sulawesi).
Sementara Kitab Veda Mahabharata (Veda Mahabharata 6.604), yang ditulis pada 5000 tahun yang lalu, menyebutkan teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas Tujuh Pulau Utama ini sbb:
1. Jambu Dvipa (Dataran India).
2. Plaksha Dvipa (Pulau Sulawesi).
3. Shalmali Dvipa (Pulau Papua).
4. Kusa Dvipa.
5. Krauncha Dvipa (Pulau Kalimantan).
6. Shaka Dvipa (Pulau Jawa).
7. Pushkara Dvipa.
Memaknai YAVAN atau YAVANA sebagai YAVA-DVIPAM yang mencakup wilayah teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh p**au utama ini juga dijelaskan dalam penjelasan yang berbeda oleh Mas Oedi (Harunata Ra) sbb:
“Kisah pun berlanjut. Akhirnya Manusia diturunkan ke Bumi dan berkembang menjadi berbagai bangsa dengan ras yang berbeda. Sangat lama mereka hidup di periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), lengkap dengan berbagai keunikan dan lika-liku kehidupannya. Dan periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) pun harus berakhir lalu digantikan dengan periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra). Setelah semuanya cukup waktu, maka periode zaman kedua itu pun harus berakhir dan digantikan dengan periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Nah, pada masa awal periode zaman ketiga (Dirganta-Ra) ini, setelah 1 miliar tahun berlalu, maka untuk pertama kalinya satu di antara kelima sosok dari bangsa Safaru turun ke Bumi. Ia bernama Amarun dan langsung membangun sebuah negeri di atas awan dengan nama YAVANA. Negeri ini (Negeri YAVANA) sangat tersembunyi (tak kasat mata) dan posisinya berada di antara Yava Dvipa (Pulau Jawa), Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera), Varuna Dvipa (Pulau Kalimantan), dan Sula Dvipa (Pulau Sulawesi) sekarang. Lalu selang beberapa waktu kemudian, ke empat bangsa Safaru lainnya yang bernama Asorin, Hadirar, Kasibar, dan Giwasur, ikut-menyusul dan tinggal di negeri tersembunyi yang disebut YAVANA itu.”
Jadi apa yang disampaikan oleh Mas Oedi (Harunata Ra) tentang keberadaan NEGERI YAVANA di atas semakin menegaskan bahwa yang dimaksud dengan NEGERI YAVANA itu memang merujuk ke YAVA-DVIPAM atau YAVA DVIPA yang tidak hanya dimaknai sebagai Pulau JAWA saja tetapi juga mencakup teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh p**au utama sebagaimana disebutkan dalam Kitab Veda Ramayana (900 ribu tahun yang lalu) dan Kitab Veda Mahabharata (5 ribu tahun yang lalu).
KESIMPULAN
Kitab Hindu Veda Bhavisya Purana, bagian Pratisara Parwa yang berisikan ramalan-ramalan tentang masa depan, Kitab Al-Jifr A’zham yang berisi pernyataan-pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib ra tentang akhir zaman, dan Kitab Sunan Sendang Duwur yang berasal dari zaman Wali Songo, ketiganya sama-sama menubuwatkan tentang sebuah Negeri yang berada di Timur yang kelak akan mengalami kejayaannya dan menguasai peradaban dunia di akhir zaman.
Dan Negeri itu dikenal dengan nama YAVAN, YAVANA, AL-YAVAN, AL-YABAN, dan YAVA DVIPA yang dapat diartikan sebagai teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh p**au utama, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Veda Ramayana, dan Kitab Veda Mahabharata.
Wallahu ‘alam bishshawab.
Oleh : Wikanti Hartati, Ahmad Samantho (Dewan Adat Budaya dan Adab Nusantara), dan Ustadz Habib Syahir Alaydrus (Habib Syahdu Ciawi Bogor).

Rekor Dunia Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang luarbiasa Istimewa dan menjadi  para peneliti seluruh dunia.  Salah...
08/07/2025

Rekor Dunia
Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang luarbiasa Istimewa dan menjadi para peneliti seluruh dunia.
Salah satunya adalah spesies Ficus ( beringin) dengan daun paling lebar di dunia.
Ficus Istimewa ini tumbuh di hutan Rimba perawan yang ada di pegunungan Arkfak Papua.
Alhamdulillah. Bibit ficus ini sudah berhasil di kembangbiakkan di Pusat Ficus Nasional Kediri.
Nama latin dari beringin ini adalah Ficus brussi.
Ayo kita jaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Kenapa di panggil raja Ampat ❓Nama "Raja Ampat" berasal dari bahasa Indonesia yang berarti "Empat Raja". Nama ini berkai...
21/06/2025

Kenapa di panggil raja Ampat ❓
Nama "Raja Ampat" berasal dari bahasa Indonesia yang berarti "Empat Raja". Nama ini berkaitan dengan sebuah legenda setempat dari masyarakat Papua Barat.
Asal-usul Nama "Raja Ampat":
Menurut legenda masyarakat setempat, dahulu kala ada seorang wanita yang menemukan tujuh butir telur. Dari telur-telur itu:
Empat butir telur menetas menjadi empat pangeran.
Keempat pangeran ini kemudian menjadi raja yang memerintah di empat p**au besar di wilayah itu, yaitu:
1. Waigeo
2. Salawati
3. Batanta
4. Misool
Sedangkan tiga telur lainnya menjadi makhluk gaib atau memiliki nasib berbeda tergantung versi cerita rakyatnya.
Karena keempat raja tersebut memerintah di empat p**au utama, maka wilayah itu disebut "Raja Ampat", yang berarti Empat Raja.
Informasi tambahan:
Raja Ampat saat ini dikenal sebagai salah satu surga bawah laut dunia, dengan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa, menjadikannya destinasi favorit para penyelam dari seluruh dunia.

Kisah Pilu Cut Nyak Dien Kisah Pilu Cut Nyak Dien - Ratu Aceh yang Makamnya Baru Ditemukan 50 Tahun Setelah GugurCut Nya...
21/06/2025

Kisah Pilu Cut Nyak Dien

Kisah Pilu Cut Nyak Dien - Ratu Aceh yang Makamnya Baru Ditemukan 50 Tahun Setelah Gugur

Cut Nyak Dien lahir pada tahun 1848 di Aceh dari keluarga bangsawan yang taat beragama. Ayahnya, Teuku Nanta Seutia, adalah seorang uleebalang VI Mukim dan masih memiliki garis keturunan dari Sultan Aceh. Pada tahun 1862, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga dan dikaruniai seorang putra. Namun, kehidupan bahagia itu terusik ketika Perang Aceh meletus pada tahun 1873. Ia bersama suaminya turun langsung ke medan perang melawan Belanda yang bersenjata lengkap.
Setelah suaminya, Teuku Ibrahim, gugur dalam pertempuran di Sela Glee Tarun, Cut Nyak Dien tidak mundur. Ia justru semakin bersemangat meneruskan perjuangan. Dalam upacara pemakaman suaminya, ia bertemu Teuku Umar, yang kemudian menjadi suami sekaligus rekan seperjuangan.
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien membangun kekuatan baru dan berhasil menghancurkan beberapa markas Belanda. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putri, Cut Gambang, yang kelak menikah dengan putra pejuang Teuku Cik Di Tiro.
Namun, perjuangan penuh pengorbanan ini diwarnai duka. Anak dan menantu Cut Nyak Dien gugur di medan perang. Pada 11 Februari 1899, Teuku Umar juga gugur. Meski kembali kehilangan, Cut Nyak Dien tetap meneruskan perlawanan, meski kondisi fisik dan pasukannya semakin lemah.
Tekanan Belanda semakin keras. Cut Nyak Dien yang mulai tua dan sakit-sakitan tetap menolak menyerah. Panglima Laot Ali, yang kasihan melihat keadaannya, sempat mengusulkan menyerah, namun Cut Nyak Dien dengan tegas menolaknya.
Akhirnya, Cut Nyak Dien berhasil ditangkap oleh pasukan Belanda di bawah komando Letnan van Vurren. Untuk menghindari pengaruhnya di Aceh, ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di pengasingan, meski mengalami gangguan penglihatan dan usia yang renta, ia tetap aktif mengajar agama, tanpa pernah mengungkapkan identitasnya.
Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Sumedang. Makamnya baru ditemukan pada tahun 1960, setelah Pemerintah Daerah Aceh melakukan penelusuran.
Perjuangan dan keteguhan Cut Nyak Dien bahkan membuat seorang penulis dan sejarawan Belanda, Ny. Szekly Lulof, menjulukinya sebagai "Ratu Aceh."

06/06/2025
Bocah 9 Tahun Ini Jadi Pembuat Batu Bata Demi Sesuap NasiNamanya Dika. Bocah 9 tahun ini rela banting tulang jadi pembua...
06/06/2025

Bocah 9 Tahun Ini Jadi Pembuat Batu Bata Demi Sesuap Nasi
Namanya Dika. Bocah 9 tahun ini rela banting tulang jadi pembuat batu bata demi hidupi kakek dan neneknya.
Ayah dan ibunya pergi merantau sejak ia masih bayi hingga kini tidak ada kabar sama sekali.
Kini, ia tinggal bersama nenek dan kakeknya di rumah sederhana. Dinding yang masih batu bata dan tepas kayu tipis membuat mereka kedinginan ketika malam hari.
Kakek dan neneknya tidak bisa lagi bekerja karena sering sakit-sakitan faktor usia. Dika lah yang harus mencari uang demi bisa makan dan melanjutkan sekolah.
Setiap hari sep**ang sekolah, ia berjalan menuju tempat pembuatan batu bata milik orang lain. Tangannya yang mungil sudah terlatih membuat batu bata berjumlah puluhan.
Upah yang didapatkan hanya berkisar 10 ribu saja. Dika tidak pernah mengeluh, justru ia sangat bersyukur bisa makan hari itu bersama kakek dan nenek yang sangat ia cintai.
Seragam dan peralatan sekolahnya pun sudah terlihat usang karena tidak pernah diganti.
Dika berharap adanya bantuan biaya hidup untuk membantu dirinya memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bisa terus melanjutkan sekolah.

Address

Jalan Sepakat 14. Candirejo/Sibiru-Biru
Medan
20153

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when eNCe INDONESIA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to eNCe INDONESIA:

Share