Darul Iman Travel 2022

Darul Iman Travel 2022 Darul Iman Tours & Travel
- Menghantarkan Jamaah Meraih Haji & Umroh Yang Mabrur -

Selamat Tahun Baru Hijriyyah1 Muharram 1445 Hاللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ، وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ،...
19/07/2023

Selamat Tahun Baru Hijriyyah
1 Muharram 1445 H

اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ، وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ، وَالْإِسْلَامِ، وَجَوَازٍ مِنَ الشَّيْطَانِ وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ

"Ya Allah masukkanlah kami pada bulan ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam. Lindungilah kami ya Allah dari gangguan setan yang terkutuk dan karuniakan kepada kami keridhaanMu." (HR. Al-Baghawi dalam Mu'jam Ash-Shahabah)

Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ

"Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah." (HR. Al-Bukhari)

DIS TRAVEL
Darul Iman Sejahtera Tours and Travel

RIHLAH IMANIYAH(MESIR - PALESTINA - JORDAN)Program napak tilas perjuangan dan dakwah para Nabi, Rasul, Sahabat, Ulama Sa...
02/05/2023

RIHLAH IMANIYAH
(MESIR - PALESTINA - JORDAN)

Program napak tilas perjuangan dan dakwah para Nabi, Rasul, Sahabat, Ulama Salaf di 3 Negara, Mesir, Palestina dan Yordania

Program 11 Hari
(3 Hari di Mesir, 4 Hari di Palestina dan 2 Hari di Yordania)

Start Jakarta
USD 2.750,- / Orang
=======================
PESAWAT by OMAN AIR
=======================

KEBERANGKATAN:
- 17 s/d 27 September 2023

PENDAFTARAN:
- 2 Mei s/d 10 Juli 2023

TL, Pembimbing Ibadah & Pengisi Kajian:
Ustadz Roni Abdul Fattah, MA
- Pemerhati & Pengkaji Sejarah Peradaban Islam
- Pakar Kajian Tentang Masjid Al-Aqsha & Palestina

Termasuk :
✅ Tiket Pesawat Internasional PP
✅ Akomodasi hotel bintang 4 & 5
✅ Transportasi Bus selama tour
✅ Makan 3x sehari
✅ Tour dan Ticket masuk tempat wisata
✅ Visa Palestina, Visa Mesir, Visa Jordan
✅ Airport handling Jakarta

Tidak termasuk :
❌ Tipping TL, Guide & Driver
❌ Pengeluaran pribadi
❌ Asuransi (Tidak wajib)

LIMITED SEAT

Informasi & Pendaftaran:
WA : 0812 2365 1659
Admin Darul Iman Tours and Travel

MASJID AL-AQSHAOleh : Roni Abdul FattahMasjid Al-Aqsha adalah satu di antara tiga masjid mulia yang memiliki kedudukan d...
01/03/2023

MASJID AL-AQSHA

Oleh : Roni Abdul Fattah

Masjid Al-Aqsha adalah satu di antara tiga masjid mulia yang memiliki kedudukan dan keutamaan yang sangat agung bagi umat Islam. Keutamaan dan keagungannya langsung dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasul-Nya yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam.

Secara historis, masjid kedua yang dibangun di muka bumi ini juga memiliki peran sentral dalam perkembangan peradaban manusia, karena sejak dahulu tempat ibadah ini menjadi tempat tersebarnya syiar-syiar para nabi 'alaihimussalam. Dan ia berada di Kota Baitul Maqdis atau Al-Quds, sebuah kota yang menyaksikan begitu banyak nabi yang Allah utus dan berda'wah di sana, sebuah kota yang menyediakan air yang diminum oleh para utusan Allah, udara yang mereka hirup, dan tanah tempat mereka berpijak dan merebahkan tubuh mereka yang mulia.

Yang paling utama dari para nabi dan rasul itu adalah Khalilullah wa Khalilurrahman, Nabi Ibrahim 'alaihissalam, kemudian Nabi Ishaq, Nabi Ya'qub, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa 'alaihimussalam. Nabi Yunus 'alaihissalam pernah membebaskannya dari orang-orang yang ingkar kepada Allah, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berziarah ke sana dalam peristiwa Isra Mi'raj, dan nabi-nabi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Namun, di balik berbagai keutamaan yang dimilikinya tidak sedikit umat Islam yang belum mengenalnya dan tahu tentang sejarahnya. Mari kita kenali lebih dekat lagi sejarah Masjid Al-Aqsha yang menjadi kiblat pertama umat Islam ini.

Sebelum jauh mengenal tentang Masjid Al-Aqsha, hal pertama yang hendaknya kita ketahui adalah nama-namanya.

1. Masjid Al-Aqsha

Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya menyebut nama masjid ini dengan Masjid Al-Aqsha.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Isra (17) : 1)

Kata Al-Aqsha artinya adalah jauh. Disebut jauh, karena letaknya yang jauh dari Masjid Al-Haram (masjid pertama di muka bumi).

2. Al-Ardhu Al-Mubarakah (Tanah Yang Penuh Dengan Keberkahan)

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

"Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Anbiya (21) : 81)

Mengapa dikatakan penuh keberkahan? Karena di tempat ini banyak diutus nabi dan rasul, Allah subhanahu wa ta'ala memberkahi penduduknya, tumbuh-tumbuhannya, dan buah-buahannya.

3. Baitul Maqdis (Tempat Suci)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَما كَذبَتْنِي قريش، قُمْتُ في الحِجْر فجلا الله لي بيت المقدس

"Ketika orang-orang Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr (Hijr Ismail) kemudian Allah memperjalankan aku ke Baitul Maqdis." (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Boleh juga menamakan masjid ini dengan menyebutnya Masjid Al-Aqsha Al-Mubarak.

MANAKAH YANG DISEBUT DENGAN MASJID AL-AQSHA?

Di sini banyak sekali terjadi kekeliruan, ketika disebut Masjid Al-Aqsha banyak orang menyangka bahwa Masjid Al-Aqsha adalah salah satu bangunan yang ada di sana. Ada yang mengatakan Masjid Al-Aqsha adalah bangunan yang memiliki kubah berwarna kehitaman atau perunggu. Ada juga yang mengatakan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah bangunan yang memiliki kubah berwarna kuning emas.

Diantara konspirasi Yahudi adalah mereka menarasikan dan mengopinikan lewat berbagai media bahwa Masjid Al-Aqsha adalah Masjid Qubbah Ash-Shakhrah saja (Dome of The Rock, bangunan dengan kubah berwarna kuning emas).

Pendapat yang tepat adalah bahwasanya Masjid Al-Aqsha Al-Mubarak merupakan nama bagi seluruh daerah yang dipagari dan dibenteng, yang luasnya kurang lebih sekitar 14,4 hektar, yang di dalamnya terdapat Masjid Qubbah Ash-Shakhrah, Masjid Al-Jami' Al-Qibli, Musholla Al-Marwani, Masjid Buraq, dll.

LUAS MASJID AL-AQSHA

Luas Masjid Al-Aqsha adalah 144 dunum (satu dunum = 1000 m²), atau 14,4 hektar. Luas Masjid Al-Aqsha ini tidak bertambah dan berkurang dalam kurun sejarahnya, berbeda dengan luas Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi yang terus mengalami perluasan. Barangsiapa yang shalat dalam komplek Masjid Al-Aqsha ini, baik di bawah pepohonan yang ada di sana, teras-teras bangunan, di Masjid Qubbah Ash-Shakhrah, atau di Masjid Jami' Al-Qibli, maka pahala shalatnya akan dilipatgandakan. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Abi Dzar radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan, "Kami (para sahabat) sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kami membicarakan mana yang lebih utama Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (Masjid Nabawi) ataukah Masjid Baitul Maqdis." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

صلاة في مسجدي هذا أفضل من أربع صلوات فيه ولنعم المصلى وليوشكن أن لا يكون للرجل مثل شطن فرسه من الأرض حيث يرى منه بيت المقدس خير له من الدنيا جميعا” أو قال: “خير من الدنيا وما فيها”

"Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat di Masjid Al-Aqsha, dan Masjid Al-Aqsha adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir tiba suatu masa, dimana seseorang memiliki tanah seukuran tali kekang kudanya, dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis, hal itu lebih baik baginya dari dunia seluruhnya atau beliau mengatakan lebih baik dari dunia dan segala yang ada di dalamnya." (HR. Al-Hakim)

PEMBANGUNAN MASJID AL-AQSHA

Masjid Al-Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi ini. Tidak ada satu bentuk tempat ibadah pun yang ada di muka bumi saat Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha dibangun. Para ulama berpendapat masjid ini dibangun oleh para malaikat atau oleh Nabi Adam 'alaihissalam. Namun pendapat yang paling kuat adalah Masjid Al-Aqsha dibangun oleh Nabi Adam. Jarak waktu pembangunan Masjid Al-Haram dengan Masjid Al-Aqsha adalah 40 tahun. Dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Dzar Al-Ghiffari radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan:

يا رسول الله: أي مسجد وُضِع في الأرض أولا؟ قال: المسجد الحرام، قلت: ثم أي؟ قال: المسجد الأقصى، قلت: كم بينهما؟ قال: أربعون سنة، وأينما أدركتك الصلاة فصل، فهو مسجد”

"Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun di muka bumi?" Beliau menjawab, "Masjid Al-Haram". Aku kembali bertanya, "Kemudian masjid mana lagi?" Beliau menjawab, "Masjid Al-Aqsha". Aku kembali bertanya, "Berapa tahunkah jarak pembangunan keduanya?" Beliau kembali menjawab, "40 tahun". Dimanapun engkau menjumpai waktu shalat, maka shalatlah, karena tempat (yang engkau jumpai itu) adalah masjid."

Saat banjir besar yang melanda bumi di masa Nabi Nuh 'alaihissalam, masih bisa dijumpai sisa-sisa bangunan Masjid Al-Aqsha yang dibangun oleh Nabi Adam 'alaihissalam.

Ibnu Hisyam dalam kitab At-Tijan fi Mulukil Hamir mengatakan : "Setelah nabi Adam 'alaihissalam membangun Ka'bah, Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkannya untuk menempuh perjalanan ke Baitul Maqdis. Jibril mengawasi dan memperhatikan bagaimana Baitul Maqdis itu dibangun. Setelah Nabi Adam 'alaihissalam selesai membangunnya, beliau menunaikan ibadah di dalamnya."

Nabi Ibrahim 'alaihissalam tinggal dan memakmurkan Masjid Al-Aqsha sekitar tahun 2000 SM, kemudian dilanjutkan anak-anak beliau dari kalangan para nabi, yakni Nabi Ishaq dan Nabi Ya'qub 'alaihimassalam. Pada sekitar tahun 1000 SM, dilanjutkan oleh Nabi Sulaiman 'alaihissalam.

Dalam kitab Sunan Ibnu Majah diriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma bahwasanya Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللهَ ثَلَاثًا: حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ” فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ

"Ketika Nabi Sulaiman bin Dawud 'alaihissalam merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau memohon kepada Allah tiga permintaan: (1) Memberi putusan hukum yang sesuai dengan hukum Allah, (2) Diberikan kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun setelah dirinya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjid Al-Aqsha dengan keinginan menunaikan shalat di dalamnya, kecuali dihapuskan segala kesalahannya, (sehingga ia suci) seperti saat hari kelahirannya." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan, "Permintaan pertama dan kedua telah diberikan, dan aku berharap yang ketiga pun Allah kabulkan." (HR. Ibnu Majah, no. 1408)

Secara tekstual, kita dapati hadits ini seolah-olah bertentangan dengan pendapat pertama yang mengatakan bahwa Nabi Adam lah yang membangun Masjid Al-Aqsha bukan Nabi Sulaiman. Para ulama, seperti Ibnul Jauzi, imam Al-Qurthubi, dan selain keduanya menjelaskan bahwa yang dimaksud pembangunan oleh Nabi Sulaiman adalah perbaikan bukan membangunnya dari awal, sebagaimana Nabi Ibrahim membangun ulang Masjid Al-Haram setelah Nabi Adam membangunnya pertama kali. Hal ini dikarenakan terdapat kerusakan yang diakibatkan banjir pada zaman Nabi Nuh 'alaihissalam.

Di saat Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu mengembalikan masjid ini ke pangkuan cahaya tauhid pada tahun 15 H/636 M, beliau radhiyallahu 'anhu membangun Jami' Al-Qibli sebagai inti dari Masjid Al-Aqsha. Kemudian di masa kekuasaan Khalifah Bani Umayyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan, beliau membangun Qubbah Ash-Shakhrah (Dome of The Rock) dan pada masa Bani Umayyah juga Jami' Al-Qibli dan komplek Masjid Al-Aqsha terus diperbaiki, setidaknya perbaikan terus berlangsung selama 30 tahun, mulai dari tahun 66 H/ 685 M - 96 H/715 M. Perbaikan itu membentuk bangunan Masjid Al-Aqsha Al-Mubarak seperti yang kita lihat saat ini.

KEUTAMAAN MASJID AL-AQSHA

Masjid Al-Aqsha memiliki beberapa Keutamaan yang dijelaskan oleh Nabi yang mulia shalallahu 'alaihi wa sallam.

1. Keutamaan Masjid Al-Aqsha bukanlah suatu rahasia yang tersembunyi, keutamaannya begitu masyhur walau bagi orang awam sekalipun. Siapa yang tidak tahu, kalau ia adalah kiblat umat Islam sebelum Ka'bah Al-Musyarrafah? Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menyampaikan:

كان رسول الله يصلي وهو بمكة نحو بيت المقدس والكعبة بين يديه وبعدما هاجر إلى المدينة ستة عشر شهرا ثم صرف إلى الكعبة

"Dahulu Rasulullah shalat di Mekah dengan menghadap Baitul Maqdis dan Ka'bah beliau posisikan di hadapannya. Setelah 16 bulan dari hijrah beliau ke Madinah, beliau shalat dengan menghadap Ka'bah." (HR. Ahmad)

2. Keutamaan lainnya yang sangat dikenal oleh umat Islam adalah Masjid Al-Aqsha merupakan tempat isra Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Isra (17) : 1)

Dan pada momen isra itulah Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi imam shalat bagi para nabi. hal ini menunjukkan betapa berkahnya tempat ini.

3. Masjid Al-Aqsha adalah permukaan bumi yang dipilih Allah subhanahu wa ta'ala menjadi tempat landasan dari bumi menuju sidratul muntaha (mi'raj).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ -وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ– قَالَ: فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ -قَالَ- فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِى يَرْبِطُ بِهِ الأَنْبِيَاءُ -قَال – ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِى جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صلى الله عليه وسلم اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ. ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ

"Dibawakan kepadaku Buraq, hewan putih yang panjang, ukurannya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal (anak kuda), dia meletakkan telapak kakinya dengan jarak sejauh ujung pandangan. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, "Lalu aku menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis. Beliau melanjutkan, "Aku mengikat Buraq itu di salah satu pintu Baitul Maqdis, tempat dimana para nabi mengikat hewan tunggangan mereka. Kemudian aku masuk ke dalamnya dan shalat dua rakaat. Setelah itu aku keluar dari masjid, lalu Jibril mendatangiku dengan membawa bejana yang berisi khamr dan susu". Aku memilih yang berisi susu, lalu Jibril 'alaihissallam berkata, "Engkau telah memilih fitrah". Setelah itu, kami pun mi'raj menuju langit." (HR. Muslim)

Seandainya Allah menakdirkan, mi'raj dilakukan dari Masjid Al-Haram pastilah Allah mampu melakukannya, akan tetapi Allah menetapkan agar Nabi dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam mi'raj dari Masjid Al-Aqsha, agar kaum muslimin tahu kedudukan masjid ini dan agar masjid tersebut memiliki tempat istimewa di hati-hati umat Islam.

4. Masjid Al-Aqsha Al-Mubarak adalah satu di antara tiga masjid yang boleh diniatkan secara khusus untuk mengunjunginya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِالرَّسُولِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

"Tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (untuk beribadah) kecuali ketiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha." (HR. Al-Bukhari)

PEMBAKARAN MASJID AL-AQSHA

Peristiwa terbakarnya Masjid Al-Aqsha adalah buah dari berkuasanya orang-orang zionis Yahudi di wilayah tersebut. Mereka hendak menghilangkan atau setidaknya mengaburkan peninggalan-peninggalan peradaban Islam dan meredupkan syiar-syiarnya di bumi Al-Quds.

Pada tanggal 21 Agustus 1969 bersamaan dengan 8 Jumadil Akhir 1389 H, tentara-tentara zionis menyerang Masjid Al-Aqsha dan memasukinya melalui beberapa pintu yang ada. Hingga sampailah mereka di bangunan utama komplek Masjid Al-Aqsha yakni Jami' Al-Qibli. Mereka memasuki tempat itu kemudian membakarnya di beberapa titik seperti bagian mihrab, mimbar, di dekat kubah masjid, dll. Para zionis itu juga memutuskan saluran air menuju ke masjid dan menghalangi upaya masyarakat untuk memadamkannya.

Api yang dinyalakan di beberapa titik masjid kemudian menjalar kebagian-bagian lainnya dan hampir saja membakar kubah masjid jika tidak segera dipadamkan oleh kaum muslimin dan orang-orang Nashrani yang turut membantu memadamkannya. Akhirnya api-api yang berkobar di masjid tersebut dapat dipadamkan dengan gotong royong masyarakat membawa air dari sumur-sumur yang ada di sana.

Pembakaran tersebut berdampak pada hilangnya peninggalan-peninggalan lama di Jami' Al-Qibli. Mimbar yang merupakan peninggalan Shalahuddin Al-Ayyubi hancur terbakar, membakar teras utara, beberapa atap, kubah dan ukiran-ukiran klasik yang ada padanya, dan beberapa peninggalan-peninggalana kuno lainnya.

Dalam pemberitaan, orang-orang Yahudi mengklaim kebakaran disebabkan gangguan arus listrik, sementara orang-orang Arab menyatakan hal itu murni kesengajaan yang dilakukan oleh penjajah Yahudi di Palestina. Akhirnya, seorang pemuda berkebangsaan Australia, Dennis Michael Rohan, ditetapkan sebagai tersangka. Namun tidak beberapa lama ditangkap, ia pun kembali dibebaskan.

KEADAAN MASJID AL-AQSHA SAAT INI

Dalam beberapa abad, orang-orang Yahudi khususnya zionis, mengklaim bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun di atas sebuah tempat ibadah Yahudi yang mereka sebut dengan Al-Haikal Al-Yahudi. Oleh karena itu, sejak tahun 1976 berlaku hal-hal berikut ini:

- Terjadi gangguan dan penyerangan terhadap umat Islam yang sedang menunaikan ibadah di Masjid Al-Aqsha bahkan di antara mereka ada yang terbunuh di dalamnya.

- Pembakaran beberapa bagian masjid, upaya penggusuran dan pengrusakan.

- Orang-orang Yahudi menguasa beberapa bagian dari masjid, seperti pintu bagian barat, dinding Buraq diganti menjadi dinding ratapan, dan umat Islam dilarang untuk mendekatinya.

- Umat Islam tidak dibebaskan untuk mendatangi Masjid Al-Aqsha dan shalat di dalamnya, sedangkan orang-orang Yahudi malah mendapatkan kebebasan.

- Penggalian terowongan di bagian pondasi wilayah tersebut yang menyebabkan beberapa bangunan retak.

- Upaya pencegahan untuk memperbaiki beberapa bangunan yang telah rusak dan retak.

PENUTUP

Masjid Al-Aqsha adalah milik umat Islam karena ia merupakan warisan dari risalah langit yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Syariat Islam juga mengimani para rasul, kitab-kitabnya, dan membenarkan inti dari ajaran para nabi dan rasul tersebut, sebagaimana firman Allah ta'ala:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu." (QS. Al-Maidah (5) : 48)

Keimanan kepada para nabi dan rasul serta kitab-kitab yang Allah turunkan menjadi bagian dari rukun keimanan dalam Islam. Adapun umat-umat yang mengklaim mengikuti ajaran nabi-nabi terdahulu, maka klaim tersebut adalah suatu kebohongan karena realisasinya jauh dari yang semestinya. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi yang telah mengingkari ajaran-ajaran nabi dan rasul tidak patut mengklaim berhak atas Al-Aqsha.

Wallahu Ta'ala A'lam



SEJARAH KOTA MADINAH DARI MASA KEMASAOleh : Roni Abdul FattahMadinah Al-Munawwarah adalah kota suci kedua bagi umat Isla...
01/01/2023

SEJARAH KOTA MADINAH DARI MASA KEMASA

Oleh : Roni Abdul Fattah

Madinah Al-Munawwarah adalah kota suci kedua bagi umat Islam. Di sanalah terletak Masjid Nabawi yang didirikan pada tahun 622 M atau tahun pertama Hijriyah, setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah dari Mekah ke Madinah. Dulu kota ini bernama Yatsrib. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke kota ini, Yatsrib dikenal dengan nama "Madinatur Rasul". Kemudian, orang menyebut kota ini dengan "Al-Madinah" atau "Madinah".

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk Madinah, kaum Anshar mengelu-elukan beliau serta menawarkan rumah untuk beliau beristirahat. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab dengan bijaksana, yaitu untuk membiarkan unta miliknya yang bernama Al-Qashwa atau Al-Qishwa berjalan, karena ia diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian tinggal beberapa bulan di rumah Khalid bin Zaid bin Kulaib radhiyallahu 'anhu dari Bani Najjar atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Ayyub Al-Anshari. Beliau mendirikan masjid (Nabawi) di atas sebidang tanah yang sebagiannya milik As'ad bin Zurarah radhiyallahu 'anhu, sebagiannya milik kedua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, dan sebagiannya lagi tanah kuburan Musyrikin yang telah rusak. Tanah kepunyaan kedua anak yatim tadi dibeli dengan harga sepuluh dinar yang dibayar oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, sedangkan tanah kuburan dan milik As'ad bin Zurarah diserahkan sebagai wakaf. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakan batu pertama pendirian masjid, diikuti oleh sahabat-sahabat beliau yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu 'anhum Kemudian pengerjaan masjid dilakukan bersama-sama sampai selesai.

Saat selesai dibangun, kondisi masjid masih sangat sederhana tanpa hiasan, tanpa tikar dan untuk penerangan di malam hari digunakan pelepah kurma kering yang dibakar. Pagarnya dari batu tanah, tiang-tiangnya dari batang kurma dan atapnya pelepah daun kurma. Waktu itu Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis atau Yerussalem menjadi kiblat karena perintah menghadap Ka'bah belum turun. Di sisi masjid dibangun tempat kediaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarganya yang kemudian menjadi tempat pemakaman Rasulullah, keluarga dan para sahabat.

Khusus untuk makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhuma berada di dalam area Masjid Nabawi dan yang lainnya terkonsentrasi di pemakaman Baqi' Al-Gharqad yang berada di sebelah timur area Masjid Nabawi. Adapun para syuhada yang wafat pada perang Uhud banyak dimakamkan di bawah Jabah Uhud, yang salah satu diantaranya adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam perkembangannya, Masjid Nabawi yang apabila shalat sekali di dalamnya maka nilainya seribu kali shalat, mengalami beberapa kali perombakan. Perubahan pertama adalah membangun mihrab setelah memindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram di Mekah tahun 2 H setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima perintah memindahkan arah kiblat. Setelah itu, dilakukan beberapa kali perluasan masjid untuk dapat menampung jamaah yang semakin bertambah besar.

Sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta sahabatnya, masyarakat Madinah terdiri dari beberapa suku besar yaitu Bani Aus dan Khazraj serta tiga suku Yahudi, yaitu Bani Qainuqa', Bani Nadhir dan Bani Quraizhah. Wilayah Madinah dikelilingi oleh gunung dan beriklim gurun tapi kaya dengan air, karena banyak lembah tempat berkumpulnya air dari dataran yang lebih tinggi.

Setelah kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Madinah berkembang pesat, terutama di bidang ekonomi dan sosial budaya. Untuk menjaga kerukunan warga dan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat yang ada di Madinah termasuk kaum Yahudi, dibuatlah Piagam Madinah yang mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi pemimpin negara dan pemerintahan dan menyebarkan ajaran Islam ke suluruh penjuru jazirah Arab.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, Madinah tetap melanjutkan risalah keimanan dan pengetahuannya. Kota ini menjadi pusat pemerintahan pada masa Khulafa Ar-Rasyidin, dan ibukota negara Islam yang berkembang. Madinah tetap menjaga persatuannya dengan memerangi orang-orang murtad, mengirimkan pendakwah dan pasukan penakluk ke seluruh penjuru, dan Madinah tetap mengaplikasikan warisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kehidupan masyarakat.

Ketika kekhalifahan berpindah ke tangan Bani Umayyah di Damaskus pada tahun 41 H, kota Madinah terbebas dari beban politik, para penduduknya fokus pada rutinitas harian dan kajian-kajian keilmuan di Masjid Nabawi. Bangkit p**a gerakan pengump**an Hadits dan sejarah Islam dan muncul para ahli fiqih yang kompeten. Kota Madinah menjadi luas, bangunan-bangunan menyebar, rumah-rumah di sekitar lembah Aqiq bertambah ramai, bendungan-bendungan dibangun diatas lembah, dibangun area pertanian yang luas, juga bendungan air pertama yang mengatur sirkulasi air melalui saluran bawah tanah dari sumur-sumur daerah Quba menuju Masjid Nabawi dan daerah sekitarnya, yang mengairi kebun-kebun. Rakyat Madinah memberinya nama "mata air biru". Masjid Nabawi direnovasi, dilakukan perluasan yang besar dengan teknologi dekorasi yang tinggi.

Saat kekhalifahan berpindah ke tangan Bani Abbasiyah pada tahun 132 H, penduduk Madinah membai'at mereka, dan kehidupan pada masa itu berlangsung aman dalam kurun waktu lama sampa akhir abad ke-2 Hijriyah. Terkecuali ketika terjadi dua peristiwa besar, yaitu pembunuhan beberapa orang dari bani Umayyah oleh bani Abbasiyah. Peristiwa lainnya adalah pemberontakan Muhammad An-Nafsuz Zakiyyah terhadap khalifah Al-Manshur pada tahun 145 H. Beliau dikepung dan dibunuh bersama beberapa pembelanya oleh pasukan Abbasiyah yang menyerbu kota Madinah. Dan setelah itu, Madinah kembali pada jalurnya dalam keilmuan dan ekonomi, dan kemudian muncullah Imam Malik rahimahullahu ta'ala yang kajiannya dituju oleh para penuntut ilmu dari berbagai negara Islam.

Pada dekade kedua abad ke-3 Hijriyah, kota Madinah menjadi tujuan umat muslim untuk berziarah ke Masjid Nabawi dan bertemu dengan para ulama besar dunia Islam. Mereka saling bertemu di masjid ini dan bertukar bacaan qira'at dan ijazah. Sebagian lagi berdiam untuk beberapa waktu untuk menyerap pelajaran-pelajaran agama.

Kota Madinah dikelilingi pagar yang dibangun pada tahun 263 H. Pagar tersebut menjaga penduduknya lebih dari dua abad. Para pembesar Abbasiyah dan Fathimiyah berlomba-lomba untuk menarik hati penduduk Madinah dan berceramah di hadapan mereka di atas mimbar Masjid Nabawi, juga mengirimkan uang hadiah. Tak lama, bangunan-bangunan berdiri dan melewati pagar dari dua sisi, selatan dan barat. Mereka lalu membuat pagar ketiga dan meluaskan bangunan dengan sumbangan dana dari Sultan Nuruddin Zanki. Setelah itu, Shalahuddin Al-Ayyubi beserta anak-anaknya menjaga loyalitas penduduk Madinah terhadap pemerintahan Abbasiyah. Lalu keluarga Husainiyyah dari keluarga Al-Muhanna memerintah dan berpindahlah loyalitas mereka kepada pemerintah Mamalik di Mesir setelah tumbangnya pemerintahan Abbasiyah. Saat itu kota Madinah menikmati otonomi daerahnya.

Pada zaman dinasiti Mamalik, gerakan keilmuan di kota Madinah semakin berkembang. Para ulama, sastrawan, dan sejarawan memperkaya pustaka Arab dengan karya-karya yang monumental, khususnya tentang sejarah kota Madinah dan tempat-tempat bersejarah di dalamnya. Era itu merupakan era terkaya Madinah. Sebelum runtuhnya dinasti Mamalik, pemerintah kota Madinah digabung ke dalam pemerintahan kota Mekah, maka melemahlah kekuasaan Husainiyyah, mereka dijadikan wakil dalam menjalankan pemeritahan mereka yang ikut kepada saudara sepupu mereka yang memerintah kota Mekah.

Saat kaisar Turki Utsmaniyyah yang pertama bernama Salim berkuasa di Mesir, pemerintah kota Mekah mengirimkan kepadanya seorang utusan yang membawa kunci dua tanah suci, sebagai tanda tunduknya mereka pada kekuasaan Utsmaniyyah. Itulah awal mula kota Hijaz dengan dua kota sucinya masuk di dalam kekuasaan Turki Utsmaniyyah.

Kekaisaran Turki Utsmaniyyah sangat memperhatikan kota Madinah dan mengirimkan dana yang besar. Mereka merenovasi pagarnya serta membangun benteng yang kokoh sebagai pengaman militer. Mereka juga mengatur sistem pemerintahannya dan tetap menjadikan pemerintahan kota Madinah bergabung dengan pemerintahan Mekah seperti sebelumnya. Kemudian secara bertahap kota Madinah diberi kebebasan. Pekerjaan militer ditentukan langsung dari ibukota kekaisaran, dan Syeikh Masjid Nabawi menjadi sosok yang mempunyai kedudukan tertinggi secara administratif.

Orang-orang yang hijrah ke kota Madinah semakin banyak. Mereka datang dari berbagai negara Islam, baik perorangan maupun keluarga. Masyarakat Madinah menjadi masyarakat yang heterogen, perpaduan antara masyarakat Islam Eropa, Asia dan Afrika, khususnya pada abad terakhir dari dinasti Turki Utsmaniyyah yang memerintah lebih dari 4 abad. Kota Madinah mencetak keseluruhan masyarakatnya dengan karakter agama dan kemasyarakatan. Ikatan kekeluargaan meluas antar suku dan negara untuk menambah keakraban dan keharmonisan antar masyarakat. Beberapa sekolah dan perpustakaan dibangun dan diwakafkan oleh para tokoh-tokoh terpandang dan para orang kaya.

Pada perempat awal abad ke-14 H, kota Madinah mengalami pertumbuhan dan kemakmuran yang besar. Kabel telegraf dan rel kereta api sudah memasuki Madinah atas prakarsa Sultan Abdul Hamid ke-2 yang berusaha keras untuk membangunnya demi kemudahan kaum muslimin menjalankan kewajiban ibadah haji, sekaligus agar menjadi jalur penghubung antar wilayah dalam negeri. Jumlah penduduk Madinah bertambah banyak hingga lebih dari tiga kali lipat, dan perdagangan pun semakin berkembang.

Saat terjadi Perang Dunia I, posisi sulit Dinasti Turki Utsmaniyah yang saat itu dikuasai oleh "Kelompok Persatuan dan Kemajuan" mengakibatkan kota Madinah menderita kerugian yang besar. Pemimpin kota Mekah saat itu, Syarif Husein dan anak-anaknya memimpin revolusi besar melawan kekaisaran Turki Utsmaniyyah dan berusaha menjatuhkan kekhalifahan. Dunia Islam terpecah belah diantara mereka, dan pemimpin Turki Utsmaniyyah yang bernama Fakhri Pasha mengorbankan jiwa raganya dalam membela kota Madinah yang kala itu dikepung oleh tentara Syarif Husein. Beliau menganjurkan penduduk Madinah untuk hijrah keluar kota tersebut untuk menyudahi pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kemudian Fakhri Pasha menyuruh mereka yang belum keluar dari kota Madinah meningggalkan kota tersebut, hingga hanya sedikit yang tersisa dari penduduk Madinah, yaitu beberapa keluarga saja. Pada awalnya, penduduk Madinah rela menghadapi kondisi seperti ini. Tapi ketika beban peperangan semakin berat, orang-orang yang berhijrah dari Madinah megalami hal-hal yang pahit; sebagian lain mengeluhkan kenaikan harga, kelaparan, dan pengepungan. Perlawanan Fakhri Pasha berlanjut sampai setelah jatuhnya ibukota kekhalifahan di tangan para sekutu, dan datangnya perintah dari mereka untuk menyerah. Sebagian pengikut berbalik melawannya dan menyerahkan kota Madinah kepada kekhalifahan Hasyimiyyah pada tahun 1337 H.

Masyarakat Madinah mengirim surat kepada Raja Abdul Aziz yang saat itu berupaya mempersatukan negara. Raja Abdul Aziz kemudian mengirimkan putranya yang bernama Muhammad. Ia mengambil alih pemerintahan kota Madinah pada tahun 1344 H, lalu mewakili ayahnya dalam pengambilan bai'at (sumpah setia) dari penduduk Madinah. Sejak itulah era baru kehidupan kota Madinah yang suci dimulai. Kota tersebut masuk di dalam kawasan kerajaan Arab Saudi, dan menjadi salah satu dari wilayah pemerintahan yang terpenting.

Wallahu Ta'ala A'lam

Address

Komplek Pesantren Darul Iman, Cihanjuang Rahayu/Bandung Barat
Pamarayan
40559

Opening Hours

Monday 09:00 - 16:00
Tuesday 09:00 - 16:00
Wednesday 09:00 - 16:00
Thursday 09:00 - 16:00
Friday 09:00 - 16:00
Saturday 09:00 - 14:00

Telephone

+81223651649

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Darul Iman Travel 2022 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Darul Iman Travel 2022:

Share

Category