04/06/2026
NAMA INI HAMPIR TIDAK PERNAH DISEBUT DALAM BUKU SEJARAH, PADAHAL TANPA DIA BOROBUDUR MUNGKIN MASIH TERKUBUR SAMPAI HARI INI❗
Ada satu nama yang nyaris selalu hilang setiap kali orang membicarakan penemuan kembali Candi Borobudur. Yang sering disebut hanya Raffles. Padahal sosok yang benar-benar turun langsung ke lapangan, menerobos semak belukar, dan berdiri pertama kali di kaki candi itu adalah seorang bupati keturunan Tionghoa bernama Tan Jin Sing.
Tan Jin Sing lahir sekitar tahun 1760 dengan nama asli Raden Luwar, putra seorang demang dari Wonosobo. Setelah ayahnya wafat sebelum ia lahir, ia diadopsi oleh kapiten Tionghoa bernama Oei The Long yang kemudian memberinya nama Tan Jin Sing. Ia bukan Tionghoa murni — ia orang Jawa yang tumbuh dalam dua dunia, dan justru itulah yang membuatnya menjadi jembatan yang tidak tergantikan.
Peran Tan Jin Sing menjadi sangat sentral ketika terjadi pergolakan di Keraton Yogyakarta. Ia menjadi perantara antara pemerintah kolonial Inggris dan keraton, yang puncaknya membantu mengantarkan Pangeran Surojo naik takhta sebagai Sultan Hamengku Buwono III. Sebagai imbalan atas jasa yang tidak ternilai itu, pada 18 September 1813, atas tekanan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, Sultan Hamengku Buwono III mengangkat Tan Jin Sing sebagai Bupati Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat. Belum pernah ada dalam sejarah Yogyakarta, seorang Tionghoa menduduki jabatan setinggi itu di lingkungan keraton.
Sebagai bentuk totalitasnya mengabdi di keraton, Tan Jin Sing memeluk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat, disunat, dan memotong kuncirnya — simbol identitas Tionghoa yang saat itu sangat bermakna.
Kisah Borobudur bermula dari sebuah percakapan. Pada 3 Agustus 1812, Tan Jin Sing bertamu ke rumah Residen Inggris di Yogyakarta, John Crawfurd, yang sedang bersama atasannya, Raffles. Dalam pertemuan itu, Raffles mengungkapkan ketertarikannya pada candi-candi peninggalan nenek moyang orang Jawa. Tan Jin Sing teringat cerita mandornya semasa kecil — tentang sebuah candi sangat besar yang tersembunyi di dekat Desa Bumisegoro.
Tan Jin Sing segera membuat peta lokasi dan menulis laporan singkat tentang kondisi sekitar candi, lalu mengusulkan kepada Raffles agar diizinkan membersihkan semak belukar dan membuka akses jalan menuju lokasi. Raffles menyetujui. Pada November 1813, Raffles mengirim surat izin kepada Tan Jin Sing dan memintanya bersiap bertemu di Semarang pada Januari 1814.
Sebelum pertemuan itu, Tan Jin Sing terlebih dahulu turun ke lapangan. Ia ditemani mandornya bernama Rachmat dan seorang warga lokal bernama Paimin sebagai penunjuk jalan, lebih dulu mengunjungi Candi Borobudur sebelum kedatangan tim arkeolog.
Pada 11 Januari 1814, Tan Jin Sing berangkat ke Semarang dan di sana diperkenalkan kepada Mayor Herman Christian Cornelius, arkeolog berkebangsaan Belanda, beserta ketiga stafnya. Raffles sendiri tidak bisa ikut karena harus segera bertolak ke Surabaya. Keesokan harinya, Tan Jin Sing bersama Cornelius dan timnya berangkat menuju Bumisegoro.
Sesampainya di lokasi, pemandangan yang mereka saksikan menakjubkan sekaligus memilukan. Tan Jin Sing berkata kepada Cornelius: "Seperti tuan lihat, candi ini tampaknya berada di atas bukit. Kaki candi ada di bawah tanah, tetapi saya tidak berani menyuruh mandor saya untuk melakukan penggalian karena khawatir bila tidak dilakukan dengan pengawasan yang cermat, bisa merusak batu-batu yang tertimbun di bawahnya."
Pembersihan besar pun dimulai. Mayor Herman Christian Cornelius dibantu timnya melakukan penelitian dan pembersihan Candi Borobudur pada Januari 1814. Setelah pembersihan selesai, Cornelius dan timnya mulai mengukur dan menggambar — dan saat itulah bangunan kuno megah yang telah diam selama lebih dari 800 tahun terungkap kembali kepada dunia.
Tan Jin Sing wafat pada 10 Mei 1831. Namanya sempat diabadikan pada nama sebuah jalan di Yogyakarta, sebelum kemudian berganti nama. Tapi warisannya jauh lebih besar dari sebuah nama jalan. Ia adalah bukti bahwa sejarah besar seringkali dibuka bukan oleh penguasa yang berkuasa, melainkan oleh satu orang yang tahu ke mana harus melangkah — dan berani membuka jalannya sendiri.