Wangsa Buana

Wangsa Buana Edukasi
informasi
sejarah
salam seduluran.

03/07/2026

Banyak kalangan di bangkitkan spiritualnya dari ahli maksiat ke ke jalan cahaya

Jawa bukan keturunan india.  kalau orangnya yang berada di pulau Jawa,mungkin ada yang keturunan india.Intinya suku Jawa...
11/06/2026

Jawa bukan keturunan india.
kalau orangnya yang berada di pulau Jawa,
mungkin ada yang keturunan india.

Intinya suku Jawa bukan segenerasi dengan india.

"Jawa bukan keturunan India. Identitas Jawa sebagai masyarakat, budaya, dan peradaban telah berkembang di Pulau Jawa sejak masa prasejarah. Hal ini dibuktikan oleh berbagai temuan arkeologi, seperti fosil manusia purba, alat batu, situs permukiman, dan peninggalan budaya yang menunjukkan bahwa Pulau Jawa telah dihuni jauh sebelum datangnya pengaruh India.

Ketika hubungan perdagangan dan pelayaran berkembang, masuklah berbagai pengaruh dari luar, termasuk dari India. Pengaruh tersebut tampak dalam agama, sastra, bahasa, aksara, seni, arsitektur, serta sistem kerajaan. Karena itulah terdapat beberapa kemiripan antara budaya Jawa dan budaya India.

Namun, kemiripan budaya tidak berarti kesamaan asal-usul. Pengaruh budaya adalah proses pertukaran dan penyesuaian, sedangkan identitas Jawa tetap tumbuh dari masyarakat yang telah ada di Nusantara. Oleh sebab itu, yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa Jawa menerima pengaruh budaya India, bukan bahwa Jawa merupakan keturunan India."

Kalimat inti yang mudah diingat:
"Jawa bukan keturunan India. Jawa sudah ada sebelum datangnya pengaruh India. Yang datang dari India adalah pengaruh budaya, bukan asal-usul identitas Jawa."

SETELAH KEKALAHAN BAHUREKSO Mari kita meNapak tilas leluhur di kabupaten Batang dan Pekalongan. Dua kabupaten tersebut m...
10/06/2026

SETELAH KEKALAHAN BAHUREKSO

Mari kita meNapak tilas leluhur di kabupaten Batang dan Pekalongan.

Dua kabupaten tersebut menurut sejarah yang membuka hutan adalah Bupati Bahurekso Bupati Kendal atas perintah Sultan Agung Mataram. Setelah hutan di buka maka Pekalongan dan Batang di dirikan menjadi Kabupaten Bupati pertama kali adalah Bupati Mandurorejo yang masih keturunan Kiageng Jurumartani. Lalu Bupati pertama di ganti dengan Bupati kedua yaitu Bupati Uposonto. Bupati Uposonto tersebut waktu menyerang Batavia di tunjuk oleh Sultan Agung Mataram untuk memimpin perang dengan VOC. Hasil perang Mataram kalah dengan VOC karena kalah modern dari segi persenjataan.
Dari titik sejarah tersebut maka sebagai keturunan Bupati Uposonto wajib Napak tilas ke Pekalongan dan Batang.
Dalam Napak tilas tersebut tidak hanya menghayati masa lalu namun juga mencari inspirasi untuk berkarya. Inspirasi itu bisa membuat karya sastra yang bisa di buat banyak buku yang bisa di baca banyak orang.

Kisah singkat di balik pekalongan dan batang ada sosok singowongso yang di utus mangkurat 1 dst.

Salam konservasi salam jasmerah
Rahayu.

Wongsobuono

Memperhatikan fenomena belakangan ini, makin banyak masyarakat yang mulai "melek" sejarah. Polemik yang terjadi sekarang...
10/06/2026

Memperhatikan fenomena belakangan ini, makin banyak masyarakat yang mulai "melek" sejarah. Polemik yang terjadi sekarang bukan cuma soal urusan silsilah, tapi soal harga diri sebuah bangsa.

Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah ketika sejarah nusantara—termasuk nasab para sultan Kerajaan Mataram Islam—mulai dicoba untuk "dibelokkan" atau dicantokkan ke klan tertentu.

​Bayangkan, tokoh-tokoh agung pendiri Mataram Islam yang di babad lokal jelas sejarahnya, tiba-tiba mau "diklaim" masuk ke silsilah klan luar. Ini namanya penjarahan sejarah secara halus.

​Kita diajarkan untuk takzim pada ulama, itu betul. Tapi kalau sudah ada narasi bahwa "pribumi wajib menyembah kaki klan tertentu", rasanya akal sehat kita sedang diuji. Hormat itu karena akhlak dan ilmu, bukan karena kasta atau garis keturunan.

Zaman kolonial yang mengotak-ngotakkan kelas sosial sudah lama bubar, jangan sampai kita buat kasta baru berkedok agama.

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan untuk membangun sistem kasta.🙏

​Gimana pendapat kalian di kolom komentar?

LELUHUR MU ADALAH ORANG2 HEBAT.KITA SUDAH MAJU SAAT BANGSA LAIN DALAM KEBODOHAN.Masih mau percaya leluhur mu buta huruf?...
05/06/2026

LELUHUR MU ADALAH ORANG2 HEBAT.
KITA SUDAH MAJU SAAT BANGSA LAIN DALAM KEBODOHAN.

Masih mau percaya leluhur mu buta huruf??
Masih mau percaya leluhurmu kurang cerdas!?
Atau masih membandingkan leluhurmu dengan leluhur orang asing???
Bukti mana lagi yang mau kamu tampik??
Bukti mana lagi yang mau di bantah??
Ini buatan tangan leluhur mu, bukan buatan mesin CNC.

Jangan jadi buta karena ego,
Jngn jadi dungu karena tidak sadar fakta
Obyektif menilai adalah kunci
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya…

Ini adalah Prasasti Masahar (atau Prasasti Gemekan) yang ditemukan di Situs Gemekan, Mojokerto, Jawa Timur pada tahun 2022. Prasasti berbahan batu andesit ini berasal dari era Raja Mpu Sindok (Kerajaan Medang/Mataram Kuno), bertanggal 7 Oktober 930 Masehi. Inskripsi pada batu ini menggunakan Aksara Jawa Kuno (Kawi) dan mencatat penetapan tanah sima (tanah perdikan). Tulisan pada prasasti ini diketahui memuat kutukan bagi siapa saja yang merusak atau berani melanggar isi prasasti tersebut.

Jawa Jawa Jawa Jawara Nusantara 🇮🇩

NAMA INI HAMPIR TIDAK PERNAH DISEBUT DALAM BUKU SEJARAH, PADAHAL TANPA DIA BOROBUDUR MUNGKIN MASIH TERKUBUR SAMPAI HARI ...
04/06/2026

NAMA INI HAMPIR TIDAK PERNAH DISEBUT DALAM BUKU SEJARAH, PADAHAL TANPA DIA BOROBUDUR MUNGKIN MASIH TERKUBUR SAMPAI HARI INI❗

Ada satu nama yang nyaris selalu hilang setiap kali orang membicarakan penemuan kembali Candi Borobudur. Yang sering disebut hanya Raffles. Padahal sosok yang benar-benar turun langsung ke lapangan, menerobos semak belukar, dan berdiri pertama kali di kaki candi itu adalah seorang bupati keturunan Tionghoa bernama Tan Jin Sing.

Tan Jin Sing lahir sekitar tahun 1760 dengan nama asli Raden Luwar, putra seorang demang dari Wonosobo. Setelah ayahnya wafat sebelum ia lahir, ia diadopsi oleh kapiten Tionghoa bernama Oei The Long yang kemudian memberinya nama Tan Jin Sing. Ia bukan Tionghoa murni — ia orang Jawa yang tumbuh dalam dua dunia, dan justru itulah yang membuatnya menjadi jembatan yang tidak tergantikan.

Peran Tan Jin Sing menjadi sangat sentral ketika terjadi pergolakan di Keraton Yogyakarta. Ia menjadi perantara antara pemerintah kolonial Inggris dan keraton, yang puncaknya membantu mengantarkan Pangeran Surojo naik takhta sebagai Sultan Hamengku Buwono III. Sebagai imbalan atas jasa yang tidak ternilai itu, pada 18 September 1813, atas tekanan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, Sultan Hamengku Buwono III mengangkat Tan Jin Sing sebagai Bupati Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat. Belum pernah ada dalam sejarah Yogyakarta, seorang Tionghoa menduduki jabatan setinggi itu di lingkungan keraton.

Sebagai bentuk totalitasnya mengabdi di keraton, Tan Jin Sing memeluk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat, disunat, dan memotong kuncirnya — simbol identitas Tionghoa yang saat itu sangat bermakna.

Kisah Borobudur bermula dari sebuah percakapan. Pada 3 Agustus 1812, Tan Jin Sing bertamu ke rumah Residen Inggris di Yogyakarta, John Crawfurd, yang sedang bersama atasannya, Raffles. Dalam pertemuan itu, Raffles mengungkapkan ketertarikannya pada candi-candi peninggalan nenek moyang orang Jawa. Tan Jin Sing teringat cerita mandornya semasa kecil — tentang sebuah candi sangat besar yang tersembunyi di dekat Desa Bumisegoro.

Tan Jin Sing segera membuat peta lokasi dan menulis laporan singkat tentang kondisi sekitar candi, lalu mengusulkan kepada Raffles agar diizinkan membersihkan semak belukar dan membuka akses jalan menuju lokasi. Raffles menyetujui. Pada November 1813, Raffles mengirim surat izin kepada Tan Jin Sing dan memintanya bersiap bertemu di Semarang pada Januari 1814.

Sebelum pertemuan itu, Tan Jin Sing terlebih dahulu turun ke lapangan. Ia ditemani mandornya bernama Rachmat dan seorang warga lokal bernama Paimin sebagai penunjuk jalan, lebih dulu mengunjungi Candi Borobudur sebelum kedatangan tim arkeolog.

Pada 11 Januari 1814, Tan Jin Sing berangkat ke Semarang dan di sana diperkenalkan kepada Mayor Herman Christian Cornelius, arkeolog berkebangsaan Belanda, beserta ketiga stafnya. Raffles sendiri tidak bisa ikut karena harus segera bertolak ke Surabaya. Keesokan harinya, Tan Jin Sing bersama Cornelius dan timnya berangkat menuju Bumisegoro.

Sesampainya di lokasi, pemandangan yang mereka saksikan menakjubkan sekaligus memilukan. Tan Jin Sing berkata kepada Cornelius: "Seperti tuan lihat, candi ini tampaknya berada di atas bukit. Kaki candi ada di bawah tanah, tetapi saya tidak berani menyuruh mandor saya untuk melakukan penggalian karena khawatir bila tidak dilakukan dengan pengawasan yang cermat, bisa merusak batu-batu yang tertimbun di bawahnya."

Pembersihan besar pun dimulai. Mayor Herman Christian Cornelius dibantu timnya melakukan penelitian dan pembersihan Candi Borobudur pada Januari 1814. Setelah pembersihan selesai, Cornelius dan timnya mulai mengukur dan menggambar — dan saat itulah bangunan kuno megah yang telah diam selama lebih dari 800 tahun terungkap kembali kepada dunia.

Tan Jin Sing wafat pada 10 Mei 1831. Namanya sempat diabadikan pada nama sebuah jalan di Yogyakarta, sebelum kemudian berganti nama. Tapi warisannya jauh lebih besar dari sebuah nama jalan. Ia adalah bukti bahwa sejarah besar seringkali dibuka bukan oleh penguasa yang berkuasa, melainkan oleh satu orang yang tahu ke mana harus melangkah — dan berani membuka jalannya sendiri.

03/06/2026

Di nikmati di syukuri

Sesekali yang ingin bahagiakan Istri kisanak.Kisanak bisa beli bedak di sini.
03/06/2026

Sesekali yang ingin bahagiakan Istri kisanak.
Kisanak bisa beli bedak di sini.

Beli Produk Byla Beauty JATENG Original & Terbaru di Shopee. Cek Review Produk Byla Beauty JATENG. Nikmati Promo Diskon☑ Gratis Ongkir☑ Cashback☑

Jenis Lingkungan dan Orangyang Akan Merusak Hidup Weton KliwonWeton Kliwon dikenal memiliki kedalaman batin, kepekaan ti...
02/04/2026

Jenis Lingkungan dan Orang
yang Akan Merusak Hidup Weton Kliwon

Weton Kliwon dikenal memiliki kedalaman batin, kepekaan tinggi, dan intuisi yang tajam. Mereka adalah tipe pengamat kehidupan—diam, namun peka; tenang, namun menyimpan kekuatan besar. Sayangnya, justru karena sifatnya yang halus dan dalam inilah, weton Kliwon paling rentan rusak bila berada di lingkungan yang salah.

Banyak Kliwon hidupnya berbelok arah bukan karena nasib buruk, melainkan karena terlalu lama membiarkan batinnya tercemar oleh orang dan suasana yang keliru.

---

1. Lingkungan yang Terlalu Ramai dan Penuh Kebisingan Emosional

Kliwon butuh ruang batin.

Lingkungan berbahaya bagi Kliwon:
– Banyak konflik terbuka.
– Suara tinggi dan emosi meledak-ledak.
– Tekanan sosial berlebihan.

Batin Kliwon akan cepat lelah dan kehilangan kejernihan.

---

2. Orang yang Manipulatif dan Bermuka Dua

Kliwon peka, tapi sering ragu pada intuisi sendiri.

Bahayanya:
– Dikelilingi orang licik.
– Janji manis tanpa niat tulus.
– Bermain di balik layar.

Energi Kliwon bisa terkuras tanpa sadar.

---

3. Lingkungan yang Meremehkan Perasaan dan Intuisi

Kliwon hidup dari rasa.

Saat berada di lingkungan yang:
– Menganggap perasaan sebagai kelemahan.
– Menertawakan kepekaan.
– Menekan intuisi.

Kliwon akan mematikan suaranya sendiri dan tersesat.

---

4. Orang yang Terlalu Menggantungkan Diri Secara Emosional

Kliwon sering menjadi tempat curhat.

Jika berlebihan:
– Menyerap beban orang lain.
– Menjadi penampung masalah.
– Kehilangan batas diri.

Batin Kliwon jadi berat dan rezeki ikut tersendat.

---

5. Lingkungan Penuh Gosip dan Energi Negatif

Kliwon mudah menyerap suasana.

Lingkungan seperti ini akan:
– Mengotori pikiran.
– Menimbulkan prasangka.
– Membuat batin gelap tanpa sebab jelas.

Kliwon akan merasa gelisah tanpa tahu alasannya.

---

6. Orang yang Menekan dengan Rasa Bersalah

Ini jebakan halus untuk Kliwon.

Ciri-cirinya:
– Menggunakan kalimat menyudutkan.
– Membuat Kliwon merasa berutang batin.
– Mengikat lewat emosi, bukan kejujuran.

Kliwon akan kehilangan kebebasan batin.

---

7. Lingkungan yang Tidak Menghargai Kesendirian dan Proses Hening

Kliwon butuh waktu sendiri.

Lingkungan merusak:
– Selalu menuntut hadir.
– Tidak memberi ruang refleksi.
– Menganggap menyendiri sebagai aneh.

Tanpa hening, Kliwon kehilangan arah hidupnya.

---

Kesimpulan

Weton Kliwon rusak bukan karena lemah, tetapi karena terlalu lama menyerap energi yang bukan miliknya. Lingkungan yang bising, manipulatif, penuh gosip, dan menekan emosi adalah racun halus bagi hidup Kliwon.

Saat Kliwon berani menjaga batas, memilih lingkungan yang tenang, jujur, dan menghargai batin, hidupnya akan kembali seimbang. Rezeki mengalir, intuisi tajam, dan kedalaman jiwanya menjadi sumber kekuatan sejati.

Al-Fatihah… 🤲Kita mungkin tidak saling mengenal, namun dukanya terasa begitu dekat di hati lurr~ 🥲 berat
20/03/2026

Al-Fatihah… 🤲

Kita mungkin tidak saling mengenal, namun dukanya terasa begitu dekat di hati lurr~ 🥲

berat

Address

Kertijayan Buaran Pekalongan
Pekalongan
51171

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wangsa Buana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Wangsa Buana:

Shortcuts

Share