08/11/2025
*"JANGAN TERLALU LEKAS MENELAN MANIS, JANGAN TERLALU GUSAR PADA YANG PAHIT"*
Wahai saudaraku yang budiman, janganlah engkau terburu-buru menelan segala yang tampak manis di mata, dan jangan p**a engkau lekas memuntahkan segala yang pahit di lidah. Sebab tidaklah setiap yang manis itu membawa kebaikan, dan tidaklah setiap yang pahit itu membawa keburukan. Dalam hidup ini, kadang madu pun bisa meracuni, dan empedu bisa menjadi obat bagi hati yang sakit.
Janganlah engkau terlalu memuji manusia, karena manusia bukan nabi yang maksum dari dosa. Jika engkau melihat seseorang berbuat baik, bersyukurlah kepada Allah yang menutupi aibnya, bukan karena ia suci dari khilaf. Dan jika engkau melihat seseorang terjatuh dalam salah, tahanlah lidahmu dari mencela, karena belum tentu engkau lebih baik daripadanya. Yang engkau puja itu bukan nabi, dan yang engkau benci itu bukan Fir’aun, keduanya hanyalah manusia seperti engkau, yang diuji dengan cara yang berbeda.
Ketahuilah, cinta dan benci yang berlebihan sama-sama menjerumuskan. Cinta yang berlebih menjadikan engkau buta terhadap aib, dan benci yang berlebih menutup mata dari kebaikan. Sedang Islam mengajarkan pertengahan. Memuji sekadar layak, menegur sekadar perlu, dan memaafkan sejauh mampu.
Maka berhati-hatilah, wahai diri. Jangan jadikan manusia sebagai tempat bergantung sepenuhnya, karena hati manusia mudah berbolak-balik. Gantungkanlah cintamu di langit ridha Allah, niscaya engkau tidak akan terlalu kecewa ketika manusia berubah. Dan jangan p**a engkau jadikan kebencianmu api yang membakar hatimu sendiri, karena dendam hanya menghanguskan jiwa yang menyalakannya.
Renungkanlah, wahai yang mencari kebenaran. Hidup ini bukan tentang siapa yang lebih suci, melainkan siapa yang lebih ikhlas mengakui bahwa dirinya tidak sempurna. Yang manis jangan cepat ditelan, yang pahit jangan lekas dimuntahkan. Timbanglah segala sesuatu dengan akal dan hati yang jernih. Di sanalah letak kemuliaan budi dan ketenangan jiwa.
*Abdul Hamid | Guru Ngaji*
_Pekanbaru, 05 November 2025_