15/05/2017
Cekidot..
Jangan Naik Gunung !!
Sejumlah berita dan cerita tentang petaka (insiden) di gunung sepatutnya menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai penggemar kegiatan mendaki gunung.
Sejatinya, setiap pendaki wajib membekali diri dengan pengetahuan dasar pendakian beserta wawasan mengenai gunung yang akan didakinya. Terlebih, bagi pendaki yang mendapat peran sebagai leader (pemimpin/ketua tim) atau bahkan sebagai guide (pemandu/sherpa).
Seorang leader ataupun guide harus memiliki pengetahuan dan keterampilan/kemampuan dasar (basic skill and knowledge) serta wawasan mengenai alam yang akan dijelajahinya.
Mengapa? Karena dia adalah orang yang paling pertama bertanggungjawab atas kondisi kelompok atau tim yang dipandunya, maka secara otomatis ia pun mengemban tugas mulia sejak sebelum kegiatan pendakian dilakukan untuk memberikan edukasi tentang segala hal yang berkaitan mengenai teknik hidup dalam kegiatan penjelajahan di alam terbuka. Mulai dari pedoman keselamatan (safety procedure), etika bersikap, hingga pemeriksaan ulang tentang kesehatan, baik kesiapan kesehatan personal (fisik dan mental) maupun persiapan kelengkapan peralatan pendukung yang harus memenuhi standar kelayakan. Termasuk yang tak boleh luput dari perhatiannya adalah pemahaman akan berbagai kemungkinan risiko terburuk, yang tentunya harus disertai kesiapan menghadirkan solusi untuk mengatasinya.
“Petaka tak harus datang akibat naik gunung, pun tak dapat dicegah dengan tidak naik gunung.”
Terlepas dari wacana peranan seorang leader ataupun guide, penting juga bagi seorang pendaki pada umumnya untuk mengedukasi masing-masing pribadinya sendiri. Perlu diingat, bahwa kodrat tiap manusia itu pemimpin bagi dirinya sendiri.
Berkat perkembangan teknologi informasi saat ini, setiap orang (seharusnya) bisa dengan mudah mencari informasi persiapan pendakian mengenai pengetahuan dasar melalui banyaknya artikel teori pendakian yang tersebar.
Begitu p**a dengan peralatan standar pendukung kegiatan pendakian, kini dapat kita jumpai dengan mudah penawarannya kian marak beredar di pasaran. Mulai dari produksi lokal hingga yang bersertifikasi internasional.
Bukankah nilai rupiah yang kita tukar demi mempersiapkan itu semua tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan mahalnya harga jiwa-raga kita? Karena pada dasarnya dalam sebuah kegiatan penjelajahan alam, perbekalan yang kita bawa itu ibarat nyawa kita, baik itu perbekalan pengetahuan dan keterampilan dasar, maupun perbekalan peralatan pendukung yang memang wajib memenuhi standar.
Yang tak kalah penting, bukankah di dunia ini nilai pengalaman sangatlah berharga? Dan sebagai masyarakat modern yang cerdas, (semestinya) kita pun bisa belajar dari pengalaman pahit orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Kita boleh jadi menggali pelajaran berharga dari yang telah lebih dahulu mengalami.
Tidak ada salahnya untuk sedikit lebih menghargai masing-masing diri kita daripada mengundang celaka akibat keliru memutuskan dengan siapa kita akan melakukan penjelajahan. Juga bukanlah dosa apabila dalam suatu tim perjalanan pendakian kita tentukan leader (biasanya merangkap sebagai guide) kepada orang yang memang lebih memiliki pengalaman.
Sejumlah berita petaka di gunung jangan kita biarkan sia-sia menjadi kenangan cerita belaka. Perbanyak pengetahuan, latih kemampuan, lengkapi peralatan, dan senantiasa belajar dari pengalaman. Maka dari itu, jangan naik gunung selama kita belum mempersiapkan diri dengan perbekalan itu semua.