26/01/2026
SELAMAT ULANG TAHUN KOTA JUANG SANGASANGA KE 79.
Di bawah langit Sangasanga yang pagi itu berwarna kelabu, pada 79 tahun silam, tanah ini menjadi saksi bisu keberanian yang tak tergoyahkan. Angin yang berhembus dari Sungai Mahakam membawa bisikan tekad para pejuang dan masyarakat Sangasanga yang bersatu dalam satu cita-cita: merebut kembali tanah air dari tangan penjajah dan mengibarkan Merah Putih sebagai lambang kemerdekaan dan harga diri bangsa.
Kala itu, Sangasanga bukan sekadar sebuah kota kecil. Ia adalah jantung perlawanan, tempat rakyat biasa—petani, buruh, pemuda, dan tokoh masyarakat—berdiri sejajar, saling menguatkan dalam satu barisan. Dengan persenjataan seadanya dan hati yang penuh keyakinan, mereka melangkah maju, menantang kekuasaan yang jauh lebih besar dan kuat. Tidak ada yang mundur, karena di balik setiap langkah mereka, ada harapan akan masa depan anak cucu yang hidup di tanah merdeka.
Dentum perjuangan tidak hanya terdengar dari senjata, tetapi juga dari doa para ibu yang melepas anaknya ke medan juang, dari tangan-tangan yang saling menggenggam saat ketakutan datang, dan dari mata yang tetap menatap bendera Merah Putih meski ancaman kematian begitu dekat. Sangasanga membuktikan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil dari pengorbanan, persatuan, dan cinta yang tulus pada tanah air.
Hari ini, 27 Januari 2026, kita berdiri di atas tanah yang telah disirami keringat dan darah para pendahulu. Tugas kita bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengangkat nilai-nilai perjuangan itu dalam kehidupan sehari-hari: menjaga persatuan, menghormati perbedaan, mencintai lingkungan, dan membangun negeri dengan ilmu, kejujuran, serta kepedulian.
Wahai generasi penerus Sangasanga, dengarkanlah suara sejarah yang berbisik dari setiap sudut kota ini. Jadikan semangat juang Merah Putih sebagai nyala di dalam dada, agar di mana pun kalian melangkah, kalian selalu ingat bahwa kalian adalah pewaris keberanian, penjaga kemerdekaan, dan harapan bagi Indonesia yang lebih kuat, adil, dan bermartabat.