22/04/2020
By Husain Ali
Diplomasi “Istana” Mareku (Episode III)
(Cerita tentang Almansur, Sangaji Sahmardan dan Gurabesi)
===================================
Setelah menerima mandat diplomatik dari istana Mareku untuk mencari Kapita Perang yang kuat sekaligus berdiplomasi dan melakukan ekspansi teritorial atas nama Sultan Tidore, Sangaji Patani Sahmardan naik ke juanga, angkat sauh dan meninggalkan bandar Sum Podo.
***
Angin utara bertiup kencang, laut bagian Selatan Nampak teduh. Juanga Sahmardan berlayar tenang, hingga merapat di sebuah doro (pelabuhan kecil) bernama Yaba, di Kipae, Patani.
***
Setiba di Patani, Sangaji Sahmardan mengirimkan kabar kepada Sangaji Maba, Kapita Bicoli dan Buli tentang mandat yang diterima dari Istana Mareku. Ketiga sejawat Sahmardan menerima kabar ini dan segera berlayar ke Patani menemui Sangaji Sahmardan.
***
Dengan empat juanga, Sangaji Patani, Maba, Kapita melakukan perjalanan mengeliling pulau-pulau hingga akhirnya menjangkau Waigeo.
Di suatu tempat bernama Kabu, rombongan ini bertemu dengan Kapita Waigeo bernama Gurabesi.
***
Ketika Gurabesi memperoleh informasi bahwa Sultan Almansur membutuhkan orang paling berani dan paling kuat, diapun menyanggupi. Sahmardan dan Gurabesi lalu menghadap Sultan.
***
Sepuluh tahun kemudian, dibawah komando Sangaji Sahmardan dan Kapita Gurabesi serta didukung oleh Sangaji Maba, Kapita Bicoli dan Kapita Buli, dengan diplomasi yang baik akhirnya Papua daratan dipersembahkan untuk Kerajaan Tidore.
======================================
Bersambung😆🙏
Ket Foto :
1. Pantai Kipae zaman doeloe (dok pribadi sumber : ANRI)
2. Kora-kora (Group Maluku Utara Tempoe Doeloe)
3. Kepala Kampung Patani (Group Maluku Utara Tempoe Doeloe)