25/08/2017
Perjuangan Seorang Tukang Becak Naik Haji
Hari itu belum terlalu siang, matahari naik sepenggalah. Riuh hiruk pikuk kota Mekah yang sedang dibajiri oleh jutaan jemaah menambah semarak suasana haji tahun ini. Hari itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddi berencana untuk menyapa jemaah haji Indonesia yang telah berada di Mekah.
Menyusuri sudut jalan wilayah Syisyah dengan berjalan kaki, perhatian tertuju pada satu hotel yang berdiri di samping jalan. Tidak lama setelah itu, Menag memutuskan memasuki lobby hotel.Kamar 601 merupakan salah satu kamar yang beliau datangi.
"Assalamualaikum", sapa Menag sambil mengetuk pintu.
Dibalik pintu kamar itu, telah duduk lelaki tua yang tersenyum menyambut kedatangan Menag. Lelaki tua itu bernama Maksum Sapii Bunet bin Wahab atau yang akrab disapa dengan Maksum. Dia jauh - jauh dari Surabaya dengan berususah payah menunggu kesempatan ini untuk menunaikan haji ke Baitullah.
Maksum menceritakan kisahnya kepada Menag, ia merupakan salah satu orang yang telah bekerja keras dan berjuang untuk mendapatkan kesempatan ke Tanah Suci. Bagaimana tidak, beliau bekerja sebagai penarik becak setiap harinya. Pekerjaan tersebut tidak memiliki patokan penghasilan yang tetap, terkadang kurang, terkadang lebih atau pas - pasan. Butuh waktu 20 tahun untuk Maksum agar dapat mengumpulkan uang untuk berhaji.
Dua puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu. Maksum mencoba mengumpulkan uang sedikit demi sedikit jika ada uang lebih dari hasil mengayuh becaknya. Jika uang yang terkumpul sudah mencapai 200 ribu atau 300 ribu, ia tabung melalui bank. Dengan kegigihannya tersebut, pada tahun 2010 lalu Maksum dapat mendaftarkan diri untuk mendapatkan kursi menunaikan ibadah haji.
Tidak selesai sampai situ saja, Maksum harus mengantri dan menunggu giliran hingga tahun 2017 hingga akhirnya dapat mengunjungi Baitullah. Walaupun berhaji diwajibkan untuk umat yang mampu, bagi Maksum, haji merupakan penyempurna iman dan islam. Dia berusaha dengan keras agar dapat menyempurnakan ketaatan kepada Allah SWT.
Puncak haji tinggal hitungan hari. Maksum berserta rekan - rekannya sedang bersuka cita mempersiapkan jasmani dan rohani untuk melaksanakan wukuf. Walaupun masih ada kekhawatiran Maksum jika ia kembali ke tanah air tida dapat menjadi lebih baik dari ini, namun Maksum selalu percaya dan berserah diri kepada Allah karena baik buruknya takdir sudah diatur. Ia juga percaya jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah SWT menghendaki. Ia selalu percaya bahwa meminta pertolongan Allah SWT adalah satu -satunya cara untuk menjauhkan diri dari perbuatan mungkar.
=================================================
Dari kisah diatas, ada makna yang perlu kita teladani yaitu usaha gigih dan kesabaran akan membuahkan hasil yang manis jika diimbangi dengan kepercayaan kepada Allah SWT dan tidak pernah putus untuk memanjatkan doa. Walaupun haji diwajibkan hanya bagi umat islam yang mampu secara fisik maupun finansial, hal ini jangan dijadikan alasan untuk berhenti berusaha karena tidak ada yang tidak mungkin di mata Allah SWT.
(foto credit : kemenag.go.id)